KESETIAAN YG TAK TERBATAS

KESETIAAN YG TAK TERBATAS
Sahabat Masa Kecil.


__ADS_3

Setelah selesai sarapan Riani langsung masuk ke dalam toilet untuk membasuh dan merias kembali wajahnya, karena terlihat matanya masih sembab setelah tadi menangis.


Setelah selesai dia langsung kembali ke dalam kantornya, karena saat melihat jam tangannya waktu sudah menunjukkan pukul sembilan kurang lima belas menit, yang berarti sebentar lagi aktifitas kerja sudah di mulai.


.............


Sesampainya di kantor Riani langsung duduk di meja kerjanya dan menyibukkan diri dengan berkas-berkas di depannya.


Saat Riani tenggelam dalam kesibukannya tiba-tiba telepon di meja kerjanya berdering yang seketika membuyarkan konsentrasi dan keseriusan kerja Riani, diapun segera mengangkat teleponnya karena itu pasti telepon dari bagian lain atau kantor lain.


Terdengar di seberang sana suara yang ternyata dari bagian personalia yang menyuruhnya untuk segera datang ke kantornya.


Setelah menutup telepon Riani segera menuju ke kantor bagian personalia yang letaknya tidak jauh dari kantornya.


.............


Tidak butuh lama dia telah sampai di depan pintu kantor kepala bagian personalia, dengan hat-hati dia mengetuk pintunya.


"Silahkan masuk!" terdengar suara dari dalam, dengan pelan dia membuka pintu tersebut dan alangkah terkejutnya dia saat masuk dan melihat orang yang duduk di kursi sebagai kepala bagian personalia.


"Mi ro!" teriak Riani kegirangan, ya sudah hampir tujuh tahun dia tidak bertemu dengan sahabat masa kecilnya, mereka lost kontak saat Roro menikah dan di bawa suaminya tinggal di Aceh.


"Apa kabar sayang..." Jawab Roro tersenyum sambil berdiri dan merentangkan kedua tangannya.


Riani langsung menubruk dan memeluknya, seketika tangisnyapun pecah, rasa kerinduannya akan sosok kakak perempuan yang bisa untuk meluapkan dan berbagi bebanpun serasa terobati.


Rorop yang sangat tahu Riani mencoba menenangkannya dengan mengelus kepalanya penuh kasih sayang .


Dalam hatinya ada rasa iba dan sakit saat melihat orang yang sudah ia anggap adik perempuannya itu sedang kesusahan hatinya.


"Ada apa An an ku sayang, dan siapakah orang yang telah membuat adik tersayangku ini menangis?" tanya Roro yang usianya lima tahun lebih tua dari Riani.


Setelah tangis Riani reda, Roro mengajak Riani duduk di kursi depan meja kerjanya.


"Selama sepuluh tahun ini kamu kemana saja Mi ro?? Aku mencari tahu kabar tentangmu namun hasilnya nihil, keluargamu juga tidak tahu sama sekali" tanya Riani dengan masih sesenggukkan sisa dari tangisannya.


"Panjang ceritanya An an, kita bicarakan nanti saja, karena kelak kita masih punya banyak waktu untuk saling bercerita selama sepuluh tahun kita tidak bertemu, untuk sekarang kita bicarakan masalah cutimu, karena baru saja aku menerima berkasmu dari pihak HRD kalau kamu akan mengajukan cuti tahunanmu"


"Iya itu benar, eh...Ngomong- ngmong kamu sudah tau kalau aku kerja satu perusahaan denganmu tapi kenapa baru sekarang kamu muncul?! jahat banget sih kamu Mi ro"


"Bukan begitu masalahnya An an, aku juga baru tau kalau kamu kerja di sini setelah pihak HRD menyerahkan berkas pemindahan jabatanmu"


"Eh...Kamu belum jawab pertanyaanku, kapan dan kenapa kamu akan ambil cuti tahunanmu?" tanya Roro lagi.

__ADS_1


"Minggu depan aku ambil cutiku, aku cuma ingin menjernihkan hati dan pikiranku saja"


"Ada masalah apa memangnya?"


"Nanti aku ceritakan saat istirahat makan siang, ayo kita makan bareng untuk merayakan pertemuan kita kembali, biar aku yang traktir, bagaimana Mi ro?"


"Oke, ini kamu isi dulu formulir pengajuan cuti kamu"


"Oke terima kasih, nanti setelah aku isi aku antar ke kantormu, kasih aku nomer handphone atau Whats App mu"


"Oke!


"Sebentar lagi istirahat siang, aku balik ke ruanganku dulu, bye..."


"Ok bye..."


Riani meninggalkan ruangan Roro dan kembali ke ruang kantornya, meskipun tinggal beberapa menit lagi istirahat siang, tapi ia tetap kembali fokus meneliti berkas-berkas yang ada di depannya untuk dia cek kembali dan tanda tangani.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari arah luar.


"Ya Masuk..." Jawab Riani.


