
Hari ini Riani bersiap-siap pergi dan bermalam di rumah lamanya, untuk menempati janji dan memenuhi syarat yang ke tiga dari Radja.
"Kamu sudah yakin dan mantap dengan keputusanmu nak?" tanya Bu Widya, saat membantu Riani mengemas barang yang dia perlukan.
"Iya Bu, lagi pula kami berdua sudah sepakat dengan keputusan itu..."
"Kalau memang itu keputusan kalian, ibu bisa apa?"
"Maafkan kami berdua yang sudah mengecewakan Ibu..."
"Ya mau gimana lagi..." Jawab Bu Widya, meski terlihat dengan jelas ekspresi kecewa di raut wajahnya.
.............
Radja telah sampai untuk menjemput Riani.
Dengan pelukan tidak rela, Bu Widya melepaskan Radja yang berpamitan padanya, karena dia tidak tahu kapan lagi akan bertemu dengan Radja, yang sebentar lagi akan menjadi mantan menantunya itu.
.............
Sesampainya mereka berdua di rumah lama, Radja benar-benar memanjakan Riani dengan memberi perhatian lebih pada Riani dan kandungannya.
Dia merasa harus memanfaatkan baik-baik waktu kebersamaannya dengan Riani.
Setengah hari mereka lewati dengan berjalan-jalan dan memeriksa kandungan Riani.
Radja menangis terharu saat dia mendengar detak jantung calon bayinya tersebut untuk yang pertama kalinya, ada perasaan bersalah dan penuh sesal timbul di hatinya karena dia pernah meragukan darah dagingnya tersebut.
"Maafkan papah nak..." Sesal Radja dalam hati.
Selesai memeriksakan kandungan, dalam perjalanan pulang mereka menyempatkan mampir di pasar malam dekat rumah, membeli sesuatu untuk makan malam.
Usai makan malam dan membersihkan diri, keduanya bersiap untuk tidur.
Ada perasaan canggung diantara mereka, meski keduanya masih suami istri tapi sudah lama mereka berdua tidak tidur bersama.
"Dek...Sebelum aku penuhi keinginanmu, bisakah kamu penuhi keinginanku?"
"Apa yang mas inginkan sekarang?" tanya Riani, meski di hatinya dia sudah menduga apa yang akan Radja minta.
Sesaat Radja terlihat menelan ludah, sebelum menjawab pertanyaan dari Riani.
"Bisakah aku minta itu...untuk yang terakhir kalinya sebelum kita berpisah?"
Lama Riani tidak menjawab dalam diam, dia berpikir apa salahnya untuk yang terakhir kali dia penuhi keinginan Radja, toh dia masih suaminya.
Dan dia percaya setelah dirinya memenuhi keinginan tersebut, Radja pasti akan memenuhi janjinya, karena dia tahu betul meskipun godaan wanita adalah kelemahannya, namun jika dia sudah mengucapkan janji maka dia akan bertanggung jawab, itulah salah satu kelebihan Radja.
"Dek..." Tanya Radja lagi dengan suara yang serak.
Riani segera tersadar dari lamunannya dan menjawab Radja dengan anggukan pelan kepalanya.
Untuk yang terakhir kalinya mereka berdua hanyut dalam irama bercinta dan membuncah, menjelang pagi keduanya terkulai lemas tak ada daya.
.............
Suara Adzan subuh membangunkan Riani dari tidur lelahnya.
Saat dia membuka mata betapa terkejutnya dia ketika melihat Radja sudah berpakaian rapi, tapi yang membuatnya lebih heran lagi karena Radja memakai baju koko dan sarung.
"Dek, kamu sudah bangun?"
Riani yang masih terbengong segera tersadar.
"Mas mau kemana? kok pakai baju koko dan sarung? tanya Riani, heran.
Karena Radja tidak seperti biasanya berpakaian seperti itu.
"Ayo kita sholat shubuh bersama Dek..." Ajak Radja, yang membuat Riani semakin terheran-heran.
"Ayo dek...Kok malah bengong sih?"
"Ba...Baik Mas, kalau begitu aku mandi dulu"
"Iya Dek, Mas akan tunggu"
Setelah setengah jam, akhirnya Riani selesai mandi dan sudah mengenakan mukenah.
__ADS_1
Keduanya segera melakukan sholat Shubuh bersama.
