KESETIAAN YG TAK TERBATAS

KESETIAAN YG TAK TERBATAS
MENANAM DOSA...


__ADS_3

Lamunan Riani terbuyarkan dengan suara panggilan dan lambaian tangan dari papah Rolland yang sudah berada jauh di depannya.


"Iya Pah!" jawab Riani dengan suara sedikit keras.


Dengan sedikit berlari Riani segera menyusul papah Rolland.


"Aduh Nak, kamu jangan lari-lari...Ingat! kamu lagi hamil besar!" kembali Papah Rolland berteriak dengan nada ketakutan dan ngeri melihat Riani yang berlari kecil dengan perut besarnya itu.


Terlihat di wajahnya yang sangat mengkhawatirkannya.


Riani segera mengerem mendadak setelah mendengar teriakan papahnya.


Dengan senyuman merasa bersalah Riani menghampiri papah Rolland yang melotot cemas padanya.


"Hehehe...Maaf Pah, Riani lupa kalau sedang hamil gede" jawab Riani dengan wajah polosnya.


Melihat mimik wajah Riani yang polos dan lucu, membuat rasa khawatir papah Rolland mereda.


"Iya, tapi jangan di ulangi lagi! berbahaya sekali tadi, coba kalau ibu kamu melihat kamu yang lari-lari kayak gitu, bisa semaput tuh dia..."


"Tolong jangan beritahu ibu ya Pah, please..."


"Iya Papah janji, makanya kalau jalan jangan sambil melamun, biar tidak ketinggalan" ledeknya.


"Iya...Iya Pah..." jawab Riani dengan wajahnya yang bersemu malu.


"Ayo kita jalan lagi, Tuh tante Grace sudah menunggumu" ajak papah Rolland sambil menunjuk ke arah tante Grace yang melihat melambaikan tanganya ke arah mereka.


Riani dan papah Rolland kembali berjalan menuju ke arah tante Grace bersama yang sedang bersama yang lain menunggu di depan ruang rawat Ethan.


"Bagaimana keadaan anakmu Grace?" tanya Rolland sesampainya di depan mereka.


"Dokter masih menanganinya Bang..." Jawab Grace dengan wajah sedihnya.


Riani segera mendekat dan memeluk tante Grace.


"Lalu selanjutnya gimana, bukankah kamu pernah bilang jika di Amerika ada rumah sakit yang bisa menangani penyakit Ethan?" tanya Rolland lagi, tapi kali ini pada Marcel.


"Kami sudah menghubungi pihak rumah sakit di sana, kami juga sudah mengirimkan riwayat medis milik Ethan, dan ahli medis sedang mempelajari penyakit yang di derita Ethan, dan kemungkinan sembuhnya sangat besar"


"Lalu?"


"Dalam jangka waktu tiga hari pihak rumah sakit akan memberitahu jadwal keberangkatan kami ke sana"


"Tapi masalahnya pasti akan sangat sulit mengajak Ethan untuk pergi ke Amerika, sedangkan satu-satunya orang yang bisa membujuknya hanyalah Riani" sambung tante Grace.


"Jadi...bagaimana mernurutmu nak?" tanya om Marcel.


Di tatap penuh harap oleh om Marcel dan tante Grace membuat Riani menjadi tidak enak hati.


"Yang jelas dan sudah pasti, Riani tidak bisa menemani Ethan ke Amerika, karena selain sudah ada Viola, keadaan Riani yang sedang hamil besar juga sangat beresiko tinggi untuk perjalanan jauh" kata Rolland, membantu Riani untuk menjawabnya.


"Saya setuju dengan apa yang di katakan bang Rolland, saya juga tidak mau memaksa nak Riani untuk membantu Ethan dan Viola, kandungan Riani lebih penting, apalagi menjelang masa melahirkan yang rawan seperti itu" kata om Ronand setuju.


"Bagaimana menurutmu nak?" tanya tante Grace, membelai lembut kepala Riani.


"Ethan tetap harus pergi, karena ada harapan untuknya sembuh, nanti akan Riani coba untuk membujuknya"


"Terima kasih Mba, karena sudah sering membantuku dan Ethan..." Ucap Viola yang ternyata sudah kembali dengan membawa dokter ahli yang menangani Ethan, dokter tersebut pun segera masuk ke dalam ruang rawat Ethan.


