KESETIAAN YG TAK TERBATAS

KESETIAAN YG TAK TERBATAS
AKANKAH BAHAGIA DI AKHIR CERITA


__ADS_3

Teddy mengambil obat milik Riani yang belum sempat di minum.


"Ai, kamu belum meminum obatmu, ini...Segeralah di minum, agar rasa mual dan muntahmu cepat hilang" kata Teddy yang sudah berdiri di samping Riani sambil menyodorkan obat yan dia ambil tadi.


"Terima kasih Ted..."


Riani mengambil obat dari tangan Teddy kemudian langsung di masukkan ke dalam mulutnya, dan segera meneguk air minum yang di berikan oleh Teddy.


Zoya yang sedang merapikan tempat tidur Riani melihat ketelatenan dan perhatian Teddy pada Riani hanya tersenyum getir dan menghela nafas panjang, dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu Riani yang terlihat sangat menyedihkan seperti itu.


"Kak Rini, Zoya bantu kemasin baju kakak ke dalam tas ya?"


"Iya, terima kasih Zoya..." Jawab Riani dengan seyum dan suaranya yang lemah.


Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di luar pintu kamar Riani.


Mendengar itu ekspresi Riani langsung berubah menjadi ketakutan.


Teddy yang melihat wajah Riani yang ketakutan, segera keluar melihat apa yang terjadi.


Saat Teddy keluar di lihat olehnya Randi dan Arga sedang berusaha menghalangi Ethan yang berusaha menemui Riani.


Viola juga terlihat menangis sambil memegangi Ethan, hingga akhirnya dia menyuntikkan sesuatu di lengan Ethan, yang membuat tubuh Ethan dalam hitungan menit sudah lemas dan ambruk tidak sadarkan diri.


Randi dan Arga segera memapah tubuh Ethan menuju kamarnya yang tidak jauh dari kamar Riani.


Viola juga mengikuti mereka dari belakang.


"Emmm...Maaf, bisa kita bicara sebentar?" tanya Teddy ragu-ragu setelah berjalan cepat mengejar langkah Viola.


"Sebentar, bang Teddy tunggu dulu saja di kamar kak Riani, nanti aku menyusul, sekarang aku mau mengurus suamiku dulu..." Jawab Riani ramah namun dengan tatapan dan ekspresi wajah sedih.


Melihat itu, Teddy tidak berani memaksa Viola, dan mengurung niatnya, menghentikan langkahnya mengikuti Viola.


"Baiklah..." Hanya itu yang keluar dari mulut Teddy.


Setelah itu dia membalikkan badannya dan kembali berjalan menuju kamar Riani.


Saat Teddy masuk dia melihat Riani menangis dalam pelukan Zoya, di lihatnya tubuh Riani yang bergetar ketakutan.


Melihatnya seperti itu hati Teddy bagai di sayat-sayat sembilu, ingin rasanya dia memeluknya dan memberitahunya bahwa masih ada dia yang akan selalu menjaga dan memberikan perlindungan dan rasa aman padanya


"Ai...Sebenarnya apa yang telah terjadi denganmu? apa yang telah Ethan lakukan padamu hingga membuatmu menjadi seperti ini?" batin Teddy dalam hatinya yang bergemuruh penuh pertanyaan dan kemarahan.


Tanpa Teddy sadari tinjunya telah mendarat di dinding dengan kerasnya karena terlalu menahan emosi hatinya.


Membuat Zoya dan Riani terkejut dan langsung melihat ke arah Teddy yang ruas jari-jarinya mulai mengeluarkan darah segar akibat tinjuan keras tersebut.


Riani yang melihat ruas jari-jari Teddy berdarah membuat dia panik dan langsung bangkit dari duduknya, kemudian mengambil beberapa tisu dan mengelap darah yang mengalir di tangan Teddy.


"Jangan pernah kamu melukai diri sendiri saat melihatku dalam keadaan seperti ini, karena aku tidak mau kamu terluka karena aku..." Kata Riani lirih dengan kepalanya yang menunduk, tidak berani menatap mata Teddy.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak ingin melukai orang lain dan lebih memilih dirimu yang terluka Ai..." Kata Teddy sambil mengangkat wajah Riani yang ternyata sudah basah dengan air mata.


