KESETIAAN YG TAK TERBATAS

KESETIAAN YG TAK TERBATAS
SOSOK PRIA MISTERIUS


__ADS_3

Suara dering panggilan masuk di ponselnya membangunkan Riani dari tidurnya.


Dan saat dia lihat di layar ponsel, tertera nama Teddy di sana.


Dengan segera dia angkat telepon tersebut.


"Ai, apa kamu sudah bangun? tubuh kamu sudah baikankah?" tanya Teddy di seberang sana.


"Emm...Iya Ted, baru saja aku bangun dan sekarang aku sudah baikan kok..." Jawab Riani dengan suara seraknya karena tenggorokannya yang kering, belum sempat minum saat bangun tadi.


"Apa kamu terbangun karena panggilan teleponku Ai?"


"Ehem..." Jawab Riani yang masih setengah sadar.


"Maaf sekali ya Ai, kalau kamu masih ngantuk kembalilah tidur"


"Tidak apa-apa kok Ted, lagian aku memang harus bangun, karena aku sudah ada janji dengan seseorang, ada sesuatu yang harus di urus, apalagi nanti sore kita harus menghadiri pesta resepsi pernikahan Viola dan Ethan..." Jawab Riani yang mulai berangsur-angsur tersadar dari sisa kantuknya.


"Oke, kalau begitu kamu mau sarapan apa? biar aku bawakan untukmu"


"Tidak usah Ted, jangan repot-repot, kamu sarapanlah dulu"


"Tidak bisa Ai, kamu harus sarapan tepat waktu, jadi bagaimana kalau kita sarapan bareng saja, aku bawa makanan ke kamarmu bagaimana? kebetulan ada yang ingin aku bicarakan denganmu juga"


"Emmm...Oke kalau begitu"


.............


Riani telah selesai membersihkan diri kemudian dia membereskan kamarnya hingga semuanya sudah terlihat rapi.


Suara ketukan di pintu kamar membuatnya segera berjalan ke arah pintu dan membukanya.


Di lihatnya Teddy sudah berdiri dengan banyak barang bawaan di tangannya.


Dengan sigap Riani membantu membawakan barang-barang tersebut masuk ke kamarnya, meskipun di dalam hatinya masih bingung dengan banyaknya barang yang di bawa Teddy itu.


"Ini aku belikan bubur lagi, soalnya aku takut pencernaanmu masih belum membaik setelah muntah-muntah semalam..." Kata Teddy sambil meletakkan kotak bubur di atas meja.


"Iya Ted, terima kasih..."


Riani segera duduk dan membuka kotak yang berisi buburnya itu, di lihatnya Teddy juga membuka kotak sarapannya.


Dan terjadi lagi, saat Riani akan memasukkan bubur ke dalam mulutnya, kembali perutnya terasa mual-mual.


"Hoek! hoek! maaf Ted, aku tidak tahu kenapa tiba-tiba perutku kembali mual-mual..."


"Apa kamu mau aku ganti menu sarapannya? kita coba menu lain dan jangan bubur lagi"


Wajah Teddy terlihat khawatir, dan saat dia akan memesan menu sarapan lain, Riani segera menghentikannya.


"Jangan Ted, aku bener-bener pengin makan bubur, hanya saja...Aku juga tidak tahu kenapa selalu begini?"


"Ya sudah aku suapin kamu lagi, tapi sebelumnya minumlah teh hangat ini dulu"


Teddy menyodorkan teh ke arah Riani, dia langsung meminumnya.


Dengan sabar Teddy menyuapi Riani, dan benar saja Riani tidak mual-mual lagi.


"Kayaknya setiap kali kamu mau makan, harus aku suapin dulu deh, baru tidak mual-mual" canda Teddy sambil tersenyum penuh arti.

__ADS_1


"Ada-ada saja kamu Ted, ini mungkin cuma kebetulan saja" kata Riani mencoba mematahkan pendapat Teddy, meskipun dalam benaknya dia setuju dengan Teddy, karena saat di pikir-pikir kembali setiap dia mual-mual, maka akan berhenti ketika Teddy menyuapinya, dan itu sudah terjadi dua kali ini.


