KESETIAAN YG TAK TERBATAS

KESETIAAN YG TAK TERBATAS
PENGAKUAN TEDDY


__ADS_3

Seusai mereka berempat sarapan, semua orang kembali sibuk dengan kegiatan dan pekerjaan mereka masing-masing, sedangkan Riani kembali ke kamarnya, membuka laptop sebentar dan karena bosan akhirnya dia memutuskan keluar untuk berjalan-jalan sebentar keliling komplek untuk menenangkan hati dan pikirannya.


Setelah mengganti bajunya Riani pamit ijin keluar sebentar pada Mbok Sri, dan bicara sebentar dengan Mang Muh.


Kemudian Riani berjalan menghampiri rumah basecamp pelatihan milik Iky.


Di sana dia melihat sudah ramai dengan teriakan para calon bodyguard yang sedang melakukan latihan fisik.


Semuanya menyapa Riani setelah melihat kedatangannya, termasuk Andy yang sedang memimpin pelatihan tersebut.


"Akbar! tolong lanjutkan latih mereka" kata Andy memanggil Akbar.


"Siap, laksanakan!" jawab Akbar sambil tersenyum menyapa Riani dengan menganggukkan kepalanya.


Riani membalasnya dengan senyuman ramahnya dan mengangguk kembali pada Akbar.


Andy berjalan mendekati Riani yang berdiri tidak jauh darinya.


"Kamu tidak istirahat dulu? semalaman kamu tidak tidur kan?" tanya Riani sesampainya Andy di depannya.


"Saya sudah biasa kurang tidur Mba, jadi tidak berpengaruh juga pada tubuh saya"


"Tapi tetap tidak sehat juga kan kalau berkelanjutan terus seperti itu?"


"Iya Mba, saya tahu itu...Ngomong-ngomong Mba Riani mau kemana?" tanya Andy mengalihkan pembicaraan.


"Aku mau berolahraga sebentar, jalan-jalan keliling kompleks"


"Oo...Apa perlu aku temani Mba?"


"Tidak perlu, terima kasih, kalau begitu aku jalan dulu"


"Baiklah kalau begitu, hati-hati..."


"Oke, Bye"


"Bye"


Riani meninggalkan basecamp, kemudian dengan bejalan santai Riani menyusuri pinggiran jalan, sesekali dia berhenti kemudian merentangkan kedua tangannya untuk menghirup udara segar di pagi hari.


Tiba-tiba Riani teringat dengan Roro yang belum di beritahu mengenai kejadian semalam dan kejadian yang menimpa Teddy.


Di ambilnya ponsel dari sakunya dan segera menghubungi Roro.


"Hallo pagi An-an...Tumben pagi-pagi sudah menelponku, ada apa?" jawab Roro dari seberang sana dengan suara seraknya, yang menandakan kalau dia masih tidur dan terbangun setelah mendengar panggilan telepon darinya.


"Sorry Mi-Ro...Sudah mengganggu tidurmu, tapi aku ingin memberitahu sesuatu mengenai Teddy"


"Ada apa dengan Teddy An-an?"


"Teddy mengalami kecelakaan dan datang ke rumah tempatku tinggal dalam keadaan luka-luka di sekujur tubuhnya karena kecelakaan itu..." Jawab Riani, kali ini hati Riani tidak kuat saat kembali mengingat keadaan Teddy semalam, hingga akhirnya menangis, sebenarnya dia ingin sekali terlihat kuat, akan tetapi setiap kali dia berhadapan dengan Roro, dia pasti tidak bisa menyembunyikan hatinya yang lemah itu.


"Apa!! Teddy mengalami kecelakaan dan langsung ke tempat kamu berada?! tanya Roro terkejut.


"Iya Mi-Ro...Jika mengingat wajahnya semalam, aku tidak tega dan tidak kuat melihatnya..." Jawab Riani dengan tangisnya.


"Tenang An-an...Tenang...Sekarang coba kamu ceritakan semuanya dari awal" kata Roro mencoba menenangkan Riani.


Setelah tangis Riani mereda dan hatinya pun sudah mulai tenang, perlahan Riani menceritakan semuanya dari awal hingga akhir...


.............


"Sekarang posisi kamu ada di mana?" tanya Roro setelah Riani selesai bercerita.


"Aku sekarang masih di jalan sekitar kompleks rumah, kenapa?"


