KESETIAAN YG TAK TERBATAS

KESETIAAN YG TAK TERBATAS
PERASAAN FAMILIAR


__ADS_3

Riani tersadar dan membuka matanya, hanya tembok bercat putih yang mengelilinginya.


Sedangkan bajunya yang basah sudah berganti dengan baju rumah sakit berwarna biru, dan tangannya yang sudah terpasang infus.


Dia berusaha untuk bangun dan duduk, namun kepalanya yang pusing membuat dia mengurungkan niatnya dan kembali merebahkan tubuhnya yang juga masih terasa lemas.


Om Rolland dan Nando memasuki ruangan, melihat kedatangan mereka dia segera berusaha untuk duduk.


Melihat Riani yang kesusahan untuk bangun dari tidurnya, dengan agak sedikit berlari om Rolland dan Nando seakan berlomba menghampiri Riani dan membantunya untuk bangun.


"Kalau badan masih lemas jangan bangun dulu nak..." Kata om Rolland dengan wajah penuh kekhawatiran.


"Iya betul itu mba..." Sambung Nando.


"Tidak apa-apa, capek juga berbaring terus, ngomong-ngomong sudah berapa lama saya tidak sadarkan diri om?"


"Kurang lebih tiga jam kamu tidak sadarkan diri nak..." Jawab om Rolland, dengan penuh kasih tangan om Rolland mengelus lembut kepala Riani.


Di perlakukan seperti itu, hati Riani tersentuh dan terharu, perhatian om Rolland membuatnya teringat pada mendiang ayahnya.


Hampir saja dia ingin memeluk dan menagis di pelukan sosok figur ayah tersebut, namun segera ia urungkan karena rasa segannya.


"Kami sangat khawatir karena mba Riani tidak sadarkan diri begitu lama, apa ada seseorang yang ingin mba Riani hubungi? karena saat mba Riani pingsan, handphone mba mati dan kami bingung harus menghubungi siapa, karena saat kami menghubungi Teddy, nomor dia juga tidak aktif, mungkin dia lupa menyalakan kembali ponselnya setelah turun dari pesawat" kata Nando menjelaskan.


"Nanti aku akan menghubungi Roro temanku, terima kasih sekali kalian sudah membantu saya, sebaiknya kamu Nando dan om Rolland juga pulang dan beristirahat, maaf sekali...Saya sudah sangat merepotkan kalian"


"Tidak perlu sungkan begitu mba..."


"Kami akan pulang setelah teman kamu itu datang dan dokter memberi diagnosa mengenai kesehatan kamu nak..." Jawab om Rolland.


"Ya om, saya akan menghubungi dia sekarang" kata Riani sambil mencabut kabel charge yang tertancap di ponselnya dan tergeletak di meja samping ranjangnya.


Setelah memencet nomor Roro di daftar kontak, panggilan menunggu pun berbunyi.


Setelah beberapa saat, akhirnya Roro mengangkat panggilan dari Riani.


"Hallo, An-an! kenapa kamu belum sampai di rumah? mau aku jemput sekarang?" Roro langsung nerocos tanpa tahu keadaan Riani yang sebenarnya dan tidak memberi waktu dia untuk berbicara.


"Mi-Ro, kamu datang saja di rumah sakit Medistra di jalan Setiabudi..."


"Kamu kenapa An-an?! kenapa kamu bisa ada di rumah sakit?!" tanya Roro terkejut, tanpa mendengarkan perkataan Riani lebih lanjut.


Di hujani pertanyaan dari Roro yang beruntun membuat Riani hanya bisa mengela nafasnya.


"Hhhh...Kamu datang aja dulu, nanti aku jelaskan semuanya setelah kamu sampai di sini " jawab Riani dengan suaranya yang masih lemah.


"Oke! oke, aku segera meluncur ke sana, sebelum aku berangkat kamu mau makanan apa biar aku bawakan?"


"Aku pengin nasi liwet di warung depan rumahmu itu dan jus buah delima"


"Jus buah delima? kamu ngidam apa gimana sih? hari gini masihkah ada buah delima? malam-malam gini aku harus cari ke mana An-an? kamu itu maunya aneh-aneh deh..." Tanya Roro yang heran dan bingung.


