KESETIAAN YG TAK TERBATAS

KESETIAAN YG TAK TERBATAS
HAL BAIK


__ADS_3

Perlahan Arga mengayuh sepedanya, dia mulai mengurangi kecepatannya setelah Pekak yang berada di depannya memberi kode melalui lambaian tangannya untuk berhenti dan mampir ke salah satu rumah di tepi jalan.


Dengan menuntun sepedanya Pekak mengajak Arga dan Riani memasuki halaman luas rumah yang Riani tahu pemiliknya pastilah orang yang berada, itu terlihat dari bentuk dan besarnya rumah.


Pekak segera memencet bel rumah di samping pintu.


setelah dua kali Pekak memencet bel rumah, akhirnya pintupun terbuka.


Di balik pintu muncul wanita paruh baya, dengan sopan dia tersenyum dan mempersilahkan mereka bertiga untuk masuk ke dalam rumah.


"Apa Bapak sudah pulang Bi?" tanya Pekak pada wanita paruh baya yang merupakan pembantu di rumah tersebut.


"Sebentar lagi Bapak pulang, mari silahkan duduk dulu, saya permisi dulu, untuk membuat minuman" jawab Bibi mempersilahkan mereka untuk menunggu majikannya di ruang tamu.


"Baik Bi, terima kasih" jawab Pekak.


"Terima kasih Bi..." Jawab Riani dan Arga serempak.


Selang beberapa menit, Bibi kembali sambil membawa nampan yang berisi minuman dan makanan kecil.


Sesampainya di depan mereka, dia segera meletakkannya di atas meja dan menyuguhkan minuman dan makanan kecil tersebut.


"Silahkan di nikmati, saya permisi ke belakang dulu"


"Iya Bi, silahkan, sekali lagi terima kasih..." Jawab pekak lagi.


"Sama-sama, mari..." Pamit Bibi, kemudian dia berjalan meninggalkan ruang tamu dan mereka bertiga yang sedang menikmati secangkir teh hangat dan cemilan di tangan mereka.


.............


Tiga puluh menit lebih mereka menunggu kepulangan sang tuan rumah, hari pun sudah mulai gelap, karena khawatir dengan kondisi kesehatan Riani, Pekak berencana mengajaknya pulang, namun segera ia urungkan setelah terdengar suara sepeda memasuki halaman rumah yang membuat spontan serempak ketiganya menengok ke arah halaman rumah.


Terlihat oleh Riani pria seumuran ayahnya nampak berjalan memasuki rumahnya, meski dia sudah berumur namun masih terlihat tubuhnya yang gagah tegap, terlihat jelas bahwa pria tersebut sangat menjaga tubuh dan kesehatannya.


Namun saat Riani amati dengan teliti melihat wajah tersebut, dia merasa tidak asing dan sangat familiar, namun dia tidak ingat siapa?


"Hallo Bli! semua maaf sekali... Sudah menungguku sangat lama, tadi ada insiden kecil, istri keduaku ngambek" kata pria tersebut tertawa sambil mengacungkan ibu jarinya ke arah belakang yang menunjuk pada sepedanya.


Kemudian dengan akrab pria tersebut memeluk Pekak, lalu menyalami Arga dan Riani.


Saat pria tersebut menyalami Riani, matanya agak terbelalak seperti terkejut, dan menatap wajah Riani agak lama, namun kemudian ekspresi wajahnya kembali ke semula.


"Maaf sekali ya, sebentar aku pamit ganti baju dulu..." Kata pria tersebut berlalu menuju ke kamarnya, setelah Pekak mengangguk mempersilahkannya.


"Maaf Pekak...Riani kok merasa tidak asing dengan wajah om tadi, apa kita pernah bertemu sebelumnya dengan beliau?" tanya Riani penasaran.

__ADS_1


"Tentu saja putu dan semua orang mengenal dia, karena dia seorang penyanyi duo sekaligus aktor legendaris Roland, awal mula dia terkenal dulu, karena lagu duo yang mereka nyayikan dulu dengan kembarannya Ronand sangatlah terkenal hingga saat ini, tapi adiknya itu setelah menikah vakum dan lebih memilih terjun di dunia bisnis dan politik, sedangkan Roland sendiri lebih memilih tetap berkecimpung di dunia hiburan sebagai aktor dan aktif di dunia sosial"


"Oh...Pantas saja, saat melihat beliau Riani merasa sangat familiar dengan wajahnya, tapi...Kenapa beliau sekarang ada di sini, apakah sedang cuti?"


