
Kemil masih saja menggandeng tangan Kamelia di sepanjang lorong pabrik menuju ruang kerjanya.
Tidak hanya ucapan Misya yang membuatnya geram dan marah. Namun ucapan seseorang pekerja pabrik juga mampu mengganggu pikirannya.
Dan hal itu juga yang dirasakan Kamelia saat itu. Baginya, cukup dia yang menanggung segalanya. Dia sangat berharap agar putrinya, Milka, terbebas dari segala hujatan dan hinaan orang-orang.
Dia tahu, bahwa dia sangat membenci keburukan yang telah diperbuat Toni kepadanya. Namun juga tidak bisa dipungkirinya bahwa Milkanya adalah buah dari keburukan itu.
Tidak hanya dia, tetapi Kemilnya juga sangat mencintai Milkanya.
"Sayang... Apapun yang diucapkan Misya tadi, jangan dipikirkan ya. Maafkan aku... Aku yang salah untuk semua ini." Ujar Kemil lirih.
"Tidak ada yang salah kok, sayang... Semua sudah terjadi." Ujar Kamelia masih dalam lamunannya.
Meski ucapan Misya bagai sembilu yang menyayat dan mengoyak hatinya, namun tidak setetes pun air mata yang berjatuhan dari matanya yang bulat dan indah itu.
Andai aku tidak melibatkan Misya waktu itu, mungkin dia tidak akan tau bahwa Milka bukanlah anakku.
Aku yang salah, sayang... Aku yang tidak bisa melindungimu dan Milka dari awal...
Kemil menatap sendu mata Kamelia. Dia bagai terluka tanpa berdarah.
"Aku mohon, sayang... Bicaralah... Jangan diam seperti ini." Kemil meraih tangan Kamelia yang memangku putri kecilnya.
"Sayang... Aku tidak apa-apa..." Kamelia menatap Kemil dengan raut tenang. Namun tatapannya kosong.
"Sayang... Sepertinya Milka haus... Aku mau menyusuinya sebentar." Ujar Kamelia lirih.
"Ya sudah... Kamu susukan Milka di meja kerjaku ya... Biar aku tunggu disini." sahut Kemil.
__ADS_1
Kamelia mengangguk dan kemudian bangkit dari sofa menuju kearah kursi kerja Kemil. Dia memutar kursi itu menghadap ke dinding dan membelakangi Kemil.
Meski Kemil sudah meletakkan laptop di depannya, namun tidak satupun pekerjaan yang dia selesaikan.
Sudah lebih dari setengah jam, Milka baru melepaskan dot alami di dada ibunya itu. Kamelia merapikan pakaiannya dan kembali ke sofa.
"Sayang... Kamu kenapa?" Kamelia terheran melihat suaminya tengah bersandar di sofa sambil memegangi kepalanya.
Kemil sedikit terperanjat karena panggilan istrinya. Dengan gelagapan, Kemil merapikan rambutnya yang sedikit acak-acakan karena dibuatnya sendiri sedari tadi.
Frustasi akan memikirkan kata-kata pekerja tadi pagi, Kemil sampai tidak tahu hendak mengerjakan apa selain dari mengusap kasar kepala dan wajahnya sendiri.
"Apa kamu masih memikirkan ucapan pekerja tadi?" Kamelia mencoba menerka apa yang dipikirkan suaminya seraya duduk di sebalah Kemil.
Kamelia menidurkan Milka di atas meja bundar di depannya itu dengan beralaskan selimut tebal Milka.
"Apa kamu juga?" Kemil menatap mata sendu Kamelia. Dia mengambil poni Kamelia yang sedagu lalu menyangkutkannya ke daun telinga Kamelia.
"Iya... Kamu benar. Nanti di waktu yang tepat kita akan mempertanyakannya." Kemil mengusap pipi Kamelia dan hendak bangkit dari duduknya.
"Aku akan mempertanyakannya hari ini juga." Kemil mengurungkan niatnya untuk bangkit dan menatap lekat wajah istrinya.
"Kamu yakin, sayang?"
"Iya... Aku penasaran dengan hubungan mereka di masa lalu. Dan sikap orang tua kita yang terlalu berlebihan terhadap Toni membuatku bingung." Kamelia seakan lelah memikirkan itu semua.
"Itu, kan karena..."
"Karena Toni salah paham denganku? Karena Misya yang mencoba memengaruhinya? Karena itu, kan yang kamu maksud, sayang?" Kamelia memotong ucapan Kemil.
__ADS_1
Kemil hanya terdiam. Apa yang dikatakan Kamelia memang itu yang ada dalam pikirannya.
Dia hanya memercayai Kamelia, makanya dia memperbolehkan Toni untuk menemui Milka. Tapi pasti berbeda dengan pikiran orang tua mereka.
"Tapi apa kamu tidak pernah berpikir, sayang? Alasan tanah, Toni hendak membunuh papa kamu. Kenapa papa kamu seakan melupakannya? Kenapa papa kamu tidak memperkarakannya? Aku diperkosa, tapi papaku malah menerima dirinya? Ada apa sebenarnya? Siapa Toni? Siapa ibu Rianti?" Kamelia tidak mampu menyembunyikan kepenasarannya.
"Juga cuc...? Cucukah maksudnya? Apa Toni juga cucu kakekmu?" Kamelia semakin menggebu dengan teka-teki di hadapannya.
"Kenapa semua orang tidak mau memberitahukan kita? Kenapa semua orang menutup mulut mereka, sayang?" Kamelia mulai terisak.
Kemil meraih bahu Kamelia dan mendekap tubuh istrinya itu. Dia mengecup ubun-ubun Kamelia berharap istrinya bisa tenang.
Sementara, di dalam pikiran Kemil tidak satupun pertanyaan Kamelia yang tidak mengganggunya.
"Kita harus tau hari ini juga, sayang... Mama papaku pasti juga kesini nantinya. Mereka harus menjawabnya. Aku tidak ingin ini semua berpengaruh terhadap Milka kelak." Kamelia semakin terisak di dalam dekapan Kemil.
perasaan yang sedari tadi ditahannya, akhirnya terlepas juga.
Kemil mengusap lembut bahu Kamelia berusaha menenangkan hati istrinya itu.
Jika masa lalu tidak membiarkanmu untuk pergi, maka beranikan hatimu untuk mengusir masa lalu itu...
.
.
.
.
__ADS_1
.