
Riani terbangun dari mimpi buruknya, dia terhenyak dan terduduk lemas sambil bersandar di tepian ranjangnya.
Mimpi kecelakaan yang merenggut nyawa ayahnya kembali menghantui dalam mimpinya.
Segera dia mengusap keringat yang mengucur deras di kening dan lehernya.
Di ambilnya gelas air minum di atas meja kecil dekat ranjangnya.
Seteguk, dua teguk, hingga akhirnya dia menghabiskan air minumnya dan meletakkan kembali gelasnya yang sudah kosong ke atas meja.
Riani berniat untuk tidur kembali, tapi tidak bisa karena pikiran dan perasaannya sangat gelisah.
Di tengoknya jam dinding yang terpasang di tembok depan ranjangnya.
Jarum jam menunjukkan pukul tiga pagi, dia pun akhirnya keluar menuju kamar mandi dan berwudhu.
Riani mengambil mukenahnya, dielusnya mukenah yang masih dalam tas pembungkusnya, dia merasa sangat jauh dengan Tuhannya, karena selama ini dia menyadari telah lupa akan DIA dan melalaikan kewajibannya sebagai hamba-Nya.
Di bukanya mukenah yang ada di tangannya kemudian dia kenakan dan segera menghadap Kiblat, bertahajud.
Di sepertiga malam terakhir Riani khusyukkan bertahajud menghadap Sang Pemilik Yang Hidup...
"Ya Allah...Di atas bumi-Mu aku bersujud, di bawah langit-Mu aku besimpuh pada-Mu...Dengan Raga yang renta ini dan dengan jiwa yang fana ini, dengan hidup yang penuh dosa ini...mohon Ampunan-Mu yang telah melupakan-Mu, sang penciptaku, hamba akan berusaha menjadi manusia yang lebih baik di mata-Mu, maka jadikanlah hamba manusia yang mendapatkan rahmat dan hidayah-Mu, Amin..." Riani mengusap wajahnya yang sudah basah dengan air mata.
Diambilnya ponsel yang tergeletak di atas kasur, kemudian dia membuka aplikasi khusus untuk membaca Al-quran.
Dengan suaranya yang merdu dia melafazkan ayat-ayat Allah, dan memecah keheningan hari menjelang Shubuh.
.............
Dari kejauhan terdengar sayup-sayup suara Adzan Shubuh bekumandang memanggil umat Muslimnya.
Riani segera menyudahi membaca Al quran dan kembali berwudhu, kemudian dia segera lanjutkan dengan menunaikan sholat Shubuh.
Ketenangan dan kedamaian mengalir di pikiran, hati dan perasaannya.
Dan karena tidak bisa tidur lagi setelah sholat Shubuh, akhirnya Riani memilih untuk keluar kamar dan berjalan-jalan di sekitar rumah.
Udara yang masih dingin dan segar menusuk tubuhnya hingga ke tulang, mulai terlihat olehnya kesibukan penduduk sekitar yang berangkat melaut ataupun berdagang ke pasar.
Akhirnya Riani melangkah ke arah teras rumah dan duduk di salah satu kursi.
Sesekali Riani berdiri dan berolah raga sebentar dengan gerakan senam di kaki dan tangannya.
Namun baru saja dia akan kembali duduk, rasa pusing dan mualnya kembali kambuh, dan karena dia sudah tidak bisa menahan rasa ingin muntahnya, Riani segera berjalan cepat masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke kamar mandi, tanpa menyadari kalau Dadong sudah bangun dan sedang berada di dapur melihat Riani yang melewatinya menuju ke kamar mandi.
Setelah Riani selesai memuntahkan isi perutnya dia pun segera keluar dari kamar mandi.
Riani terkejut saat keluar dari kamar mandi ternyata Dadong sudah berdiri menunggunya di samping ruang kamar mandi.
"Dadong!" ucap Riani terkejut.
"Selamat pagi Putu..." Ucap Dadong tersenyum melihat ekspresi terkejut Riani.
"Selamat pagi juga Dadong..."
"Pagi-pagi sekali sudah bangun putu...?"
"Iya Dadong, tadi terbangun dan tidak bisa tidur lagi jadi...Riani jalan-jalan sebentar di luar tadi"
"Tadi Dadong lihat putu muntah-muntah di kamar mandi, apakah putu masih kurang sehat?" tanya Dadong dengan ekspresi wajah yang penuh kekhwatiran.
