
Riani tersentak dari tidurnya, karena telinganya mendengar suara ketukan pintu, dia duduk sebentar di sisi ranjang tidurnya sambil dengan matanya yang masih mengantuk.
Suara ketukan terdengar lagi, tapi kali ini ketukannya lebih keras dan di susul suara Randi yang memanggil namanya.
"Mbak...Mbak Riani!"
Dari nada suaranya terdengar Randi sangat mengkhawatirkannya.
"Bagaimana Bli, kok tidak ada jawaban dari dalam, Zoya khawatir nih..." Terdengar suara Zoya dari luar.
"Mungkin sebaiknya Bli dobrak saja pintunya, Bli juga sangat khawatir, takut terjadi apa-apa sama mbak Riani di dalam..." Jawab Randi.
Riani yang mendengar pintunya akan di dobrak segera bangun dari duduknya.
"Aku baik-baik saja, hanya ingin istirahat lebih lama, jadi kalian tidak perlu khawatir..." Kata Riani dari dalam kamarnya dengan suara agak keras.
"Syukurlah..." Ucap Randi dan Zoya bersamaan.
"Kamu boleh istirahat lagi nak, tapi sebaiknya isi dulu perutmu, keluar dan makan sianglah" ajak Dadong yang juga terdengar mengkhawatirkannya.
Mendengar kata-kata Dadong, Riani segera melihat jam di hand phonenya, ternyata hari sudah siang beranjak sore, pantas saja semua orang rumah mengkhawatirkannya.
"Baik Dadong, sebentar lagi saya keluar...Beri saya waktu untuk cuci muka dulu"
"Baiklah, kalian berdua ayo ikut Dadong..." Ajak Dadong lagi, menjauh dari kamar Riani.
Setelah Riani memastikan sudah tidak ada orang di depan kamarnya, dengan segera dia membuka pintu kemudian keluar menuju kamar mandi yang berada tepat di samping dapur dekat kamarnya.
Saat dia bercermin setelah mencuci wajahnya, dia melihat lingkaran hitam di wajahnya dengan mata yang masih sembab, karena semalaman hingga pagi dia menangis.
Akhirnya Riani pasrah, karena tidak bisa menghilangkan mata pandanya itu.
Setelah selesai membersihkan dan merapikan tempat tidurnya, dia segera menuju ke ruang makan di mana aroma masakan khas Dadong sudah tercium di hidung Riani yang membuat perutnya keroncongan.
"Sini nak makanlah dulu, biar Randi yang menemanimu makan, saking khawatirnya dia sampai lupa makan siang" kata Dadong, sambil mengambilkan nasi untuk Randi dan Riani yang sudah duduk menghadap meja makan.
"Itu karena mbak Riani masih pelanggan agen travel tempat Randi kerja, apa lagi sekarang mbak Riani tinggal di rumah kita jadi sudah sepatutnya kalau dia sekarang tanggung jawab kita" kata Randi terlihat salah tingkah.
"Iya, Pekak juga setuju dengan pendapat dari putu" sambung Pekak dari arah kebun samping rumah, dia sedang menyirami dan memetik cabe yang siap panen.
"Terima kasih sekali, dan saya juga minta maaf karena sudah sangat merepotkan keluarga ini..." Kata Riani sambil memegang lembut tangan Dadong.
"Nak, anggaplah kita semua keluargamu jadi jika ada masalah, kamu boleh menceritakannya pada kami dan kami siap mendengarkan semuanya" jawab Dadong sambil mengelus lembut kepala Riani.
"Dan kami akan senang sekali jika kami bisa membantumu..." Sambung Pekak lagi sambil berjalan ke arah mereka membawa satu ranjang kecil cabe merah yang baru saja dia petik.
"Sekali lagi terima kasih banyak atas perhatian kalian semua..." Kata Riani lagi dengan penuh terharu.
"Sama-sama nak, sekarang kalian makanlah dulu, Pekak dan Dadong mau mengantar hasil sawah dan kebun kami ke restoran wak Made dulu"
"Baik..." jawab Randi dan Riani, yang kemudian menyantap makan siang mereka.
__ADS_1
"Putu nanti selesai makan, coba kamu ajak nak Riani jalan-jalan cari udara segar" kata Pekak.
"Baik Pekak, siap laksanakan!" jawab Randi sambil makan dengan sebelah tangannya memberi hormat pada Pekak.
"Bagus...Bagus" jawab Pekak puas sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
.............
"Kami keluar sebentar, kalian pelan-pelan saja makannya" kata Dadong sambil menggendong satu ranjang hasil kebun mereka dengan kain, sedangkan dua ranjang lainnya Pekak ikat di dua sisi sepeda.
"Baik, kalian berdua hati-hati naik sepedanya" kata Randi.
"Hati-hati di jalan..." Kata Riani.
"Iya, kami akan hati-hati" jawab Dadong yang juga di jawab Pekak dengan anggukkan.
Setelah Dadong membonceng di belakang sepeda, dengan hati-hati dan pelan Pekak mengayuhkan sepedanya meninggalkan pekarangan rumah mereka.
.............
Seperginya Pekak dan Dadong Randi dan Riani pun melanjutkan makan mereka.
Hanya suara sendok yang beradu dengan piring mengisi kebisuan diantara mereka.
"Zoya kemana, dari tadi aku tidak melihatnya?" tanya Riani memecah keheningan.
"Dia tadi habis menerima telepon dari wak Made langsung pergi ke rumahnya, katanya sih ada yang perlu di bicarakan dengan dia dan Arga" jawab Randi manjelaskan.
