KESETIAAN YG TAK TERBATAS

KESETIAAN YG TAK TERBATAS
TIDAK SANGGUP LAGI


__ADS_3

Tepukan lembut di pundak membuat Riani terbangun dari tidurnya.


Terlihat olehnya wajah Teddy yang tersenyum dengan pandangan matanya yang penuh kasih.


"Kita sudah sampai Ai, ayo kita turun..." Kata Teddy.


"Sudah sampaikah?"


Teddy mengangguk.


"Baiklah, kalau begitu kita turun sekarang"


"Ayo..."


Setelah mereka berdua menuruni pesawat dan mengambil koper mereka masing-masing, segera Teddy dan Riani menuju ke lobi bandara di mana om Rolland dan Nando terlihat sudah menunggu mereka.


"Om Rolland, Nando, aku titip Riani antar dia sampai rumahnya..."


"Iya Teddy, kami pasti antar dia sampai tujuan dengan selamat, kamu segeralah ke rumah sakit dan jengkuk mamah kamu, untuk mengetahui bagaimana perkembangan keadaannya"


"Iya bang Teddy, kami berdua akan menjaga mba Riani dengan baik, jadi abang tidak perlu khawatir"


"Baiklah kalau begitu aku bisa tenang dan bisa berangkat ke rumah sakit sekarang"


"Iya Ted, kamu pergilah"


"Baiklah om, kalau begitu saya pamit duluan, kamu yang hati-hati ya Ai"


"Iya Ted, kamu cepat pergilah jenguk mamah kamu dan titip salam untuk beliau, semoga lekas sembuh"


"Iya Ai, pasti akan aku sampaikan"


"Nanti aku coba secepatnya berkemas setelah sampai di rumah, agar bisa menjenguk beliau"


"Mamahku pasti akan sangat senang jika mendengar kamu akan menjenguknya, kamu kan tahu kalau sebenarnya mamahku sangat menyayangimu..."


"Iya aku tahu itu kok Ted, kamu sebaiknya cepatlah berangkat gih, jangan di tunda-tunda lagi..."


"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu, bye!" kata Teddy melambaikan tangan perpisahan.


"Bye!" jawab ketiganya dan membalas lambaian Teddy.


Teddy segera masuk ke dalam taxi yang sudah berhenti di depannya.


Riani menatap taxi yang di tumpangi Teddy hingga tidak terlihat lagi.


Mobil mewah dengan warna hitam berhenti tepat di depan om Rolland.


"Ayo nak Riani, kami antar kamu dulu sampai di rumahmu" kata om Rolland.


"Mba Riani naiklah dulu" kata Nando mempersilahkan Riani masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah di buka oleh sang supir.


"Baik om, Nando, terima kasih..."


Riani segera masuk ke dalam mobil, kemudian di susul dengan om Rolland dan Nando.


"Maaf Pak, kita kemana dulu ya?" tanya sang supir dengan sopan.


"Kita antar terlebih dahulu nak Riani Mang Asep, alamat kamu di mana nak Riani?"


"Jalan Setia budi nomor 12 A, terima kasih Om..."


"Jalan ke alamat yang mba Riani sebutkan tadi, Mang Asep tahu kan jalannya?" kata Nando.


"Tahu Den Nando, kalau begitu kita jalan sekarang ya Pak?"

__ADS_1


"Iya Mang Asep, tidak perlu buru-buru nyupirnya Mang"


"Baik Pak..."


Mobil yang mereka tumpangi pun melaju meninggalkan bandara Internasional Soekarno-Hatta yang masih tetap ramai dengan kesibukan di dalamnya meskipun hari menjelang malam.


Riani berencana memberi kejutan sekaligus ingin menjenguk Radja, karena sudah beberapa hari ini ponsel Radja tidak aktif dan Riani tidak bisa menghubungi suaminya itu, karena khawatir takut terjadi apa-apa dengannya dia pun kembali pulang ke rumah mereka.


Saat mobil mereka melewati jalan perumahan yang berjarak cuma beberapa blok dari rumah Riani tanpa di sengaja dia melihat sosok tidak asing baginya sedang bercengkrama dengan seorang wanita dan anak laki-laki berumur kurang lebih empat tahunan yang bergelanyut manja di gendongan pria tersebut.


Dan karena jalan mobil yang agak pelan saat memasuki jalan raya kecil, maka semakin jelaslah wajah pria yang sudah dia nikahi hampir satu tahun itu.


