KESETIAAN YG TAK TERBATAS

KESETIAAN YG TAK TERBATAS
TANGISAN HARU DAN BAHAGIA


__ADS_3

Hari-hari selanjutnya, Riani jalani dengan normal dan damai, karena selama di rumah Iky dia di kelilingi dengan orang-orang yang menjaga, perhatian dan menyayanginya.


Setiap harinya dia menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan, dari cek rutin kehamilan, membuat contoh desain interior dan eksterior proyek mega Restoran dan menjenguk Ethan di rumah sakit, dan keadaan Ethan kini berangsur-angsur membaik, itu dia mengetahuinya dari Viola yang selalu memberi kabar setiap kali ada perkembangan dari Ethan, meskipun hingga sekarang dia belum sadar dari komanya.


Tanpa terasa Riani dan keluarganya sudah satu bulan tinggal di rumah Iky dan karena sekolah Maulana yang tidak bisa di tunda lagi, akhirnya dia dan Nando pergi terlebih dahulu ke Bali, selain mengurus tempat tinggal dan kepindahan sekolah Maulana, Nando juga mengurus berbagai bisnisnya yang berada di Bali dan daerah sekitarnya, termasuk mengurus proyek baru Mega Restoran bersama Arga, Randi dan Zoya.


Sedangkan Riani sendiri masih belum bisa pindah ke Bali karena permintaan Viola dan keluarga besarnya yang memohon padanya untuk tetap di samping Ethan hingga dia terbangun dari komanya, dan Riani tidak bisa menolaknya, karena tidak tega melihat tante Grace dan Viola.


Terkadang terganjal di hati Riani setiap kali tante Grace dan Om Marcel menanyakan Ibunya, mereka berdua juga ingin sekali bertemu dengan Ibunya, hanya saja untuk saat ini Riani belum bisa membiarkan mereka bertemu karena dia tidak mau jika mereka bertemu nantinya hanya akan membuka kembali luka lama dan membuat Ibunya bersedih lagi, meskipun hingga saat ini Riani belum pernah mendengar Ibunya mengatakan bahwa dia membenci keluarga Ethan atau tidak, sudah memaafkannya ataupun belum, namun setiap dia pamit pada Ibunya untuk menjenguk Ethan, Ibunya selalu memberinya ijin tanpa berkomentar apapun.


Dan setiap kali dia pamit ke rumah sakit hingga pulang kembali ke rumah, tidak ada perkataan ataupun pertanyaan yang keluar dari mulut ibunya tersebut, hingga membuat Riani enggan untuk bercerita ataupun bertanya, karena dia tahu betul jika Ibunya diam tanpa komentar seperti itu, maka berarti dia tidak ingin membahasnya.


.............


Pagi ini Riani kembali pamit pada Ibunya untuk cek kehamilan sekaligus menjenguk Ethan lagi.


Biasanya setiap kali dia keluar akan di kawal oleh Iky dan satu rekan lainnya, namun kali ini Iky sedang ada tugas penting di luar kota, jadi hari ini di gantikan oleh Andy.


Setelah dia pamit dengan ibunya Riani segera keluar, di mana Andy dan rekannya sudah menunggu dirinya di samping pintu mobil.


"Selamat Pagi Mba" sapa Andy dan temannya.


"Selamat Pagi" Jawab Riani sambil mengangguk dan terseyum ramah pada rekan Andy yang berdiri di sebelahnya, mungkin dia orang baru, karena selama sebulan dia tinggal di rumah Iky, baru pertama kali ini dia bertemu dengannya, pikir Riani.


Tapi dari cara dia melihat dan tersenyum pada Riani seolah kalau laki-laki itu mengenalnya, membuat Riani merasa tidak nyaman.


"Selamat Pagi Non..." Ucap Mang Muh yang baru menyadari kedatangan Riani karena tadi dia sedang sibuk membersihkan bagian belakang mobil.


"Selamat pagi Mang..." Jawab Riani tersenyum dan segera masuk ke dalam mobil setelah Mang Muh membukakan pintu untuknya.


