KESETIAAN YG TAK TERBATAS

KESETIAAN YG TAK TERBATAS
TAMU YANG TAK DI INGINKAN


__ADS_3

Setelah puas menikmati matahari tenggelam mereka berdua segera bangun dari duduknya karena hari sudah mulai gelap.


Dengan mengayuh sepeda mereka menyusuri pinggir pantai yang mulai ramai dengan orang-orang yang mengadakan party di tepi pantai.


Setelah mengembalikan sepeda di Rental, Riani dan Randi berjalan kaki menuju kembali ke rumah.


Karena letak rental sepeda lumayan dekat dari rumah Randi, jadi hanya butuh beberapa menit jalan kaki.


Akhirnya mereka berdua pun sampai dan memasuki halaman rumah.


Namun saat mereka masuk ke dalam rumah, alangkah terkejutnya mereka saat melihat di ruang tamu telah duduk tiga orang yang Randi dan Riani kenal.


Radja, Teddy dan Nadine sudah menunggu kepulangan mereka berdua.


"Akhirnya kalian pulang, mereka sudah menunggu kalian lumayan lama, katanya ada yg ingin di bicarakan dengan kalian" kata Dadong sambil menghampiri Riani dan Randi yang sedang melepas sepatu mereka.


"Kami tadi jalan-jalan sambil membicarakan banyak hal..." Jawab Randi.


"Iya, maaf...Saya pamit ke belakang sebentar" kata Riani sambil berlalu menuju ke kamar mandi.


Sebenarnya dia tidak ingin bertemu dengan pasangan selingkuh tersebut, tapi tidak baik juga karena dia sekarang tinggal di rumah keluarga Randi dan Zoya, jika terjadi keributan akan membuat perasaan tidak enak di hatinya nanti, apalagi ada Teddy di sana.


"Aku juga ke belakang dulu" susul Randi sambil berlalu pergi tanpa melihat ke arah Nadine.


Sikap Riani dan Randi yang tidak biasa langsung terbaca oleh Pekak dan Dadong, keduanya saling menatap bingung dan heran.


.............


Selang beberapa menit kemudian Riani dan Randi kembali ke ruang tamu dan duduk diantara mereka.


"Kalau begitu Pekak dan Dadong keluar sebentar, kalian berbicaralah dengan hati yang tenang" kata Pekak sambil bangun dari dudukny tang langsung di susul Dadong.


"Kami pergi dulu, dan ingat apapun masalah kalian harus di bicarakan dengan kepala dingin..." Kata Dadong menyambung perkataan Pekak.


"Baik, dan terima kasih banyak, Pekak dan Dadong mau menerima kedatangan kami" jawab Teddy, sedangkan Radja dan Nadine hanya mengangguk pada kedua orang tua tersebut yang di balas dengan senyuman keduanya pada Radja dan Nadine.


"Dek..." Kata Radja, setelah semuanya terdiam untuk beberapa saat seperginya Pekak Dan Dadong.


"Kalau ingin membicarakan kejadian semalam, aku tidak mau mas, sudah cukup bagiku..."


"Tapi aku ingin menjelaskan lagi kalau semalam kami di bawah pengaruh alkohol dek..."

__ADS_1


"Bukankah semalam Nadine sudah menjelaskan, untuk apa kamu menjelaskan lagi mas? lagi pula tidak akan mungkin terjadi perselingkuhan jika kalian tidak ada niat bertemu dan mabuk bareng, benar-benar tidak masuk akal alasan kalian berdua" jawab Riani ketus.


"Tapi mbak, saat itu saya benar-benar tidak sadar, tolong Ran kamu coba mengerti..." Pinta Nadine.


"Jika kamu memang benar-benar tidak sadar tapi kenapa kamu bisa tahu jalan ke arah hotel di mana Radja menginap dan berzina dengan suami orang? aku sungguh sudah tidak mengenal dan mengerti kamu lagi Nadine..." Jawab Randi sambil menggelengkan kepalanya.


"Itu karena kami sama-sama putus asa dan tidak ada harapan dengan pasangan kami masing-masing..." Jawab Radja lagi beralasan.


"Apapun alasan kalian, tidak di benarkan juga kalian berselingkuh bukan?" jawab Riani lagi sinis.


"Radja, memang salah aku mempercayaimu, bukankah aku sudah memberimu peringatan, kalau kamu menyakitinya lagi, maka aku tidak akan segan-segan merebut Riani darimu" kata Teddy dari tadi hanya menyimak perbincangan diantara mereka berempat.


"Jangan macam-macam kamu, karena Riani sampai detik ini masih istri sahku dan kamu tidak berhak ikut campur urusan rumah tangga kita berdua!" jawab Radja yang mulai tersulut emosinya.


"Kamu bilang dia istrimu? istri yang sering kamu sakiti, istri yang sering kamu selingkuhi?! dulu aku memang melepasnya untuk kamu, karena aku kira kamu bisa lebih bertanggung jawab tapi ternyata aku salah, kamu sebagai laki-laki dan suami sungguh sangat mengecewakan" jawab Teddy tenang namun penuh penekanan.


"Diam kamu Ted! kamu tidak ada hak mengoreksi dan mehujatku, lalu bagaimana dengan dirimu sendiri, yang masih berharap dan mengejar mantan pacar yang sudah menjadi istri orang lain?!"