"Aku juga tidak tahu Mi-Ro, pokoknya aku ingin minum jus buah itu malam ini, suruh siapa kamu tanya sama aku mau di bawain apa, salah siapa hayo?" jawab Riani dengan dengan wajah besengutnya, ngambek.


Melihat wajah Riani seperti itu, Nando dan om Rolland yang sedari tadi duduk di kursi dekat Riani dan mendengarkan perbincangan antara Riani dan temannya hanya saling pandang dan tersenyum menahan tawa mereka.

__ADS_1


"Ya sudah, aku usahain...Tapi kalau tetap tidak akan jangan salahkan aku ya..."


"Iya...Thanks banget ya Mi-Ro ku sayang..."


"Iya An-an ku sayang...Aku berangkat sekarang"


"Oke..."


Riani menutup ponselnya setelah Roro di seberang sana s mematikan panggilannya terlebih dahulu.


"Teman kamu akan datang ke sini nak?"


"Iya Om, Nando, maaf harus menunggu lama lagi, karena saya menyuruh dia mencari buah delima dulu..."


"Tidak apa mba..."


"Eh?! buah Delima ya?" tanya om Rolland terkejut.


"Iya om, buah Delima, sejak kecil saya sangat menyukai buah Delima, hingga membuat ibu saya menanam pohon delima di depan rumah sampai sekarang, tapi...Entah kenapa malam ini saya tiba-tiba kangen dan ingin sekali minum jus buah tersebut..."


Om Rolland segera tersadar dan ingat kalau di rumahnya dia juga menanam pohon delima yang kini sedang berbuah, om Rolland juga agak heran karena ternyata Riani juga suka makan buah delima seperti dirinya, karena itu dia menanam pohonnya, selain pohon delima om Rolland juga sangat suka menanam pohon buah-buahan yang sudah jarang keberadaannya.


"Kalau begitu Nando kamu sekarang ke rumah papah, di halaman belakang ada pohon buah delima yang sedang berbuah, kamu minta tolong bibi untuk memilih dan memetik semua buah delima yang sudah matang dan di bikin jus"


"Jadi di rumah om Rolland juga ada pohon delima ya?! tanya Riani terkejut.


"Iya nak Riani, kebetulan om juga paling suka makan buah delima"


"Kok bisa kebetulan sekali ya om..."


"Nando, kamu berangkatlah sekarang, mumpung hari belum terlalu malam dan bibi masih belum tidur" perintah om Rolland pada anaknya tersebut.


"Baik Pah, kalau begitu saya pamit dan berangkat sekarang ya mba..."


"Silahkan, maaf ya Nando sudah sering merepotkanmu, terima kasih..."


"Iya mba, nggak apa-apa, sama-sama, Nando berangkat sekarang Pah..."


"Iya, kamu yang hati-hati ya nak"


Nando mengangguk dan beranjak keluar dari ruangan Riani setelah Om Rolland memeluk dan menepuk pundak Nando dengan lembut, terlihat oleh Riani betapa om Rolland sangat menyayangi Nando, meskipun Riani tahu kalau dia hanya seorang anak angkat.


"Nak Riani, kamu segeralah beritahu temanmu itu agar tidak usah mencari buah delima lagi, jadi dia bisa langsung datang ke sini"


"Baik, terima kasih banyak ya om..."


"Ya nak, sama-sama..."


Riani segera kembali mengambil ponselnya dan kirim pesan pada Roro agar tidak usah mencari buah delima dan meyuruhnya langsung ke rumah sakit di mana dirinya di rawat.


Setelah selesai dia kembali men-charge ponselnya.


"Sudahkah nak?"


"Sudah om, katanya dia sudah berada di dekat-dekat rumah sakit ini"

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu..."


.............


Setelah beberapa saat kemudian, Roro pun datang dengan kehebohannya.


"An-an! bagaimana keadaanmu?kenapa kamu bisa sampai begini, apa ada yang sakit? apa yang kamu rasakan sekarang?" kata Roro yang langsung memeluk tubuh Riani dan meraba seluruh tubuh Riani dari ujung kepala hingga ujung kaki untuk memastikan bahwa dia baik-baik saja.