Semua menunggu dengan cemas, sedangkan Viola dan Riani duduk agak jauh dari ruangan Ethan.


"Aku tahu kalau aku tidak bisa memaksa kak Riani untuk membantuku ikut menjaga Ethan selama dia menjalani perawatan di Amerika nantinya, tapi bisakah..." Viola tidak melanjutkan kalimatnya, hatinya ragu untuk meminta Riani sekali lagi membantunya, sedangkan dia merasa selama ini sudah sering mengandalkan bantuan dari Riani setiap kali Ethan membutuhkan Riani.


Dan seolah Riani mengerti dengan apa yang sedang di pikirkan Viola, sambil tersenyum dan memeluk hangat pundak Viola.

__ADS_1


"Meski aku tidak bisa ikut dengan kalian, aku akan tetap membantumu dengan berbicara dengan Ethan selama dia menjalani perawatan di sana"


"Terima kasih banyak Kak, dan maaf selalu merepotkanmu..."


Riani mengangguk, kemudian mereka berdua saling berpelukan.


"Haaahh...Aku merasa sudah gagal menjadi istri Ethan kak..." Keluh Viola setelah keduanya saling melepaskan pelukan.


"Kamu jangan ngomong begitu, justru aku salut sama kamu yang bisa dengan sangat sabar dan kuat menghadapi Ethan dengan sakit yang di deritanya, sedangkan aku belum tentu mampu sepertimu Vio..."


"Tapi aku hampir putus asa kak, karena Ethan tak kunjung membuka hatinya untukku..."


"Kamu harus tetap sabar Vio, karena aku yakin suatu saat nanti mata hati Ethan akan melihat dan menyadari ketulusanmu..."


Suara langkah yang mendekat ke arah mereka, seketika menghentikan obrolan keduanya.


Tampak tante Grace dengan berjalan tergopoh-gopoh mendekati mereka.


"Vio, nak Riani...Ethan sudah sadar, tapi dia ingin sekali bertemu denganmu nak..." Kata tante Grace sesampainya di depan mereka berdua sembari matanya menatap penuh harap ke arah Riani.


"Dari mana Ethan tahu kalau saya ada di sini Tan?" tanya Riani heran.


"Tante juga tidak tahu nak, dia hanya bilang kalau dia tahu kamu sudah datang dan dia ingin sekali bertemu denganmu Nak..."


"Baiklah kalau begitu, mungkin memang ini sudah saatnya aku berbicara dengannya dan meluruskan semuanya, ayo Tante..."Ajak Riani dan menggandeng Viola untuk ikut juga bersamanya.


.............


Sesampainya di ruangan Ethan, terlihat sangat jelas wajah terkejut Ethan saat melihat perut besar Riani.


"Aku ingin bicara empat mata saja dengan Riani, bisa kan?" kata Ethan memohon sekaligus memerintah.


Tanpa kata-kata, Viola dan tante Grace segera keluar dari ruangan tersebut.


Ethan melambai lemah kearah Riani agar dia segera mendekat kepadanya.


Tanpa kata, keduanya saling tatap dan terdiam seribu bahasa.


Dalam hati Riani ingin rasanya dia menangis melihat keadaan Ethan yang kurus tak berdaya seperti itu.


Dengan tangan yang gemetar tanpa daya, Ethan mengangkat tangannya dan perlahan mengelus lembut perut buncit Riani.


"Maafkan aku An-an..." Ucapnya bergetar penuh penyesalan.


"Aku sudah memaafkanmu...Sekarang aku sedang bicara dengan siapa nih...?" Tanya Riani dengan candaan hambarnya.


"Hhhh...!" tawa Ethan sedikit di paksakan, karena sudah tidak ada tenaga lagi baginya untuk bersuara lantang.


"Sekarang aku masih Ethan An-an, dan mulai sekarang sampai nanti aku akan memanggilmu dengan nama itu, bolehkah?" lanjut Ethan.


Riani tak kuasa untuk menjawabnya, dan hanya anggukan kepala dia menyetujuinya.


"Anakku kah...?" Tanya Ethan lagi sambil menatap dalam ke arah perut Riani.


Riani memegang lembut tangan Ethan yang masih mengelus perutnya itu, kemudian di kecupnya tangan Ethan yang di rasanya hanya tinggal berbalut kulit tersebut.


