
Riani menghentikan langkahnya saat melihat teman-teman di depannya juga berhenti, terlihat mereka semua melihat ke satu arah dengan ekspresi wajah terkesima dan terbengong-bengong.
Dengan segera dia mengikuti arah pandangan mereka dan alangkah takjubnya dia saat melihat Yacht milik Ethan yang begitu mewah dan anggun.
Setahu Riani Yacht 'Angsa' ini sangatlah populer di kalangan pecinta kapal.
Dengan harga yang fantastis berkisaran 7,4 trilyun, Riani berpikir seberapa kaya keluarga Ethan sekarang.
Riani langsung merasa ciut nyali, saat berpikiran dia tidak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan Ethan dan Viola yang sekelas Sultan.
Suara teriakan Zoya membuyarkan lamunan Riani, di lihatnya Zoya berjalan ke arahnya dengan Ethan di belakangnya.
"Ayo kita naik kak!" ajak Zoya.
"Tunggu mereka naik dulu, baru giliran kita" sambung Ethan sambil melihat ke arah Riani.
Riani melihat Ethan sebentar kemudian mengangguk.
Untuk bisa naik ke Yacht mereka harus menggunakan perahu kecil dulu.
Setelah mereka sampai dan naik ke atas Yacht, perahu pun kembali ke tempat Riani, Ethan dan Zoya menunggu.
Dengan segera Zoya naik ke perahu di susul Riani dan Ethan.
Selama perjalanan meski hanya beberapa menit saja, tapi Riani tahu Ethan tidak melepaskan pandangannya pada dirinya, hingga membuatnya rikuh dan canggung, karena ada Zoya yang meskipun tidak terlalu memperhatikan sikap Ethan padanya.
Kurang lebih sepuluh menit perjalanan dengan perahu, akhirnya mereka bertiga sampai di samping Yacht 'Angsa' yang kepalanya sudah turun sebagai tangga untuk masuk ke dalam Yacht yang terlihat tangguh dan elegan tersebut.
Zoya langsung loncat keluar dari perahu dengan di bantu kapten kapal, di ikuti Ethan yang naik, kemudian dia menjulurkan tangannya ke arah Riani untuk membantunya naik ke atas.
Tanpa ragu-ragu Riani menggapai uluran tangan Ethan yang kemudian menarik tangan dan meraih tubuh Riani yang hampir hilang keseimbangan.
Setelah Riani sudah berada di atas Yacht dengan segera pelan-pelan Riani melepaskan dirinya dari Ethan yang masih memegang tubuhnya.
Zoya dengan lincah menaiki tangga dan menyusul yang lainnya.
Riani segera mengikuti Zoya dengan santai meniti tangga satu persatu, terlihat olehnya semua orang yang sudah berada di atas melihat ke arahnya, membuat Riani jadi salah tingkah karena seolah menjadi pusat perhatian mereka.
Terlihat oleh Riani, mata Teddy juga menatapnya, namun kali ini tatapan nanar penuh kecemburuan.
Ada perasaan ngeri yang hadir di hati Riani saat dia melihat mata penuh kecemburuan tersebut.
Dengan segera dia mengalihkan pandangan ke arah lain, dan kebetulan pandangannya jatuh pada Viola, namun lagi...Riani menemukan pandangan penuh kesedihan di mata Viola meskipun tersungging senyuman di bibirnya.
Mungkin karena dia melihat perhatian Ethan pada Riani tadi.
Riani menundukkan kepalanya dengan tetap sambil berjalan, pikiran dan perasaannya campur aduk, ada perasaan bersalah dan iba jika mengingat ekspresi mata Viola tadi, namun dia pun merasa marah dan miris dengan keadaannya yang serba salah dan tidak bisa berbuat apa-apa, karena di sisi dia sebagai seorang wanita sangat tahu betul bagaimana perasaan Viola saat ini, tapi di sisi lain dia juga tidak bisa menolak panggilan hatinya untuk membantu Ethan, dia juga tahu kalau Ethan masih sangat membutuhkannya, dan meskipun Viola memintanya untuk membantu Ethan tapi dalam hatinya ada rasa bimbang jika saat dia menolong Ethan di waktu bersamaan pulalah ada perasaan seorang istri yang terluka.
Jika memikirkan semua itu Riani bagaikan makan buah simalakama, membantu Ethan salah, tidak membantu juga salah.