"Tidak Dadong, ini sudah biasa kok, lambung Riani memang dari dulu tidak kuat dengan hawa dingin"
__ADS_1
"Beneran, tidak apa-apa?"
"Iya Dadong, beneran kok..."
"Ya sudah, putu duduklah dulu, Dadong buatkan teh hangat dan bubur untuk sarapan putu" kata Dadong sambil memapah tubuh Riani yang masih lemas ke arah ruang makan.
"Terima kasih Dadong..." Ucapnya setelah duduk di salah satu kursi.
"Iya Putu, sama-sama..."
Dadong segera berjalan meninggalkan Riani menuju ke dapur.
Sedangkan Riani sambil menunggu dia menyibukkan diri dengan ponselnya dan berselancar di dunia maya.
Entah kenapa tiba-tiba di pikirannya terlintas wajah Radja, suaminya.
Ada perasaan kangen di hatinya, apalagi sudah beberapa hari ini dia dan raja tidak komunikasi entah itu lewat pesan ataupun telepon.
Tanpa ragu-ragu dia segera memencet nomor suaminya yang bertengger di barisan paling atas dalam daftar kontaknya.
Namun saat dia menghubungi Radja, panggilan yang pertama tidak di angkat, hingga panggilan yang ke tiga kalinya dia mencoba untuk menghubungi dan ternyata nomor Radja sudah tidak aktif.
Awalnya dia berpikiran positif, mungkin suaminya masih tidur, karena hari memang masih terlalu pagi.
Namun akhirnya perasaan Riani menjadi khawatir sekaligus was-was, hingga kemudian akhirnya dia mengenyahkan pikiran buruk tentang suaminya.
"Di minum dulu teh manis hangatnya biar perut Putu enak, kemudian makanlah bubur ini, pelan-pelan karena buburnya masih panas" kata Dadong yang berjalan keluar dari dapur menuju ruang makan dan meletakkan secangkir teh hangat dan bubur dari baki.
"Iya Dadong, terima kasih..."
Dengan pelan-pelan Riani menyeruput teh hangatnya dan menyantap bubur, meski pikiran dan hatinya sedang gelisah.
Dadong yang menangkap kegelisahan hati Riani mendekati dan memegang pundak Riani.
"Tidak apa-apa..."
"Dadong ingin bertanya, mulai kapan Putu mulai mual da muntah?"
"Kurang lebih satu minggu yang lalu, kenapa Dadong?" jawab Riani bingung dan heran dengan pertanyaan Dadong yang seperti itu.
"Kamu yakin itu karena cuma sakit lambung?"
"Iya Dadong, tapi memang terkadang jika Riani terlalu tegang maka rasa mual dan muntah itu akan terasa"
"Oo jadi seperti itu, ya sudah Putu lanjutkan sarapannya, Dadong mau ke kebun samping menemani Pekak panen sawi"
"Baiklah, nanti Riani menyusul kalian" jawab Riani melanjutkan sarapannya, sedangkan Dadong berjalan ke arah pintu samping rumah menuju ke arah di mana Pekak berada.
...........
Mentari mulai menampakkan semburat sinar keemasannya di ufuk timur saat Riani dengan serius membantu Pekak dan Dadong memanen sawi di kebun samping rumah.
Suara ramai beberapa sepeda yang melewati depan rumah mereka menambah suasana pagi semakin menentramkan hati Riani.
Terkadang ada beberapa sepeda yang lewat membunyikan bel lonceng sepedanya pada mereka, Pekak dan Dadongpun membalas dengan menganggukkan kepala dan melambaikan tangan mereka dengan senyum ramah mereka.
Badan Riani terasa enteng setelah tubuhnya basah kuyup dengan keringat, matahari pagi yang mulai hangat memberi asupan Vitamin D pada tubuhnya, hingga membuat dia merasakan tubuhnya lebih bugar di bandingkan dengan semalam dan pagi tadi.
"Putu, sebaiknya kamu masuk ke dalam, istirahatlah dulu..." Perintah Pekak.
"Iya masuklah dan jangan langsung mandi, tunggu sampai tidak berkeringat lagi barulah bisa mandi" saran Dadong.
