
Akhirnya Riani bisa memejamkan mata dan tertidur pulas hingga dua jam lamanya, suasana lingkungan rumah yang tenang dan sejuk seolah ikut mendukung dan menghadirkan landscape yang indah dalam mimpi Riani.
Hingga terdengar suara Ibunya yang mencoba membangunkannya.
Dengan segera Riani membuka matanya dan melihat suasana di luar rumah yang sudah gelap gulita.
"Bangun, cuci muka terus siap-siap untuk sholat Maghrib bareng" kata Bu Widya setelah melihat anaknya sudah terbangun dan terduduk di pinggiran kasur.
Riani hanya menjawab dengan anggukkan dan termenung sejenak untuk mengumpulkan pikiran dan nyawanya yang belum lengkap.
setelah dia minum segelas air putih yang di berikan oleh ibunya, Rianipun segera membasuh mukanya dan berwudhu.
Selesai Sholat Maghrib, Riani membuka laptopnya dan melihat email yang masuk,
salah satunya dari Roro dan Nando.
Roro mengirim surat pengunduran diri Riani yang sudah di setujui oleh kantor, sedangkan Nando mengirim surat ijin tinggal dari pihak Kelurahan di kota Bali.
Setelah menelpon Roro dan Nando sebentar, Riani segera keluar dari kamarnya saat mendengar kegaduhan di luar.
Dan betapa terkejutnya Riani saat melihat Teddy dengan wajah dan tangannya berlumuran darah.
Terlihat pula oleh Riani, Ibunya dengan wajah yang sangat cemas sedang membersihkan luka Teddy.
Sedangkan Om Rolland yang ternyata juga sudah ada di situ berusaha membujuk Teddy untuk di bawa ke Rumah sakit, namun Teddy dengan kekeh menolaknya.
Ketika melihat kedatangan Riani dengan berjalan tertatih-tatih Teddy berusaha menghampiri Riani yang masih berdiri tertegun.
" Akhirnya aku bisa menemukanmu Ai..." kataTeddy dengan terbata-bata dan nafas yang terputus-putus.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi? kenapa tubuh kamu penuh luka seperti ini Ted?" tanya Riani cemas.
"Aku tidak apa-apa Ai, kamu tidak perlu khawatir"
"Bagaimana aku tidak khawatir jika keadaanmu separah ini!"
"Bisakah kita bicara berdua Ai? ada yang ingin ku katakan padamu"
"Oke kita bisa bicara berdua, tapi luka kamu harus di obati dulu Ted, ayo kita ke rumah sakit" ajak Riani sambil memapah tubuh Teddy yang hampir roboh.
"Aku tidak mau Ai, aku hanya ingin bilang sesuatu padamu, sekarang juga..." Tolak Teddy dengan suaranya yang semakin lemah.
"Kalau kamu tidak mau di obati, maka maaf...Sebaiknya kamu pulang saja dan jangan harap aku akan menemuimu sampai kapanpun!" ancam Riani tegas.
"Aku mohon Ai...Baiklah aku mau, tapi kamu harus janji satu hal padaku..."
"Apa itu Ted?"
"Jangan menghindariku lagi ya Ai...Aku sangat tersiska setiap kali kamu melakukan itu..."
"Teddy benar, kenapa dirinya harus menghindari dan tidak ingin bertemu dengannya? sedangkan sejauh ini Teddy tidak punya salah apa-apa, justru dialah yang selama ini selalu ada di saat dirinya membutuhkan..." Pikir Riani dalam diamnya.
"Ai...?"
"Baiklah...Aku janji"
"Meskipun setelah pengakuanku?"
"Apa maksud kamu Ted?! tanya Riani terkejut, mendadak hatinya merasa tidak enak, pasti ada sesuatu yang tidak beres di balik kata-kata Teddy tadi.
Tiba-tiba Teddy bersimpuh di kaki Riani, membuat Riani dan semua orang yang berada di situ terkejut.
"Teddy! apa yang kamu lakukan?! cepat berdiri!" kata Riani sambil berusaha menarik tubuh Teddy untuk berdiri, tapi Teddy tidak mau bergerak, bahkan Riani tidak bisa bergerak sama sekali, karena Teddy memegang erat kakinya.
Akhirnya Riani yang mengalah dan dengan susah payah berjongkok meski perut besarnya agak mengganjal tidak nyaman.
