KESETIAAN YG TAK TERBATAS

KESETIAAN YG TAK TERBATAS
FIRASAT


__ADS_3

Setelah terjadi kesepakatan, pembicaraanpun berlanjut dengan obrolan santai.


Haripun sudah semakin gelap, mereka bertiga segera pamit undur diri untuk pulang.


"Kami bertiga pamit pulang dulu ya Gus" ucap Pekak di barengi anggukkan Riani dan Arga yang juga berpamitan untuk pulang.


Riani dan Arga bergantian mencium punggung tangan om Roland.


"Salam untuk ibu dan ayahmu ya Ga, sampaikan maaf om pada mereka berdua belum bisa bertandang ke rumah, tapi secepatnya om akan menjenguk ibumu..." Kata om Roland pada Arga.


"Eh...?" Spontan tanpa Riani sadari berucap karena kaget.


"Iya om, pasti akan Arga sampaikan pesan om pada Papah dan Mamah" jawab Arga tersenyum, om Roland menepuk lembut pundak Arga.


Sedangkan Arga sendiri melirik ke arah Riani dan tersenyum melihat reaksinya.


"Kalau begitu kami pergi dulu Gus" pamit Pekak.


" Iya Bli, hati-hati dan salam untuk istrimu"


"Oke, sip Gus!" jawab Pekak, mengacungkan ibu jarinya.


Pekak yang di ikuti Riani dan Arga berjalan keluar mengambil sepeda mereka yang di sandarkan di bawah pohon mangga.


Setelah melambaikan tangan dan di balas om Roland beserta Nando anaknya, ketiganya segera mengayuh sepedanya keluar dari halaman rumah om Roland.


Riani yang membonceng Arga, selama perjalanan terdiam tenggelam dalam pikirannya.


"Orang tuaku, dari pihak Mamah masih keluarga dengan om Roland, tapi keluarga jauh seperti aku dan Viola, apalagi kami jarang bertemu jadi ya seperti ada jarak dan terasa asing saat kita bertemu" kata Arga membuka obrolan di sela-sela kayuhan sepedanya.


"Oo seperti itu, hubungan yang rumit juga diantara keluarga kalian..." Riani hanya manggut-manggut tanda mengerti.


"Tapi sepertinya bukan hanya itu alasannya, kenapa meskipun kami keluarga tapi seperti menjaga jarak antar keluarga"


"Maksud kamu, ada alasan lain yang kamu tidak ketahui mengapa hubungan antar keluargamu seperti itu?"


"Bukannya aku tidak tahu, tapi lebih ke arah kurang jelas dan samar mengenai informasi yang aku peroleh"


"Jadi informasi apa yang telah kamu peroleh, maaf jika aku terlalu lancang dan rasa penasaranku membuatmu tidak nyaman, dan jika kamu tidak ingin melanjutka ceritamu, lebih baik jangan, sekali lagi aku minta maaf..." Kata Riani merasa tidak enak hati.


"Tidak apa-apa kok Mba, justru seharusnya akulah yang meminta maaf karena sudah mulai tidak sopan, dengan bicara informal sama mba Riani"


"Oh! tidak apa-apa kok Arga, justru aku lebih suka jika kita bisa bicara akrab, tanpa beban dan tidak ada rasa canggung lagi diantara kita seperti ini..."


"Terima kasih Mba, jadi bolehkan jika aku lanjutkan ceritaku?"

__ADS_1


"Kalau itu mau kamu ya silahkan, karena sebenarnya itu bukan hakku untuk memaksamu, jika kamu memang bisa merasa lega setelah menceritakannya ya aku tidak keberatan, tapi masalahnya kamu nyaman tidak jika kamu menceritakan masalah keluargamu pada orang lain sepertiku ini?" jawab Riani, balik bertanya.


"Sebenarnya aku tipe laki-laki yang lebih memilih diam dan menyimpan semua cerita tentang masalah keluargaku, tapi entahlah semenjak Zoya bercerita tentang mba Riani dan pertama mengenal sifat mba Riani darinya, jujur aku penasaran, kemudian akhirnya kita bertemu untuk pertama kalianya waktu itu dengan ayahku di restorannya, aku baru mengerti kenapa Zoya sangat menyayangi mba Riani, karena itulah mata dan hatiku juga terbuka hingga akhirnya merasa nyaman sama mba Riani, apalagi semenjak hari ini adanya kesepakatan kerjasama, aku semakin merasa akrab dan nyaman dengan mba Riani..."