Hati Riani bergetar, karena ini yang terakhir kalinya Radja menjadi Imamnya dalam sholat dan Imam keluarganya..
Riani menyalami dan mencium pungung tangan Radja, kemudian Radja membalas dengan ciuman lembut di keningnya.
Dalam tangis, Radja mengelus dan mencium berkali-kali perut besar Riani lalu memeluk erat tubuh Riani.
"Maafkan aku Dek...Ampuni aku Dek..." Ucap Radja di sela-sela tangisnya.
"Aku sudah memaafkanmu Mas..." Jawab Riani yang juga larut dalam tangis kesedihan.
"Setelah kita berpisah, aku mohon jaga dirimu dan anak kita baik-baik ya Dek..."
"Iya Mas..."
"Kalau begitu akan aku penuhi janjiku sekarang..."
Radja melepas pelukannya, kemudian dia menarik nafasnya dalam-dalam...
"Bismilahirrahmanirahim...Aku talak engkau, terhitung mulai esok hari..." Ucap Radja dengan terbata-bata dan mata berkaca-kaca.
Riani yang terbawa emosi dengan perasaannya yang campur aduk, menyeka airmatanya, menangisi rumah tangganya yang sudah berakhir.
Setelah ucapan talak dari Radja, keduanya saling berpelukan untuk yang terakhir kalinya.
...
Radja mengantar Riani kembali ke rumah setelah melewati bersama dua hari satu malam, setelah saling melepas tangis dengan mantan istri dan mantan mertua, dengan langkah gontai Radja pamit pulang.
Widya yang membaca keadaan, tidak banyak bertanya pada anaknya ataupun Radja, karena dia sudah tahu pasti jawabannya, jika rumah tangga anaknya sekarang sudah berakhir...
.............
"Beneran kamu tidak apa-apa nak? inget sebentar lagi kamu melahirkan bulan ini lho, Ibu khawatir..." Kata bu Widya, saat Riani akan pergi keluar.
"Aku tahu Bu, aku hanya ingin menepati janjiku dan tidak ingin mengecewakan Ethan, apalagi sekarang dia akan pergi jauh untuk berobat..."
"Iya, Ibu ngerti...asal kamu hati-hati dan jaga kandungan"
"Iya Bu..."
"Iya Za, ada apa ya?"
"Mba tolong Mas Radja..." Jawab Lorenza dari sebrang sana sambil menangis.
"Memangnya ada apa dengan Radja?" tanya Riani bingung.
"Mas Radja ingin mengakhiri hidupnya Mba, dia sekarang ada di atas gedung dekat tempatku bekerja..."
"Aku ke sana sekarang!"
"Ada apa Ri?"
"Mas Radja mau bunuh diri Bu, sekarang aku mau ke sana"
"Apa!! Ibu ikut denganmu!"
"Papah juga ikut nak!" sambung Rolland yang keluar dari kamarnya dan sejak tadi mendengar perbincangan keduanya.
Saat mereka bertiga baru saja keluar dari rumah, terlihat dua mobil sedang memasuki pelataran rumah.
Nampak dari dalam salah satu mobil keluar Viola dan Ethan, dan di mobil yang lainnya, tampak Teddy sedang turun dari mobilnya.
"Kalian bertiga kenapa bisa bersama-sama ke sini?" tanya Riani heran.
"Kebetulan kami bertemu di jalan tadi" jawab Viola
"Kalian mau ke mana dan kenapa wajah kamu terlihat sangat cemas Ai?" tanya Teddy.
"Radja ingin mengakhiri hidupnya Ted, dan kami akan ke lokasi sekarang"
"Apa?!" jawab Viola, Ethan dan Teddy serempak.
"Kalau begitu kami juga ikut" kata Ethan.
Riani mengangguk, kemudian dia dan kedua orang tuanya segera masuk ke dalam mobil, tidak butuh lama, mobilpun berjalan keluar halaman di susul dengan mobil Teddy dan mobil Ethan.
__ADS_1
.............
Sesampainya di lokasi tampak sudah ramai dengan orang sedang menonton dari bawah gedung.
Riani dan yang lainnya segera naik lift menuju ke atap gedung di mana Radja sedang berdiri di bibir gedung sambil memegang pistol.
"Mas...Buang pistolnya, ayo turun dan kita bicarakan baik-baik semuanya..." Bujuk Riani sesampainya di atap gedung.