.............


"Katamu ada yang ingin kamu bicarakan denganku Ted?" tanya Riani setelah mereka selesai sarapan.


"Iya Ai, sebentar..." Jawab Teddy sambil mengambil paper bag yang tadi dia bawa.


"Ini baju couple yang Viola berikan pada kita untuk menghadiri resepsi pernikahan mereka sore nanti" kata Teddy lagi sambil memberikan paper bag pada Riani.


Di bukanya oleh Riani paper bag yang sudah beralih di tanggannya itu, di ambilnya baju di dalamnya yang berupa batik dengan style modis.


"Jadi nanti sore kita pakai baju ini?" tanya Riani sambil membuka lipatan baju batik tersebut.


"Iya, tadi kamu bilang kalau ada urusan dan janji temu dengan seseorang, kapan itu Ai?"


"Iya, setelah ini aku akan menemui Randi, ada yang ingin aku bicarakan dengannya"


"Apa perlu aku temani Ai?"


"Tidak perlu Ted, aku bisa pergi sendiri kok, dan sekarang aku akan pergi menemuinya" kata Riani setelah membuka dan membaca chat dari Randi yang sudah menunggunya di restoran dekat resort.


"Oke, kalau begitu kita keluar bersama sekarang"


"Oke, Thanks ya Ted..."


"Iya Ai, sama-sama..."


Akhirnya mereka berdua keluar dari kamar Riani dan berpisah di lobi resort.


Riani melanjutkan langkahnya keluar resort, dia berjalan menuju restoran dekat resort di mana Randi sudah menunggunya di tempat itu.


"Mbak Riani mau makan dan minum apa?" tanya Randi setelah Riani duduk di depannya.


"Aku sudah sarapan, aku minum teh susu saja Ran, thanks"


"Baik mbak" Randi segera memesankan minuman untuk Riani.


"Jadi apa kamu sudah memberitahu pekak dan dadong kalau besok aku akan menginap di rumah mereka untuk dua hari ke depan?" tanya Riani sambil menunggu pesanan mereka datang.


"Sudah mbak, dan mereka sangat senang mendengar kabar ini"


"Syukurlah...Aku pikir sudah banyak merepotkan mereka"


"Mereka justru sangat senang karena ada yang menemani mereka"


"Tapi aku kan di sana cuma dua hari saja Ran"


"Tidak apa-apa mbak, mereka tetap senang kok..."


Mereka menghentikan pembicaraan saat pelayan restoran datang sambil membawa pesanan mereka.


Sang pelayan meletakkan pesanan mereka di atas meja kemudian dengan ramah mempersilahkan untuk menikmati hidangan yang mereka pesan.


Keduanya hanya mengangguk dan tersenyum sambil mengucapkan terima kasih.


Setelahnya mereka berdua menikmati makanan dan minuman mereka.


Saat Riani sedang menyeruput teh susu sambil melihat pemandangan ke arah luar restoran, tiba-tiba matanya menangkap sosok pria yang juga sedang menatap tajam ke arahnya yang kemudian pria tersebut dengan segera mengarahkan pendangannya ke arah lain.

__ADS_1


Riani mengernyitkan keningnya sambil terus memperhatikan pria tersebut.


"Ada apa mbak?" tanya Randi mengejutkan Riani dan langsung mengalihkan pandangannya ke Randi.


"Tidak apa-apa Ran, lalu apakah sebaiknya kita membawa sebagian barangku ke rumah pekak dan dadong terlebih dahulu?" tanya Riani mengalihkan perbincangan, karena dia takut Randi membaca gelagatnya.


Untuk sosok pria misterius itu sendiri, meski dari kejauhan tapi Riani bisa dengan jelas melihat wajahnya, dan Riani merasa wajah itu sangat familiar baginya, tapi siapa dan di mana dia bertemu dengannya ia tidak bisa mengingatnya, dan saat dia kembali menengok ke arah tempat di mana pria misterius itu duduk ternyata sudah tidak ada.