"Emmm...Mbak gimana setelah habis makan ini, kita pergi jalan-jalan cari udara segar sekaligus buat mencari ketenangan?" tanya Randi pelan.
"Boleh juga, kebetulan hati dan pikiranku lagi suntuk banget, kamu sudah tahu lah alasannya kenapa..."
"Karena kejadian semalam kan mbak? jujur...Perasaan dan pikiran saya saat ini juga kurang lebih sama dengan mbak Riani..."
"Aku tahu kok, ada cerita diantara kamu dengan Nadine kan?"
"Ya kurang lebih seperti itulah mbak..."
"Kalau kamu tidak ingin cerita, jangan di paksakan, ayo kita beresin ini semua dulu setelah itu ayo kita keluar cari udara segar" ajak Riani sambil membereskan piring-piring yang kotor di meja makan kemudian membawanya ke dapur untuk di cuci.
Randi sendiri mengelap meja terlebih dahulu, kemudian menyusul ke dapur untuk membantu Riani.
Setelah selesai dan menutup semua pintu rumah, Randi dan Riani keluar jalan-jalan untuk menyegarkan pikiran.
Dan seperti biasanya mereka berdua menyewa sepeda untuk perjalanan mereka.
Dengan santai keduanya mengayuh sepeda mengelilingi pantai sekitar gili trawangan.
Bahkan Riani sempat mengabadikan berbagai momen melalui kamera digitalnya.
__ADS_1
Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti di salah satu pinggiran pantai untuk menikmati sunset atau matahari tenggelam, karena hari sebentar lagi menjelang petang.
Keduanya kemudian duduk dengan beralaskan pasir putih dan memulai obrolan mereka berdua.
"Jadi apakah Nadine itu pacar kamu?" tanya Riani membuka pembicaraan.
"Lebih tepatnya mantan pacar, tapi itu juga dulu waktu masih SMP, dan saat kelulusan kami putus"
"Oo jadi cinta monyet ceritanya, lalu kenapa kalian putus?"
"Ya seperti yang mbak Riani bilang tadi, karena cinta monyet, yang kami belum tahu betul apa arti cinta dan masih benar-benar belum tahu dengan perasaan masing-masing, jadi ya putus begitu saja..."
"Tapi...Dari yang aku lihat semalam dia sepertinya masih sangat mencintaimu..."
"Kalau memang dia masih mencintai saya, maka dia tidak akan tidur dengan laki-laki lain, apalagi maaf...Dia suami mbak"
"Deg!" jantung Riani seolah berhenti berdetak, karena kata-kata Randi ada benarnya, kalau memang Radja benar-benar masih mencintainya dia tidak akan melakukan hal itu.
"Mbak...Saya benar-benar minta maaf kalau kata-kata saya tadi menyinggung perasaan mbak Riani..." Ucap Randi menyadari kesalahannya.
"Tidak apa-apa kok Ran, kamu ada benarnya juga kok, jika memang suamiku masih mencintaiku, maka dia tidak akan melakukan itu, melakukan hal yang menyakiti dan melukai orang yang dia cintai..."
"Kenapa kita bisa sama-sama di sakiti oleh orang yang pernah kita cintai ya Mbak?"
"Hahhh...Aku juga tidak tahu Ran...Liburan yang aku inginkan bisa menikmatinya dengan tenang justru berakhir dengan kejadian yang menyakitkan..."
"Apa mbak ingin benar-benar ingin liburan yang tenang?"
"Tentu dan pasti itu, aku ingin menjauh dari orang-orang yang selalu menyakitiku, menjauh ke tempat yang tidak bisa di temukan oleh mereka, tempat yang benar-benar bisa untuk menenangkan hati dan pikiranku..."
"Kalau begitu besok aku antar mbak ke Gili Air, kebetulan di sana ada resort yang aksesnya tidak bisa sembarang orang bisa menginap di sana kecuali orang yang mempunyai kartu keanggotaan yang istimewa, dan kebetulan Pekak mempunyai kartu itu..."
"Bagaimana ceritanya Pekak bisa mempunyai kartu itu?"
"Aku juga tidak tahu, hanya saja dia pernah bilang, kalau suatu saat setelah aku dan Zoya menikah mereka akan menceritakan semua dan mewariskan kartu tersebut pada aku dan Zoya sebagai hadiah pernikahan kami nanti"
"Lalu...Bagaimana bisa aku menggunakan kartu istimewa tersebut sedangkan aku bukan keluarga kalian?"
"Kartu itu bisa di gunakan oleh orang lain tapi memang harus yang di tunjuk oleh si pemilik kartu tersebut"
"Jadi dengan kata lain, nanti Pekak yang akan membawaku ke resort tersebut?"
"Saya yang akan membawa mbak Riani, karena di salam kartu tersebut sudah terdaftar satu keluarga, termasuk aku, Zoya dan Dafong"
"Baiklah, kalau begitu nanti malam kita bicarakan mengenai hal ini dengan Pekak bagaimana menurutmu Randi?"
"Iya mbak, aku setuju, karena itu juga yang aku pikirkan tadi..."
Randi dan Riani pun saling tersenyum, keduanya menikmati pemandangan tenggelamnya sang surya yang mengiringi doa mereka agar cerita pahit keduanya segera berlalu dan menjadi sebuah ikatan yang sehati dan serasa di masa ke depannya nanti...
__ADS_1
...☆ ☆ ☆...