"Maafkan aku...Ampuni...Ampuni kesalahanku Ai..." Kata Teddy dengan suaranya yang lirih dan nafasnya yang semakin tidak teratur.
"Apa maksud dari perkataanmu ini Ted? dan kenapa aku harus memaafkanmu?? tanya Riani semakin tidak paham dan penasaran, berusaha mengangkat wajah Teddy yang masih tertunduk.
__ADS_1
Namun belum sempat Riani mendengar jawaban dari Teddy, tiba-tiba tubuh Teddy jatuh tersungkur lemas.
"Teddy!! teriak Riani terkejut, semua orang yang sedari tadi melihat mereka segera berlari ke arah Riani.
Semuanya segera sibuk membantu Riani, Rolland segera menghubungi Ambulans sedangkan Andy dan pak Muh segera mengangkat tubuh Teddy dan meletakkannya di atas sofa, kemudian Andy memeriksa dengan seksama denyut nadi Teddy yang tidak sadarkan diri itu.
Mbok Sri mengambil baskom berisi air hangat dan handuk, kemudian Bu Widya dengan pelan mengelap satu persatu luka Teddy yang masih mengeluarkan darah.
Sedangkan Riani membantu mengoleskan alkohol ke luka Teddy untuk menghentikan darahnya.
"Pak Muh, segera siapkan mobil!" perintah Rolland dengan wajah cemas setelah mematikan ponselnya.
"Baik Pak!" jawab pak Muh dan segera keluar menuju garasi.
"Andy ayo buruan kita angkat tubuh Teddy masuk ke dalam mobil!"
"Baik Om!"
Melihat semuanya, Riani bingung dan semakin cemas.
"Bagaimana dengan Ambulansnya Pah?"
"Tidak bisa Nak, Papah juga tidak tahu kenapa"
"Ayo Ndy kita angkat tubuhnya secara bersamaan, kita angkat pelan-pelan dan harus hati-hati karena Om takut bagian organ dalam tubuhnya ada yang terluka" kata Rolland lagi.
"Baik Om..."
Keduanya dengan penuh hati-hati membawa tubuh Teddy keluar dan masuk ke dalam mobil yang sudah siap berangkat, Riani mengikuti mereka dari belakang.
Melihat wajah cemas Riani, Bu Widya mengerti dengan perasaan putrinya itu.
"Kamu tidak usah ikut, sudah malam apalagi cuaca sedang tidak bagus, tidak baik juga untuk kandunganmu, biar ibu yang ikut dengan mereka, kamu segeralah ganti bajumu" kata Bu Widya, memegang kedua pundak Riani yang berdiri di depannya.
Riani baru menyadari saat melihat bajunya sudah berlumuran darah milik Teddy.
"Baik Bu..."
"Baik Bu, hati-hati dan beri kabar Riani bila sudah sampai ya Bu"
"Iya Nak, buruan masuk gih, ibu berangkat sekarang"
Riani mengangguk, dan setelah melambaikan tangan pada Ibunya yang sudah masuk ke dalam mobil, Riani berbalik dan masuk ke dalam rumah.
Setelah membersihkan diri dan mengganti bajunya, Riani membaringkan tubuhnya di atas kasur.
Ingatannya kembali pada kata-kata Teddy yang meminta maaf dan memohon ampunan padanya dengan ekspresi wajah merasa bersalahnya itu.
"Sebenarnya apa yang akan di katakan oleh Teddy? lalu apa maksudnya dia memohon pengampunanku? ah...Apakah adegan mimpi itu sebenarnya...Tidak mungkin kan? ugh!! bisik dalam hatinya, Riani meremas tangannya dengan kuat, hatinya gelisah tidak tenang.
Di elus-elus lembut perutnya, hatinya berangsur-angsur kembali tenang.
"Maafkan Bunda ya Nak, jika selama kamu di kandungan selalu merasakan ketidak nyamanan seperti ini..."
Perlahan tapi pasti, mata Riani terpejam kemudian akhirnya terbuai dalam mimpi.
.............
Suara Adzan subuh dari masjid dekat rumah membangunkan Riani, saat dia melirik di sampingnya ternyata semalam ibunya tidak pulang, itu membuat hati Riani semakin tidak tenang, karena itu berarti Teddy dalam kondisi yang tidak baik.
Segera dia mandi dan mengambil air wudhu, kemudian sholat Shubuh.
Setelah selesai dia keluar dari kamarnya dan menuju ke dapur di mana mbok Sri sedang memasak untuk sarapan.
