KESETIAAN YG TAK TERBATAS

KESETIAAN YG TAK TERBATAS
BUKAN SAATNYA...


__ADS_3

"Kamu belum tidur nak?" tanya Widya saat masuk ke dalam kamar dan melihat Riani masih sibuk dengan laptopnya.


"Sebentar lagi Bu, ini Riani sedang merevisi proposal yang akan di ajukan ke PEMDA di Bali" jawab Riani dengan mata yang tetap fokus di depan layar laptopnya.


"Memangnya proposal untuk pengajuan apa?" tanya Widya penasaran, karena setahu dia Riani sudah tidak bekerja lagi.


"Proposal untuk ijin pembangunan proyek mega restoran yang pernah Riani ceritakan itu Bu" jawab Riani, namun kali ini dia mengalihkan pandangannya pada Widya yang sudah duduk di sampingnya.


"Apakah proyeknya sudah mulai berjalan?"


"Sudah Bu, dan saat ini Nando bersama yang lain sedang terjun di lapangan untuk survei lokasi lain di Bali"


"Oo begitu, ya sudah kamu lanjutkan, tapi jangan terlalu larut malam, dan kamu juga tidak boleh terlalu capek, ingat perutmu sudah besar" kata Widya wanti-wanti.


"Iya Bu, ini juga sudah selesai, ngomong-ngomong bagaimana perasaan Ibu saat bertemu dengan sahabat lama?"


"Maksud kamu Ibunya Andy dan Eksi?"


Riani mengangguk sembari menutup laptopnya dan membereskan berkas-berkas yang berserakan di meja dekat ranjangnya itu.


"Keadaan Ibu mereka sangat memprihatinkan, dia menderita sakit kanker payudara"


"Pasti beliau sangat menderita..."


"Pastinya, kata dia setiap rasa sakitnya kambuh, maka dirinya bisa tidak tidur hingga berhari-hari"


"Pasti beliau sangat tersiksa, lalu bagaimana dengan pengobatannya, apakah obat yang di minum tidak berpengaruh?"


"Obat hanya untuk menghambat berkembangnya kanker, tapi tidak menghilangkan rasa sakitnya"


"Kenapa tidak minta sama dokter resep obat yang untuk mengurangi rasa sakitnya?"


"Kata Andy dan Eksi dulu ibunya ada minum obat tersebut, namun semenjak Eksi mengalami kecelakaan dan membutuhkan biaya pengobatan yang besar, Ibunya menolak untuk meminum obat itu lagi, dan lebih memilih uangnya untuk biaya obat jalan Eksi"


"Bahkan tadi ibu berusaha membujuknya agar mau minum obat pengurang rasa sakitnya lagi, namun dia kekeh menolaknya dengan alasan obatnya yang mahal, dan saat Ibu bilang biaya obat tersebut biar ibu yang tanggung, dia tetap kekeh menolak"


"Ya Allah...Lalu apa yang akan ibu lakukan untuk menolong sahabat ibu tersebut?"


"Ibu dengan Andy dan Eksi tadi juga bermusyawarah mengenai biaya obat tersebut ibu yang akan tanggung, dan hal ini ridak boleh di ketahui oleh ibu mereka"


"Lalu bagaimana reaksi Andy dan Eksi?"


Awalnya mereka berdua juga menolak bantuan dari ibu, namun setelah ibu menjelaskan dan memberi pengertian pada mereka, akhirnya Andy dan Eksi pun setuju"


"Kemudian apa Rencana Ibu selanjutnya untuk menolong ibu mereka?"

__ADS_1


"Untuk sementara ini ibu membantu untuk obat jalan Hani (nama ibu Andy dan Eksi) terlebih dahulu, kemudian sembari jalan Ibu akan mencari dokter bedah terbaik untuk operasi pengangkatan kankernya"


"Riani sangat mendukung niat Ibu, tapi bukankah operasi tersebut biayanya mahal bu? lalu apakah Ibu ada uang sebanyak itu?"


"Kebetulan Ibu ada tabungan dan Insya Allah cukuplah untuk biaya operasi Hani, karena kata Andy dengan cara operasi pengangkatan payudaralah kanker ibunya akan terangkat dan tingkat kesembuhannya juga tinggi"


"Kalau begitu Riani juga ingin ikut membantu, boleh kan Bu?"


"Boleh, tapi kamu harus mengutamakan kebutuhanmu menjelang kelahiran dulu baru setelah itu kamu boleh ikut membantu mereka"


"Baiklah, oh iya! untuk rencana acara tujuh bulanan jadinya di mana Bu?"


"Tadi Ibu sudah merundingkannya dengan om Rolland dan karena tidak ingin mengambil resiko yang berbahaya untuk kandunganmu jika acaranya di adakan di kota kita tinggal, akhirnya kami berdua sepakat untuk mengadakan acara tujuh bulanannya di sini, di rumah Iky"


"Lalu apakah hal ini sudah kalian bicarakan juga dengan Iky?"


"Masalah itu kita serahkan pada Om Rolland, karena katanya dia yang akan bicara denga Iky, dan mengurus semua hal yang berhubungan dengan acara tujuh bulanan kehamilanmu, ibarat kata kita hanya tahu beresnya saja"


"Tapi Bu...Bukankah dengan seperti ini akan merepotkan Papah Rolland dan Iky? Riani merasa tidak enak hati dengan mereka"


"Ibu juga tadi sudah menolak bantuan finansial dari om Rolland dalam pelaksanaan acaranya, namun dia kekeh bersikeras dan memaksa ingin sekali ikut andil dalam acaramu dan menanggung semua biayanya"


"Apakah mungkin karena papah Rolland sudah menganggapku seperti putrinya sendiri ya Bu?"