"Aku takut Ted berada di sini..." tangis Riani tanpa menjelskan lebih lanjut mengenai ketakutannya itu.


"Jangan takut Ai...Ada aku di sini yang akan selalu menjagamu..." Teddy memeluk erat tubuh Riani, dia tidak berani menanyakan alasan ketakutan Riani, karena hatinya tidak tega dan sakit saat melihat Riani terpuruk seperti itu, air mata Teddy pun mengalir penuh penyesalan karena ke-tidak mampuannya melindungi Riani.


.............


Teddy segera menggendong Riani yang tertidur dalam pelukkannya, Zoya melihat itu langsung mempersiapkan ranjang Riani.


"Riani tidur di kamarku saja, nanti tolong, kamu jagain dia" kata Teddy, mencegah Zoya membuka selimut, Teddy merasa kalau Riani ada trauma dengan kamarnya itu.


"Baik Bang..."


Zoya hanya patuh mengekor di belakang Teddy.


Setelah sampai di kamarnya dan meletakkan pelan tubuh Riani di atas kasur, Teddy meminta Zoya untuk menjaga Riani, kemudian dia keluar dari kamarnya.


Saat dia baru saja menutup pintu kamarnya, dia melihat Viola baru saja keluar dari kamar Riani.


Teddy berjalan menghampiri Viola yang tetap berdiri di depan pintu kamar Riani.


"Kak Riani di mana Bang?" tanya Viola setelah Teddy sudah berdiri di hadapannya.


"Dia ada di kamarku bersama Zoya, dia tertidur"


"Oo...Kalau begitu kita bicara di deck atas saja"


Teddy mengangguk, kemudian mereka berdua berjalan menuju ke deck atas kapal.


"Yang saya dengar bang Teddy adalah mantan pacar kak Riani, betul?" tanya Viola balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Teddy.


"Ya benar, lalu apa hubungannya dengan pertanyaanku yang belum kamu jawab Vi?" desak Teddy agak kesal.


"Tidak ada hubungannya sama sekali, hanya saja aku kira Riani menceritakan semua masa lalunya termasuk hubungannya dengan Ethan dulu"


"Dia tidak pernah menceritakan mengenai Ethan, dia hanya bercerita mengenai ayahnya yang meninggal karena kecelakaan, tapi tidak menceritakan penyebab dari kecelakaan tersebut"


"Sebenarnya penyebab kecelakaan tersebut ada hubungannya dengan Ethan"


"Maksud kamu Vi?"


"Kak Riani dan Ethan dulu adalah pasangan kekasih, mereka berdua menjalin kasih sejak umur 14 tahun, kak Riani adalah cinta pertama Ethan dan begitu pula sebaliknya" kata Viola memulai ceritanya.


"Sebenarnya aku sudah menduga kalau mereka berdua sebelumnya pasti mempunyai hubungan, itu aku ketahui di acara api unggun semalam, saat giliran Ethan menceritakan masa kecilnya dengan tatapannya pada Riani yang penuh cinta dan kerinduan yang teramat dalam"


"Dan aku lihat bang Teddy juga sangat cemburu..."


"Ya, aku sangat cemburu, karena aku masih mencintainya, dialah cinta pertamaku..."


"Wah...Kita ber-emapt bisa terlibat dalam putaran cinta pertama ya Bang? karena Ethan juga cinta pertamaku"

__ADS_1


Teddy mengangguk tanda setuju, kedunya saling tersenyum getir.


"Lalu...Apa hubungannya Ethan dengan penyebab kecelakaan ayahnya Riani?" tanya Teddy akhirnya, karena dia masih penasaran di balik cerita pahitnya Riani di tinggal ayah tercintanya saat dia masih remaja, di mana di masa usia seperti itu masih labil dan membutuhkan sosok pelindung di sampingnya.


"Sebenarnya Ethan bukanlah penyebab langsung kecelakaan ayah kak Riani, bisa di bilang ada rangkaian penyebab kejadian tersebut, awalnya karena aku jatuh cinta dengan Ethan saat pertama kali bertemu, saat itu aku masih berumur dua belas tahun dan papahku melihat kalau aku suka sama Ethan, dan berniat menjodohkan kita berdua, sayangnya Ethan menolak karena saat itu dia sedang menjalin kasih dengan gadis lain yang baru-baru ini aku mengetahui kalau gadis itu adalah kak Riani..."