Terlihat olehnya wajah Radja yang tertawa bahagia saat anak dalam gendongannya merajuk manja dengan wajah imutnya, sedangkan perempuan yang bergelanyut manja di lengan tangan Radja ikut tertawa bahagia, sungguh pemandangan keluarga yang bahagia dan harmonis, tapi tidak untuk dirinya.


Hingga mobil melewati mereka bertiga, Riani masih melihat pemandangan itu, terlihat Radja berpamitan pada perempuan di sampingnya sambil mengecup mesra kening wanita tersebut dan memberikan sang anak yang ada dalam gendongan Radja padanya, setelah itu dia juga mencium penuh kasih sayang anak tersebut.


Setelahnya Radja segera masuk ke dalam taxi yang sudah terparkir menunggunya.


Melihat pemandangan keluarga yang lengkap dan penuh kemesraan itu hati Riani sangat terluka, meski dia belum tahu hubungan Radja dengan wanita dan anak kecil tersebut, namun firasatnya mengatakan kalau kemesraan dan keharmonisan Radja dengan wanita tersebut bukanlah semu, apalagi sudah beberapa hari ini ponsel Radja tidak aktif, apakah ini alasannya? namun perasaannya menolak untuk menerima kenyataan bahwa suaminya telah mempunyai wanita lain, terlebih ada anak yang meskipun Riani belum tahu pasti dia anak Radja atau bukan.


Hampir saja Riani tidak bisa menahan perasaan sakit di hatinya dan menangis, namun dia tahan sebisa mungkin, dan dia harus menemukan jawabannya sekarang, sebenarnya siapa dan apa hubungannya wanita dan anaknya tersebut dengan Radja, suaminya.


Ternyata gelagat Riani tersebut tidak luput dari pandangan om Rolland dan Nando yang saling berpandangan penuh tanya, sedangkan Nando hanya mengangkat pundaknya sebagai jawaban dari pandangan penuh pertanyaan dari papahnya tersebut.


"Ada apa Nak?" tanya om Rolland akhirnya.


"Tidak apa-apa om, tapi...Bisakah saya turun di sini saja?" tanya Riani tidak enak hati.


"Tapi rumahmu dari sini masih jauh kan?"


"Tidak terlalu jauh kok om..."


"Tapi hari sudah malam mba, biarlah kami antar mba sampai di rumah, atau kalau mba ingin mampir kemana dulu kami antar..."


"Betul itu nak Riani, apalagi kami sudah berjanji sama Teddy, untuk menjaga dan mengantarmu sampai di rumah dengan selamat"


"Tidak apa-apa, mbak mau mampir kemana dulu, biar kami antar?" tanya Nando.


"Iya nak Riani, kami tidak keberatan kok..."


"Terima kasih banyak, kalau begitu...Bisakah kita belok arah sekarang?"


"Tentu saja boleh mba, Mang Asep tolong belok arah sekarang"


"Baik Den Nando..."


Mang Asep segera mencari tempat yang bisa untuk memarkir mobilny dan berbelok arah sesuai intruksi Tuan Mudanya itu.


Dengan gesit Mang Asep membelokkan mobilnya setelah memarkir mundur mobilnya sebentar setelah mendapatkan tempat untuk berbelok arah.


setelah Riani melihat dari kejauhan wanita bersama anaknya itu masuk ke dalam sebuah rumah, dengan segera Riani meminta mang Asep untuk menghentikan mobilnya tidak jauh dari rumah tersebut.


Riani beranjak dari duduknya untuk turun dari mobil.


"Apa perlu om atau Nando temani nak Riani?"


"Tidak perlu om, terima kasih banyak..." Tolak Riani segan.


"Ya sudah, kamu hati-hati dan kami akan menunggumu di sini hingga urusan kamu selesai"


"Baik om, kalau begitu saya pamit pergi dulu"


"Iya nak Riani, pergilah..."


Dengan langkahnya yang mantap Riani berjalan menuju rumah wanita tersebut.

__ADS_1


.............


Sesampainya di gerbang depan Riani menghentikan langkahnya sejenak, menarik nafas panjang dan menata hatinya.


Setelah menghela nafas dia membuka gerbang rumah tersebut, sesampainya di depan pintu rumah di ketuknya tiga kali pintu tersebut.


Selang beberapa menit kemudian, terbukalah pintu dari dalam.