"Syukurlah kalau kamu merasa nyaman denganku, tapi ngomong-ngomong tentang Zoya, apa betul kalian di jodohkan oleh keluarga kalian masing-masing?"


"Iya mba, kami memang di jodohkan dan kami berdua setuju karena memang kami juga kan dari kecil sudah sangat dekat dan mengenal karakter kita masing-masing, jadi ya kami pikir tidak akan sulit jika kami menjalani rumah tangga kami nantinya..." Jawab Arga polos.


"Tetapi ber-rumah tangga dan membangun sebuah keluarga itu tidak semudah seperti yang kalian pikir, akan banyak hal baru setelah kalian menikah dan kalian berdua di tuntut untuk bisa menyesuaikan diri dengan lika-liku kehidupan berkeluarga untuk kalian agar bisa mempertahankannya"


"Iya kami tahu dan sadari itu mba, oleh karena itu kami juga tidak ingin terburu-buru untuk menikah, karena kami ingin memperkuat hubungan kami dulu, sehingga nantinya bisa mempersiapkan sekaliagus memantapkan hati kami selanjutnya"


"Tapi masalahnya apakah kalian sudah benar-benar yakin dengan perasaan kalian?"


"Maksud mba Riani perasaan kami yang bagaimana?"


"Ya perasaan kalian yang memang saling mencintai dan menyayangi, bukan sekedar perasaan yang karena kalian sahabat sejak kecil lalu di jodohkan dan merasa cocok, dan akhirnya kalian menerima pejodohan ini tanpa merasa yakin terlebih dahulu akan perasaan kalian yang sebenarnya"


"Jujur, kalau aku memang sejak Zoya duduk di bangku SMP aku sudah jatuh cinta pada Zoya, dan dialah cinta pertama bagiku, dan jika perjodohan ini terjadi karena takdirku untuk memilikinya maka aku pastikan bahwa dialah cinta pertama dan terakhir bagiku..."


"Lalu bagaimana perasaan Zoya sendiri padamu, sejauh yang kamu tahu selama ini?"


"Seperti yang mba Riani lihat, perlakuan Zoya padaku masih sebatas rasa sayang pada seorang sahabat dan kakak laki-lakinya, dan kenapa dia menerima perjodohan ini, aku rasa karena dia pikir tidak apa-apa jika dia hidup bersama dengan sahabatnya"


"Ya seperti itulah mba, tapi aku akan bersabar menunggunya untuk bisa mencintaiku sebagai seorang prianya"


"Ya kamu benar, aku harap kamu jangan pernah putus asa, aku yakin seiring berjalannya waktu, perlahan tapi pasti Zoya akan menyadari perasaannya padamu dan merubah pandangannya terhadapmu"


"Semoga saja...Sekarang perasaanku jadi lebih lega, sedikit banyak harapanku pada perasaanku sendiri yang kelak akan berbalas dengan perasaan Zoya..."


"Aku akan coba bantu kamu sebisaku untuk mengarahkan dan meyakinkan perasaannya padamu, karena aku yakin kamu laki-laki yang baik dan bertanggung jawab untuknya, jadi kelak kamu pasti akan menjaga dan menyayanginya sepenuh hati, kamulah yang terbaik untuknya"


"Terima kasih banyak atas pujiannya mba dan sudah mau membantu hubunganku dengan Zoya..."


"Aku akan berusaha sebisa mungkin, tapi aku juga tidak bisa memaksakan perasaannya jika kelak hatinya masih tetap belum bisa menerimamu sebagai seorang pria, dan belum bisa mencintaimu, karena perasaan cinta jika di paksakan akan tidak baik juga untuknya, dan aku tentunya tidak menginginkan itu terjadi padanya"


"Mba Riani tidak perlu khawatir mengenai hal itu, aku juga tidak ingin terjadi apa-apa dengannya, jadi aku tidak akan mendesak dan memaksanya untuk mencintaiku, bagiku kebahagiaannya lah yang terpenting bagiku, asalkan bisa melihatnya selalu tersenyum, meskipun aku hanya bisa sebagai sahabat dan kakak baginya, asalkan bisa selalu di sampingnya itu sudah cukup bagiku"


" Baguslah kalau begitu, aku akan selalu mendukungmu, semangat!" teriak Riani sambil menepuk agak keras pundak Arga yang membuatnya agak terkejut hingga sepedanya hampir saja hilang keseimbangan.


Riani dan Arga agak terkejut dan ketakutan saat sepeda hampir saja oleng, namun akhirnya mereka berdua tertawa saat Arga bisa mengendalikan sepedanya dan kembali bisa mengayuh dan membawa sepedanya pada posisi semula.