"Selamat pagi Mbok"
"Selamat pagi Neng..."
"Ada yang perlu saya bantu Mbok?"
__ADS_1
"Tidak perlu Neng, ini sebentar lagi juga sudah selesai"
"Bikin sarapan buat siapa saja Mbok?"
"Buat Eneng, Den Andy dan Mang Muh"
"Mereka berdua pulang kapan Mbok?"
"Tadi pagi-pagi jam 4 an Neng"
"Sekarang mereka di mana Mbok?"
"Sepertinya mereka di teras rumah Neng"
"Sini biar saya antar teh sama kopinya Mbok"
"Kalau begitu, ini Neng, Teh untuk Mang Muh dan kopi untuk Den Andy, terima kasih ya Neng..."
"Sama-sama Mbok, lagi pula memang ada yang ingin saya tanyakan sama mereka berdua"
Sambil membawa baki Riani keluar dari dapur menuju teras di mana Mang Muh dan Andy sedang duduk.
"Selamat Pagi..." Sapa Riani sambil meletakkan gelas berisikan teh dan kopi pada Mang Muh dan Andy.
"Selamat pagi mba..."
"Selamat pagi Nak Riani..."
jawab mereka bergantian dengan ekpresi agak terkejut.
"Tadi saya ada sedikit mendengar mengenai kecelakaan yang menimpa Teddy, bolehkah saya tahu bagaimana cerita lengkapnya?" tanya Riani sambil duduk di antara mereka berdua.
Keduanya saling berpandangan, kemudian Mang Muh mengangguk pada Andy.
"Hhhh..." Andy menarik nafas dalam-dalam sebelum bercerita, terlihat nampak berat untuk menceritakannya.
"Tadi kami berdua dari kantor dan bertemu dengan salah satu POLANTAS yang menangani mobil bang Teddy, mobil bagian depannya rusak parah karena menabrak pembatas jalan..."
"Di mana tepatnya kejadian kecelakaan tersebut Ndy?"
"Di depan gapura masuk komplek perumahan ini mba"
"Lalu bagaimana keadaan Teddy sekarang?"
"Bang Teddy semalaman belum sadarkan diri, karena itu Tante Widya dan Om Rolland berinisiatif untuk menjaganya, karena beliau berdua tidak tahu kontak keluarga Teddy yang bisa di hubungi"
Dulu Riani mempunyai nomor kontak dari Ibunya Teddy, namun semenjak Teddy meninggalkannya tanpa penjelasan, Riani menghapus semua kontak yang berhubungan dengan Teddy, hingga akhirnya dia di pertemukan kembali dalam satu kantor sebagai atasan dan bawahan.
"Bang Teddy sudah melewati masa kritisnya tapi, sampai sekarang dia belum siuman" lanjut Andy bercerita, membuyarkan lamunan Riani yang sedang tenggelam dalam pikirannya.
"Lalu apa kata dokter mengenai lukanya?"
"Ternyata kata Om Rolland semalam benar, Bang Teddy terluka di organ bagian dalamnya, untungnya tidak parah dan tidak mengenai organ vitalnya"
"Lalu kapan aku bisa menjenguknya Ndy?"
"Sebenarnya hari ini sudah bisa di jenguk, tapi kata Tante Widya sebaiknya Mba Riani datang setelah Dhuhur saja, seusai dokter yang merawat Teddy memeriksa dan mengecek keadaannya"
"Oo seperti itu, baiklah aku akan datang setelah itu sekalian membawa makan siang untuk mereka berdua"
"Nanti biar Mang Muh antar Nak Riani ke sana" kata Mang Muh yang sedari tadi diam dan hanya menyimak pembicaraan antara Riani dan Andy.
"Baiklah, terima kasih Mang...Kalau begitu saya masuk ke dalam dulu, membantu Mbok Sri mempersiapkan sarapan buat kalian berdua, terima kasih atas informasinya Ndy..."
"Sama-sama Mba..."
Riani bangkit dari duduknya, berjalan masuk ke dalam menuju ke dapur dengan isi pikirannya yang penuh dengan serentetan kejadian semalam dan bayangan wajah Teddy yang datang dengan penuh luka.
Rasa simpati dan empatinya pada sang mantan pacarnya itu seolah membuka hatinya kembali untuk mencoba menerima kenyataan bahwa ada seseorang yang mencintainya dengan tulus melebihi cinta dari Radja, suaminya...
__ADS_1
...☆☆☆...