"Boleh juga, apa barang mba banyak?" tanya Randi, sekali lagi buyar lamunan Riani.


"Lumayan banyak sih, karena ada tambahan souvenir dan oleh-oleh yang sudah aku beli"


"Kalau begitu setelah ini, aku ambil sebagian barang-barang mbak dulu, bagaimana?"


"Baiklah, itu ide bagus juga, karena memang nanti sore aku akan menghadiri resepsi pernikahan temanku, jadi mungkin tidak ada waktu untuk menemanimu mengambil barangku"


"Oke, begitu juga tidak apa-apa mbak"


"Atau aku berikan saja saja kunci kamarku, kamu ambil saja barang-barangku, nanti setelah ini aku persiapkan barang-barang apa saja yang nanti akan kamu bawa, bagaimana?"


"Tidak perlu mbak, nanti kita sama-sama pergi saja ke kamar mbak Riani" tolak Randi, karena dia menilai tidak etis kalau pergi ke kamar Riani sendirian, meski Riani sendiri mengijinkan.


"Baiklah kalau begitu setelah ini kita kembali ke resort untuk mengambil barang-barangku"


"Baik mba..."


.............


Selesai sarapan Riani dan Randi melangkahkan kakinya keluar dari restoran tersebut, kemudian mereka berjalan menuju resort tepatnya ke kamar Riani untuk mengambil barang-barang Riani yang akan di bawa Randi ke rumah nenek dan kakeknya.


Saat Riani dan Randi berjalan menyusuri jalan menuju kamar Riani, dia merasa seolah ada orang yang mengikuti di belakangnya.


Namun saat dia menengok ke arah belakang tidak ada siapa-siapa di situ, Randi yang melihat tingkah laku Riani pun merasa heran.


"Ada apa mbak?"


"Tidak tahu Ran, aku merasa seperti ada orang yang mengawasi dan mengikutiku"


"Tapi tidak ada siapa-siapa kok mbak" kata Randi lagi sambil mengikuti Riani menengok ke belakang dan dia tidak menemukan seseorang yang di katakan Riani tersebut.


"Mungkin cuma perasaanku saja Ran, ayo silahkan masuk" kata Riani mempersilahkan Randi untuk masuk setelah dia sampai di depan kamarnya dan membuka pintunya.


"Baik mbak, permisi..." Jawab Randi sopan dan segera masuk ke dalam.


Setelah Riani dan Randi masuk dan menutup pintu, dari balik sudut ruangan muncul sosok misterius yang sedari tadi mengikuti dan mengawasi mereka berdua, dia sempat bersembunyi saat Riani merasakan kehadiarannya sebelum Riani menoleh ke arah belakang, sehingga Riani tidak melihatnya.


Dengan senyum penuh misterius, sosok tersebut meninggalkan tempat itu, sambil kembali melihat ke arah kamar Riani, dia berjalan menjauh hingga bayang-bayangnya tidak terlihat lagi.


Di dalam kamar, Riani dan Randi sedang sibuk membereskan barang yang akan di bawa Randi, setelah selesai Randi segera pamit dan meninggalkan kamar Riani.


Sedangkan Riani sendiri lebih memilih tetap tinggal di kamarnya, karena dia merasa badannya belum fit benar.


Di baringkan tubuhnya yang masih terasa lemas, angannya melayang pada sosok pria yang menatapnya penuh dengan teka-teki, tapi dia merasa sangat familiar dengan wajah pria tersebut dan hingga berkali-kali dia mencoba mengingatnya kembali, tapi jawabannya tetap buntu.


Dia tidak ingat kapan dan di mana dia pernah bertemu dengan sosok pria misterius tersebut.


Dan karena berulang kali menemukan jalan buntu dalam mencari jawaban tentang sosok pria tersebut, Riani mencoba memejamkan matanya hingga akhirnya dia terlelap...


...☆☆☆...

__ADS_1


__ADS_2