
Baru saja Riani keluar dari taman meninggalkan Viola dan Rifai yang masih terlihat membahas sesuatu, tiba-tiba terdengar suara pria memanggil namanya.
"Teddy?" tanya Riani dengan kening yang berkerut.
"Ah iya! aku telah melupakan seseorang, dia Teddy...Dia sang mantan pacarku, yang selalu ada dan setia menemaniku saat ini, saat aku membutuhkan sandaran meski sekedar untuk berkeluh kesah padanya..." Batin Riani, kemudian dia tersenyum pada Teddy yang berjalan ke arahnya, kemudian mereka berjalan bersama menyusuri pinggiran pantai.
"Kamu dari mana? aku lihat barusan kamu baru keluar dari taman yang setahuku sedang ada penggarapan untuk pernikahan lusa nanti..."
"Kok kamu tahu Ted?" tanya Riani heran.
"Karena rekan bisnisku mengundangku sebagai pengiring pengantin prianya" jawab Teddy yang membuat Riani seketika terkejut mendengar perkataan dari Teddy, karena Riani merasa sepertinya mereka berdua di undang ke acara pernikahan orang yang sama.
"Apa orang yang mengundangmu bernama Rifai, maksud aku Ethan?" tanya Riani menyelidik.
"Iya betul, dia rekan bisnisku bersama Wak Made untuk projek di Jakarta nanti..." Jelas Teddy.
"Aku lihat sekarang kamu tertarik di dunia bisnis, lalu bagaimana dengan pekerjaanmu di kantor?"
"Sebenarnya dari dulu aku sudah tertarik di dunia bisnis, kamu ingat sewaktu kita masih pacaran saat kuliah? aku pernah mengajakmu ke distro yang baru aku rilis waktu itu?" tanya Teddy mencoba mengingatkan Riani di masa-masa pacaran mereka dulu saat kuliah.
"Iya aku ingat itu, lalu apa kabarnya bisnis distro mu Ted?" jawab Riani yang masih mengingat kenangan itu.
"Alkhamdulillah...Sekarang sudah ada tujuh cabang distro di berbagai kota"
"Wah...Hebat kamu, kamu memang punya jiwa bisnis, salut aku" kata Riani sambil mengacungkan ibu jarinya ke arah Teddy.
"Terima kasih..." Jawab Teddy dengan senyum getirnya.
"Mungkin bagimu aku hebat dalam bisnis, tapi...Aku lemah dan kalah untuk mendapatkan hatimu..." Bisik hati Teddy.
"Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu? apa kamu tidak kewalahan?" tanya Riani lagi yang segera menyadarkan Teddy dari lamunannya.
"Aku akan tetap bekerja selama aku masih bisa mengatur waktu dan semuanya, biar bagaimanapun sayang kan kalau titel sarjanaku tidak terpakai..."
"Iya deh percaya...Siapa sih yang tidak kenal Teddy si kumbang kampus?" ledek Riani.
"Tapi kumbang kampus ini akhirnya hinggap di bunga yang harumnya menarik hati sang kumbang kan?" balas Teddy.
__ADS_1
"Iya, tapi...Tapi akhirnya sang kumbang meninggalkannya tanpa alasan, hingga sang bunga mencoba mencari kumbang lain untuk memekarkan kelopaknya, meski akhirnya sang bunga di tinggalkan lagi oleh kumbang pasangannya karena tertarik dengam bunga lain dan menghisap madunya..." Jawab Riani dengan ekspresi wajahnya yang tadi ceria berubah dengan awan mendung yang menutupi wajahnya.
"Maafkan aku Ai, jika waktu itu aku meninggalkanmu tanpa alasan..." Kata Teddy dengan suara bergetar dan tatapan sedihnya, dia pun menghentikan langkahnya dan menarik tangan Riani yang membuatnya menghentikan langkahnya.
"Jujur Ted, hingga hari ini aku masih penasaran dan ingin sekali mendengar jawaban langsung darimu, sebenarnya alasan apa hingga kamu tega meninggalkanku waktu itu?" tanya Riani akhirnya.
"Waktu itu aku di jodohkan oleh kedua orang tuaku dengan perempuan yang tidak aku cintai, tapi...Karena hatiku tidak bisa menerima perempuan lain dan tidak ingin menyeretmu ke dalam masalah keluargaku, akhirnya aku kabur dan bersembunyi ke Aceh, bekerja sambil melanjutkan kuliahku di sana" jawab Teddy menceritakan alasannya.
Mendengar cerita Teddy, seketika hati Riani bagaikan jatuh dari ketinggian yang tak terukur, sakit di hati seolah meregangpun tak mampu.
"Lalu kenapa tidak kamu ceritakan yang sebenarnya padaku Ted?! jika saat itu kamu jujur padaku, maka aku tidak akan mungkin menerima laki-laki lain untuk menggantikanmu dan akan lebih memilih tetap sendiri dan menjalani hidup apapun yang terjadi!" Ucap Riani yang akhirnya menangis dalam pelukan Teddy.
.............
Setelah beberapa menit kemudian, tangis Riani pun reda, dengan di bimbing Teddy, mereka berdua memilih duduk di bangku pinggiran pantai.
"Maafkan aku Ai, tapi aku lakukan semua itu demi kebaikanmu dan caraku melindungimu..." Kata Teddy menjelaskan keputusan dan pulihannya waktu itu.
"Katamu semua itu demi kebaikanku? tapi kamu coba lihat aku sekarang Ted, Aku...Mungkin terlihat memprihatinkan di matamu bukan?"
