KESETIAAN YG TAK TERBATAS

KESETIAAN YG TAK TERBATAS
PENYESALAN


__ADS_3

Riani membuka mata saat telinganya menangkap suara ribut-ribut di depan kamarnya, tidurnya seketika terganggu dengan suara teriakan seorang pria yang sangat dia kenal sekaligus sangat ingin dia hindari, yaitu Radja suaminya.


Suara Teddy dan Om Rolland terdengar yang agak keras menghalangi Radja untuk masuk ke dalam.


Mata Riani memandang secara pergantian ke arah wajah Roro dan ibunya yang juga sedang memandangnya dengan cemas.


Sempat terdengar olehnya perbincangan Teddy dan om Rolland dengan Radja.


"Aku mohon Om, biarkan saya masuk dan menjelaskan semuanya..." Kata Radja memohon.


"Kamu boleh menemuinya nanti setelah keadaannya membaik, sekarang kamu pulang saja" Hardik Om Rolland dengan suara penuh kharismatiknya.


"Aku sangat kecewa padamu Radja, saat kejadian di Bali aku bisa memaafkanmu dan melepaskan Riani, untuk memberimu kesempatan kembali dan berbaikan dengannya, tapi sekarang...Jangan salahkan aku mengambil hakmu!" kata Teddy yang penuh penekanan karena emosinya.


Mendengar perkataan dari Teddy, Riani menyadari kalau akhirnya Teddy mengetahui kejadian kemarin, hingga membuat hati Riani was-was dan tidak menutup kemungkinan Teddy juga akan mengetahui mengenai kehamilannya yang sengaja dia sembunyikan dari Teddy.


"Saya memang salah, dan saya harus benar-benar bertemu dengannya dan menjelaskan langsung padanya, saya mohon..." Terdengar lagi Radja berbicara, namun kali ini dengan suara yang bergetar.


"Tidak bisa! justru dengan kamu menemuinya akan membuat hatinya terluka, kamu pulang saja!" jawab Om Rolland lagi, tegas.


"Kamu mengertilah Radja, saat ini Riani butuh ketenangan, jadi aku mohon pulanglah dulu" sambung Teddy, namun kali ini dengan suara pelan.


"Riani! aku ingin bicara denganmu!" tiba-tiba Radja berteriak memanggilnya, membuat semua orang terkejut, termasuk Riani.


Untuk meredam emosi Om Rolland dan Teddy yang terdengar geram dengan teriakan Radja, akhirnya Bu Widya berjalan keluar dan menutup kembali pintunya.


"Mah! ampuni Radja...Radja mohon pertemukan aku dengan Riani..." Kata Radja dengan tangisnya, setelah Bu Widya keluar dan menemuinya.


"Ayo nak, kita bicara di tempat lain" Ajak bu Widya.


Terdengar langkah kaki yang menjauh, sedangkan Teddy dan om Rolland kembali masuk ke dalam.


"Apa Radja sudah pergi Ted?" tanya Riani memastikan.


"Ya, Ibumu mengajaknya berbicara di tempat lain" jawab Teddy.


"Jika kamu tidak ingin menemuinya maka beritahu kami, maka kami akan menghalanginya, bila perlu om akan memindah kamarmu" kata Om Rolland.


"Tidak perlu Om, jika memungkinkan Riani malah ingin sekali keluar dari rumah sakit ini..."


"Nanti om coba tanyakan sama dokter, apakah kamu bisa pulang secepatnya atau tidak, atau jika kamu memang benar-benar ingin pulang, bagaimana kalau om membawa tim medis dan dokter pribadi untuk merawatmu?"


"Oh! tidak perlu om, tidak usah repot-repot, saya tunggu bagaimana menurut keputusan dokter saja, terima kasih banyak atas niat baik om"


"Tidak perlu sungkan begitu nak, om benar-benar tulus ingin membantumu"


"Maksud om Rolland baik Ai, aku juga setuju dengan ide om Rolland, tapi semua keputusan kembali ke kamu Ai" dukung Teddy.


"Aku tahu Ted, tapi...Aku lebih baik menunggu keputusan dari dokter saja, gimana baiknya"


"Maafkan aku An-an, sepertinya Radja berhasil mengikutiku, jadi dia bisa ke Rumah Sakit ini" kata Roro dengan wajah menyesalnya.

__ADS_1


"Ini bukan salahmu, aku sudah menduga hal ini pasti akan terjadi juga, jangan di ambil pikiran Mi-Ro..."


"Maaf ya An-an..."


