
Riani pelan-pelan turun dari tebing.
Melihat Riani yang susah payah untuk turun dari tebing, Randi dengan sigap membantu Riani.
"Terima kasih..." Kata Riani sambil berpegangan erat pada Randi menuruni tebing.
"Sama-sama mbak..." Jawab Randi sambil memegang erat tangan Riani yang sedikit kesulitan untuk turun ke bawah.
"Aku benar-benar beruntung mempunyai keluarga baru yang sangat perhatian seperti kamu ini..." Kata Riani setelah dia berhasil turun dan berdiri di samping Randi.
"Kami juga sangat senang dan beruntung bisa mengenal dan mempunyai mbak Riani"
"Tapi...Ngomong-ngomong kamu bisa datang ke sini, apakah ada pekerjaan atau kamu libur?"
"Aku ada kerjaan mendampingi dua kelompok wisatawan di gili air dan menginap di hotel sekitar sini"
"Oo...Lalu bagaimana kabar Zoya di Bali?"
"Dia sekarang sedang sibuk mempersiapkan Ujian Nasional kelulusan"
"Lalu apakah dia berhenti dari pekerjaannya? karena aku takut akan mempengaruhi dan menghambat proses belajarnya, jadi menurutku bukankah akan lebih baik sementara ini dia fokus pada sekolahnya dulu..."
"Zoya sangat pintar mengatur waktu dan aku percaya dia pasti mampu dan bisa mengatur semuanya dengan baik, karena sebelumnya aku juga meminta dia untuk fokus pada sekolah saja dulu, tapi dia tidak mau, jadi aku membiarkan dia dengan pilihannya..."
"Dia memang patut di acungin jempol, aku salut banget sama dia, karena meski dia berusia remaja tapi kemandiriannya melebihi orang dewasa seperti kita"
"Iya mbak, aku juga sangat bangga mempunyai adik seperti dia"
"Hhh...Aku jadi kangen banget sama dia, karena terakhir kali aku menghubunginya dua hari lalu saat video call dan ngobrol bareng sama Pekak dan Dadong juga..."
"Oo iya mbak, begini...Besok kan hari terakhir mbak menggunakan jasa Bakta Tour, jadi apa rencana mbak Riani?"
"Karena cutiku masih ada satu minggu lagi, jadi...Aku berencana untuk menghabiskan waktu tiga hari di sini dan tiga hari di rumah Pekak dan Dadong, kira-kira mereka mau tidak menerima saya lagi di rumah mereka?" tanya Riani pada Randi.
"Tentu saya pekak dan dadong akan menerima mbak Riani, mereka pasti senang banget kalau tahu mbak akan tinggal di rumah mereka lagi..."
"Benarkah?"
"Tentu saja mbak..."
"Alkhamdulillah...Kalau begitu"
.............
Riani dan Randi sudah sampai di depan rental sepeda.
Setelah mereka berdua mengembalikan sepedanya, keduanya segera berjalan menuju ke arah hotel X.
"Oh iya Ran, besok kalau kamu ada waktu luang, bisa tidak bantu aku?" tanya Riani di sela-sela perjalanan mereka.
"Apa yang perlu saya bantu mbak, pasti akan saya usahakan meluangkan waktu untuk mbak Riani..."
"Besok kan hari terakhir aku menjadi kostumer di Bakta Tour agen traveling tempat kamu bekerja, jadi aku ingin kamu membantuku untuk cek out dari hotel X..."
"Kenapa mbak harus cek out dari hotel X dan apa hubungannya dengan mbak Riani tidak jadi kostumer Bakta Tour lagi?" tanya Randi kebingungan.
"Aku berencana pindah hotel selama tiga hari ke depan di sini"
__ADS_1
"Tapi kenapa harus pindah hotel mbak? bukankah Pekak sudah bilang kalau mbak Riani boleh tinggal di hotel X selama di gili air ini? jadi...Mbak tidak perlu repot-repot pindah hotel"
"Tapi Ran...Aku tidak enak hati dan tidak ingin terus-terusan merepotkan kalian semua..."
"Kami tidak merasa di repotkan kok, justru kami akan sangat senang dan puas jika dengan kita membantu mbak Riani, bisa membuat mbak menikmati liburan dan bisa melupakan kejadian-kejadian pahit yang lalu..."
"Terima kasih banyak atas perhatian dan kasih sayang kalian semua, tapi aku benar-benar merasa sudah cukup dan tidak mau lagi menjadi beban kalian"
"Kami semua tidak merasa kalau mbak Riani adalah beban kami, kami semua benar-benar tulus menyayangi mba Riani..."
"Tapi..."
"Sudahlah mbak, jangan terlalu di pikirkan dan tolong jangan buat pekak dan dadong kecewa, lagi pula jika dengan mbak Riani pindah hotel bukankah akan mempermudah Teddy dan suami mbak untuk datang dan menemui mbak Riani?"
"Kamu betul juga, jika benar itu terjadi, maka ketenangan liburanku selama ini akan berantakan lagi, aku juga tidak mau pekak dan dadong sedih dan kecewa jika tahu aku menolak niat baik mereka..."
"Betul sekali, jadi mbak besok tidak perlu pindah hotel kan?"
"Tidak perlu, sekali lagi terima kasih banyak atas semuanya ya Ran, dan maaf sudah merepotkan..."