"Mungkin hanya perasaanku saja..." Pikir Riani


"Bro, kamu duduk di depan, biar aku duduk di belakang bersama Mba Riani"


"Oke" jawab rekan kerja Andy yang segera duduk di kursi depan, di samping Mang Muh.


Perlahan mobilpun berjalan keluar rumah dan menghilang di keramaian kota.


"Selama satu bulan ini aku tidak melihatmu di basecamp, kamu tugas di mana Ndy?" tanya Riani membuka perbincangan selama perjalanan.


"Saya ada tugas mengawal pejabat ke luar kota bersama rekan saya ini, dia Akbar namanya" Jawab Andy.


"Saya Putra Akbar Permana" kata rekan Andy sambil mengulurkan tangannya dan terkesan memaksakan tubuhnya untuk mengarah ke belakang, melihat itu Riani segera memajukan tubuhnya dan menyambut jabatan tangan pria yang di panggil Akbar tersebut

__ADS_1


"Hallo, saya Riani...Sebaiknya anda kembali di posisi semula, saya khawatir tubuh anda tidak nyaman dengan posisi seperti itu" kata Riani sopan.


"Ah! maaf..." Jawab Akbar salah tingkah dan segera kembali ke posisi semula.


"Tidak perlu minta maaf, saya hanya khawatir saja"


"Terima kasih banyak atas perhatian Anda"


"Sama-sama dan tidak perlu sungkan seperti itu..."


Suasanapun kembali sunyi.


"Oh ya! bagaimana kabar adikmu, apakah dia sudah pulang dari rumah sakit?" tanya Riani, mendadak teringat dengan adiknya Andy yang kurang lebih satu bulan yang lalu masuk rumah sakit karena kecelakaan motor.


"Alkhamdulillah Mba, Eksi sudah pulang dari rumah sakit satu minggu yang lalu, dan sekarang dia sedang menjalani pemulihan dan rawat jalan di rumah"


"Syukur Alkhamdulillah kalau begitu, nanti kalau dia sudah bener-bener sembuh ajak dia main dan bertemu denganku ya Ndy?"


"Insya Allah mba, akan saya ajak dia menemui Mba, syukur-syukur sebelum Mba pindah ke Bali"


"Kok kamu tahu kalau aku akan pindah ke Bali?" tanya Riani terkejut.


"Bang Iky memberitahu kami berdua, karena nanti saat Mba Riani sudah pindah ke Bali, kami yang akan menjaga dan mengawal keluarga Mba Riani"


"Kami? yang kamu maksud dengan kami siapa saja Ndy?"


Mendengar jawaban dari Andy Riani hanya menganggukkan kepalanya tanda memahami penjelasan dari Andy, akan tetapi Riani merasa ada sesuatu yang hilang setiap kali dia mendengar Andy menyebut nama Akbar, dan setiap kali itu pula Riani melihat wajah Akbar dengan seksama, namun tetap saja dia merasa aneh, karena dalam kepalanya seperti ada bayangan seseorang namun dia tidak bisa mengingatnya.


Mobil yang berhenti di depan salah satu rumah sakit bersalin di Tangerang, membuat perbincangan mereka otomatis terhenti.


Riani segera turun, masuk ke dalam dan langsung menuju ruang dokter kandungan, karena dia sudah membuat janji sebelumnya dengan sang dokter.


Setengah jam kemudian pemeriksaan kandungan Riani selesai, dengan bergegas Riani segera masuk ke dalam mobil, karena selanjutnya dia harus ke rumah sakit di Jakarta yang jarak waktu tempuhnya kurang lebih dua jam, meski melelahkan namun harus Riani lakukan karena dia sudah berjanji untuk menjenguk Ethan setiap satu minggu dua kali secara rutin.


Terkadang Ibunya dan Papah Rolland komplain pada Riani, karena setiap kali pulang dari menjenguk Ethan, Riani terlihat kelelahan.