Saat pintu terbuka, ternyata yang datang adalah Teddy, dia segera masuk dan menutup pintu kembali.


"Oh kamu Ted...Ada apa?" tanya Riani sambil tetap sibuk dengan pekerjaannya.


"Sudah, terima kasih ya Ted"


"Sama-sama, ngomong- ngomong sudah waktunya makan siang nih...Gimana kalau kita makan siang bareng?"


"Tapi aku sudah ada janji makan siang bareng teman lamaku"


"Teman lamamu, siapa dia? boleh aku makan siang bareng denganmu dan bertemu dengannya?"


"Teman masa kecilku yang sudah hampir sepuluh tahun tidak pernah bertemu, kalau kamu mau ikut ayo kita berangkat sekarang, aku bereskan berkas-berkasku dulu"


"Aku bantu kamu" kata Teddy, tanpa menunggu jawaban dari Riani dia sudah ikut membereskan berkas-berkas yang masih berserakan di atas meja kerja Riani.


"Terima Kasih..."


"Sama-sama..."


.............

__ADS_1


Riani dan Teddy memasuki salah satu Restoran di sekitar kantor mereka setelah memesan tempat di salah satu sudut ruangan restoran mereka duduk sambil menunggu keadatangan Roro, yang sebelumya Riani sudah menghubunginya dan membuat janji untuk makan siang bareng di restoran tersebut.


"Apa temanmu akan datang?"


"Iya dia bilang akan datang, katanya dia sedang mengurus sesuatu dulu"


"Oh begitu...Apakah sekarang kamu baik-baik saya Ai?"


"Tentu saja aku baik-baik saja Ted, kenapa kamu tanya seperti itu?"


"Tidak apa-apa, Ai emmm...Terima kasih ya Ai atas lima tahunnya kamu telah menemaniku dan hingga sekarang aku masih menyesal kenapa melepasmu saat itu..."


"Aduh Ted...Sudah berapa kali aku bilang jangan pernah ungkit lagi masa lalu kita, aku juga sangat berterima kasih sekali atas lima tahun yang kamu berikan dan hari-hariku saat itu penuh warna, tapi please...Aku mohon jangan rusak persahabatan kita sekarang..."


"Maaf Ai jika aku sampai sekarang belum bisa melupakanmu, tapi satu janji yang aku pastikan padamu, selama kamu bahagia maka aku tidak akan mengganggu kehidupan keluargamu, dan aku akan lebih nyaman dengan hubungan persahabatan kita yang sekarang" ucap Teddy sambil menggenggam erat tangan Riani, meyakinkannya.


"Terima kasih atas pengertianmu Ted"


"Tapi kamu juga harus berjanji padaku, jika kelak kamu tidak bahagia maka kamu bisa datang kepadaku kapanpun, entah sebagai sahabat ataupun sebagai seseorang yang datang kembali dari masa lalumu"


Riani hanya mengangguk pelan dan tersenyum, sambil pelan melepaskan tangannya dari genggaman Teddy, karena dalam pikirannya, biar bagaimanapun dia masih berstatus istri dari Radja, rasanya kurang pantas apalagi di tempat umum seperti itu dan dekat dengan tempatnya dia bekerja, akan timbul gosip jika ada salah satu karyawan kantornya melihat dia dan Teddy seperti itu.


Dengan segera Riani mengangkat dan melambaikan tangannya setelah melihat Roro yang baru datang dan terlihat sedang mencarinya.


Setelah melihat keberadaan Riani dan Teddy, Roro langsung menghampiri mereka berdua dan langsung menyalami Teddy.


"Apa kabar Ted...Jadi Riani mantan pacar yang kamu maksud itu An an ku ini ya?"


Sapa Roro yang membuat Riani terkejut, ternyata Roro dan Teddy sudah saling mengenal dan bahkan terlihat akrab.


"Jadi kalian sudah saling mengenal satu sama lain ya?!"


"Kami sudah saling kenal, semenjak kita bertemu di Aceh tiga tahun yang lalu" jawab Teddy menjelaskan.


"Ya, kami bertemu di Aceh saat itu Teddy menolongku dan membawaku ke Jakarta hingga mencarikanku tempat tinggal dan pekerjaan"


"Kamu pernah pergi ke Aceh Ted?"


"Ya, saat itu kamu baru saja meninggalkanku dan menikah dengan Radja kemudian untuk menenangkan hatiku akupun berlibur ke Aceh dan secara tak sengaja bertemu dengan kak Roro yang butuh bantuanku"


"Sudah...Sudah ceritanya lanjutkan nanti saja, kita sebaiknya makan siang dulu" kata Roro memotong pembicaraan Teddy dan Riani.


Merekapun akhirnya menyantap makan siang mereka dengan di selingi obrolan ringan.

__ADS_1


Dalam hati Riani sangat bersyukur karena telah di pertemukan kembali dengan sahabat masa kecilnya.


...☆☆☆...


__ADS_2