KESETIAAN YG TAK TERBATAS

KESETIAAN YG TAK TERBATAS
KELUARGA SEDERHANA PELIPUR LARA


__ADS_3

Setelah Pekak dan Dadong selesai mengobrol dengan tetangga dan warga bule sekitar, mereka segera melanjutkan perjalanan menuju ke rumah yang jaraknya sudah dekat.


Dan setelah berjalan beberapa menit kemudian, mereka akhirnya sampai dan memasuki pekarangan dengan mini kebun yang di tanami dengan berbagai sayuran, juga bunga-bunga berwarna-warni yang mulai bermekaran.


Sedangkan wajah depan rumahnya terlihat sangat sejuk dengan di tumbuhi tanaman yang rimbun


Riani yang melihat rumah yang menyejukkan mata tersebut hanya berdecak kagum dan salut dengan ketelatenan Pekak dan Dadong dalam merawat dan menata apik kebun mereka



"Selamat datang di rumah kami yang sederhana ini nak Riani..." Ucap Dadong sambil merangkul hangat pundak Riani.


"Terima kasih banyak Dadong, karena sudah menerima saya di rumah kalian..." Jawab Riani sambil memeluk Dadong dengan erat sambil menahan air mata haru.


"Rumah kalian terlihat sangat Asri sekali, pasti akan terasa nyaman dan menyenangkan bisa tinggal di rumah kalian" kata Riani lagi.


"Rumah kami selalu tebuka buat nak Riani, kapanpun nak Riani berniat main ke sini lagi" jawab Pekak dengan senyum arifnya.


"Saya pasti akan sering datang kemari, dan sekali lagi terima kasih sekali karena kalian sudah menerima saya di sini..."


"Dengan senang hati kak, Zoya juga sangat bahagia bila bisa bertambah satu keluarga lagi" jawab Zoya yang sedari tadi matanya berkaca-kaca.


Kemudian Zoya dan Riani akhirnya saling berpelukan erat dalam tangis haru.


"Sudah...Sudah, ayo kita segera masuk ke dalam, Dadong mau siap-siap buat makan siang kalian" kata Dadong sambil menarik dan menggandeng tangan Riani dan Zoya, membuat Pekak dan Randi saling pandang dan akhirnya tertawa.


Setelah Dadong membuka pintu dan mempersilahkan Riani untuk masuk ke dalam, dia langsung masuk di susul dengan yang lainnya.


"Silahkan duduk dulu nak, Dadong ke dapur dulu, mau masak buat makan siang..."


"Boleh saya ikut membantu Dadong?"


"Zoya juga mau ikut, boleh ya Dadong?" sambar Zoya manja.


"Boleh, kalian berdua ayo ikut sama Dadong ke dapur"


"Baik!" jawab keduanya kompak, namun baru beberapa menit masuk dapur, kekacauan pun terjadi, terdengar barang-barang dapur berjatuhan, hingga akhirnya Riani dan Zoya keluar dari dapur, Pekak dan Randi tertawa saat melihat Zoya dan Riani dengan rambut dan bajunya di penuhi dengan tepung hingga putih semua.


"Maaf ya kak, gara-gara Zoya baju dan rambut kakak jadi putih dan kotor semua..." Kata Zoya dengan wajah penuh penyesalan sambil membantu membersihkan tepung di baju Riani, melihat wajah Zoya yang memelas seperti itu merasa tidak tega.


"Nggak apa-apa, kan tadi Zoya tidak sengaja" jawab Riani sambil tersenyum dan membersihkan tepung yang ada di rambut Zoya.


"Zoya, sebaiknya kamu pergilah mandi karena tepung itu susah di bersihkan, sekalian kamu antar nak Riani ke kamar di mana dia akan tidur dan tunjukkan juga sama dia di mana letak kamar mandinya" perintah Pekak.


"Baik Pekak, mari kak biar Zoya antar kakak ke kamar tidur dan kamar mandinya" ajak Zoya sambil merangkul manja tangan Riani.

__ADS_1


"Baiklah, maaf Pekak saya permisi dulu..."


"Iya nak Riani, anggaplah seperti rumah sendiri"


"Iya Pekak, terima kasih sekali..."


.............


Setelah menunggu lumayan lama, akhirnya makan siangpun siap dan sudah di hidangkan di atas meja.


Semua orang sudah duduk di kursi makan masing-masing, termasuk Riani yang sudah mengganti bajunya setelah membersihkan diri dari kotornya tepung.


"Maaf, sudah menunggu lama...Maklum putu Dadong yang berniat membantu malah bikin berantakan dapur, jadi membuat makan siang kita terlambat..." Kata Dadong sambik melirik ke arah Zoya dan tersenyum, dengan maksud menyindirnya.


Zoya yang merasa karena memang dia yang salah langsung menjewer kedua kupingnya sendiri.


"Iya, Zoya memang salah...Maafkan Zoya..." Katanya dengan mimik wajah yang memelas sekaligus lucu.


"Makanya kamu sebagai seorang gadis harus belajar memasak, jadi tidak cuma bisanya masak air, mie sama berantakin dapur saja..." Kata Pekak sambil mengelus lembut kepala cucu perempuan kesayangannya itu yang duduk persis di sampingnya itu.


