
Sesampainya di rumah Roro, mereka berdua membereskan lagi koper dan baju Riani.
Hingga menjelang makan siang, mereka selesai menata semua baju Riayani dalam lemari, setelah itu mereka berniat melanjutkan untuk jalan-jalan dan shoping.
...·······...
Sesampainya di Mall, mereka mencari restoran, setelah mereka menemukan restoran yang sesuai dengan selera mereka berdua, mereka segera masuk ke dalam restoran tersebut.
Sedang asyiknya mereka menikmati makan siang mereka, tiba-tiba dari arah belakang Roro datang Radja dengan penampilan yang hampir tidak bisa di kenali Riani.
"Dek..."
Hanya sepatah kata itu saja yang keluar dari mulut Radja yang bergetar.
"Mas Radja?!"
Riani terkejut saat melihat penampilan Radja, rambutnya yang gondrong berantakan, wajah sayu dengan lingkar hitam di matanya dan tumbuhnya kumis dan rambut di sekitar janggutnya.
Padahal Riani sangat tahu betul Radja paling suka kebersihan, dan selalu rutin mencukur rambut, kumis dan janggutnya.
.............
Riani dan Radja duduk bersebrangan dan saling terdiam, tidak ada yang mau untuk memulai pembicaraan.
Tadi saat Radja datang menemui Riani di restoran tempat mereka makan, Roro menyarankan agar membicarakan masalah mereka baik-baik di tempat lain yang lembih nyaman, dan Roro mengajak mereka pulang ke rumah Roro.
Setelah mengantar Riani dan Radja sampai ke rumahnya, Roropun pergi keluar memberi mereka waktu untuk membicarakan masalah mereka.
.............
"Pulang ke rumah ya Dek..."
Bujuk Radja sambil berlutut dan memegang tangan Riani yang masih tetap terdiam.
"Maaf Mas, aku belum bisa pulang saat ini, aku masih butuh waktu untuk berpikir dan menenangkan diri"
"Tolong dek...Maafkan aku, aku janji akan berubah..."
"Maaf Mas...Untuk saat ini aku benar-benar belum siap untuk memaafkanmu..."
"Kenapa dek? berikan Mas kesempatan untuk berubah dan memperbaiki diri, please..." Kata Radja lagi memohon maaf sambil berkali-kali mencium tangan wanita yang masih berstatus istrinya tersebut.
"Aku akan memaafkanmu dan memikirkan kembali hubungan kita tapi dengan syarat pertemukan aku dengan dia"
"Baik akan aku pertemukan kamu dengannya"
"Kapan aku bisa bertemu dengannya?"
"Besok sepulang kerja kita akan menemuinya di tempat kerjanya"
"Oke, kita bertemu sepulang kerja, dan kamu sekarang sebaiknya pulang dulu Mas, aku sementara ini akan tinggal di rumah Roro"
"Baiklah, sekarang aku pulang dulu, besok sepulang kerja aku akan menjemputmu"
"Oke"
"Aku pamit dulu, titip salam dan terima kasihku untuk Roro"
"Akan aku sampaikan"
Radja meninggalkan rumah Roro dengan berat hati, dan saat menengok kembali ke arah rumah Roro ternyata pintu sudah tertutup rapat, hatinya terasa perih karena penyesalan yang sangat dalam.
.............
Keesokan sore harinya, Radja menepati janjinya menjemput Riani dan membawanya ke kantor Dini tersebut.
Saat mereka sudah ada di depan kantor Dini Radja berhenti.
"Sebaiknya kamu pergi sendiri saja dek, karena aku takut kalau ada aku akan membuat suasana tidak nyaman.
__ADS_1
Riani hanya mengangguk mengiyakan, walaupun dia kurang setuju dengan pendapatnya karena Radja seperti menghindari masalah yang telah dia perbuat sendiri sehingga terkesan seperti laki- laki pengecut.
.............
