
Riani membasuh wajah dan memperbaiki riasannya di toilet, kemudian dia keluar dan kembali ke hall.
Sesampainya di sana ponsel Viola segera dia berikan padanya dan kembali duduk di kursinya.
Nampak Ethan sudah kembali duduk di samping Viola, terlihat dia tersenyum dengan ramah pada para tamu.
Riani menghela nafas leganya meski di sudut hatinya tidak bisa dia pungkiri ada luka yang menganga begitu dalam dan terpuruk dalam kesedihan, namun dia menyadari bahwa hidup dia dan hidupnya harus tetap berjalan seiring berjalannya waktu.
"Kamu dari mana saja Ai? aku dari tadi mencarimu" tanya Teddy mengejutkan Riani yang sedang menatap Viola dan Ethan.
"Aku habis mengambil ponsel Viola di kamarnya, tadi dia minta tolong padaku"
"Hei! kamu habis menangis ya Ai?" tanya Teddy dengan keningnya yang berkerut.
"Aku terharu dengan pernikahan mereka, sekaligus sedih karena mereka terlihat bahagia tapi berbanding terbalik dengan pernikahanku yang menyedihkan..." Jawab Riani berbohong namun masuk akal.
"Ai...Jika kamu tidak bahagia dan selalu terluka karena dia, aku siap berusaha membahagiakanmu..."
"Terima kasih Ted atas perhatianmu, tapi aku akan berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankan pernikahanku..." Jawab Riani meyakinkan Teddy sekaligus dirinya sendiri, terlihat ada kesedihan dan kekecewaan di mata Teddy saat mendengar jawaban dari Riani.
"Apalagi sekarang masalahku bertambah dan tidak sesimpel itu, semakin rumit untuk bisa menjelaskan semuanya padamu, jadi...Maafkan aku Ted, karena aku tidak mau memberi harapan yang jika akhirnya akan membuatmu kecewa dan terluka..." Bisik Riani dalam benaknya, perasaannya pun ikut terluka melihat ekspresi wajah Teddy.
.............
Setelah acara menikmati hidangan dari empunya hajat, kemudian di lanjutkan dengan sesi pemotretan.
Kini giliran Teddy dan Riani yang di helat naik panggung pelaminan untuk foto bareng bersama pengantin dan juga berselfie ria.
Dengan sengaja Riani lebih memilih posisi berdiri jauh dari Ethan.
Setelah sesi pemotretan selesai, Riani mohon ijin pamit terlebih dahulu, karena dia merasa badannya kembali tidak enak.
Viola dengan wajah cemasnya menyuruh Riani untuk segera kembali ke kamarnya.
Riani mengangguk dan minta maaf pada Viola karena tidak enak hati meninggalkan tempat acara sebelum selesai.
Setelah pamit pada Viola dan Ethan, Riani menuju ke arah Teddy yang sedang sibuk ngobrol dengan relasi bisnisnya.
Sesampainya di belakang Teddy, dengan pelan Riani menepuk pundak Teddy, yang kemudian Teddy langsung berbalik ke arah Riani.
Dengan suara pelan Riani berbisik kepada Teddy.
"Ted aku pamit kembali ke kamarku dulu?"
"Kamu kenapa Ai?" tanya Teddy yang terlihat jelas wajah cemasnya itu.
"Aku tidak apa-apa kok Ted, cuma ingin istirahat sebentar..."
"Kalau begitu aku antar ya?"
"Tidak perlu, kamu lanjutkan saja perbincanganmu dengan relasi bisnismu, tidak enak kan kalau di tinggal"
"Tapi...Beneran kamu tidak apa-apa Ai?"
"Beneran Ted, aku baik-baik saja kok..."
"Ya sudah, kamu hati-hati ya"
"Iya, kalau begitu aku pamit dulu, permisi..." Ucap Riani sambil membungkukkan kepalanya pada relasi bisnis Teddy, merekapun membalas sapaan Riani dengan anggukkan kepala dan senyum yang ramah.
__ADS_1
Kemudian Riani berjalan keluar hall dengan di iringi tatapan mata tiga pasang laki-laki, yaitu Teddy, Ethan dan pria misterius yang selalu membuntuti Riani.