"Aku baik-baik saja Mi-Ro, kamu ini...Masuk tanpa ketuk pintu, tanpa salam, main terobos aja, udah gitu langsung nerocos kayak kereta api, sampai kamu nggak lihat ada om Rolland tuh?" jawab Riani sambil matanya melihat ke arah om Rolland yang sedari tadi duduk memperhatikan tingkah Roro sambil tersenyum menahan tawanya.


"Perkenalkan om, ini teman saya, Roro namanya..." Kata Riani, kemudian dia memutar balikkan tubuh Roro menghadap ke arah om Rolland.


"Oh! Aduh...Maaf sekali om, tadi saya benar-benar tidak memperhatikan sekitar dan hanya fokus sama Riani karena saya terlalu khawatir" kata Roro tidak enak hati karena baru tersadar dan melihat ada sosok pria yang tengah duduk di kursi yang terletak di sudut ruangan.


Kemudian Roro segera menghampiri om Rolland dan mencium punggung tangan pria yang berusia paruh baya lebih itu.


"Tidak apa-apa nak, om bisa maklumi itu" jawab om Rolland bijaksana.


"Oo iya An-an ini aku bawakan nasi liwet pesananmu, ayo makanlah mumpung masih hangat"


Roro segera beralih dengan bungkusan yang tadi dia bawa dan di letakkan begitu saja di atas kursi dekat pintu saat dia masuk tadi.


Di ambilnya dan di bukanya bungkus nasi tersebut kemudian di berikannya pada Riani, namun baru saja Riani menyendok nasinya, tiba-tiba rasa mual itu kembali menyerangnya.


"Mi-Ro...Tolong antar aku ke toilet" pinta Riani sambil menahan mualnya.


"A...Ayo aku antar, kamu pelan-pelan turun dari ranjangnya ya..."


Roro yang cemas melihat keadaan Riani dengan hati-hati membantu dan menuntun Riani turun dari ranjangnya, sedangkan om Rolland dengan segera mengambil nasi yang ada di tangan Riani dan meletakkannya di atas meja, kemudian juga membantu Riani untuk turun dari ranjang.


Namun saat Riani akan melangkahkan kakinya, tiba-tiba dia seolah kehilangan semua tenaganya dan hampir saja terjatuh, namun dengan sigap om Rolland menangkap tubuh Riani dan membopongnya.


Kemudian membawa tubuh Riani masuk ke dalam toilet dengan di ikuti Roro di belakangnya.


Riani menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan berusaha sekeras mungkin agar tidak muntah saat berada dalam gendongan om Rolland.


Om Rolland meletakkan tubuh Riani dekat wastafel kamar mandi, setelah meminta Roro untuk menggantikannya menjaga tubuh Riani agar bisa berdiri, dengan segera om Rolland mengambil salah satu kursi di ruangan tersebut dan meletakkannya di belakang tubuh Riani, agar dia bisa duduk dan merasa nyaman saat dia akan muntah.


Setelah itu om Rolland keluar dan kembali duduk di kursi di mana tadi dia duduk.


Matanya menatap cemas ke arah pintu kamar mandi yang kini sudah tertutup.


Terdengar olehnya suara Riani yang sedang muntah-muntah.


Kemudian pandangannya di alihkan pada kedua tangannya yang terangkat di depannya.


Dia teringat saat tadi menggendong tubuh Riani, ada perasaan yang sangat familiar di hatinya dan ada perasaan hangat yang mengalir di hatinya.


Sudah lama sekali dia tidak merasakan perasaan seperti itu, terakhir kali saat dia menggendong wanita yang dulu sangat ia cintai dan sayangi, yang hingga kini dia tidak tahu di mana keberadaannya.


Tanpa dia sadari air matanya pun mengalir, ada perasaan sakit jika mengingat semuanya di masa lalu.


"Kenapa dua perasaan familiar ini seolah saling berkaitan...?" Batin om Rolland dalam hati.


"Semoga tindakanku waktu itu benar dan besok ada kabar baik untukku, semoga..." Bisik dan doa Om Rolland dalam hati, di usap wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan pandangannya kembali ke arah pintu kamar mandi di mana masih terdengar suara Riani yang muntah-muntah...

__ADS_1


...☆☆☆...


__ADS_2