Ethan hanya terpejam meresapi kecupan bibir Riani, kecupan inilah yang sangat ia rindukan dan nantikan, setelah sekian lama semenjak perpisahannya dengan Riani 18 tahun yang lalu, air mata bahagia dan haru mengalir deras begitu saja di wajah Ethan.


"Maaf mengecewakanmu...Ini bukan anakmu, ini anak Radja, suamiku..." Jawab Riani dengan mata yang berkaca-kaca.


"Tapi aku akan tetap menganggapnya anakku dan aku ingin menjadi ayahnya, bolehkah?"


"Bagaimana bisa Than? dia tetap darah daging Radja, karena saat kejadian itu ternyata aku sedang hamil..."


"Aku tidak perduli dia darah daging siapa, tapi aku ingin menganggapnya sebagai darah dagingku, karena biar bagaimanapun aku telah menanam dosa pada janin yang sedang kamu kandung ini...Dan untuk menebus dosaku itu, aku ingin menyayanginya seperti darah dagingku sendiri..." Jawab Ethan kekeh.

__ADS_1


"Baiklah...Kamu boleh menjadi ayah dari bayiku ini, tapi dengan 2 syarat"


"Apapun syaratnya aku akan terima asalkan kamu jangan menyuruhku menjauh darimu dan calon anakku ini..." Ucap Ethan meremas lembut tangan Riani yang masih memegang perutnya.


"Syarat yang pertama kamu harus pergi ke Amerika dan berobat di sana..."


"Itu berarti aku harus menjauh darimu? kamu ingin aku menjauhimu An-an..." tanya Ethan dengan tatapan sedihnya.


"Bukankah aku sudah berjanji padamu? aku ingin kamu sembuh Than...Jadi cepatlah sembuh, sehingga kamu bisa segera kembali"


"Baiklah, aku akan pergi tapi dengan syarat kamu selalu mendukungku"


"Caranya?"


"Setiap hari aku akan menelpon atau chat kamu, dan kamu harus menjawabnya"


"Tapi..Bagaimana kalau pas aku benar-benar tidak bisa menjawabnya?"


"Paling tidak chat aku sebelumnya"


"Oke..."


"Lalu syarat kedua apa?"


"Syarat kedua adalah...Aku mohon kamu membuka hati dan mencoba untuk menerima cinta tulus Viola, hargai dia sebagai istrimu"


"Kalau aku tidak bisa bagaimana?"


"Maka aku dan anakku akan menghilang tanpa jejak darimu..."


"Jadi jika aku memenuhi syarat yang kedua maka aku bisa setiap saat menemuimu dan anakku?"


"Iya, aku janjikan itu..."


"Oke, kalau begitu aku akan mencoba memenuhi syarat yang kedua itu"


"Bagus, kalau begitu sekarang kita sepakat!"


Ethan mengangguk kemudian keduanya saling mengaitkan jari kelingkingnya, seketika keduanya pun tertawa, karena mereka teringat di masa kecil dulu yang melakukan hal yang sama, setiap kali keduanya mengucapkan janji.


"Sekarang...Kamu harus jaga kesehatan dan makan teratur, lihat tanganmu ini, hanya dua minggu aku tidak melihatmu sudah kayak tengkorak hidup begini!" kata Riani sambil mengangkat tangan Ethan.


"Aku tidak ada nafsu untuk makan, tapi sekarang aku merasa lapar dan ingin makan"


"Kalau begitu aku panggilkan istrimu untuk melayanimu makan"


"Tapi aku ingin kamu yang melayaniku An-an..." Ucap Ethan manja.


"Tidak bisa Than, ada istrimu di sini dan kamu sudah berjanji padaku, demi aku dan anakmu ini please..." Rayu Riani.


"Baiklah, demi kamu dan anakku..." Jawab Ethan pasrah.


Riani tersenyum penuh kemenangan, kemudian dia keluar untuk memanggil Viola.


.............


Di balik jendela kaca, Riani melihat Viola dengan penuh kasih menyuapi Ethan makan.


Meski ada sudut hati yang terasa sakit namun Riani tetap ikut bahagia saat melihat wajah Viola yang bahagia.


Ingatannya kembali pada kata-kata Ethan...


"Jika kata Ethan perbuatannya waktu itu di sebut menanam dosa, maka apa yang di lakukan Teddy padaku waktu itu juga bisa di sebut dengan menanam dosa? Ya Tuhan...Lelakon apa ini...


...☆☆☆...

__ADS_1



__ADS_2