Tawa lepas Riani dan Arga membuat orang-orang di sekitar yang mereka lewati melihat mereka berdua ikut tersenyum, mereka mungkin berpikir mereka adalah sejoli yang sedang di mabuk asmara.


Pekak yang agak jauh berada di depan merekapun ikut tersenyum, dalam hatinya juga ada rasa bahagia melihat dan mendengar keakraban mereka berdua.

__ADS_1


.............


Tanpa terasa sepeda mereka akhirnya sudah sampai di halaman rumah, segera Riani turun dari boncengannya, Arga dan Pekak menyandarkan sepeda mereka.


"Kayaknya cerita mengenai masalah keluargaku kita lanjutkan lain waktu saja ya mba, lagipula kan masih ada waktu besok mba Riani ada di sini sebelum kembali ke Jakarta..."


"Santai saja Arga, kamu tidak ceritapun tidak apa-apa, itu hak kamu kok, dan kapanpun kamu ingin menceritakannya kamu bisa dengan menelponku dan aku akan selalu siap mendengarkan ceritamu..." Jawab Riani dengan menepuk lembut punggung Arga.


"Baiklah, terima kasih Mba..."


Keduanya tersenyum kemudian masuk ke dalam rumah menyusul Pekak, terlihat Dadong sedang menunggu di dalam dan menyiapkan makan malam di meja makan.


Suasana makan malampun berlangsung dengan suasana obrolan hangat, membicarakan kabar baik mengenai keberhasilan kerjasama mereka untuk bisnis restoran mereka.


Setelah makan malam selesai, Arga mengobrol sebentar bersama Pekak dan Dadong, kemudian dia pamit pulang.


Riani dan Dadong mengantar Arga hingga bayangannya tak terlihat lagi di kegelapan malam.


Sesaat sebelum Arga menghilang di kegelapan malam, Riani menangkap punggung Arga yang lebar dengan tubuh yang tegak dan gagah, tipe sosok yang akan melindungi orang yang berarti baginya.


Seorang Arga yang Riani baru kenal dan akrab dengannya, dia sosok pria yang begitu sangat mencintai, menyayangi dan melindungi Zoya, pada sosok dirinya lah Riani bisa percaya dan tenang jika Zoya berada di sampingnya.


Riani memilih duduk di kursi teras rumah, meskipun Dadong agak khawatir dengan kesehatan Riani, namun setelah Riani meyakinkannya kalau dia hanya ingin duduk sebentar akhirnya Dadong mengangguk dan tersenyum, setelah mengelus lembut kepala Riani, Dadongpun masuk ke dalam rumah.


Pandangan Riani mengelilingi tempat sekitarnya mencoba menembus gelap gulitanya malam, di tariknya nafas dalam-dalam kemudian di buang pelan-pelan.


Tiba-tiba suara pesan masuk di ponselnya berbunyi, saat dia lihat pengirim pesan tersebut Riani hanya tersenyum, segera dia membuka dan membaca pesan dari Arga tersebut.


"Terima kasih banyak atas waktunya untuk beberapa jam tadi mendengarkan cerita dan isi hati Arga, dan atas bantuan mba Riani karena telah menolong Zoyaku dari para penjahat yang akan memperkosa dia di Bali, Arga juga minta maaf sekali karena baru sekarang mengucapkannya, sekali lagi maaf dan terima kasih..." Ucap Arga dalam pesannya.


Riani kembali tersenyum, kemudian dia membalas pesan dari Arga.


"*Iya Arga, aku titip jaga Zoya ya..."


"Iya mba, pasti aku akan jaga dia dengan sepenuh hatiku, maaf ...Kalau sudah mengganggu istirahat mba Rinai, Selamat malam..."


" Tidak apa-apa kok, Selamat malam*..."


Setelah menutup ponselnya, kemudian Riani merentangkan seluruh tubuhnya, namun tiba-tiba rasa mualnya kembali kambuh, perutnya teras ada yang mengganjal saat tadi dia merentangkan dan merenggangkan tubuhnya, hingga membuatnya ingin muntah.


Segera dia lari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi dalam perutnya.


Ada perasaan dan firasat aneh di hatinya, namun segera dia abaikan dan merebahkan tubuhnya di atas kasur dia mencoba memejamkan matanya hingga akhirnya dia pulas dalam tidurnya bertemankan firasat yang tertinggal dalam benaknya...


...☆☆☆...

__ADS_1


__ADS_2