KESETIAAN YG TAK TERBATAS

KESETIAAN YG TAK TERBATAS
RANTAI CERITA


__ADS_3

Pagi harinya saat Riani terbangun, tampak kesibukan Ibunya dan Bi ijah untuk mempersiapkan sarapan, sedangkan Mang Muh sibuk mengepak sesuatu di ruang tengah.


Sedangkan Maulana sudah bangun dan bersiap untuk mandi.


"Pagi Kak Riani..." Sapa Mulana.


"Pagi Dek...Nanti kita sholat Shubuh bareng ya Dek"


"Baik Kak..." Jawab Maulana, kemudian berjalan masuk ke kamar mandi.


Setelah melihat adiknya sudah ke kamar mandi, Riani segera keluar menuju dapur untuk mengambil air minum hangat.


"Pagi Bu, Bi Ijah..." Sapa Riani sesampainya di dapur.


"Pagi Non Riani..."


"Pagi Nak, Ini minumlah..." Kata Bu Widya sambil menyerahkan segelas air putih hangat yang sudah di siapkan untuk Riani.


"Terima kasih Bu..."


Setelah meminum habis satu gelas air hangat, Riani menuangkan lagi air hangat di gelas yang lain, kemudian segera membawa ke kamarnya.


Sesampainya di kamar, Maulana baru saja selesai mandi.


"Udah ambil wudhu kamu Dek?"


"Belum Kak..."


"Kalau begitu ini minum air hangat dulu dan tunggu Kakak sebentar, kita Sholat Shubuh bersama" Kata Riani sambil menyerahkan gelas yang tadi ia bawa pada Maulana.


"Baik Kak, terima kasih..."


Maulana segera meminum habis air hangatnya, kemudian meletakkan gelas kosong di atas meja kecil dekat dia duduk.


Seusai Riani mengambil wudhu dia segera menggunakan mukenah, karena saat melirik ke arah jam dinding sudah menunjukkan jam 5 lebih 10 menit, sedangkan Maulana segera kembali ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.


"Ayo Dek!" ajak Riani sembari berjalan keluar menuju ruangan yang biasa untuk sholat berjama'ah dengan Mang Muh kemarin, setelah Maulana selesai berwudhu dan mengenakan sarungnya.


.............


Setelah selesai Sholat Shubuh dan sarapan pagi, Riani di ajak Nando untuk berolahraga santai di sekitar apartemennya dengan di temani Iky, ketiganya berjalan santai di sekitar taman dekat apartemen.


Riani berulang kali menghirup Udara pagi yang masih bersih dan segar, kemudian mengembuskan kembali pelan-pelan.


Udara yang masuk mengalir ke paru-paru seolah menyegarkan seluruh tubuh dan otaknya.


Satu jam berolahraga membuat keringat membasahi seluruh tubuh dan wajah Riani.


Untuk melepas lelah, Riani duduk di salah satu bangku taman dan mengelap keringatnya dengan handuk kecil yang dia bawa sambil mengelus-elus lembut perutnya yang sudah terlihat jelas membesar


"Minum dulu Mba..." Kata Iky sambil menyodorkan botol air mineral padanya.


Riani sedikit terkejut, karena dia tidak tahu sejak kapan Iky sudah ada di sampingnya.


"Terima kasih Ky, Nando di mana?"


"Nando pergi sebentar, katanya ingin membeli sesuatu"


"Oo...Kalau begitu kita tunggu dia di sini saja"


"Baik Mba..."

__ADS_1


Riani membuka tutup botol air mineral yang sedari tadi dia pegang, kemudian meneguknya berkali-kali hingga habis.


Kesegaran segera mengalir di tenggorokan hingga perutnya.


"Mau nambah lagi air minumnya Mba?" tanya Iky sambil menyodorkan lagi botol air mineral yang dia ambil di tas punggungnya.


"Tidak, terima kasih...Kembung perutku nanti" Jawab Riani bercanda, berusaha mencairkan suasana.


Iky hanya tertawa kecil sambil memasukkan kembali botol air mineral ke dalam tas punggungnya.


"Kamu duduklah di sini, jangan berdiri terus di situ" ajak Riani.


"Tidak apa-apa Mba, saya sudah terbiasa seperti ini" jawab Iky segan dan tidak bergeming dari tempatnya dia berdiri.


"Kamu boleh terbiasa seperti itu jika kamu menjadi bodyguard nya Nando ataupun Om Rolland, tapi tidak jika bersama denganku, aku tidak ingin ada jarak sosial diantara kita, karena bagiku kita semua sama , meskipun kata kamu adalah pengawalku, tapi...Sebenarnya aku tidak membutuhkan pengawalan seperti ini, yang lebih aku butuhkan adalah perlindungan dari seorang teman, maka tidak perlu sungkan seperti itu, patuhlah dan duduk di sini!" kata Riani tegas dan menatap hangat ke arah Iky sambil menepuk-nepuk bangku kosong di sampingnya.


