
Pria tersebut duduk di depan Riani dengan tatapan yang dalam ke arah mata Riani, yang membuat Riani seolah sedang di selami semua isi pikirannya oleh pria tersebut.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Riani menyelidik, setelah keduanya lama saling tatap dan terdiam.
"Aku ya Akbar!" jawab pria yang ternyata bernama Akbar, pria yang beberapa hari lalu Riani kenal dan merupakan salah satu bodyguard di basecamp milik Iky.
"Aku tahu dan ingat sekali kamu yang bernama Putra Akbar Permana kan?" Jawab Riani menegaskan kembali.
"Benar sekali!" jawab Akbar singkat.
"Lalu...Siapa kamu sebenarnya dan kenapa kamu bisa tahu nama panggilanku sewaktu kecil?" tanya Riani lagi, dengan penuh penasaran.
"Hanya dengan mendengar namaku apakah kamu tidak bisa mengingatku?"
Riani kembali berpikir keras kemudian akhirnya dia menyerah dan menggelengkan kepalanya.
Ekspresi kecewa tergambar jelas di wajah Akbar.
"Orang yang memanggilku dengan itu hanya orang-orang yang dekat denganku saja, tapi kamu? kenapa bisa tahu nama itu sedangkan aku tidak mengenalmu?" kata Riani semakin penasaran.
"Karena mungkin di matamu aku tidak seberharga dengan orang-orang yang dekat denganmu itu" jawab Akbar lirih.
"Bukan begitu...Tolong beri aku petunjuk dan ceritakan bagaimana kita bisa saling mengenal dulu dan kenapa aku tidak bisa mengingat dan mengenalmu sekarang?"
"Bagaimana dengan nama panggilan...
Suara dering panggilan masuk di ponsel Riani menghentikan kalimat yang baru saja akan Akbar ucapkan mengenai jati diri dia yang sebenarnya.
"Maaf sebentar aku angkat telepon dulu" kata Riani, dan dia segera mengangkat teleponnya setelah tahu yang menghubunginya adalah Viola, ini pasti ada hal penting jika dia menghubunginya dan pasti berkaitan dengan Ethan.
Akbar hanya mengangguk lesu.
"Hallo, ya Vio ada apa?"
"Mba...Ethan sudah sadar"
"Syukur Alkhamdulillah...akhirnya dia sadar juga"
"Tapi...Dia terus mencari dan memanggil-manggil nama Mba"
"Bilang saja padanya kalau aku sudah pindah lagi ke tempat yang tidak kamu ketahui..."
"Tapi aku tidak bisa membohongi Ethan Mba, apalagi melihat wajah Ethan yang sangat frustasi..." Jawab Viola di seberang sana dan terdengar berusaha menahan tangisnya.
"Lalu...Apa yang ingin kamu aku lakukan untuknya?"
"Bisakah sekarang Mba Riani datang ke rumah sakit? setidaknya mengajak dia bicara agar bisa membuatnya sedikit.lebih tenang karena semenjak dia sadar hingga sekarang dia selalu menangis dan mengutuk dirinya terus Mba..."
"Sekarang ya...? tapi saat ini aku sedang kurang enak badan Vi, tubuh sangat lemas..."
__ADS_1
"Waduhhh gimana ya Mbak, kalau sudah kayak gitu aku juga tidak bisa memaksa, tapi Ethan bagaimana...?" Kata Viola bergumam, seolah bicara pada diri sendiri.
"Atau begini saja, bagaimana kalau sekarang aku coba bicara dengannya, tolong ponselnya kamu berikan pada Ethan, biar aku bicara dengannya"
"Baik Mba, terima kasih..."
Sayup-sayup terdengar di telinga Riani dari jauh suara Ethan yang meminta ponsel Viola saat dia mengatakan pada Ethan bahwa Riani ingin berbicara dengannya.
"An-an..." Suara Ethan dari seberang memanggil nama kecilnya.
"Deg!" seketika Riani terkejut, jantungnya seolah terhenti saat mendengar nama kecilnya keluar dari mulut Ethan, yang berarti saat ini Ethan sedang menjadi pribadi yang bernama Fa'i.
"Fa'i?! tanya Riani ragu.
"Iya An-an, aku fa'i, nama yang hanya aku dan kamu yang mengetahui, dan nama ini adalah pemberian darimu, tapi sebenarnya aku adalah Ethan..."
"'Jadi saat ini aku bicara dengan Fa'i atau Ethan?" tanya Riani hati-hati.
Belum sempat Ethan menjawab pertanyaan dari Riani, dering suara panggilan masuk dari ponsel mengagetkan Riani dan Akbar yang masih berada di situ.
Setelah mencari sumber suara ternyata panggilan masuk tersebut dari ponsel Akbar.
Segera dia mengambil ponselnya dan meminta ijin meninggalkan Riani untuk mengangkat panggilan tersebut dengan menggunakan bahasa isyarat tubuh.
Riani pun tersenyum dan mengangguk, meskipun dalam hatinya masih mengganjal rasa penasaran yang belum terjawab siapa sebenarnya sosok Akbar tersebut, namun segera dia simpan rasa penasarannya tersebut, karena ada hal lebih penting yang harus ia dahulukan, yaitu mengenai Ethan yang saat ini sedang berbicara dengannya melalui telepon.
"Jadi...Aku sekarang bicara dengan siapa? Ethan atau Fa'i?" kata Riani, bertanya lagi.