"Iya mbak sama-sama, dan tolong jangan sungkan seperti itu..." Jawab Randi, Riani hanya mengangguk penuh haru.
Keduanya segera menghentikan langkah mereka karena sudah sampai di depan hotel X.
"Apa kamu mau mampir dulu Ran?"
"Lain kali saja mbak, sekarang saya harus kembali bekerja karena sudah waktunya menjemput para kostumer dan membawa mereka kembali ke hotel mereka menginap"
"Oo...Oke, kamu pergilah dan hati-hati"
"Aku pamit dulu ya mbak, jaga diri mbak dan hati-hati juga..."
"Bye..." Randi segera melangkahkan kakinya meninggalkan Riani yang masih berdiri melihat kepergian Randi.
Setelah bayangan Randi hilang dari pandangan, Riani berniat masuk ke dalam hotel, namun tiba-tiba pundaknya di tepuk seseorang dari arah sampingnya.
Dengan terkejut Riani reflek membalikkan badannya ke arah samping, dan dia terkejut saat melihat sosok Rifai yang berdiri di sampingnya dengan senyum manis tersungging di bibirnya.
"Kamu?! mengagetkanku saja" kata Riani yang langsung menarik nafas leganya.
"Maafkan jika aku sudah mengejutkanmu" kata Rifai masih dengan senyumnya.
"Kamu baru pulang dari bersepeda?" tanya Riani.
"Iya, aku lihat kamu di antar seorang laki-laki tadi"
"Owh tadi aku di antar sama saudaraku" kata Riani, dalam hatinya merasa heran, kenapa dia harus menjelaskan pada Rifai, sedangkan dia bukan siapa-siapanya.
"Oo...Jadi dia saudaramu, tapi kenapa aku merasa tidak asing dengan wajahnya"
"Mungkin karena dia seorang tour guide yang sering bolak-balik guide para wisatawan ke sini"
"Ah iya! aku ingat, dia juga yang guide rombongan para tamu undangan di acara pernikahanku nanti" kata Rifai yang akhirnya ingat dengan wajah Randi.
"Jadi kamu juga menggunakan jasa Bakta Tour?"
"Iya, karena dari dulu setiap aku bolak-balik ke sini selalu menggunakan jasa Bakta Tour dan selalu dia yang jadi tour guidenya"
__ADS_1
"Oo begitu, terima kasih sudah memakai jasa Bakta Tour dan percaya pada Randi untuk menjadi tour guide kalian..."
"Oo jadi Randi nama saudaramu itu" Riani hanya mengangguk.
"Kalau begitu aku pamit masuk duluan, karena hari sudah mulai gelap" kata Riani sambil melanjutkan langkah kakinya masuk ke dalam hotel.
"Kebetulan aku juga mau kembali ke kamarku..." Jawab Rifai sambil menyusul dan berjalan di samping Riani.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata sedang mengawasi mereka berdua.
.............
Di sisi lain Riani dan Rifai sedang asyik ngobrol sambil berjalan bersama menuju kamar mereka masing-masing.
Sesampainya di kamar mereka yang saling berdampingan.
Rifai terlebih dahulu sampai di depan kamarnya dan membuka pintu kamarnya.
Sedangkan Riani sedang mencari kunci kamarnya.
Tiba-tiba dari arah dalam kamar keluar perempuan yang langsung memeluk Rifai.
"Sayang...Kamu sudah pulang, aku sudah bosen banget lho nungguin kamu di kamar seharian" kata perempuan itu manja.
Riani yang melihat perempuan tersebut langsung mengingatnya, perempuan itu tidak lain adalah tunangan Rifai.
Di lihatnya Rifai malu dan risih saat di peluk tunangannya itu.
Sadar ada Riani di samping mereka, tunangan Rifai langsung menyapa ramah Riani.
"Hai, jadi anda yang tinggal di sebelah kamar kami?" tanya ramah tunangan Rifai sambil melepas pelukannya dan mendekati Riani.
"Hello, iya benar" jawab Riani dengan senyum ramahnya.
"Perkenalkan nama saya Viola, tunangannya" kata Viola memperkenalkan diri sambil melirik ke arah Rifai.
"Saya Riani, senang berkenalan dengan anda" jawab Riani sambil membalas jabatan tangan dari Viola.
"Senang mengenal anda juga" jawab Viola.
"Kalau begitu saya pamit masuk ke kamar dulu" ucap Riani sambil melirik ke arah Rifai.
"Silahkan dan maaf jika selama kami tinggal di sebelah anda membuat anda tidak nyaman..." Kata Viola.
"Oh tentu saja tidak ada hal seperti itu, saya nyaman-nyaman saja kok..."
"Syukurlah..."
"Maaf... Saya pamit masuk dulu, Bye" pamit Riani dengan ramah.
"Bye" jawab Viola dan Rifai bersamaan.
Riani pun segera masuk ke dalam kamarnya dan menutup kembali pintunya.
Kemudian dia melempar tubuhnya di atas kasur, masih terdengar suara canda manja Viola yang masih berada di luar.
Mendengar canda manja Viola tersebut entah kenapa hatinya terasa ada yang sakit hingga membuatnya merasa heran dengan rasa yang tak asing itu, tapi dia lupa kapankah itu...
__ADS_1
...☆☆☆...