"Iya...Sudah-sudah jangan di bahas lagi Mi-Ro"


"Iya Roro, yang penting sekarang ini kita tunggu hasil dan keputusan dokter bagaimana nanti" kata Teddy.


"Betul itu nak Roro, om juga setuju dengan apa yang di katakan Teddy, jadi nak Roro tidak perlu merasa bersalah seperti itu, apalagi Nak Roro sudah banyak membantu nak Riani"


"Iya Mi-Ro, justru akulah yang seharusnya merasa bersalah padamu, karena sudah sering merepotkanmu dan secara tidak langsung sudah menarikmu ke dalam masalahku"


"Tidak kok An-an, aku tidak merasa seperti itu, bukankah kamu tahu dengan jelas bahwa kamu sudah aku anggap seperti adik dan keluargaku sendiri..."


"Iya Mi-Ro, aku tahu itu kok, terima kasih banyak ya Mi-Ro..."


Keduanya pun saling berpelukan, sedangkan Teddy dan Om Rolland saling pandang dan tersenyum penuh haru melihat mereka berdua.


Namu seketika Riani melepaskan pelukannya saat dia tiba-tiba mendengar suara dua orang yang dia kenal sedang berdebat di luar ruangannya.


sayup-sayup terdengar olehnya pebincangan mereka.


"Ethan! bukankah kamu sudah berjanji padaku sebelumnya? bahwa bila aku tahu keberadaan kak Riani dan membawamu kepadanya kamu hanya akan melihatnya tanpa menemuinya?" desak suara perempuan yang Riani kenal, yaitu Viola.


"Aku tahu itu Vio, tapi saat aku melihatnya tidak berdaya seperti itu..."


"Justru karena keadaannya sedang tidak memungkinkan, jika kamu memaksa untuk menemuinya bukankah akan membuat keadaannya lebih buruk?"


"Aku tidak tahu apa yang terjadi antara kamu dan kak Riani di kapal waktu itu, hingga kamu harus meminta maaf padanya, akan tetapi dengan keadaan kesehatannya sekarang ini, aku mohon tepati janjimu dan jangan temui dia, ini demi kebaikannya Ethan...Kamu juga harus ingat dengan keadaan kesehatanmu juga..."


Ethan hanya tertunduk dalam diam, dia menyadari dengan keadaan kesehatan mentalnya yang tidak stabil sekarang ini, ada ketakutan tersendiri hadir dalam hatinya, jika nanti saat dia menemui Riani dan tidak bisa mengendalikan emosi dan perasaannya, hingga memicu kemunculan kepribadian lain dari dirinya.


Mendengar perdebatan dari suara dua orang yang dia rasa kenal, segera om Rolland keluar dan langsung menemui Ethan dan Viola.


"Om Rolland!" sapa Ethan dan Viola bebarengan saat keduanya melihat Om Rolland keluar dari dalam.


"Kenapa kalian ribut-ribut di depan kamar pasien? kalau kalian ingin menjenguk Riani masuklah" suruh Om Rolland.


Riani, Roro dan Teddy terkejut mendengar perkataan om Rolland.


Setelah Roro dan Teddy saling pandang sejenak, tanpa di komando keduanya segera bergegas keluar.


"Maaf Om...Bisa kita bicara sebentar? ada yang ingin saya bicarakan dengan Om" tanya Roro, sesampainya di luar, dan dia menyapa dengan anggukkan kepala terlebih pada Ethan dan Viola.


Om Rolland hanya mengikuti langkah Roro yang menjauh dari mereka, meski dengan kening yang berkerut karena merasa heran dan penasaran, sebenarnya apa yang akan Roro bicarakan dengannya.


Sedangkan Teddy mencoba menghalangi Teddy masuk ke dalam untuk menemui Riani, karena dia tahu kalau saat ini Riani belum ingin menemui Ethan, semenjak kejadian di kapal itu, masih segar dalam ingatan Teddy, tangisan dan ekspresi ketakutan di wajah Riani saat melihat Ethan dan menghindar darinya saat Ethan berusaha mendekatinya.


Meskipun hingga saat ini Teddy masih belum yakin dengan dugaannya, apa sebenarnya yang sudah terjadi diantara mereka berdua, namun Teddy mencoba untuk menyembunyikan rasa penasaran dalam hatinya dan diam-diam berusaha mencari tahu, gerangan apa yang sudah menimpa mantan kekasihnya itu, karena dia merasa dirinya juga tidak ada bedanya dengan Ethan yang telah berbuat kesalahan pada Riani.