"Sekarang kamu segeralah pulang, karena aku akan bersiap-siap ke tempatmu 900dan nanti kita berdua bareng menjenguk Teddy"


"Oke...Aku pulang sekarang"


"Hati-hati...Jalannya jangan terburu-buru, ingat kandunganmu!" kata Roro lagi, memperingatkan, karena dia tahu betul sifat Riani kalau sudah terburu-buru.


"Iya...Iya, aku pulang sekarang"

__ADS_1


"Oke, aku tutup teleponnya sekarang"


"Iya, Bye"


Setelah Roro menutup teleponnya, Riani segera balik arah menuju rumah dan pulang.


Sesampainya di rumah, saat dia melihat ke arah jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih.


Segera dia mandi lagi karena tubuhnya terasa lengket karena basah dengan keringat.


Selesai mandi dan berganti baju Riani menemui Mbok Sri untuk memintanya memasak bekal makan siang yang akan dia bawa ke rumah sakit untuk Ibunya dan Papah Rolland.


Pukul 11.30 Roro telah sampai di rumahnya, dengan perasaan bahagia campur sedih Riani menangis dalam pelukan Roro.


"Sudah...Sudah...Kamu kok semenjak mau jadi seorang Ibu jadi cengeng sih?" ledek Roro.


"Justru karena mau menjadi seorang Ibu, perasaanku jadi sensitif..." Bela Riani di sela-sela tangisnya.


"Iya aku paham kok Ibu Riani..." canda Roro hingga membuat Riani tidak bisa menahan tawanya.


"Tapi...Yang membuatku heran, kok Teddy bisa tahu alamat rumah ini?" kata Riani setelah reda tangisnya.


"Aku rasa tanpa sepengetahuanku dia melihat catatanku saat menulis alamat barumu ini, maaf atas kecerobohanku..."


"Tidak apa-apa, lagi pula semuanya sudah terlanjur terjadi kan..."


"Nak Riani...Mobil sudah siap, apakah kita akan berangkat sekarang?" tanya mang Muh yang muncul dari arah garasi mobil.


"Baik Mang, kita berangkat sekarang, terima kasih Mang"


"Baik Nak, sama-sama"


Mang Muh kemudian keluar, sedangkan Riani menuju ke dapur untuk mengambil bekal makan siang milik Ibunya dan papah Rolland yang sudah di siapkan oleh Mbok Sri.


Setelah semua sudah siap mereka pun berangkat menuju ke rumah sakit di mana Teddy di rawat.


Dan karena jarak rumah sakit dari tempat Riani tinggal lumayan dekat, hanya butuh setengah jam perjalanan saja, mereka sudah sampai di rumah sakit yang mereka tuju.


Riani dan Roro segera turun dari mobil setelah mang Muh memarkirkan mobilnya.


Saat keduanya baru masuk ke lobi rumah sakit, ternyata Om Rolland sudah menunggu untuk menjemput mereka.


Keduanya segera menyalami om Rolland, kemudian Riani dan Roro berjalan mengikuti Om Rolland menuju ruangan di mana Teddy di rawat.


"Apa Teddy sudah sadar Pah?" tanya Riani.


Mendengar Riani memanggil Om Rolland dengan sebutan Papah, Riani agak terkejut namun kemudian tersenyum setelah dia melihat Om Rolland mengangguk dan tersenyum penuh arti padanya.


"Belum Nak...mungkin dia akan sadar setelah tahu kamu datang"


"Kata Andy organ dalam Teddy ada yang terluka, benarkah itu Pah?" tanya Riani lagi.


"Betul itu, lambungnya terluka, mungkin terkena benturan keras saat terjadi kecelakaan"


Riani dan Roro menghentikan langkahnya saat Om Rolland yang berjalan di depan mereka berhenti di depan pintu ruang rawat kelas VIP.


Saat Om Rolland membuka pintu, nampak Bu Widya sedang mengelap lembut wajah Teddy dengan handuk basah di tangannya.


"Kalian sudah datang..." Kata Bu Widya.


"Iya Bu..."


"Hallo Tante..."


Riani dan Roro bergantian mencium tangan Bu Widya.


"Hai nak Roro, lama tidak berjumpa, bagaimana kabarmu Nak?"