"Katanya dia sengaja cuti untuk beberapa hari agar bisa menghadiri pernikahan anak dari Ronand, sedangkan untuk jadwal syutingnya sendiri di tunda sementara"


Riani dan Arga hanya manggut-manggut mendengar cerita dan penjelasan dari Pekak.


"Maaf ya...Tadi saya sekalian mandi, maklum gara-gara istri ngambek, badan basah keringat semua..." Kata om Roland dengan tertawa renyahnya.


"Tidak apa-apaGus (panggilan dalam bahasa Bali untuk adik/laki-laki yang lebih muda)" jawab Pekak.


" Kalau tidak salah tadi kamu namanya Riani kan?" tanya om Roland.


"Iya om benar, saya Riani"


"Wajah kamu sangat mirip dengan seseorang yang pernah aku kenal dulu" kata om Roland sambil terus menatap wajah Riani yang membuatnya merasa canggung di tatap seperti itu oleh om Roland.


"Pah, ada apa memanggilku ke rumah?"


Suara seorang pria yang muncul tiba-tiba dari arah luar dan masuk ke dalam rumah.


"Oh! maaf, saya kira tidak ada tamu" kata pria muda tersebut, tidak enak hati.


"Kamu sudah datang, perkenalkan ini anak saya satu-satunya, namanya Nando, dialah nanti yang akan mengurus kerjasama kita nanti" kata om Roland.


"Wah, sudah berapa tahun aku tidak bertemu dengan Nando ya Gus? lihat sekarang dia terlihat gagah sepertimu" puji Pekak pada Nando sambil menepuk-nepuk pundaknya.


"Siapa dulu dong papahnya Bli..." Jawab om Roland sambil menepuk bangga dadanya dan tertawa renyah seperti biasanya.


"Ayo Nando, kamu duduklah ada hal penting yang akan kita bicarakan" perintah om Roland pada anaknya, Nando pun segera patuh dan langsung duduk di sebelah om Roland yang sudah terlebih dahulu duduk di samping Riani.


"Jadi bagaimana Bli rencananya?" tanya om Roland pada Pekak, membuka perbincangan serius.


"Seperti yang pernah kita bicarakan sebelumnya Gus, bahwa gagasan awal untuk membuka restoran adalah dari cucuku ini" jawab Pekak sambil menunjuk ke arah Riani.


Riani sendiri sangat terkejut setelah mendengar penjelasan dari Pekak pada om Roland, karena ide dia untuk membuka restoran waktu itu, barulah wacana, sedangkan untuk me-realisasikannya Riani masih butuh waktu dan dana yang cukup, karena untuk saat ini dia masih fokus pada hidupnya yang perlu dia benahi terlebih dahulu.


"Hmm...Jadi ide dan rencana untuk membuat restoran itu muncul darimu ya nak Riani?" tanya om Roland.


"Sebenarnya itu baru wacana om, kalau untuk pelaksanaannya sendiri saya rasa masih jauh, karena memang banyak yang harus di persiapkan" jawab Riani, sopan.


"Maksud kamu persiapan apanya? tolong jelaskan lebih rincinya pada om" tanya om Roland lagi.


"Salah satu persiapan utamanya adalah budged/modal, kemudian survei tempat dan survei makanan nusantara apa saja yang kiranya banyak di cari dan di minati oleh konsumen" jelas Riani, gamblang.

__ADS_1


"Oke, kalau begitu biar Bli saja yang menjelaskan mengenai rencana kita" kata om Roland sambil mempersilahkan Pekak untuk bicara, Riani yang sedari tadi masih bingung hanya menatap Pekak penuh tanya, sedangkan Pekak sendiri hanya tersenyum melihat ekspresi Riani.


"Ehem! sebenarnya begini nak Riani...Waktu itu kamu ada ide dan rencana untuk membuka usaha Restoran dengan menu masakan nusantara atau lokal, nah...Semenjak itu Pekak mengutarakan ide kamu pada Wak Made, Teddy dan om Roland, dan ternyata mereka semua menyambut ide kamu dan berminat untuk ikut andil sebagai penanam modal di restoran yang kamu rencanakan tersebut" kata Pekak dengan gamblang menjelaskan.


"Jadi maksud kalian, kita menjadi rekanan bisnis dan menggabungkan modal kita untuk membuka restoran?" tanya Riani terkejut.