"Itu hak aku atas perasaanku pada Riani, masalah dia mau menerimaku lagi atau bahkan menolaku itu juga haknya, tapi yang jelas aku paling tidak terima kalau orang yang aku cintai selalu kamu sakiti!" jawab Teddy, kali ini dia benar-benar serius dan marah.


Melihat gelagat yang nantinya akan timbul keributan Riani segera mengambil tindakan, karena dia tidak mau masalahnya akan membuat keluarga Randi tidak nyaman.


Sebaiknya kalian pulang, aku tidak ingin orang yang memberiku tempat tinggal tidak nyaman karena keributan yang kalian perbuat.


"Bukankah masalah kita sudah jelas mas, nanti setelah aku pulang dari libur cutiku, aku akan mengurus perceraian kita, jadi kalian berdua bisa melanjutkan hubungan kalian..."


"Aku tidak mau cerai dek, aku sama Nadine cuma sebuah kesalahan dek..."


"Sudah cukup bagiku mas, aku sudah capek dengan perselingkuhanmu, ini yang aku ketahui dua kali, atau bahkan mungkin lebih dari ini yang tidak aku ketahui..."


"Aku akan jujur dan ceritakan semua padamu, tapi tolong beri aku kesempatan untuk yang terakhir kalinya dek..."


"Betul mbak, tolong beri kami kesempatan untuk memperbaiki diri, dan aku juga mohon padamu Randi, beri aku kesempatan..."


"Kenapa aku harus memberi kesempatan padamu, sedangkan status kita sampai sekarang juga belum jelas, apakah sekedar teman atau pacar?" jawab Randi datar.


"Randi! kamu tahu dengan jelas kalau aku masih sangat mencintaimu dan mengejarmu, namun karena hatimu yang tertutup dan tidak melihat perasaanku dengan jelas hingga tidak memberi harapan padaku, akhirnya membawaku membuat kesalahan ini!" jawab Nadine yang mulai menangis karena terbawa emosi.


"Randi, kamu sebaiknya cari waktu dengan Nadine untuk membicarakan hal ini" kata Riani yang mulai merasa iba melihat Nadine yang menangis.


"Aku rasa tidak perlu mbak, dan karena sudah tidak ada yang perlu di bicarakan sebaiknya kalian pulang, karena hari sudah terlalu malam dan kami ingin istirahat" jawab Randi tegas.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu saya pulang dulu, maaf...Jika kehadiran saya menambah masalah dan membuat kalian tidak nyaman..." Kata Teddy.


"Aku penasaran, dari mana kamu tahu aku di sini?"


"Kebetulan aku bertemu dengan Zoya di restoran wak Made"


"Maaf, bukannya saya tidak sopan, tapi...Karena sudah malam bisa kita lanjutkan pembicaraannya di lain waktu?" kata Randi menyela obrolan Teddy dengan Riani.


"Justru kami yang minta maaf, jika kami sebagai tamu kurang sopan, kalau begitu saya permisi" kata Teddy lagi, kemudian diapun pamit dan keluar meninggalkan Radja dan Nadine yang masih kekeh belum mau untuk pergi.


"Dek...Bisakah kita bicara berdua di luar sebentar?" bujuk Radja lagi.


"Aku sudah bilang untuk berapa kali mas? maaf aku tidak bisa dan sebaiknya kamu pergi, tolong jaga kenyamanan pemilik rumah ini, karena aku numpang tinggal di sini, dan hari juga sudah malam, tidak enak sama tetangga" tolak Riani lagi untuk ke-berapa kalinya.


"Tapi dek..." Radja tetap tidak mau bergeming.


"Mas, please..." kata Riani hampir menangis memohon agar Radja segera pergi.


Radja hanya berdiri tertunduk lemas menatap lantai, pikirannya semakin kalut.


"Randi, kalau begitu aku pulang dulu, aku harap kamu bisa memaafkan aku..." kata Nadine mendekat ke arah Randi.


"Aku bisa memaafkamu, tapi maaf...jika semenjak kejadian semalam itu penilain dan sikapku padamu kelak berubah..."


"Sekali lagi maafkan aku..." Kata Nadine menangis yang kemudian berlari keluar meninggalkan mereka semua.


"Kalau begitu aku juga masuk ke kamar, aku capek, ingin istirahat dan untuk kamu mas, terserah kamu mau kekeh tetap di sini atau pergi" kata Riani sambil berjalan masuk ke dalam kamar meninggalkan Randi dan Radja.


"Kalau begitu aku juga pamit dulu, karena aku tahu kalau aku adalah tamu yang tak di inginkan di sini, dan maaf sekali jika masalah kami mengganggu kalian..."


"Saya juga minta maaf, karena tidak bisa membantu..."


"Tidak apa-apa, saya titip istri saya dan tolong sampaikan maaf dan terima kasih saya pada Pekak dan Dadong..."


"Pasti akan saya sampaikan..."


"Terima kasih..."


"Sama-sama..."


Radja berjalan keluar, dengan langkah gontai dia menyusuri jalan setapak.

__ADS_1


Randi hanya melihat kepergian Radja hingga tidak terlihat lagi bayangan Radja yang di telan gelapnya malam...


...☆☆☆...


__ADS_2