Riani berjalan menyusuri lorong menuju kamarnya, namun hanya tinggal beberapa langkah lagi sampai di kamarnya, tiba-tiba kepalanya kembali terasa sangat berat dan mata berkunang-kunang, hingga akhirnya tubuhnya roboh tak sadarkan diri.
.............
Riani akhirnya tersadar dari pingsannya, namun dia sangat kaget karena saat terbangun dia sudah ada di atas kasur kamarnya, karena seingat dia terakhir kali terjatuh tidak sadarkan diri masih berada di luar kamarnya.
Riani masih dalam kebingungan dan masih belum sepenuhnya dalam keadaan sadar, tiba-tiba...
"Kamu sudah sadar...?"
Riani sontak terkejut saat Riani menengok ke arah suara asing yang keluar dari kamar mandinya dan Riani semakin terkejut saat tahu kalau orang tersebut adalah pria yang kebetulan dia lihat di luar restoran dan sedang memandang ke arahnya, pria dengan postur tubuh tinggi kekar dengan wajah yang cukup tampan.
"Kamu siapa dan kenapa bisa ada di kamarku?" tanya Riani dengan hati yang was-was.
"Aku orang yang kebetulan sedang lewat dan melihat anda jatuh pingsan..."
"Lalu kenapa anda tidak mengubungi pihak hotel dan malah membawaku ke kamar?"
"Maaf sekali kalau saya sudah lancang membawa anda masuk ke dalam kamar, tapi tadi yang terlintas dalam pikiran saat melihat kunci anda yang terjatuh dari tas anda adalah membawa anda masuk ke dalam kamar anda karena jarak yang dekat, dan sebentar lagi teman anda yang bernama Teddy akan segera datang, karena saya sudah menghubungi beliau"
"Dari mana kamu tahu nama dan nomor Teddy?" tanya Riani, agak curiga.
"Saya pernah melihat anda bersama Teddy dan kebetulan saya kenal beliau dan mempunyai kontak nomornya, kalau begitu saya pamit dulu, biar nanti beliau yang menemani anda" jawab pria tersebut sambil berbalik membelakangi Riani dan berjalan hendak keluar dari kamar Riani.
"Tunggu! maafkan saya yang terlalu menaruh curiga pada anda, dan terima kasih sudah menolong saya"
"Tidak apa-apa, sudah sewajarnya anda curiga dengan orang asing yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar anda.
"Sekali lagi terima kasih banyak sudah menolong saya, maaf...Boleh saya tahu nama anda?"
"Panggil saja Andy, baiklahbkalau begitu saya pamit keluar dulu, Bye" jawab pria yang bernama Andy tersebut sambil berlalu dan meninggalkan kamar Riani tanpa menunggu jawaban darinya lagi.
Suara ketukan pintu dari arah luar membuat terkejut Riani yang masih termenung, dengan kepala yang masih pusing Riani turun dari kasurnya dan berjalan terhuyung ke arah pintu.
Saat pintu terbuka, Teddy yang terlihat khawatir dan datang bersama seorang perempuan cantik berkerudung masuk dan langsung memapah tubuh Riani, karena dia melihat wajah Riani sangat pucat.
Sedangkan Riani yang memang masih lemas, tidak menghiraukan siapa yang datang bersama Teddy.
"Kamu berbaringlah, biar dokter Fariza memeriksamu..."
"Dokter?" tanya Riani masih belum mengerti.
"Iya, tadi Andy menghubungiku dan memberi tahu kalau kamu jatuh pingsan, dan kebetulan aku sedang ngobrol sama dokter Fariza ini, dia teman sekaligus rekan bisnisku, jadi aku minta tolong sama untuk memeriksa keadaanmu"
"Hallo, saya Fariza oktaviani, panggil saja saya Za..." Kata sang dokter memperkenalkan diri.
"Hai, Saya Riani, senang berkenalan dengan anda"
"Saya juga, sekarang perkenankan saya untuk memeriksa kondisi kesehatan mba Riani, boleh tidak?"
"Tentu saja dokter..." Jawab Riani sambil memperbaiki posisi tidurnya.
"Jangan pangil saya doker, mbak Riani bisa panggil nama saya"
"Baiklah, kalau dokter tidak keberatan"
Fariza tertawa kecil saat Riani lupa dan masih memanggil dirinya dengan sebutan dokter.