Setelah Riani masuk dan duduk dalam ruang lobi, dia segera menghubungi Dini.
Tentunya dia masih berpura- pura sebagai kakak Radja yang ingin menemuinya.
Dan hanya menunggu tidak kurang dari sepuluh menit akhirnya Dinipun datang menghampirinya.
Dengan seksama Riani mengamati sosok yang telah berhasil mencuri hati suaminya tersebut.
Tubuhnya yang tinggi dan montok juga seksi dengan rambut panjangnya yang terurai, dari wajahnya terlihat jelas dia jauh lebih muda darinya.
"Mba Riani ya...?"
"Iya betul saya, kita cari tempat yang lebih enak untuk bicara gimana?"
"Boleh...Boleh"
Mereka berdua berjalan keluar meninggalkan kantor Dini.
.............
Mereka akhirnya menemukan tempat yang cocok untuk membicarakan hal yang bersifat sensitif.
Mereka sekarang berada di rumah makan terapung yang letak lokasinya jauh dari keramaian di salah satu pantai pinggiran kota.
Mereka berdua duduk di salah satu bagan sambil menikmati makanan yang mereka pesan.
Setelah selesai makan Dinipun mengeluarkan sebungkus rokok.
"Maaf mba, keberatan jika aku ngrokok dulu?"
"Oh tentu saja tidak, silahkan..."
"Terima kasih, jadi gimana sekarang keadaan anak mba?" tanya Dini sambil kembali menghisap rokoknya.
"Uhuk...Uhuk...Uhuk!"
Mendengar kata-kata dari Riani Dinipun tersentak kaget dan terbatuk-batuk sambil menepuk nepuk dadanya, karena asap rokok yang seharusnya dia keluarkan masuk ke dalam rongga dadanya.
"Mba istrinya Radja?!"
"Ya betul..."
"Tapi Radja bilang dia masih lajang, belum menikah!"
"Berarti sudah jelas dia telah membohongi kamu, apakah kamu mencintainya?"
"Kalau aku tahu dia sudah punya istri dari awal aku tidak akan mencintainya"
"Berarti kamu mencintainya, kalau begitu aku serahkan dia padamu, lagi pula belum ada anak dari pernikahan kami..."
"Aku tidak mau mba, aku benci dengan laki pembohong seperti dia"
"Tapi bukankah kamu mencintai dia?"
"Tidak sekarang, mba aku juga wanita, aku sangat tahu perasaan di khianati laki-laki, aku menikah muda, hingga aku mempunyai anak yang sekarang berumur lima tahun dan dia sudah merasakan broken home karena kedua orang tuanya berpisah, dan aku juga terlahir dari keluarga yang broken home mba, jadi aku sangat tahu bagaimana perasaanmu"
"Berapa umurmu sekarang?"
"Aku sekarang 23 tahun, aku menikah di usia 17 karena hamil duluan, tapi karena mungkin usia kami yang masih muda akhirnya kami tidak bisa mempertahankan pernikahan kami"
"Seperti aku, mungkin aku memang kurang menjaga suamiku hingga dia bisa dengan mudah berpaling pada wanita lain"
"Aku rasa mungkin karena belum ada hadirnya seorang anak mba"
"Ada tidak adanya seorang anak jika hubungan cinta kita berdua kuat tidak mungkin terjadi hal seperti ini"
__ADS_1
"Bertahanlah dengan Radja mba, anggap saja kedatanganku diantara kalian berdua sebagai ujian kekuatan cinta kalian dan setelah ini aku tidak akan mengganggu hubungan kalian lagi..."
"Apakah kamu pernah pergi bersama Radja di Ancol dan di Bali? saya ingin kamu menjawab sejujurnya?" tanya Riani untuk memastikan firasatnya waktu itu dan untuk memantapkan hatinya membuat sebuah keputusan.
"Ya mba..."