"Dek...Akhirnya kamu datang, maafkan aku Dek...ternyata aku tidak bisa ikhlas untuk melepasmu...Aku gila bukan?"
"Tidak mas, itu wajar kok..turunlan dulu, ayo kita bicara..." Bujuk Riani lagi, dia berusaha untuk menahan tangisnya.
Radja hanya menangis tersedu-sedu sambil menodongkan pistol ke arah pelipisnya.
"Maafkan aku Dek, tolong jaga anak kita, selamat tinggal..."
"Dorrr!"
Suara tembakan yang meletus membuat semuanya teriak histeris.
"Ethan!!" Teriak Riani dan Viola.
Ethan terkena tembakan dari Radja, terlihat dada Ethan berlumuran dengan darah.
Ternyata saat perhatian Radja teralihkan ke arah Riani, diam-diam Teddy dan Ethan berjalan mendekati Radja untuk menghentikan Radja.
Namun na'as, saat mereka berusaha merebut pistol dari tangan Radja, tembakan mengenai dada Ethan.
Dalam keadaan yang kacau, polisi akhirnya datang dan segera mengamankan Radja.
Selang beberapa menit ambulans pun datang, segera menangani dan membawa Ethan ke rumah sakit.
Riani menatap kedua tangannya yang berlumuran darah, dia teringat kembali saat Ethan di pangkuannya, dengan tersenyum dia memanggil namanya dengan sebutan "Ria-ku".
Tiba-tiba Riani merasakan sakit di perutnya, kontraksi di perutnya semakin di rasa sakit olehnya dan tampak cairan ketuban telah pecah dan keluar dari sela-sela kedua kakinya, tanda dia akan melahirkan.
Dengan segera Bu Widya dan papah Rolland membawa Riani ke rumah sakit.
.............
Di tatapnya bayi mungil perempuan yang sedang dengan lahapnya menyusu ASI.
"Ethania, pelan-pelan miminya..." Ucap Riani tersenyum, sambil membelai lembut rambut tebal Ethania.
Dia mengambil ponselnya, kemudian di ambilnya foto Ethania dan di kirimkan ke nomor Viola.
Satu menit kemudian Viola mengirim foto Ethan yang masih memakai selang infus sedang menggendong Ethania.
Melihat foto tersebut Riani tersenyum, kemudian menangis, karena foto itu di ambil saat Ethan baru beberapa jam selesai menjalani operasi pengambilan peluru, Ethan yang memaksa ingin menggendong Ethania.
Dan itu permintaan terakhir Ethan sebelum dia akhirnya kembali kritis dan koma.
"Tenanglah kamu di sana, karena janjiku padamu telah aku penuhi..."
Riani kembali menatap lembut wajah Ethania yang kini sudah tertidur dengan pulasnya, wajahnya mirip dengan Radja, dia yang kini kondisi mentalnya kurang baik, sekarang sedang menjalani terapi dan pengobatan di rumah sakit jiwa.
"Thania sudah tidur Ai? sini, biar aku gendong dulu" kata Teddy yang entah sejak kapan datangnya.
"Jangan keseringan di gendong Ted..." Jawab Riani sambil menyerahkan Ethania pada Teddy.
"Iya, aku tahu Ai, nanti kuneng kan?"
Riani tersenyum menatap Teddy yang sedang menggendong Ethania, dia bisa melihat ketulusan Teddy menyayangi Ethania.
Ada perasaan haru dan bersyukur di hatinya.
Kehadiran tiga pria dalam hidupnya, yaitu Ethan, Teddy dan Radja membuatnya memahami arti sebuah cinta dan kasih sayang.
Kesetian yang tak terbatas mereka bertiga, dia terima dengan rasa cinta yang berbeda.
Meski akhir ceritanya tidak sesuai dengan harapan, namun Riani tetap bersyukur, karena dia bisa melihat dan merasakan Kesetiaan yang terbatas dari mereka...
...----The End---...
NB: Terima kasih banyak pada para pembaca atas dukungannyaπββοΈπββοΈπββοΈπππ
Sampai jumpa lagi di season 2πππ
__ADS_1
Dukung juga novel terbaruku yang berjudul "Epiphany"...coming soon...Thanks semuanyaπββοΈπββοΈπββοΈπππ