"Mungkin...Itu terlihat dari dia memperlakukanmu kan?"


"Besok Riani akan main ke rumah papah Rolland dan mengucapkan terima kasih padanya"


"Apa sebelumnya kamu pernah ke rumah dia?"


"Belum pernah, makanya besok mumpung hari minggu Riani minta antar mang Muh dan memberi kejutan sama papah Rolland dengan datang ke rumahnya"


"Terserah kamu, tapi Ibu tidak ikut, sampaikan saja salam ibu padanya"


"Oke, siaaap"


"Sekarang segeralah istirahat dan tidur, kasihan calon cucu Ibu ini?" kata Widya sambil membelai perut besar anaknya tersebut.


Kemudian Widya membungkuk dan berbicara dengan ekpresi wajah seorang nenek yang lucu...


"Kamu pasti capek ya nak ya? kasihan cucu ibu ini, Ibumu nakal ya...?" kata Widya sambil tetap mengelus-elus lembut perut Riani.


Melihat tingkah Ibunya Rianipun tertawa geli, bisa di lihat kelak Ibunya itu pasti akan sangat protektif dengan cucunya nanti.


Dan tiba-tiba ada gerakan dari bayi dalam perut Riani yang kemudian memperlihatkan bentuk kaki yang menonjol di balik kulit perut Riani.

__ADS_1


"Eh-eh! Aduh...Suara nenek membangunkanmu ya Nak?! maafkan nenek ya Nak...Kembalilah tidur cucu nenek sayang..." Ucap Widya dengan bahagia sambil mengelus-elus lembut tonjolan kaki bayi tersebut yang kemudian perlahan-lahan menghilang.


Ada sensasi yang aneh di hati Riani saat merasakan itu, ada perasaan terharu, bahagia sekaligus sedih yang menjadi satu, hingga membuat mata Riani berkaca-kaca.


Setelah di rasanya bayi dalam perut Riani sudah kembali tenang Widya segera bangkit dari jongkoknya.


"Hadeehhh...Kalau sudah sepuh ya begini nih, urat pinggang dan encok yang bicara" canda Widya sambil memegang pinggangnya.


Riani tersenyum sambil mengercap-ngercapkan matanya yang sudah terbendung dengan air mata, kemudian dia segera mengusap ujung matanya yang sudah basah, menghindari agar Ibunya tidak melihat kalau dia sedang menahan tangisnya.


"Riani tidur dulu ya Bu"


"Kamu tidurlah dulu, ibu ke dapur sebentar untuk ambil air minum"


"Baik Bu..."


Riani merebahkan tubuhnya, dan mungkin karena pengaruh kecapekan gara-gara tadi otaknya terkuras saat memeriksa data dan merevisi proposal hingga membuatnya harus duduk lama di depan laptop yang akhirnya berefek pada mata Riani yang terasa sangat berat dan mengantuk.


Tidak sampai hitungan menit Riani sudah tidak berdaya melawan kantuknya dan terhanyut dalam dunia mimpinya.


Sedangkan Widya yang sudah kembali sambil membawa obat yang di ambilkan oleh Iky di klinik dokter Risa menghela nafas panjangnya saat melihat wajah pulas anaknya, Widya akhirnya tidak tega untuk membangunkan Riani agar meminum obatnya, karena dalam hatinya yakin jika Riani dan kandungannya akan tetap baik-baik saja meski tidak meminum obat yang berupa beberapa vitamin dan penguat kandungan.


Hati kecilnya merasa miris dengan nasib putri kesayangannya yang kehidupan percintaannya hampir sama dengan yang dia alami, sungguh ironis...


Hatinya trenyuh saat dia melihat ekspresi wajah bahagia Riani saat menyebut Rolland dengan panggilan Papah, ingin rasanya pada saat itu juga Widya memberitahu tentang fakta yang sebenarnya bahwa Rolland adalah ayah kandungnya.


Namun hatinya belum siap menerima jika pada saat Riani mengetahui semuanya dan tidak bisa menerima kenyataan hingga membuatnya membenci Rolland dan dirinya, maka baginya itu sebuah akhir untuk dirinya, apalagi saat ini Riani sedang hamil besar dan akan segera melahirkan, takutnya akan berpengaruh besar jika sekarang dia ungkap semuanya.


Suara pesan masuk di ponselnya berdering lirih dengan bunyi getarnya mengejutkan lamunan Widya.


Dan saat dia melihat siapa yang mengiriminya pesan, raut wajahnya seketika berubah tanpa ekspresi.


Di bukanya pesan dari ayah kandung Riani tersebut.


"Bella...Bagaimana keadaan anak dan calon cucu kita, sedang apa dia sekarang?" tanya Rolland dalam pesannya.


Widya tersenyum masam, kemudian dengan lincah jari jemarinya mengetik pesan untuk membalas Rolland.


"Dia dan kandungannya baik-baik saja, sekarang dia sedang tidur, jadi kamu tidak perlu khawatir...Jangan kirim pesan lagi, aku juga ingin segera istirahat"


"Syukurlah...Hatiku bisa tenang, baiklah kalau begitu kamu istirahat dan segeralah tidur, good night Isabellaku..."


Widya tidak membalas setelah membaca chat terakhir dari Rolland, di letakkan ponselnya di meja kecil dekat tempat tidur.


Kemudian di tatapnya kembali dalam-dalam wajah Riani yang sedang tertidur dengan pulasnya.

__ADS_1


"Maafkan Ibu Nak...Jika sekarang Ibu belum bisa mengungkapkan semua kebenarannya, karena ini bukanlah saatnya yang tepat ya...*B**ukan saatnya*...


...☆☆☆...


__ADS_2