"Maaf, cari siapa ya?" tanya wanita yang berdiri di depan depannya itu.


Riani mengamati wajah dan penampilan wanita yang membuat suaminya tersenyum dan tertawa seperti tadi, paras yang cantik denga garis wajahnya yang eksotis dan usia yang lebih muda di banding dengan dirinya, pantas saja Radja terpikat denga wanita di hadapannya ini.


Mengingat kejadian itu Riani terseyum pahit.


"Mba? sekali lagi maaf...Mba mencari siapa ya? tanya wanita itu lagi, dengan ekspresi wajah herannya.


"Oh! Ma...Maaf, apakah benar ini rumahnya mas Radja?" tanya Riani agak tergagap.


"Benar ini rumahnya mas Radja, tapi dia baru saja pergi kerja shif malam, ayo mba silahlan masuk dulu"


"Oh! iya terima kasih..."


Riani segera masuk dan duduk di sofa setelah di persilahkan oleh pemilik rumah.


"Ada apa ya mba mencari suami saya? dan maaf, mba siapa ya?"


"Perkenalkan, saya Shepia teman kuliahnya dulu, saya dapat alamat ini darinya, maaf, mba istrinya Radja kah?" jawab Riani sengaja berbohong dan menyembunyikan identitas aslinya, karena agar dia bisa tahu kebenarannya, meskipun mungkin nanti akhirnya kenyataan pahitlah yang akan dia terima.


"Iya saya Lorenza, istrinya"


Bagaikan di sambar petir yang membuat jantung Riani seolah sejenak berhenti mendengar pernyataan wanita yang bernama Lorenza tersebut.


Meskipun dari awal Riani sudah ada firasat dan dugaan akan hal tersebut, akan tetapi ternyata hatinya tetap saja belum siap menerima kenyataan itu.


"Dan anak yang di dalam foto itu pasti anaknya Radja kan?" tanya Riani sambil menunjuk salah satu foto seorang anak laki-laki yang tadi dia lihat di gendong Radja, sebisa mungkin Riani mencoba menahan perasaan dan tangisnya.


"Iya betul, itu anak kami"


kembali Riani terhenyak kaget, karena ternyata suaminya mempunyai wanita lain dan seorang anak, sebelum menikahi dirinya.


"Tolong sampaikan pesan saya untuk segera menghubungi nomor ini" kata Riani sambil memberikan nomor ponselnya yang langsung di simpan dalam daftar kontak oleh Lorenza.


Riani sengaja memberikan nomor teleponnya pada Lorenza agar saat dia memberitahu dan memberi nomor darinya pada Radja, maka Radja akan tahu kalau dirinya sudah mengetahui mengenai istri dan anak yang sengaja dia sembunyikan dari dirinya.


"Kalau begitu saya pamit pulang dulu, sampaikan salam saya untuk Radja"


"Iya, pasti akan saya sampaikan salam mba Sephia"


"Assalamualikum..."


"Wa'alaikum salam..."


Hampir saja Riani terjatuh saat dia akan bangun dari tempat duduknya, tubuhnya terasa lemas dan seolah dia kehilangan dayanya.


Namun dengan sigap Riani menahan tubuhnya, biar bagaimanapun dia ingin pergi dari rumah itu dengan tegak melangkah meski dengan kekalahan.


Setelah Riani sudah keluar dari rumah itu, dia berjalan menjauh dengan badan lemas terhuyung.


Hujan yang tiba-tiba turun seolah mencoba memadamkan panas karena reaksi kepedihan di hatinya.


Lengkap sudah penderitaannya, itu yang saat ini Riani pikirkan, dia merasa Tuhan tidak adil padanya, namun apa daya, jika DIA sudah berkehendak seperti itu.


Tangis Riani akhirnya pecah, dia terjatuh berlutut lemas, seolah telah putus semua tali urat pada kakinya dan tidak sanggup lagi untuk menompang beban dan ujian berat dalam hidupnya.


"Ya Tuhan...Tidak cukupkah Engkau memberiku ujian yang bertubi-tubi seperti ini...Hamba sungguh tidak sanggup lagi..."

__ADS_1


Riani mencoba untuk bangun saat melihat Nando dan om Rolland datang ke arahnya dengan membawa payung, namun kepalanya terasa pusing dan pandangannya pun kabur, hingga akhirnya dia tidak sanggup lagi dan terjatuh tak sadarkan diri...


...☆☆☆...


__ADS_2