Viola menghentikan ceritanya sejenak, kemudian menarik nafas dalam-dalam dan menghela panjang.


Teddy hanya diam, menunggu lanjutan cerita dari Viola dan memberinya waktu untuk menata perasaan Viola.


"Tapi om Marcel lebih memilih untuk menjodohkan Ethan denganku, mungkin sebagai balas budi om Marcel pada papahku, dan karena merasa tidak enak sama papahku, om Marcel menentang hubungan Ethan dengan kak Riani"


"Om Marcel punya hutang budi papahmu?"


"Panjang ceritanya, tapi intinya papahku pernah membantu papahnya Ethan dari keterpurukan, mungkin karena itu om Marcel tidak bisa menolak permintaan papahku untuk menjodohkan Ethan denganku"


"Lalu apa yang terjadi dengan hubungan Ethan dan Riani selanjutnya?"


" Mereka di paksa putus, namun Ethan tidak bisa pisah dari kak Riani hingga stres dan mencari pelarian dengan mengosumsi obat-obatan terlarang untuk menghilangkan rasa tertekannya itu, hingga puncaknya Ethan over dosis dan di nyatakan oleh tim medis kalau dia meninggal dunia..."


"Lalu...?"


"Lalu untuk yang terakhir kalinya kak Riani melayat ke rumah Ethan dengan di temani ayahnya, namun kedatangan mereka tidak di sambut baik oleh om Marcel dan mengusir mereka berdua, hingga akhirnya tante Grace bisa membujuk om Marcel agar membiarkan Riani untuk yang terakhir kalinya melihat wajah Ethan"


"Dan om Marcel mengijinkan?"


"Om Marcel mengijinkan kak Riani tapi tidak dengan ayahnya, dia di paksa menunggu di luar, tapi na'as saat Riani keluar dari rumah Ethan, terjadi kecelakaan mobil yang menabrak mobil ayahnya kak Riani yang saat itu akan keluar dari mobilnya..."


"Ya Tuhan..." Ucap Ethan dengan suaranya bergetar dan air yang sudah menggenang di sudut matanya.


Teddy bisa membayangkan seperti apa perasaan Riani saat itu, melihat langsung ayahnya dalam kecelakaan tersebut.


"Saat itu aku mendengar teriakannya yang pilu, jika mengingat itu, hingga hari ini aku masih sangat menyesal...Karena secara tidak langsung aku juga penyebab kejadian itu, jika saja aku tidak jatuh cinta pada Ethan, mungkin papahku juga tidak akan meminta om Marcel untuk menjodohkan Ethan denganku, sehingga Ethan tidak akan stres dan tidak menggunakan narkoba, dan dia tidak akan over dosis, maka tidak akan ada kejadian kecelakaan itu..."


Viola tidak sanggup melanjutkan ceritanya lagi, dia akhirnya menangis dalam penyesalan.


"Lalu bagaimana Ethan bisa hidup kembali?"


"Saat jeritan dan teriakan kak Riani yang memanggil nama Ayahnya, di saat itulah kami melihat ada pergerakan kehidupan di tubuh Ethan..."


"Saat itu Riani pasti sangat ketakutan dan trauma..."


Teddy berdiri dan langsung menghadap ke arah kaca jendela dan mencoba menahan tangisnya, tapi di dadanya terasa sesak jika mengingat cerita dari tragedi itu.


"Sebenarnya akulah penyebab awal semua kejadian itu bang..." kata Viola di sela isak tangisnya.


"Kamu jangan menyalahkan diri kamu sendiri Vi, ini sudah menjadi jalan takdir mereka dari Tuhan, kita tidak bisa menghindarinya"


"Aku tahu itu bang, tapi jika aku bisa memilih kembali, maka aku akn lebih memilih memendam dalam-dalam cintaku pada Ethan, meskipun dia cinta pertamaku..."


"Kita ber-empat memang dalam lingkaran cinta pertama yang rumit, entah sampai kapan, dan akankah kita bisa bahagia di akhir cerita dengan kisah cinta pertama kita ini..."

__ADS_1


Tatapan Teddy menerawang jauh menembus kaca di depannya, di hatinya hanya ada harapan yang lebih baik di hari esok...


...☆☆☆...


__ADS_2