
Riani menatap satu persatu orang-orang terdekatnya yang masih tertawa lepas.
Dia pun tersenyum, hatinya merasa sangat damai mendengar dan melihat kebahagiaan mereka, meskipun dia tidak tahu alasan sebenarnya kebahagiaan mereka.
"Kalian semua mau berangkat jam berapa?" tanya Dadong yang sudah masuk ke dalam sambil mengelap keringatnya, di susul dengan Pekak berjalan di belakangnya yang juga terlihat sedang mengelap keringatnya.
"Jadi Pekak dan Dadong tahu rencana mereka?" tanya Riani, terkejut.
"Baru semalam kami berdua di beritahu mengenai rencana mereka" jawab Pekak.
"Kami nanti akan berangkat dari sini sekitar jam satuan" jawab Teddy.
"Dan karena kita semua akan bermalam jadi kita akan belanja kebutuhan selama berada di Yacht nanti" sambung Ethan.
"Iya kak, kami semua sengaja datang ke sini untuk menjemput kak Riani, dan sebelum kita berangkat aku, Zoya dan kak Riani belanja, bagaimana?" tanya Viola.
"Boleh..." Jawab Riani singkat.
"Kalau begitu kita berangkat sekarang!" ajak Zoya antusias sambil memeluk penuh sayang kedua pundak Riani.
"Baiklah, tapi aku mandi dulu, badanku lengket karena keringat nih..." Jawab Riani sambil mengelus lembut punggung tangan Zoya yang masih bergelanyut manja di pundaknya.
"Baiklah, kakak mandilah dulu, kita akan menunggu..." jawab Zoya sambil melepas pelukannya, sedangkan Viola hanya mengangguk dan tersenyum melihat tingkah manja zoya.
.............
Setengah jam kemudian Riani keluar dari kamarnya.
"Ayo kita berangkat sekarang" ajak Riani.
"Biar aku antar kalian" kata Teddy dan Ethan bersamaan, keduanya berdiri dan menghampiri Riani, Viola dan Zoya.
"Kalian antarlah mereka bertiga, Pekak khawatir dengan mereka apalagi kesehatan putu Riani belum pulih benar"
"Baik Pekak" jawab keduanya.
"Kalau begitu selebihnya biar kami yang urus" kata Randi yang di ikuti dengan anggukan Arga.
"Oke, thanks ya, kalau begitu kami pergi dulu" jawab Teddy.
Keduanya mengangguk.
Teddy dan Ethan berniat menawarkan diri agar Riani membonceng sepeda mereka, melihat gelagat mereka berdua dengan cepat Riani menghampiri Zoya dan membonceng di sepedanya.
Dia sengaja melakukannya agar tidak terjadi salah paham, apalagi dengan keadaan kesehatan psikis Ethan, meski akan sulit namun sebisa mungkin Riani meminimalisir resiko kambuhnya sakit Ethan.
Mereka berlima pun segera menuju pasar rakyat terdekat.
Kayuhan sepeda Zoya semakin cepat setelah pasar sudah terlihat di depan mata.
Semangat Zoya, memompa jiwa semangat Riani dan Viola sebagai perempuan yang sama-sama suka belanja dan hunting barang-barang kesukaan mereka.
Selama berbelanja Riani berusaha sebisa mungkin menjaga jarak dengan Teddy maupun Ethan.
Melihat kegilaan belanja Riani, Viola dan Zoya membuat Teddy dan Ethan menggelengkan kepala mereka.
Setelah selang beberapa jam, akhirnya kepuasan belanja mereka bertiga terselesaikan, dengan bawaan yang melebihi kapasaitas tangan, mereka berjalan menuju Ethan dan Teddy yang duduk di salah satu warung makan dekat pasar.
Dan karena terlalu banyak belanjaan, akhirnya mereka menyewa Cidomo untuk mengangkut semua belanjaan mereka.
Riani dan Viola akhirnya memutuskan untuk naik juga di atas Cidomo.
__ADS_1
Selama perjalanan Riani nikmati dengan mengobrol santai dan melihat pemandangan pinggir jalan yang mereka lewati.
Hingga angin yang semilir membuat mata keduanya terasa berat dan tidak bisa menahan kantuk, dan mengalahkan keduanya yang akhirnya tertidur pulas dengan saling bersandar.
Zoya, Ethan dan Teddy tertawa saat melihat Riani dan Viola tertidur dengan posisi kepala yang saling menyatu dan akan berbenturan satu sama lain jika Cidomo melewati tanjakan atau polisi tidur.