Mereka sangat mengkhawatirkan keadaan Riani, apalagi sekarang kehamilan Riani sudah memasuki bulan ke lima dan perutnya yang mulai membesar pasti akan membuatnya mudah terasa lelah.


Saking khawatirnya setiap kali Riani menjenguk Ethan, maka mereka berdua secara bergantian akan menelpon Riani dan menanyakan keadaannya.


Seperti saat ini, baru saja Riani akan memejamkan matanya, sang Ibu menelponnya.


Setelah dia selesai bicara dengan Ibunya dan baru saja dia menutup teleponnya, kini giliran Papah Rolland yang menelponnya.

__ADS_1


Hingga mobil hampir sampai di rumah sakit, baru Riani selesai berbicara dengan papah Rolland dan menutupnya.


Dengan hati-hati Riani turun dari mobilnya setelah Iky membukakan pintu untuknya.


Setelah memberikan uang pada Mang Muh untuk membeli makan siang di restoran langganannya, Riani segera masuk ke dalam rumah sakit tersebut.


Seperti biasanya sesampainya di ruangan Ethan, dia akan di sambut oleh Viola dan tante Grace, sedangkan Om Marcel dan Om Ronand tidak nampak di sana, mungkin karena sedang sibuk bekerja.


"Bagaimana keadaan Ethan, apakah ada perkembangan lagi Tante?" tanya Riani setelah mencium punggung tangan tante Grace.


"Kamu duduklah dulu, maafkan tante ya Nak, sudah membuatmu repot dan capek karena sering bolak-balik perjalanan jauh dari rumah ke sini..." Kata tante Grace, menggenggam lembut tangan Riani.


"Tidak apa-apa tante, lagi pula di rumah terus juga bosen, jadi anggap saja untuk mengisi waktu kosongku selama hamil ini" jawab Riani.


"Maafka Vio juga ya Kak, dan terima kasih ya Dedek bayi sudah mau membantu Tante Vio dan Om Ethan..." Kata Viola sambil mengelus-ngelus perut besar Riani dengan lembut.


"Eh! bayinya gerak Kak!" seru Viola terkejut sekaligus takjub saat tangannya merasakan gerakan bayi di perut Riani.


"Itu berarti bayiku mendengar perkataanmu dan dia sangat suka padamu" jawab Riani dengan senyum harunya.


"Benarkah? terima kasih ya Dedek bayi"jawab Viola, kali ini dia mencium perut Riani berkali-kali.


Riani tertawa, begitu pula dengan tante Grace yang tertawa kecil melihat kelakuan menantunya itu.


"Apa ada perkembangan lagi dari keadaan Ethan Vi?" tanya Riani lagi, tapi kali ini pada Viola.


"Masih sama dengan keadaan terakhir kali Kak Riani ke sini" jawab Viola dengan wajah sedihnya.


"Aku coba letakkan dan usapkan tangan Ethan di perutku ini bagaimana Tante, Vio? siapa tahu ada keajaiban" usul Riani.


"Itu ide yang bagus dan patut di coba, tapi...Apa kamu tidak apa-apa Nak?" tanya tante Grace ragu.


"Iya Kak, kami yang tidak enak sama Kakak"


"Aku tidak keberatan kok dan kalian tidak perlu merasa tidak enak hati, karena ini kemauanku sendiri"


"Terserah kamu saja Nak"


"Iya, terserah Kakak saja..."


Riani berjalan menuju ke arah Ethan lalu di angkatnya salah satu tangan Ethan, kemudian di letakkan dan di usap-usapkan pada perut buncitnya itu.


Dan di luar dugaan bayi dalam perut Riani kembali bergerak dengan lincahnya dan yang lebih mengejutkan lagi gerakan bayi tersebut seolah merangsang tangan Ethan hingga terjadi gerakan yang sangat jelas dan terlihat oleh Riani, Viola dan tante Grace.

__ADS_1


Seketika tangis ketiganya pecah, tangisan haru dan bahagia...


...☆☆☆...


__ADS_2