
Mata Riani terbuka saat telinganya mendengar suara pintu kamarnya di buka seseorang.
Di lihatnya Teddy masuk dan menutup kembali pintunya, dia membawa beberapa bungkus plastik.
"Kamu sudah bangun Ai?" tanya Teddy yang melihat Riani sudah bangun dan terduduk di atas kasurnya.
"Ini aku bawakan bubur dan teh hangat, kamu makanlah..." Kata Teddy sambil mengeluarkan mangkuk yang berisi bubur.
Kemudian di siapkan olehnya di atas baki dan di bawanya ke arah Riani.
"Aku tidak mau makan Ted, mulutku tidak enak banget..." Tolak Riani sambil menutup mulut dengan satu tangannya, karena saat hidungnya mencium bau dari bubur tersebut, perutnya terasa mual.
"Kamu harus makan Ai, kamu dari pagi belum makan, sekarang sudah hampir malam, aku suapin ya..." Kata Teddy berusaha membujuk Riani.
"Biar aku makan sendiri Ted..." Tolak Riani dan langsung mengambil sendok dan mangkuk bubur dari tangan Teddy, namun baru saja dia menyendok bubur yang masih hangat itu, perutnya kembali mual-mual.
"Hoek...Hoek!" Riani kembali muntah-muntah, tangan satunya segera menutup mulutnya.
Dengan sigap Teddy memberi tisu pada Riani dan mengambil mangkuk bubur dari tangannya.
"Coba kamu minum teh hangat ini dulu" kata Teddy sambil menyodorkan gelas berisi teh hangat pada Riani.
Dengan pelan Riani menyeruput teh hangat tersebut, terasa olehnya perutnya yang mulai terasa hangat dan nyaman.
Saat Teddy menyuapi bubur ke arah mulutnya, tanpa sadar mulut Riani terbuka hingga bubur itu masuk tanpa kendala ke dalam mulutnya.
Dan yang membuat hati Riani merasa aneh, rasa mual yang barusan ia rasakan, tiba-tiba menghilang entah kemana.
Hingga tidak butuh lama, bubur dalam mangkuk habis tak tersisa di lahap Riani.
Setelah Riani selesai makan dan meminum habis teh hangatnya, dengan lembut Teddy mengelap mulut Riani dengan tisu, membuat suasana terasa canggung.
Tiba-tiba Riani teringat dengan kejadian semalam yang samar-samar terlintas dalam pikirannya.
"Emm...Ted semalam apakah ada yang terjadi?" tanya Riani penasaran.
"Menurut ingatanmu bagaimana?" tanya balik Teddy yang tak berani menatap langsung mata Riani, dia pura-pura sibuk membereskan mangkuk dan gelas bekas Riani makan sambil menata hatinya kalau nanti akhirnya Riani ingat semuanya.
"Seingatku aku muntah-muntah kemudian tubuhku terasa dingin dan menggigil hebat, setelah itu...Aku bermimpi aneh..." Jawab Riani dengan tidak yakin.
"Kamu bermimpi aneh? mimpi apa itu Ai?" tanya Teddy penasaran.
"A...Aku mimpi...Pokoknya mimpi aneh begitulah..." Jawab Riani tergagap, karena dalam ingatannya dia bermimpi berbuat mesum dengan Teddy, hingga membuat wajahnya merona merah karena malu.
Melihat Riani menutup wajahnya yang merona karena malu membuat Teddy tertawa geli, namun dalam hatinya juga bersyukur, karena dalam ingatan Riani, kejadian itu hanya dalam mimpinya.
"Semalam kamu muntah-muntah dan karena bajumu kotor, terpaksa aku mengganti bajumu agar kamu bisa tidur nyaman dan aku..." Jawab Teddy sambil mencubit gemas hidung mungil Riani.
"Jadi kamu...Kamu melihatku telan..." Belum sempat Riani menyelesaikan kata-katanya.
"Aku meminta tolong salah satu staf resort untuk membantu mengganti bajumu..." Jawab Teddy berbohong.
Melihat Riani tersenyum dan menarik nafas leganya, Teddy merasa sangat bersalah.