__ADS_1
"Maaf...Maksud saya Iza" segera Riani meralat kesalahannya.
"Tidak apa-apa, mba Riani, tolong ulurkan lengannya" kata Fariza.
Riani langsung patuh dan memberikan lengannya untuk di periksa nadinya, kemudian di lanjutkan dengan pemeriksaan tubuh lainnya sesuai prosedur ilmu kedokteran.
"Bagaimana Shiro, apakah Riani perlu di bawa ke rumah sakit?" tanya Teddy setelah melihat Fariza selesai memeriksa Riani.
Riani hanya mengernyitkan keningnya saat Teddy memanggil Fariza dengan sebutan nama Shiro.
"Sebenarnya bila ingin proses kesembuhan lebih cepat ya harus ke rumah sakit, karena mba Riani ada darah rendah dan gas di lambungnya juga tinggi, jadi perlu banyak istirahat dan menjaga makanannya"
"Kamu dengar Ai apa kata Shiro? kamu itu butuh dan harus banyak istirahat, aku antar kamu ke rumah sakit ya?" tanya Teddy membujuk Riani.
"Aku mau obat jalan saja Ted, dan kalau kamu ingin membantuku, besok kamu bisa antar aku ke rumah nenek kakeknya Randi, di sana aku bisa tenang beristirahat..."
"kamu yakin Ai?"
Riani hanya mengangguk mantap, yang membuat Teddy tidak berdaya menolak keputusan Riani.
"Bagaimana menurutmu Shiro?" tanya Teddy lagi untuk memastikan keputusan yang di ambil Riani baik atau tidak untuk kesembuhannya.
"Suasana hati atau psikologis juga bisa mempengaruhi proses kesembuhan jadi bila mba Riani merasa lebih baik jika berobat jalan dan beristirahat di rumah dan bukan di rumah sakit maka sebaiknya begitu saja"
"Ya sudah kalau begitu, besok aku antar kamu ke rumah pekak dan dadong"
"Terima kasih Ted, Iza..."
"Sama-sama, kalau begitu aku tuliskan resep obat yang harus di minum mba Riani" kata dokter Iza sambil menuliskan resep, setelah selesai dia serahkan pada Teddy.
"Terima kasih banyak ya Za..." ucap Riani.
"Iya mba sama-sama, semoga cepat sembuh ya mba, kalau begitu saya keluar dulu, Assalamualaikum..." Pamit dokter Fariza yang kemudian berjalan ke arah pintu keluar.
"Wa'alaikum salam..." Jawab Riani.
"Kita sekalian keluar bareng saja Shiro, aku mau ke apotik sekaligus membeli makanan" kata Teddy yang langsung menghentikan langkah Fariza.
Fariza hanya mengangguk dan menunggu Teddy di luar pintu kamar.
"Ai, aku keluar sebentar ya, jika ada apa-apa kamu segera menghubungiku oke?"
"Oke!"
"Aku pergi dulu, kamu tidur dan istirahatlah, aku bawa kunci kamarmu dulu"
"Iya Ted, kamu juga hati-hati di jalan"
Teddy segera keluar, setelah menutup pintu dia bersama dokter Fariza berjalan meninggalkan kamar Riani yang masih duduk terdiam merenungi kejadian demi kejadian yang barusan dia alami sepanjang hari ini.
Di mulai dari pertemuan dan pengakuan Ethan, cinta pertama Riani yang selama ini setahu dia sudah meninggal ternyata masih hidup.
Kemudian munculnya sosok misterius seorang Andy yang menolongnya saat pingsan tadi.
Dan yang terakhir pertemuan dan perkenalannya dengan dokter Fariza Oktaviani yang membantu memeriksa kesehatannya.
Riani melihat ada hubungan istimewa antara Teddy dan Fariza, karena Teddy memanggil nama lain dari Fariza yaitu Shiro, sama halnya saat Teddy memanggil namanya yaitu Ai.
Keakraban mereka berdua juga tidak biasa, apalagi saat melihat Fariza menatap Teddy ada yang berbeda di matanya.
__ADS_1
Namun tak lepas dari itu, Riani bahagia karena dia bisa mengenal orang-orang baru yang tulus membantunya saat dia terpuruk dalam kesedihan hingga mengganggu kesehatannya...
...☆☆☆...