"Baiklah, kalau memang Mba Riani tidak keberatan" jawab Iky dan berjalan menuju bangku kosong di samping Riani.


"Tentu saja aku tidak keberatan, dan satu lagi, jangan bicara formal dan bersikap kaku jika sedang bersama denganku, dan masalah ini biar aku yang menjelaskan pada Nando dan Om Rolland jika ini semua karena permintaanku" kata Riani panjang lebar, kemudian menepuk lembut pundak Iky.


"Baik Mba dan terima kasih..." Jawab Iky tersenyum, dalam hatinya merasa kagum dam nyaman saat melihat dan berbicara dengan Riani, karena ternyata dia sangat mengerti dengan jelas posisinya sebagai bodyguard yang merupakan profesinya sekaligus mengerti posisinya sebagai manusia yang ingin di manusiawikan.


"Sudah berapa lama kamu ikut dengan Om Rolland hingga menjadi orang kepercayaannya?"


"Aku sudah mengikuti beliau sejak aku berumur 15 tahun, aku bertemu beliau di saat-saat masa kritis dan sulitku..." Jawab Iky dengan tatapan menerawang jauh, seolah ingatannya di ajak menjelajah kembali di masa lalunya.


"Maksud kamu? jujur aku kurang mengerti" tanya Riani.


"Saat beliau menemukanku, aku dalam keadaan terpuruk dalam ketergantungan obat-obatan terlarang dan minum-minuman keras, jika beliau tidak menemukanku waktu itu...Mungkin aku sudah tidak dapat terselamatkan lagi..."


"Lalu...Bagaimana kamu bisa bertemu dengannya?"


"Waktu itu aku hampir memperkosa seorang gadis yang tak lain adalah pacarku, dia yang ketakutan melihat sisi lainku karena pengaruh obat-obatan tersebut, berteriak minta tolong hingga Papah Rolland mendengarnya dan menolong pacarku dari iblis sepertiku"


"Masih teringat hingga sekarang saat pertama kali bertemu dengan beliau, bukannya dia memukulku ataupun melaporkanku pada polisi, justru beliau meminta keluarga dari pacarku untuk menyelesaikan secara damai mengenai kejadian aku yang ingin memperkosa anak mereka, karena itu sudah termasuk perbuatan kriminal dan beliau rela sebagai penjaminku"


"Lalu...Bagaimana dengan keluargamu sendiri?"


"Keluargaku sudah tahu dengan ketergantunganku pada Narkoba, dan mereka sudah pasrah dengan keadaanku waktu itu, akan tetapi mengenai kejadian itu, papah Rolland justru memintaku jangan memeberitahu orang tuaku dan jangan melibatkan mereka yang nantinya akan menambah beban mereka..."


"Beliau benar-benar sosok yang sangat baik ya, bahkan padaku yang bukan siapa-siapa saja mau menolongku hingga sampai seperti ini, dan membuatku tidak bisa menolak bantuannya"


"Benar sekali Mba, dan yang membuatku sangat mengaguminya adalah...Beliau sebagai figur seorang ayah dengan telaten dan sabar bahkan selalu mendampingiku setiap kali aku menjalani proses terapiku untuk lepas dari Narkoba dan menggemblengku hingga menjadi pribadi yang sekarang ini..."


"Beliau memang sosok ayah yang pantas di kagumi..."


"Betul sekali, aku bangga sekali sekaligus sangat beruntung bisa menjadi bagian dari keluarganya, dan rela melakukan apapun untuk membahagiakan beliau"


"Ya...Kamu memang sangat beruntung bisa mempunyai seorang ayah dengan kasih sayang seperti ayah kandung..."


Pembicaraan keduanya terhenti saat melihat dari jauh Nando sudah kembali dan melambaikan tangan ke arah mereka, satu tangannya yang lain menenteng satu plastik.


"Dari jauh aku lihat kalian sudah saling akrab dan serius mengobrol" kata Nando sesampainya di depan mereka, kemudian menyerahkan plastik yang dia bawa kepada Iky.


"Aku belikan jus jambu kesukaanmu Bang, dan jus Delima kesukaan Mba Riani" kata Nando lagi.


"Terima kasih Bro, tapi ngomong-ngomong ini jus apa?" tanya Iky sambil menunjukkan satu gelas berisikan jus berwarna kuning.


"Masa kamu gak tahu sih Bang kesukaan adikmu ini?"