"Maaf Ai, aku terpaksa berbohong padamu, karena aku masih takut menerima kenyataan jika aku jujur padamu akan membuatmu sangat membenciku...Dan hatiku belum siap untuk itu...Tapi aku janji bila saatnya nanti di waktu yang tepat aku pasti akan menceritakan dengan jujur semuanya, dan aku akan siap dengan semua resikonya..." Kata Teddy dalam hatinya.
__ADS_1
"Ted...Teddy?! kamu kok malah melamun sih?" tanya Riani, suaranya yang sontak membuyarkan lamunan Teddy.
"Iya Ai, tadi kamu bilang apa?" jawab Teddy gugup.
"Terima kasih banyak ya Ted, kamu sudah merawatku dengan sangat telaten selama aku sakit tadi..." Ucap Riani.
"Iya Ai, yang penting kamu sehat dulu dan cepatlah istirahat, besok aku akan membawamu ke dokter..." JawabTeddy sambil memegang lembut tangan Riani.
"Tidak perlu ke dokter Tedd, aku cuma butuh istirahat saja kok, setelah itu aku pasti pulih" tolak Riani lembut, sambil menarik pelan tangannya dari genggaman Teddy.
Entah kenapa, semenjak mimpi itu Riani merasa canggung bila bersentuhan dengan Teddy.
"Ya sudah, kalau begitu kamu sekarang istirahatlah, aku keluar sebentar ada yang ingin aku urus"
"Baiklah, kamu hati-hati..."
"Oke, kamu juga harus benar-benar istirahat"
Riani tersenyum dan mengangguk, Teddy mengelus lembut kepala Riani, kemudian dia keluar meninggalkan Riani yang masih tertegun dengan sentuhan Teddy.
"Kenapa setiap sentuhan-sentuhan dari Teddy terasa sama dengan mimpi itu dan terasa sangat nyata, dan lebih gilanya lagi aku begitu menikmatinya...padahal itu hanya dalam mimpi, "ingat Riani kamu masih berstatus istri! tapi masih memikirkan mimpi bercinta dengan pria lain?! gila kamu Riani!" Rutuk Riani dalam hati yang mengutuk diri sendiri karena pikiran mesumnya itu.
Dengan jengkel di remas dan di jambaknya keras-keras rambutnya, berharap agar pikiran kotornya itu enyah dari otaknya.
Untuk melupakannya dia mencoba mengalihkan perhatiannya dengan bermain game di ponselnya, hingga tanda pesan masuk berbunyi.
Dua pesan dari dua orang yang berbeda, satu dari sahabatnya Mi-ro dan satu dari Radja suaminya.
"Dek, mas sudah sampai di Jakarta, rumah terasa kosong...pulang ya dek..." Kata Radja dalam pesannya.
"Iya mas, kita lihat saja nanti...Aku belum bisa memutuskan dan memberi jawaban sekarang"
"Iya mas, kamu juga..."
"I love you..."
Riani tidak menjawab pesan terakhir dari Radja, di hati dan mulutnya sudah terasa beku akan kata cinta, bahkan sekedar mengucapkan saja mulut sudah terasa kaku.
Kemudian dia beralih ke pesan sahabatnya itu.
"An an! kamu masih ingat sahabatmu ini tidak?! kalau aku tidak chat kamu duluan, kamu tidak chat aku, membuatku khawatir saja!" kata Roro dengan nada marahnya.
Riani hanya tersenyum karena merasa lucu dengan kemarahan sahabat yang seperti kakak perempuannya itu.
"Maaf Mi-ro ku, banyak hal yang terjadi di sini, tapi...Aku belum bisa menceritakan semuanya sekarang..."
"Memangnya apa yang terjadi An an?"
"Nanti saja aku ceritakan semuanya setelah aku pulang"
"Lalu kapan kamu pulang?"
"Dua, tiga hari lagi aku pulang"
"Ya sudah, kamu di sana hati-hati dan jaga diri, Bye"
__ADS_1
"Iya Mi-Ro ku sayang, bye"
Riani kembali melanjutkan permainan game kesukaannya, setelah membalas dan menutup chat dari Roro.
Satu jam berlalu, mata Riani mulai merasa berat dan mengantuk.
Setelah mencharge ponselnya, dia rebahkan tubuhnya di atas kasur, kepalanya yang masih pusing membuatnya segera memejamkan mata, berusaha untuk tidur.
.............