__ADS_1
Tapi demi kesembuhan dan keselamatan Ethan, Riani harus mengesampingkan semuanya, karena yang paling utama adalah kesehatan Ethan.
Saat Riani sampai di penghujung tangga Teddy sudah berdiri dekat tangga menunggu Riani.
Sama seperti Ethan, dia juga mengulurkan tangannya untuk membantu Riani keluar dari ujung tangga kapal.
Karena Riani ingin menjaga perasaan Viola dan Teddy, dia pun meraih tangan Teddy.
.............
Setelah semuanya berkumpul dan duduk santai di deck kapal atas, sang Kapten sekaligus Nahkoda kapal segera minta ijin pada Ethan untuk kembali pada kemudinya dan menjalankan kapal, dan hanya dengan anggukan kepalanya, sang Kapten langsung mengerti dan berbalik meninggalkan deck, menuju ruang kemudi.
Semuanya pun terdiam dan tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing sambil menikmati pemandangan di luar kapal, pemandangan laut dan pulau-pulau yang terlihat sangat jelas karena laju kapal dengan kecepatan yang tidak terlalu cepat.
"Ayo semua! kita keluar, karena sekarang kita akan melihat sisi lain dari tiga gili" ajak Randi dengan penuh semangat.
"Ayo Bli! kapan lagi kita bisa berkeliling melihat keseluruhan pulau tiga gili" jawab Zoya yang tak kalah semangatnya.
"Ayo kak kita keluar bareng" ajak Viola yang berjalan ke arah Riani yang bangun dari duduknya, kemudian dengan senyumnya yang merekah Viola menggandeng erat tangan Riani dan membawanya keluar.
Riani sendiri hanya menuruti ajakan Viola dengan mengikuti langkahnya.
.............
Pulau pertama yang di tuju adalah Gili Meno, pemandangan dari arah kapal sangat berbeda dan lebih menakjubkan saat mengitari seluruh pulau tersebut, semua langsung berdecak kagum melihatnya.
Setelah beberapa waktu mengelilingi pulau gili Meno, kapal pun beralih melaju ke arah pulau gili Air.
Semua yang melihatnya pasti akan terpesona dengan pemandangan tersebut, tidak terkecuali dengan para penumpang yacht 'Angsa' tersebut.
Dengan menggunakan kamera ponsel, mereka mengabadikan momen yang mungkin tidak akan mereka lihat lagi.
Setelah puas memandang dan mengabadikan ciptaan Tuhan yang eksotis, kapal pun kembali berlayar menuju pulau gili Trawangan.
Dan sesampainya di perairan sekitar gili Trawangan, pemandangan pulau pun tidak kalah cantiknya dengan dua pulau lainnya, jika di lihat dari kejauhan posisi di mana kapal mereka berada.
Tidak puas-puasanya Riani, Viola dan Zoya, berdecak kagum dan mengabadikan keindahan pulau tersebut, ada perasaan merinding karena haru dan bangga karena mereka menjadi salah satu penghuni yang lahir di Nusantara Indonesia yang memiliki banyak pulau dengan keindahan dan keasriannya.
.............
Ethan memberitahu bahwa setelah ini, kapal mereka akan menuju ke pulau kecil kosong di sekitar pulau tiga gili tersebut.
Dan karena hari menjelang senja, Ethan pun memerintahkan sang kapten untuk melajukan kapalnya menuju pulau kosong tersebut.
Sang Kapten segera menyetir kemudinya dengan tangkas dan kelihaiannya menuju pulau yang di maksud oleh sang bosnya itu.
.............
Tidak butuh waktu yang lama, yacht 'Angsa' yang mereka tumpangi pun sudah sampai dan berhenti tidak jauh dari pulau kosong tersebut.
Kapten dan dua awak kapal yang bekerja di kapal tersebutpun menurunkan tiga perahu skoci untuk bisa menyebrangi menuju ke pulau tersebut.
Setelah perahu skoci siap satu persatu mereka turun di masing-masing perahu.
__ADS_1
Perahu skoci melaju dengan kecepatan maksimal.
Hanya butuh beberapa menit saja, perahu mereka sampai di bibir pantai.
Dengan di bantu pengemudi perahu mereka turun dengan telanjang kaki, agar tidak basah sepatu mereka jinjing dengan tangan karena pasir pantai masih bercampur dengan air laut.