Seketika hati Riani seperti di sayat sembilu, bagaimana tidak, berarti sepenuhnya Radja telah membohongi dirinya.
Saat di Ancol di malam tahun baru dia pulang pagi, sedangkan di Bali dia di sana beberapa hari, dan sekarang ini hubungan orang dewasa seperti mereka tidak mungkin mereka tidak sampai melakukan hal itu, apa lagi Dini berstatus janda!
"Apakah hubungan kalian sudah terlalu jauh? Maksud aku sudah sampai ke hubungan ranjang, tolong jawab sejujurnya Din?"
Dinipun hanya terdiam sambil menyelesaikan rokoknya, setelah itu dia membuang putung rokoknya di bungkus rokok di depannya yang sudah kosong.
"Mba pasti sudah tahu jawabannya tanpa perlu aku jawab lagi"
"Aku cuma butuh jawaban iya atau tidak?!"
"Iya, maafkan aku Mba..."
"Kamu tidak perlu meminta maaf padaku, kalau begitu aku putuskan untuk mundur, aku serahkah Radja padamu"
"Aku juga tidak mau, walaupun aku seorang janda, aku juga tidak mau merusak hubungan kalian, dan kalau aku tahu dari awal kalau Radja sudah beristri aku tidak akan meladeninya, sekali lagi maafkan aku mba..."
"Kamu tidak perlu merasa bersalah, dari awal hubungan kami memang sudah rapuh hingga tidak kuat menghadapi cobaan ini"
"Tapi yang jelas aku juga tidak mau berhubungan lagi dengan Radja, dia yang tidak bisa menjaga perasaan istrinya dan dengan mudahnya berpaling pada wanita lain maka kelak jika aku tetap dengannya, maka akan sangat mungkin terjadi juga padaku..."
"Itu terserah padamu Din, tapi yang jelas untuk saat ini aku belum bisa menerima semuanya"
"Aku tahu itu mba..."
"Kalau begitu kita sudahi pembicaraan ini dan terima kasih sekali atas kejujuranmu, biar aku yang bayar makanannya"
"Oke terima kasih dan sekali lagi aku minta maaf telah menjadi orang ketiga diantara kalian..."
"Tidak apa-apa, lagi pula ini nggak sepenuhnya salahmu"
"Kalau begitu aku pergi dulu ya mba"
"Oh iya silahkan"
Dini menjabat tangan Riani dengan erat, terlihat dengan jelas perasaan menyesal di matanya.
Setelah itu Dini pergi meninggalkan Riani yang berjalan menuju ke arah meja kasir.
.............
Sesampainya di rumah ternyata Roro belum pulang dari kerjanya dengan segera dia mengirim pesan padanya.
Satu menit kemudian Roro membalas pesannya yang mengatakan dia akan telat pulang karena lembur.
Riani segera menyibukkan diri dan pikirannya dengan beres- beres dan membersihkan rumah.
Setelah dia mengirin foto makanan yang ia beli di rumah makan terapung tadi pada Roro, dia segera membersihkan diri.
Setelah selesai mandi badan dan pikiran Riani terasa segar, dia membaringkan tubuhnya di atas kasur, saat dia membuka kembali Hand phone nya, terlihat banyak sekali pesan dan miss call dari Radja.
Riani memang sengaja mengatur silent Hand phone nya sejak akan bertemu dengan Dini tadi.
Kembali panggilan masuk dari Radja, namun Riani hanya melihat sebentar tanpa ada niat untuk mengangkatnya.
Pikirannya pun kembali mengingat pembicaraan antara dia dan Dini.
Dini termasuk korban juga dari kebejatan Radja, dia memang hadir sebagai orang ketiga diantara Riani dan Radja.
Tapi karena hubungan yang rapuh antara Riani dan Radja pula lah hingga terjadilah perselingkuhan tersebut.
Tanpa sadar Rianipun tertidur dengan air mata yang masih membasahi pipinya.
__ADS_1