.............
Zoya segera membangunkan Riani dan Viola saat Cidomo sudah sampai dekat rumah mereka.
Agak tersentak keduanya terbangun, kemudian meski Riani dan Viola terlihat masih linglung, mereka segera turun dari Cidomo.
Randi, Pekak dan Arga segera keluar dari rumah dan membantu mengangkat barang turun dari Cidomo.
Setelah semuanya selesai, mereka berkumpul di ruang tengah membahas rencana nanti jika sudah di Yacht, sedangkan Dadong dengan di bantu Zoya mempersiapkan makan siang.
Pekak memanggil semuanya untuk ke ruang makan dan makan siang bersana.
Suasana Ramai penuh canda tawa dan kekeluargaan menghiasi makan siang hari ini.
Di hati Riani sangat bersyukur karena meskipun ada kecanggungan antara Ethan dan Teddy, namun semuanya sirna setelah mereka berdua berbaur dengan dengan keluarga Randi dan Zoya yang penuh dengan kehangatan sebuah keluarga.
Tepat setelah makan siang dan membantu Dadong membereskan dan mencuci piring, mereka bertujuh pamit untuk menuju ke kapal Yacht milik Ethan dengan di bekali berbagai macam sayuran hasil kebun samping rumah dan di angkut lagi menggunakan Cidomo yang mereka sewa.
Dengan kembali saling berboncengan mereka mengayuh sepeda menuju ke arah laut di mana kata Ethan Yachtnya sudah bersandar di dermaga.
.............
Karena kali ini Riani di bonceng Arga, dengan kayuhan pelan, Arga mencuri waktu untuk melanjutkan obrolan kemarin yang belum selesai.
"Rasanya kalau aku belum melanjutkan ceritaku semua sebelum mba Riani pulang besok, hati terasa tidak tenang, entah kenapa..." Kata Arga membuka pembicaraan.
"Memangnya kenapa Ga? aku kan juga tidak memaksamu untuk menceritakannya?"
"Mungkin karena kamu terlalu memikirkannya, jadi seperti itu..."
"Iya, mungikn karena hubungan keluarga kami yang kurang harmonis, antar saudara ada celah, seperti mamahku dan om Roland, padahal setahuku dulu mereka berdua sangat akrab, hinga suatu kejadian merusak persaudraan mereka"
"Kejadian?" tanya Riani mulai tertarik dan penasaran.
"Yang aku dengar dari keluargaku, dulu Mamahku adalah manajer dari duo R.O, namun saat karier mereka sedang berada di puncaknya, ternyata om Roland jatuh cinta dengan teman SMAnya dulu, namun mamahku melarang keras hubungan mereka dan memperketat aturan untuk om Roland demi kelanggengan kariernya di dunia hiburan"
"Oo jadi yang membuat mereka tidak akur karena hal itu? tapi buakankah itu sudah berlalu begitu lama, lalu kenapa mereka hingga sekarang masih belum berbaikan?"
"Karena masalahnya tidak se-simpel yang kita dengar dan kita lihat Mba..."
"Apakah masalahnya semakin rumit?"
"Ya bisa di bilang seperti itu, karena meskipun Mamahku sebagai Manager melakukan hal itu, tidak bisa menghentikan om Roland untuk menemui kekasihnya yang membuat mamahku dan om Roland selalu bertengkar"
"Lalu bagaimana kelanjutan hubungan om Roland dan pacarnya?"
"Pacar om Roland tiba-tiba menghilang dan meninggalkannya begitu saja, membuat om Roland semakin benci dengan mamahku karena dia menduga itu semua karena ulah mamahku, hingga akhirnya om Roland memutuskan untuk berhenti bernyayi dan keluar dari manajemennya"
"Lalu apakah memang itu benar, bahwa mamah kamulah yang membuat pacar om Roland pergi?"
"Tanteku pernah bercerita, awalnya memang Mamahku berniat seperti itu, menemui pacar om Roland dan menyuruhnya untuk menjauhi om Roland, namun ternyata wanita itu sedang hamil anak om Roland, dan wanita itu bilang kalau mamahku tidak perlu khawatir karena dia akan menggugurkannya dan menghilang selamanya dari kehidupan om Roland"
"Lalu bagaimana reaksi mamah kamu saat mendengarnya?"