"Betul sekali, dan untuk hal ini om serahkan pada anak om ini, kami percayakan pada kalian anak muda untuk menjalankannya..." Jawab om Roland sambil menepuk pundak Nando.


"Ya betul, biar nanti Randi dan Zoya ikut mengelola juga, karena Pekak juga berencana untuk ikut menanam modal, agar mereka berdua bisa belajar bersama kalian" sambung Pekak.


Riani sangat terkejut dengan apa yang mereka bicarakan, karena idenya yang bisa di bilang awalnya hanya iseng, malah di sambut serius oleh mereka semua.


"Tapi maaf...Apa tidak berlebihan kalau hanya untuk membangun sebuah restoran kecil harus butuh dana yang terlalu besar? sekali lagi maaf...itu menurut saya" kata Riani.


"Kita memang seharusnya tidak membutuhkan dana sangat besar jika untuk membangun restoran kecil, tapi kita berncana untuk membangun restoran sekelas bintang lima, jadi membutuhkan banyak modal" jawab Nando, menjelaskan.


"Tapi tema restoran yang aku rencanakan adalah masakan nusantara yang merakyat, jadi dari kalangan manapun bisa menikmatinya dengan harga yang terkangkau..." Kata Riani, merasa kurang setuju dengan ide Nando.


"Kami memang akan membangun restoran sekelas bintang lima karena untuk kenyamanan konsumen, tapi untuk harga dan desainnya sendiri kami sesuaikan dengan tema dan untuk semua kalangan, jadi mba Riani tidak perlu khawatir" jawab Arga yang sedari tadi hanya diam menyimak.


"Tapi...Apa tidak dari restoran kecil dulu untuk memulai usaha bisnis ini, karena kita kan belum tahu prospek ke depannya, apakah restoran bisa berkembang pesat atau malah sebaliknya?" usul Riani agak ragu dan takut dengan konsekwensinya jika restoran tidak berjalan lancar.


"Om optimis dan percaya kalau restoran kita nanti akan berjalan lancar dan berkembang pesat, karena yang menjalankan adalah kalian para anak-anak muda yang mempunyai talenta bisnis di bidang kalian masing-masing" jawab om Roland tersenyum pada Riani yang membuat hati Riani agak tenang.


"Betul putu, jika kita akan memulai suatu bisnis, berjalanlah tanpa ragu-ragu, optimis dan yakin kalau apa yang akan kita lakukan akan mencapai hasil yang baik" sambung Pekak yang setuju dengan pendapat om Roland.


"Jadi om Roland, wak Made dan Pekak setuju dan percaya jika kami yang mengelola bisnis restoran kita?" tanya Riani masih belum yakin.


"Kami semua setuju nak..." Jawab om Roland sambil mengelus lembut kepala Riani yang duduk di sampingnya.


Ada perasaan aneh tapi nyaman dan hangat mengalir di hati Riani.


"Nanti untuk survei tempat dan makanan kita akan bagi tugas, untuk surat perjanjian dan pembagian saham, proposal, ijin tempat dan kelengkapan datanya lainnya biar saya dan Arga yang mengurusnya, bagaimana?" tanya Nando.


"Saya setuju, karena itu memang bukan bidang saya" jawab Riani.


"Kalau untuk putu dan Teddy, kalian kan ahlinya di bidang desain, jadi untuk model dan bentuk restoran dari desain interior dan eksterior biar kami serahkan pada kalian berdua" kata Pekak mengusulkan.


"Dan untuk bagian promosi, yang paling cocok dengan bidang ini adalah Randi dan Zoya, bagaimana Bli?" kata om Roland mengusulkan.


"Itu yang baru saja akan saya katakan, jadi semua melakukan pekerjaannya sesuai dengan keahlian dan bidangnya kalian masing-masing" jawab Pekak dengan wajah yang terlihat sumringah dan penuh semangat.


"Oke kalau begitu deal! semoga kerja sama kita ini lancar dan memberi keuntungan bersama hingga menciptakan hubungan kerja sama yang lebih solid diantara kita" doa om Roland.


"Amin...!" Ucap semua orang yang berada di dalam ruang tamu tersebut.

__ADS_1


Suasana suka cinta memenuhi ruangan tersebut, hati Riani pun sangat bersyukur dengan hal baik yang terjadi padanya hari ini...


...☆☆☆...


__ADS_2