"Tentu saja boleh, maaf...saat ini aku belum bisa menjengukmu karena sedang kurang enak badan, tapi aku janji setelah baikan aku pasti akan datang menjengukmu..."
"Iya An-an, tidak apa-apa yang terpenting adalah kesehatanmu, tapi...bisakah selama kamu tidak bisa menjengukku, kita ngobrol via telepon?" pinta Ethan.
"Aku usahakan meluangkan waktu untuk menelponmu, jadi kamu bisa tenang Than..." jawab Riani.
"Sekarang bisakah kita Vicall an?" pinta Ethan dengan suaranya yang bergetar, suara yang mewakili hatinya karena begitu tersiksa memendam kerinduan yang tak berbalas pada sosok Riani.
"Aku mohon An-an...beri aku kesempatan untuk melihat wajahmu sebentar saja..." Pinta Ethan lagi, setelah tidak ada jawaban dari Riani.
Riani terdiam dan tidak bergeming saat melihat ada permintaan video call dari Viola yang saat ini ponselnya sedang di pegang oleh Ethan.
"Aku mohon An-an..." tangis Ethan yang berkali-kali memohon pada Riani.
Mendengar isak tangis Ethan membuat rasa takut dan traumanya pada Ethan berangsur-angsur menguap dan menghilang, kemudian beralih menjadi perasaan iba yang teramat dalam.
Akhirnya Riani menggeser ke atas gambar kamera yang sedari tadi bergetar ke atas bawah terus menerus.
Dan alangkah terkejutnya Riani saat melihat perubahan wajah Ethan yang sangat drastis.
Wajahnya yang tirus dengan tulang wajahnya yang terlihat menonjol, brewok dan kumisnya yang mulai tumbuh liar di sekitar wajahnya dan rambutnya yang panjang berantakan, membuat Riani reflek menutup mulutnya dan membelalakkan mata karena shock dan tidak percaya saat melihat keadaan Ethan yang ia kenal dulu sosok yang sangat suka kerapihan, namun saat dia melihat wajah yang berantakan di layar ponselnya, hati Riani sangat terpukul, hingga tanpa sadar dia meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Maafkan aku An-an...Aku sangat menyesal..." Kata Ethan masih dengan menangis.
Suara tangisan Riani tidak bisa terbendung lagi, dengan cepat dia memode mute ponselnya dan mengalihkan kamera ke arah lain, dia tidak sanggup melihat wajah penuh duka Ethan, tidak sanggup...
"An-an...Kenapa kamu mute dan mana wajahmu?"
Terdengar suara Ethan yang kini lebih mirip rintihan penuh kesakitan di hatinya.
Tangis Riani semakin tak terkontrol hingga sesenggukkan.
"An-an...Aku mohon...aku ingin melihat wajahmu sekali lagi...Aku...Aku sangat merindukanmu An-an..."
Riani segera mengontrol emosinya dan pelan-pelan tangisnya berhenti, meski masih ada sesekali sesenggukkan dari sisa tangisnya, setelah itu dia mematikan mode mutenya dan mengarahkan kembali kamera ke arah wajahnya.
Dan saat dia kembali melihat wajah Ethan, dia berusaha untuk tersenyum.
"Ah...An-An aku sangat merindukan seyumanmu itu, aku sangat merindukanmu, aku kangen sekali An-an..." Ujar Ethan yang tangisnya kini semakin berat, tangannya dia arahkan ke kamera seolah ingin menyentuh dan membelai wajah Riani.
Melihat Ethan yang seperti itu tangis Riani pun kembali pecah.
Akhirnya mereka berdua saling menangis, meski tanpa kata, namun mata dan hati mereka berbicara dengan kepedihan keduanya.
Hingga tiba-tiba ponsel yang di pegang Ethan terjatuh, di susul dengan teriakan Viola yang panik memangil-manggil nama Ethan, kemudian Viola beralih memanggil dokter jaga setelah memencet interkom.
Suara kepanikan Viola dari seberang membuat Riani ikut panik dan khawatir dengan keadaan Ethan, sedangkan terlihat di layar ponsel Riani, sepertinya ponsel Viola terjatuh di lantai dengan kamera menghadap ke atas, karena layar kamera memperlihatkan langit-langit ruangan tersebut.
Hingga setelah dokter datang, Viola segera mengambil ponselnya dan keluar dari ruangan tersebut.
"Apa yang terjadi dengannya Vi?" tanya Riani setelah wajah Viola berada di layar.
"'Aku juga tidak tahu Mba, tiba-tiba Ethan jatuh pingsan, untuk lebih jelasnya kita akan tahu keadaan Ethan setelah dokter keluar" jawab Viola dengan matanya yang sembab.
"Baiklah, nanti kamu beri kabar perkembangannya, dan kamu juga harus istirahat Vio, jaga kesehatanmu juga"
"Baik Mba..."
"Kalau begitu aku tutup dulu teleponnya ya Vi, kamu harus jaga diri"
"Iya Mba, terima kasih..."
"Sama-sama, Bye..."
"Bye..."
Setelah menutup teleponnya, dengan langkah gontai, Riani masuk ke dalam rumah.
Sedang dari kejauhan terlihat sepasang mata Akbar yang terihat sedih melihat Riani yang menghilang di balik pintu.
Melalui mata, meski tanpa kata, hati mereka yaitu Ethan, Riani, Viola dan Akbar berbicara mengenai kepedihan...
__ADS_1
...☆☆☆...