"Mamahku sangat terkejut, namun saat itu dia juga bingung, apa yang harus dia katakan pada om Roland, hingga akhirnya setelah om Roland hengkang dari menejemen Mamahku, barulah om Roland di beritahu keadaan yang sebenarnya mengenai kehamilan pacarnya, tapi...Na'as wanita tersebut tidak tertolong saat sedang proses menggugurkan kandungannya karena pendarahan hebat"
__ADS_1
"Dan aku bisa menebak, karena kejadian itu hubungan antara mamah kamu dan om Roland semakin memburuk, betul kan?"
"Tepat sekali, namun karena kejadian itu, rasa bersalah yang ter-amat sangat, selalu menghantui mamahku, hingga akhirnya mempengaruhi kesehatan mamahku"
"Maksud kamu?"
"Mamahku mengidap kanker otak stadium dua, dan hingga kini mamah masih menyesal dan merasa bersalah"
"Mungkin beban derita dari penyesalan mamah kamu sangat mempengaruhi pikirannya"
"Mungki juga seperti itu..."
"Aku ikut prihatin dengan keadaan Mamah kamu, tolong sampaikan salamku pada beliau"
"Iya mba, terima kasih atas empati mba Riani pada mamahku, pasti akan aku sampaikan salam mba pada mamah"
"Sama-sama, oh ya! lalu di manakah istri om Roland, karena saat kita ke rumahnya kemarin aku tidak melihatnya?"
"Semenjak kejadian yang sangat menyedihkan dan menyakitkan hatinya itu, om Roland memutuskan untuk tidak menikah sebagai bentuk penyesalannya yang teramat dalam"
"Lho! lalu Nando?" tanya Riani bingung.
"Nando itu adalah anak angkat om Roland, tapi om Roland sangat menyayangi Nando seperti anak kandungnya sendiri, bahkan mungkin kasih sayangnya melebihi dari sebagai anak kandung"
"Oo seperti itu..."
"Haah...Akhirnya lega juga, terima kasih ya mba sudah mau mendengar ceritaku..."
"Iya sama-sama, aku juga sangat berterima kasih padamu karena sudah percaya padaku untuk mendengarkan ceritamu..."
Keduanya kompak tersenyum penuh arti.
Keakraban yang terjalin antara Riani dan Arga tidak luput dari pandangan mata Ethan dan Teddy yang cemburu.
Lain halnya dengan Zoya, di dalam benaknya cuma ada perasaan penasaran dan ingin segera mencari tahu dengan menanyakan langsung pada Arga atau Riani.
Di hati Zoya tidak ada rasa cemburu, karena Zoya sangat percaya pada Riani, orang yang pernah menolongnya.
.............
Akhirnya mereka semua sampai di dermaga pelabuhan, di sana terjejer Yacht mewah dari ukuran yang terkecil hingga terbesar.
Segera mereka memarkirkan sepeda mereka dan mengikuti Ethan yang berjalan menuju Yacht miliknya.
Riani memilih berjalan di barisan terakhir, Zoya yang melihat kesempatan itu segera menghampirinya
"Kak, tadi Zoya lihat kakak ngobrol serius banget sama Arga, sebenarnya apa sih yang kalian bicarakan?" tanya Zoya, yang sangat terlihat ekspresi wajahnya penuh penasaran.
"Kamu benar-benar ingi tahu?" tanya Riani tersenyum, dia berniat menjahili Zoya.
Zoya langsung mengangguk cepat dan menatap lekat wajah Riani, menunggu jawaban dan perkataan Riani.
"Arga bercerita mengenai perasaannya yang mencintaimu dan mengenai kemantapan hatinya mengenai perjodohan kalian, nah...Sekarang gantian kakak yang bertanya padamu, apakah kamu juga mencintainya?"
Mendapat pertanyaan balik dari Riani, mendadak Zoya gugup kemudian dia langsung lari menjauhi Riani.
"Itu rahasia! nanti kalau sudah saatnya Zoya pasti akan cerita semuanya!" teriak Zoya dari kejauhan.
Riani hanya mengangguk puas, karena berhasil menjahili Zoya, lagi pula tidak etis baginya kalau dia menceritakan kisah cinta om Roland, yang notabene bukan kapasitasnya.
Riani berjalan pelan menyusuri jembatan kayu yang ada di hadapannya, terlihat olehnya kebahagiaan Zoya yang meloncat-loncat kegirangan sambil menggandeng tangan Arga.
__ADS_1
Riani tersenyum, dalam benaknya berkata, ada cinta ada cerita, kisah cinta orang satu dengan yang lainnya pastilah berbeda dengan kisahnya yang lain...
...☆☆☆...