Dengan pelan Teddy membuka pintu kamar Riani, dia melihat wanita terkasihnya telah tertidur dengan lelapnya.
Di hampirinya tubuh yang tergolek di atas kasur, di tatapnya wajah yang masih pucat berkabut duka.
Hati dan perasaannya yang penuh dengan cinta dan sayangnya pada wanita di hadapannya itu, seolah tidak rela bila melihatnya menderita dan jatuh terpuruk dalam jurang kesedihan yang tak berujung kebaikan.
Pelan Teddy duduk di tepian kasur, di samping tubuh Riani yang tertidur, di angkatnya tangan Teddy, dengan lembut dan penuh kasih sayang di usapnya wajah dan bibir Riani.
Ingin rasanya dia menghapus derita yang terpangpang jelas di wajah perempuannya itu.
Hatinya sakit dan perih melihatnya yang kesakitan seperti itu, ingin rasanya dia membawanya lari berasama untuk mencari dan menemukan dunia baru mereka tanpa ada gelombang nestapa menghampiri mereka.
Terlintas di ingatannya saat terakhir kali tanpa sengaja dia mendengar dari Zoya yang sedang mengobrol dengan kakaknya mengenai perselingkuhan Radja dan mantan pacar Randi yang terciduk langsung di hotel, saat itu pula Teddy murka dan ingin langsung memberi pelajaran pada Radja.
Namun untung saja wak Made segera menenangkannya dan memberinya jalan untuk lebih dekat dengan Riani, dan bisa memberi suport pada Riani.
Sekarang dia sudah bisa dekat dan intim dengan Riani, meski akhirnya dia juga sama dengan Radja.
Dia telah menodai kesucian Riani sebagai seorang istri, tapi di hati Teddy tidak ada penyesalan, karena dia akan lebih menyesal jika malam itu dia membiarkan Riani menderita dalam menggigil kedinginan.
Biarlah dia serakah dan menanggung dosanya, asalkan dia bisa melihat perempuannya bahagia.
Lama Teddy menatap dan mengelus lembut wajah dan bibir Riani yang merekah saat dia tertidur.
Dan entah setan dari mana, melihat bibir Riani yang merekah membuat mata dan pikirannya berkabut, seolah mengundangnya untuk kembali mencumbu Riani lagi.
Namun dengan kekuatan cinta di hatinya, di singkirkannya pikiran penuh mesum laknat itu.
Dengan lembut di cium kening dan bibir Riani, air mata tanda pengharapan atas segala kebaikan untuk wanita yang sangat ia cintai pun mengalir membasahi pipinya.
Di genggamnya erat tangan Riani dan di ciumnya berkali-kali.
"Wahai perempuanku, aku rela menjadi tamengmu dari duka dan derita yang menghampirimu, aku rela jadi bendungan tangismu dan aku rela menjadi sandaran keluh kesahmu meskipun aku bukanlah pilar yang bisa berdiri kokoh di sampingmu, karena aku hanyalah pilar bayangan untukmu..."
Di letakkan genggaman tangannya dengan tangan Riani di mulutnya dan di ciumnya penuh tangis kesedihan, karena dia sangat tahu ada batasan ikatan antara dia dan Riani.
Ikatan yang jelas antara Riani dan Radja sebagai suaminya, sedangkan dia dengan Riani hanya ikatan yang samar abu-abu...
Di letakkannya pelan tangan Riani, di rapikan selimutnya yang tersibak berantakan.
Sebelum akhirnya dia kembali mencium kening Riani, di lihatnya Riani bergerak merubah posisinya dengan mata yang masih terlelap, tubuhnya yang meringkuk imut membuat Teddy tersenyum dan gemas melihatnya.
Di ambilnya satu bantal kemudian di letakkannya pada sofa panjang yang tidak jauh dari ranjang.
Kemudian di rebahkan tubuhnya yang sudah terasa penat dan lelah, sejenak dia melirik ke arah Riani yang masih anteng tak bergerak, kemudian dengan tenang di pejamkannya mata yang sudah dia rasa berat untuk di buka lagi.
__ADS_1
Hingga akhirnya, hanya suara sopran yang keluar dari mulut Teddy yang berlomba dengan suara binatang malam yang menciptakan nyanyian harmoni yang indah...
...☆☆☆...