"Baiklah, kalau begitu Riani pamit ke dalam dulu"
__ADS_1
Serempak Pekak dan Dadong menganggukkan kepala.
Kemudian Riani segera beranjak dan melangkah menuju ke dalam rumah.
.............
Setelah Riani masuk ke dalam dia segera mengambil segelas air minum dan langsung meneguknya hingga habis, kemudian dia berjalan menuju ke ruang tamu.
Dia langsung duduk di salah satu kursi, mengambil remote televisi dan menyalakannya.
Sambil menonton televisi yang sedang menyiarkan acara memasak, Riani mengeringkan keringat dengan mengelapnya menggunakan handuk kecil dan kipas tangan yang ia kibas-kibaskan ke seluruh tubuhnya.
Terdengar olehnya beberapa orang sedang memarkirkan sepedanya.
Namun meskipun hati Riani penasaran dia tetap tak bergeming dari tempat duduknya karena dia sedang serius menonton televisi acara memasak tersebut, karena menurutnya bisa menjadi rekomendasi dan referernsi untuknya.
Apalagi mereka berencana akan membuka bisnis restoran.
Suara ketukkan pintu membuat konsentrasi menonton Riani terbuyarkan dan segera menengok ke arah bunyi ketukan tadi yang tak lain adalah pintu masuk.
Dan alangkah terkejutnya Riani saat melihat rombongan beberapa orang yang ia kenal.
Randi, Zoya, Arga, Teddy, Viola dan Ethan.
Mereka semua bisa bersamaan datang, yang membuat Riani lebih terkejutnya mereka nampak akrab satu sama lainnya.
Itu terlihat oleh Riani dari cara mereka tersenyum satu sama lain dan berjalan masuk ke arahnya.
"Kak Riani!" panggil Zoya dan Viola kompak.
"Ria-ku!" panggil Ethan.
"Ai! panggil Teddy.
"Mba!" panggil Randi.
Kata mereka semua setelah sampai di depan Riani yang sudah berdiri dari duduknya.
Mereka semuanya masing-masing tersenyum penuh arti dan bergantian menyalami Riani yang masih bengong.
"Kalian kok bisa bersamaan datang kemarinya, apakah kalian memang sudah janjian untuk datang ke sini?" tanya Riani penasaran sambil kembali duduk di kursinya yang di ikuti dengan yang lainnya.
"Iya kak, kami sengaja membuat janji untuk datang ke sini bersamaan karena kami ingin mengajak kakak mengelilingi pulau tiga gili dari arah laut" jawab Viola yang sudah duduk di samping Riani.
"Maksudnya?" tanya Riani yang masih belum mengerti dengan perkataan dari Viola.
"Maksudnya adalah kita semua ingin mengajak kamu berkeliling melihat sisi lain dari pulau gili Meno, Trawangan dan gili Air" jawab Ethan menjelaskan.
"Iya Ai, karena hari ini kan hari terakhir kamu dan aku di sini, karena besok sore kita sudah harus pulang kembali ke Jakarta" sambung Teddy.
"Kebetulan bang Ethan ada Yacht milik pribadi, dan dia mau meminjamkannya pada kita semua" sambung Arga, ikut menjelaskan.
"Dan kami semua datang untuk memberi kejutan ini sekaligus menjemput kakak!" kata Zoya dengan suaranya yang agak keras penuh semangat.
"Jadi kalian sengaja merencanakan semua ini untuk memberi kejutan padaku?" tanya Riani terharu.
"Tentu saja!" jawab mereka semua kompak dan tertawa melihat ekspresi wajah terkejut sekaligus terharu Riani.
Riani langsung malu, setelah menyadari mereka menertawakan ekspresi wajah lucunya.
Namun meskipun begitu, di lubuk hatinya yang paling dalam, Riani sangat bersyukur dan bahagia karena bisa melihat mereka semua terlihat akur dan tertawa bahagia bersama, dan bisa kompak memberikan kejutan untuknya.
Bisa melihat dan merasakan kebahagiaan mereka yang tertawa lepas seperti itu saja sudah cukup baginya yang membuatnya juga ikut merasakan kebahagiaan mereka, meskipun hubungan mereka dengan Riani masing-masing memiliki latar belakang dan kisah yang berbeda-beda, namun kejutan terindah inilah yang Riani harapkan...
__ADS_1
...☆☆☆...