"Alkhamdulillah...Baik Tante"


"Alkhamdulillah...Syukurlah kalau begitu"


"Bu, Pah, ini Riani bawa bekal makan siang kalian dari rumah, kalian makanlah terlebih dahulu setelah itu pulanglah untuk istirahat sebentar"

__ADS_1


"Iya Tante, Om, biar kami berdua yang jaga Teddy di sini sampai sore petang nanti Riani pulang, dan saya yang akan menghubungi keluarga Teddy"


"Baiklah, kalau begitu kita makan siang dulu"


"Baik Tante..."


Bu Widya dan om Rolland keluar ruangan mencari tempat untuk makan siang dengan membawa bekal yang Riani bawa tadi.


Sedangkan Riani mengamati tubuh Teddy yang terbujur dengan berbalut perban di sekujur tubuhnya.


Hati Riani merasa sangat sedih dan sakit saat melihat mantan pacarnya itu dalam keadaan tidak berdaya seperti itu.


Di genggamnya lembut tangan Teddy yang dingin.


"Aku keluar sebentar, menghubungi keluarga Teddy"


"Jangan Ro..." Tiba-tiba terdengar suara lirih Teddy yang sudah sadar.


"Teddy...! Akhirnya kamu sadar juga...Jangan membuatku takut..." Tangis Riani.


"Alkhamdulillah...Akhirnya kamu sadar juga Ted..." Ucap syukur Roro.


"Kamu takut kenapa Ai?" tanya Teddy tersenyum.


"Tentu saja aku takut terjadi apa-apa dengan sahabatku..."


"Sahabat ya...?" Kata Teddy dengan nada kecewanya.


"Tentu saja, kamu dan Mi-Ro adalah sahabat terbaikku..."


"Tadi kenapa kamu melarangku untuk menghubungi ibumu Ted?" tanya Roro mencoba mengalihkan arah pembicaraan mereka berdua.


"Mamahku keadaan kesehataannya lagi kurang baik, aku tidak ingin dia mengetahui keadaanku sekarang"


"Baiklah kalau begitu aku tidak akan meghubunginya"


"Ro, bisakah kamu tinggalkan kami berdua sebentar? ada yang ingin aku bicarakan dengannya" pinta Teddy, matanya melirik ke arah Riani.


"Baiklah, kalau begitu aku tinggal keluar dulu, kalian bicaralah"


"Terima kasih ya Ro..."


"Sama-sama Ted..." Roro segera keluar memberi waktu untuk Teddy dan Riani.


"Apa yang ingin kamu bicarakan denganku Ted, hingga Roro harus keluar? apakah sesuatu yang rahasia?" tanya Riani penasaran.


"Bisa di bilang begitu Ai, dan rahasia ini begitu sangat besar hingga membuatku sangat tersiksa jika tidak segera membertahu padamu dan membuat pengakuan padamu..."


"Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan Ted?? tanya Riani semakin penasaran.


"Kamu ingat kejadian di hotel X, saat kamu sakit Ai?"


"Tentu saja aku ingat Ted, dan kamulah yang menjaga dan merawatku semalaman hingga pagi, terima kasih banyak ya Ted..."


"Tapi sebenarnya malam itu juga telah terjadi sesuatu, Ai bisakah kamu berjanji akan tetap menjadi sahabatku setelah mendengar pengakuanku?"


"Sebenarnya kamu ingin mengakui hal apa, kenapa berbelit-belit untuk mengatakannya?" tanya Riani sudah tidak sabar.


"Tapi aku ingin kamu berjanji padaku dulu Ai..." Jawab Teddy memohon.


"Oke...Oke, aku janji padamu, apapun yang akan kamu katakan dan apapun pengakuanmu, kamu akan tetap menjadi sahabatku, sudah puas?" jawab Riani diplomatis.


"Baiklah aku puas dan akan ku pegang kata-katamu itu"


"Sekarang kamu katakan, jangan buat aku penasaran"


"Saat malam kamu sakit, aku memang menjaga dan merawatmu, tapi...Pada saat kamu mengigau dan seluruh badanmu dingin aku sangat ketakutan waktu itu, dan kamu juga menarikku...hingga akhirnya aku hilang akal sehatku dan untuk menghangatkan kembali tubuhmu aku menidurimu dan kita akhirnya melakukan perbuatan itu..."


"Mak...Maksud kamu Ted?! tanya Riani terkejut.


"Ya...Kita berdua melakukan hubungan terlarang itu..."


Bagai petir di siang bolong, saat Riani mendengar pengakuan Teddy yang membuat seluruh tubuhnya seolah putus setiap uratnya...

__ADS_1


...☆☆☆...


__ADS_2