"Ted, tolonglah...Pertemukan aku dengan Riani" ucap Ethan memohon.

__ADS_1


"Aku tidak tahu apa yang sudah kamu lakukan pada Riani, hingga membuatnya takut dan menghindarimu, dengan keadaannya yang seperti itu, menurutmu apakah aku akan membiarkanmu menemuinya?" jawab Teddy dingin.


"Aku setuju dengan Teddy, Ethan...Jika kamu memaksakan diri untuk menemuinya, yang ku takutkan nanti dia akan semakin menghindarimu dan membencimu, berilah dia waktu dulu..." Bujuk Viola.


"Jika kamu memang benar-benar perduli dengannya, maka aku mohon tolong jaga perasaannya, apalagi dengan kondisi kesehatannya yang sekarang ini..." Lanjut Teddy lagi.


"Tapi rasa bersalah ini sangat menyiksaku...Terasa seperti pelan-pelan menggerogoti hatiku..." Ucap Ethan dengan tangisnya yang tak tertahan lagi, sambil meremas kuat rambutnya.


Viola yang melihat gelagat Ethan yang seperti itu, ada ketakutan dalam hatinya jika penyakit Ethan akan kambuh.


Dan benar saja, seketika ekspresi wajah Ethan berubah, yang membuat Viola segera memeluk tubuh Ethan dan membawanya pergi menjauhi Teddy yang masih berdiri dengan pandangan heran pada sikap keduanya.


Viola memakluminya, karena Teddy memang tidak tahu mengenai penyakit yang sedang di derita Ethan.


Sambil berjalan dan merangkul erat tubuh Ethan, Viola segera menghubungi dokter yang biasa menangani Ethan.


Di sisi lain, Teddy yang sedari tadi masih berdiri terpaku melihat kepergian Viola dan Ethan, terkejut saat pundaknya di tepuk dari arah belakang, dan saat dia menoleh ke arah tepukan ternyata bu Widya sudah berdiri di belakangnya.


"Kamu sedang apa di sini Ted?" tanya bu Widya sambil mengikuti arah mata Teddy dan heran karena di arah tersebut tidak ada siapa-siapa.


"Tadi ada tamu yang ingin menjenguk Riani Tante, tapi mereka sudah pulang" jawab Teddy.


"Oo...Ayo nak kita masuk"


"Baik Tante..."


Teddy dan Bu Widya pun masuk, sesampainya di dalam terlihat oleh mereka Riani yang tertidur dengan pulasnya.


Teddy menarik nafas lega, hatinya merasa tenang karena ternyata Riani tidak terpengaruh dengan kedatangan Ethan dan Viola mungkin karena Ethan tidak bisa langsung menemuinya atau mungkin juga karena Riani sudah terlalu lelah dengan semuanya.


Bu Widya berjalan berlahan mendekati anak kesayangannya itu, dengan pelan di tariknya selimut yang berantakan dan meletakkan kembali menutupi tubuh Riani, kemudian mencium lembut keningnya.


Teddy yang melihat pemandangan tersebut seketika hatinya trenyuh dan merasa sangat bersalah karena tanpa persetujuan darinya, dia telah menodai Riani di sebuah kamar hotel, sewaktu di gili trawangan.


Penyesalannya yang dalam membuat ciut kepercayaan dirinya untuk merangkul ibu dan anak tersebut.


Dan rasa penyesalan yang terlalu dalam pulalah yang mengalahkan keberaniannya dan menciutkan nyalinya untuk mengatakan kalau dirinya akan menjaga dan melindungi mereka sebagai pengganti kepala keluarga mereka yang sudah tidak ada.


Teddy yang sudah duduk hanya kembali memandang pilu ke arah Bu Widya yang kini sedang duduk di samping ranjang Riani sambil memandang penuh kesedihan anak perempuannya itu.


"Biarlah pada waktunya nanti aku akan mengakui perbuatan dosaku pada mereka, dan apapun keputusan mereka untuk menghukumku nanti, aku akan terima, sehingga aku tidak di hantui rasa bersalah ini, dan rasa penyesalan ini pun bisa menghilang..." Batin Teddy.


...☆☆☆...


Happy New Year 2022 All...


Maaf sekali...karena author baru bisa up date lagi setelah sekian lama tidak up date..


Mohon dukungannya ya sebarkan novelku ini, dengan Vote, like, rate, coment dan share nya ya...


Terima kasih banyak atas semua dukungan kalian semua...SALAM DAMAI AND LOVE YOU ALL GUYS...😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2