"Dia sih cuma bisa masak air, masak mie saja jadi bubur, bagaimana bisa masak yang lainnya?" ledek Randi.


"Mulai sekarang kamu harus belajar masak, karena kelak kamu akan jadi seorang ibu rumah tangga yang harus masak buat suami dan anak-anakmu..." Kata Dadong sambil mengambilkan nasi untuk Pekak.


"Sudah, sudah...Kita lanjutkan pembicaraannya nanti saja setelah kita selesai makan siang" kata Pekak menghentikan pembicaraan mereka.





"Sekali lagi terima kasih banyak atas semuanya..."


"Sama-sama, Dadong juga minta maaf...Karena hanya sedikit saja makanan yang bisa Dadong hidangkan..."


"Oh bagi saya ini sudah sangat banyak Dadong, justru sayalah yang seharusnya minta maaf...Karena sudah merepotkan Dadong dan kalian semua..." Jawab Riani, karena memang baginya ini sudah termasuk mewah dan meriah.


"Tapi...Ini tidak sebanding dengan kehormatan Zoya yang telah mbak Riani selamatkan" kata Randi yang sedari tadi sudah asyik menikmati nasi balap dengan plecing kangkungnya.


"Benar sekali, saya mewakili keluarga mengucapkan banyak terima kasih pada nak Riani karena sudah menyelamatkan cucu dan keluarga kami..." Sambung Pekak.


"Iya kak, Zoya sudah berhutang budi sangat besar, terima kasih banyak ya kak..."


"Iya sama-sama, kakak dengan senang hati jika bisa membantumu..." Jawab Riani sambil menikmati nasi balap dengan beberuk terong dan sayur Ares.

__ADS_1


"Bagaimana rasanya makanan ciri khas dari lombok ini kak?"


"Enak banget, meskipun ada rasa asing dari bahan aresnya namun perpaduan rasa dari bumbu dengan bahannya bener-bener cita rasa yang unik dan lezat, terus untuk beberuk terongnya juga, hemmm...Memang masakan Dadong luar biasa" puji Riani.


"Terima kasih atas pujiannya nak, tapi tetap saja tidak bisa di bandingkan dengan masakan di restoran" jawab Dadong


"Tapi justru masakan rumahan seperti inilah yang sekarang sedang di gemari para penikmat kuliner, contohnya saya yang bekerja merantau jauh dari ibu sangatlah rindu dengan masakan rumah seperti ini..."


"Betul sekali, karena teman pekak yang mempunyai restoran di sekitar sini juga kebanyakan para pelanggannya memesan masakan rumahan, karena memang cita rasanya yang berbeda juga ada perasaan seolah kita ada di rumah sendiri saat menikmati makanan tersebut..."


"Betul sekali, saya juga sangat setuju dengan apa yang di katakan Pekak"


"Bagaimana kalau kita patungan buka warung rumahan di Bali dan lombok?" usul Riani.


"Wah ide bagus itu kak!" jawab Zoya antusias.


"Saya juga sebenarnya pernah ada niat seperti itu, tapi... Meskipun cuma buka warung rumahan tetap saja butuh biaya yang tidak sedikit mba" jawab Randi.


"Usul saya ini kan baru wacana, sedangkan untuk menjalankan rencana ini kita butuh waktu dan betul apa kata Randi, meskipun cuma buka warung rumahan tetap saja butuh modal yang lumayan besar, jadi kita rencanakan hal ini pelan-pelan saja dulu, kita mulai dari awal dulu dengan mencari dan mensurvei tempat yang strategis terlebih dahulu..." Kata Riani menjelaskan.


"Tapi...Untuk modal sendiri bagaimana kak?" tanya Zoya.


"Untuk modal saya akan coba cari teman atau kerabat yang mau berinvestasi di bisnis kuliner ini..."


"Kalau begitu Pekak dan Dadong juga ingin berinvestasi di bisnis kuliner ini" kata Pekak sambil melirik ke arah Dadong yang mengangguk tanda setuju.


"Saya juga ikut mbak, tapi mungkin tidak begitu besar..."


"Tidak apa-apa, untuk memulai belajar berinvestasi memang lebih baik dari yang kecil terlebih dulu, karena kita belum tahu bagus tidaknya prospek ke depannya bisnis ini" jawab Riani menjelaskan.


"Karena Zoya belum bisa berinvestasi jadi cuma bisa ikut kerja saja, boleh tidak kak?"


"Tentu saja boleh, kerja sekaligus berinvestasi"


"Bisakah itu kak?"


"Tentu saja bisa, nanti kakak jelaskan gimana caranya"


"Oke, terima kasih kak..."


"Sama-sama..."


Makan malam bersamapun selesai, setelah Riani selesai membantu membereskan meja dan mencuci piring, dia pamit untuk duduk sebentar di kursi gantung samping rumah, menikmati udara segar menjelang sore hari.


Dalam hatinya merasa bersyukur karena telah di pertemukan dengan keluarga sederhana pelipur laranya, karena meskipun tidak lengkap, namun terlihat akur dan bahagia, hingga membuat merasa nyaman dan tentram hati bagi yang melihatnya...

__ADS_1


...☆☆☆...


__ADS_2