"Lalu apa maksud dari perkataanmu untuk melindungiku?"
"Keluarga dari wanita yang aku jodohkan adalah dari kalangan yang sangat berpengaruh di kotaku, aku takut jika aku menolak perjodohan dan tetap bersamamu maka akan menyeretmu dalam masalah..."
"Aku tidak merasa takut dengan resiko dari keputusanmu itu Ted"
"Mungkin kamu tidak takut, tapi aku takut Ai jika membahayakanmu..."
"Sebenarnya seberapa berpengaruhnya keluarga dari wanita yang akan di jodohkan denganmu ituTed?"
"Kedua orang tua dan saudara-saudaranya menguasai dunia politik dan bisnis, terdengar rumor kalau sepak terjang mereka sangat tajam, hingga cakar-cakarnya menancap kokoh di dunia bisnis dan politik, membuat para saingannya tunduk tanpa ampun, salah satunya keluarga ku yang menyerahkan tanpa syarat usaha bisnis mereka karena terlilit utang, hingga tercetus ide dari kedua belah pihak orang tua untuk menjodohkan anak-anaknya agar usaha bisnis keluargaku yang di rintis dari nol tidak jatuh di tangan mereka, tapi aku lebih memilih melawan perjodohan itu!"
"Lalu bagaimana dengan keadaan keluargamu semenjak kepergianmu hingga sekarang?"
"Alkhamdulillah...Aku sudah bisa mengembalikan hutang orang tuaku, meskipun harus aku tebus hingga bertahun-tahun lamanya, tapi yang paling penting adalah bahwa aku bisa menunjukkan dan membuktikan pada kedua orang tuaku, bahwa untuk bisa mempertahankan bisnis keluarga tidak harus menjual perasaan anaknya sebagai pelunas utang..."
Mendengar cerita Teddy, Riani sangat salut dengan sikap dan kerja kerasnya untuk menyelesaikan masalah di keluarganya, namun ia juga merasa sedih karena ia bisa merasakan, pasti berat beban hidup dan perjuangannya saat itu.
__ADS_1
"Maafkan aku Ai, jika dalam hal ini aku mengorbankanmu..." Kata Teddy dengan tatapan sendunya ke arah Riani.
"Justru sekarang setelah aku mendengar ceritamu, aku setuju dengan keputusanmu waktu itu, karena aku pasti akan menjadi beban untukmu jika aku tetap bersamamu"
"Tapi bagiku itu keputusan yang salah, karena keputusan sesaatku membuat aku kehilanganmu dan menderita sekarang..."
"Aku harus menjalani resiko dari keputusanku sendiri, jadi...Kamu tidak perlu merasa bersalah seperti itu"
"Tapi tetap saja hingga kini aku sangat menyesal kenapa dulu aku melepasmu"
"Itu semua karena keadaan yang memaksamu, tidak ada penyesalan yang datang dari awal, pasti belakangan Ted, kita ambil hikmahnya saja sekarang?"
"Ai, emmm...Maaf, jika nanti kamu tidak bisa bertahan dengan Radja, bisakah aku kembali di sisimu lagi?" tanya Teddy penuh hati-hati.
"Ted bukankah aku sudah bilang, keputusanku dulu untuk mencari penggantimu adalah wujud dari keputus asaanku dengan hubungan kita, jadi...Aku harus menerima resikonya, dan jika aku harus kembali lagi di sisimu sebagai seorang yang hubungannya lebih dari sekedar teman, aku tidak bisa Ted" tolak Riani halus.
"Kenapa Ai...? Kenapa kita tidak bisa bersama lagi dan apakah aku sudah tidak pantas di sisimu lagi?" desak Teddy.
"Ini bukan masalah pantas tidak pantasnya kamu di sisiku, justru aku merasa akulah yang seharusnya tidak pantas jika berada di sisimu..."
"Tapi bagiku, hanya kamu yang paling pantas berada di sisiku Ai"
"Mungkin kamu bisa bilang seperti itu, tapi orang-orang di sekitar kita pasti akan menilai kita sebaliknya"
"Aku tidak perduli pada penilaian orang lain Ai, please Ai...Kita mulai dari awal lagi ya?"
"Maaf, aku tidak bisa Ted...karena aku ini ibarat buku yang sudah tertulis cerita hidup dan lukaku yang tidak mungkin bisa kembali menjadi kertas kosong putih seperti sedia kala"
"Jika memang begitu, maka aku akan berusaha menghapus semua cerita lukamu hingga kertas itu bisa di tulis kembali dengan cerita-cerita yang penuh dengan kebahagiaan kita berdua..."
"Tetap saja masih ada bekas goresan dari cerita masa laluku, sudahlah Ted, aku mohon...Kamu jangan memaksaku dan memaksakan dirimu..." Pinta Riani dengan mata sendunya.
Melihat wajah mantan kekasihnya yang begitu kesakitan dengan luka di hatinya, membuat hati Teddy tidak tega mendesak dan memaksa Riani lagi.
"Biarlah aku pelan-pelan mencoba menghapus lembar demi lembar cerita luka di hatinya, meski masih tertinggal goresannya akan aku timpa dan ku isi goresan itu dengan cerita kebahagiannmu meski itu tidak denganku asalkan aku bisa selalu di sampingmu meski bukan sebagai pasanganmu, Biarlah lembar cerita hidup kita tertulis mengalir sesuai keinginanTuhan, Sang Pemilik Cerita sebenarnya..." Bisik dan janji Teddy dalam hatinya.
...☆☆☆...
__ADS_1