Setelah semuanya sudah turun, kru kapal dengan di bantu para lelaki menurunkan perlengkapan dan bekal untuk berkemah di pulau tersebut.
Sedangkan para perempuan menata dan mempersiapkan tenda.
.............
Senjapun mengganti siang hari, saat mereka sudah selesai membangun tenda dan menyalakan api unggun, sebagai penghangat ataupun pengusir nyamuk.
Mereka ber-tujuh mengelilingi api unggun sambil membakar sosis dan jagung.
Suasana ceria penuh canda tawa saat mereka saling bercerita masa-masa kecil mereka masing-masing.
Hingga tiba giliran Ethan untuk menceritakan masa kecilnya.
"Masa kecilku dulu sangatlah menakutkan, bahkan pernah terpikirkan olehku agar cepat dewasa tanpa harus melewati masa kecilku..."
Suasana yang tadinya ramai seketika langsung hening tanpa ada suara sedikitpun, hanya suara binatang malam yang bernyanyi sendu dari kejauhan seolah mengiringi kisah pilu nan kelam Ethan.
"Hingga suatu hari Mamahku mempernalkan dia saat kami pindah rumah, teman masa kecilku satu-satunya, dialah yang merubah semua mimpi buruk masa kecilku sebelumnya dengan mimpi-mimpi indah penuh canda tawa..." Sambung Ethan melanjutkan ceritanya, sambil menatap lekat ke arah Riani yang duduk di seberangnya.
Perhatian mereka semua tertuju pada Ethan dengan perasaan iba sekaligus terkejut, karena Ethan yang mereka kenal pendiam dan dingin, kini dengan tanpa beban menceritakan kisah kecilnya yang kelam tersebut.
Sedangkan Viola sebagai istri Ethan justru tersungging senyuman di bibirnya, di hatinya merasa bahagia sekaligus sedih.
Dia bahagia karena Ethan sudah bisa terbuka dan mau berbagi beban deritanya dengan orang lain, dan itu merupakan salah satu tanda dari beberapa tahap kesembuhan Ethan, yang ia tahu dari dokter psikolog Ethan, namun dia juga sedih, karena penyebab perubahan baik suaminya itu bukanlah karena dia melainkan Riani, orang yang sekarang sedang Ethan ceritakan, wanita yang telah mengisi hidup Ethan sedari kecil hingga sekarang ini, meskipun sudah terpisah belasan tahun tapi dalam ingatannya hanya ada Riani, yang juga cinta pertama suaminya itu, Viola tahu betul perasaan Ethan pada Riani, terkadang Viola bingung dengan perasaannya sendiri, haruskah dia bahagia karena suaminya ada kemungkinan bisa sembuh atau justru haruskah dia marah dan cemburu karena hati dan perasaan suaminya masih terikat dengan cinta pertamanya?
Viola hanya bisa pasrah, dan tanpa dia sadari wajahnya tertunduk dengan menggigit ujung bibirnya yang terasa sakit memang, tapi lebih menyakitkan hidup dengan orang yang tidak mencintainya...
Riani melihat perubahan air muka Viola, hatinya ikut merasa miris dengan keadaan Viola dan dirinya, mereka sama-sama terbelenggu ikatan pada satu pria yaitu Ethan.
Viola terbelenggu ikatan pernikahan dengan pria yang dia cintai namun tanpa ada balasan cinta dari suaminya.
Sedangkan dirinya terbelenggu ikatan perasaan di masa lalu yang mengharuskan dia mengakhirinya karena dialah yang menjadi awal penyebab sakitnya Ethan.
Pria yang kini di hadapannya sedang menatap dirinya sambil menceritakan masa-masa kecilnya bersama dirinya.
Mata mereka berduapun saling menatap lekat satu sama lain.
"Ya Tuhan...Biarlah aku yang menanggung dosa dan sakitnya, Biarlah aku terbelenggu ikatan perasaan yang menyakitkan dan menyiksaku ini, asalkan dia bisa sehat dan kembali seperti dulu lagi..."
Doa Riani dalam hatinya, kemudian pandangannya dia alihkan pada Viola yang ternyata juga sedang menatap dirinya.
"Maafkan aku Viola..." Ucap Riani dengan bahasa bibirnya.
Viola hanya mengangguk tersenyum, namun air matanya mengalir membasahi pipinya...
...☆☆☆...
__ADS_1