"Memangnya kamu suka apa Nando, Abang sudah lupa?" jawab Iky berpura-pura.

__ADS_1


"Jangan bercanda lah kau Bang, sini kasih aku jusnya!" jawab Nando balas bercanda.


"Oo aku ingat sekarang, ini aku kasih jus lembek pisang kesukaanmu" canda Iky, sambil memberikan gelas berisikan jus pisang pada Nando dan jus Delima pada Riani.


"Terima kasih Abangku yang ganteng!" jawab Nando bercanda.


"Terima kasih Nando, Iky..."


"Sama-sama Mba..." Jawab keduanya kompak, membuat Riani tersenyum dengan kekocakan dan harmonisnya hubungan kakak beradik tak sedarah itu.


"Keakraban kalian membuatku iri, meski kalian bukan kakak beradik kandung, tapi aku yang melihat dan merasakannya, kalian seperti kakak beradik sedarah"


"Itu karena kami di asuh oleh seorang ayah yang hebat dan penuh kasih sayang" jawab Nando sambil menatap ke arah Iky yang mengangguk setuju dengan perkataan Nando.


Suara dering panggilan masuk di handphone Iky seketika menghentikan perbincangan mereka bertiga.


"Saya angkat telepon dulu" kata Iky sambil berjalan menjauh dari Nando dan Riani setelah keduanya mengangguk.


"Kelihatannya kamu sangat menghormati dan menyayangi Abangmu itu Nando?" tanya Riani saat melihat Nando menatap lekat kepergian Iky.


"Tentu saja aku sangat menghormati dan menyayanginya, kalau bukan karena dia mungkin aku sudah tidak bisa hidup hingga sekarang ini..."


"Maksud kamu?" tanya Riani tanda tak mengerti dengan perkataan dari Nando.


"Dulu Bang Iky pernah menyelamatkan nyawaku dengan mempertaruhkan nyawanya, ya...Aku telah berhutang nyawa padanya..."


"Kamu berhutang nyawa pada Iky?" tanya Riani terkejut, karena baru saja Iky menceritakan kalau dirinya berhutang budi pada On Rolland karena telah menyelamatkannya dari Narkoba dan tindakan kriminal yang pernah ia lakukan dulu, dan sekarang Nando juga bercerita kalau dirinya berhutang nyawa pada Iky.


"Iya Mba, dan kejadian waktu itu tidak akan pernah aku lupakan hingga sekarang dan akhir hidupku nanti..." Jawab Nando sembari matanya kembali menatap lekat ke arah Iky yang sedang bicara serius di telepon.


"Kalian berdua mempunyai rantai cerita yang berbeda dan unik, namun di satukan dengan takdir oleh sebuah hutang nyawa dan balas budi di masa lalu, membuat ikatan kalian tak tertandingi, meski dengan ikatan sedarah sekalipun..."


"Maksud perkataan Mba Riani apa? jujur aku tidak mengerti?" jawab Nando mengalihkan perhatiannya ke arah Riani.


"Meskipun kalian bukan saudara kandung tapi ikatan batin kalian melebihi ikatan sedarah, dan itu di karenakan kejadian di masa lalu yang kalian alami..."


Nando hanya tertunduk menyelami kata-kata dari Riani.


Di sisi lain Iky yang sudah selesai dari teleponnya dan segera berjalan kembali ke arah mereka.


"Hai Bro, kamu kenapa?! kok aku balik ke sini raut wajahmu berubah kusut kayak benang saja?!" tanya Iky sambil menepuk keras pundak Nando yang spontan membuatnya terkejut.


"Astaga Bang! kalau datang pakai suara dong, klakson dulu kek!" jawab Nando pura-pura marah.


"Emang aku Abang-abang yang suka kasih klakson "Bang telolet bang teloleeet!" jawab Iky bergurau, yang membuat Nando tidak bisa menahan tawanya.


Keduanya berlanjut dalam candaan mereka hingga tanpa sadar tidak menghiraukan Riani yang masih duduk di samping mereka berdua dan tersenyum melihat keduanya asyik mengobrol dan bercanda.


Dalam benak Riani kagum dengan keakraban keduanya yang tercipta karena rantai cerita di masa lalu yang akhirnya menghubungkan takdir keduanya...


"Mba Riani..."


Suara yang tak asing di telinga Riani membuatnya mengalihkan pandangannya ke arah suara tersebut dan...


"Kamu!"


...---to be continued---...


Siapakah orang yang memanggil Riani, dan kenapa Riani sangat terkejut saat melihatnya?


Jawabannya di episode selanjutnya, jadi tetap ikuti ceritanya ya dan terima kasih banyak atas seluruh dukungan kalian semua😘😘😘

__ADS_1


...☆☆☆...


__ADS_2