
Riani membuka matanya saat dia merasa ada yang mengusap pipinya dengan lembut, ternyata Teddy sudah kembali.
Riani tidak menyadari mulai kapan dia tertidur.
"Ayo makan bubur dulu, setelah itu minum obatnya" kata Teddy yang sudah duduk di samping Riani sambil membawa teh hangat dan bubur di kedua tangannya.
Riani kemudian duduk, Teddy memberikan teh hangat pada Riani yang langsung di minum olehnya.
"Biar aku makan sendiri Ted" tolak Riani saat Teddy akan menyuapinya.
"Lihat saja deh, nanti kamu pasti mual-mual bila makan sendiri" kata Teddy penuh percaya diri sambil menyerahkan mangkuk bubur pada Riani.
"Itu kan karena sugesti saja Ted, aku juga tidak mau manja, nantinya juga aku yang susah..." Jawab Riani sambil menyendok bubur di dalam mangkuk.
Namun baru saja dia menghirup uap dari bubur yang masih panas, benar saja Riani merasakan mual yang teramat sangat.
Akhirnya Teddy langsung mengambil paksa mangkuk bubur yang ada di tangan Riani, kemudian dia menyuapinya dengan sabar dan telaten.
"Aku tidak keberatan jika kamu manja kepadaku...Dan apa salahnya jika aku memanjakan orang yang berarti bagiku..." Kata Teddy sambil mengelap mulut Riani penuh kasih sayang.
"Terima kasih Ted..." Ucap Riani dengan berlinang air mata, hatinya merasa sangat terharu sekaligus sedih, karena selama dia menikah dengan Radja dan Riani sakit tidak pernah sekalipun memperlakukannya sesabar dan setelaten Teddy.
"Kenapa kamu menangis Ai?" tanya Teddy lembut dengan wajah bingungnya.
Di lapnya pipi Riani yang basah karena air mata.
Riani hanya menjawab dengan gelengan kepalanya.
Dalam hatinya memang ada penyesalan kenapa akhirnya dia menyerah saat Teddy meninggalkannya dan lebih memilih mencari penggantinya.
Tapi nasi sudah menjadi bubur, tidak mungkin lagi dia berharap lebih pada hubungannya dengan Teddy, dirinya juga sudah bersuami.
Apalagi untuk rencana ke depannya dia dan Radja akan berusaha rujuk dan memperbaiki hubungan mereka.
Setelah Riani selesai makan kemudian meminum obatnya, Teddy segera menyuruh Riani untuk kembali beristirahat, sedangkan Teddy pamit keluar sebentar.
Mungkin karena efek samping obat yang ia minum, matanya sangat berat dan dia tidak bisa menahan kantuknya, hingga akhirnya dia terjatuh dalam pelukan mimpi yang mengembalikan pada kenangan masa lalunya...
Dimana dia sedang berlari sambil berteriak dan menangis sejadinya saat melihat mobil yang di tumpangi ayahnya berguling hebat setelah bertabrakan dengan mobil kontainer.
Sesampainya di mobil tersebut terlihat olehnya darah yang berceceran di mana-mana.
Dengan tangan bergetar di ambilnya ponsel dan dia segera menghubungi ambulance dan polisi.
Kemudian setelah itu dia mencari ayahnya, saat di temukan, ayahnya berlumuran darah dan terlihat tidak sadarkan diri.
"Ayah..." Bisik Riani dengan tangisnya sambil menggoyangkan tubuh ayahnya yang terjepit tersebut.
beberpa menit tidak ada gerakan dari tubuh ayahnya, hingga Riani berkali-kali mencoba memanggil ayahnya lagi.
Usaha Riani akhirnya berhasil, sang ayah membuka matanya.
"Ayah bertahanlah, ambulance segera datang..."
__ADS_1
Dengan pelan di angkatnya kepala pria paruh baya itu dan di letakkannya di atas pangkuanya, Riani tidak perduli dengan bajunya yang terkotori dengan darah orang yang sangat dia kasihi itu.
"Kamu harus jadi wanita yang kuat dan gantikan ayah menjaga ibu dan adik-adikmu ya nak..." Ucap sang ayah dengan suara yang tersendat-sendat dan lirih.
"Ayah yang harus kuat dan jangan berkata yang tidak-tidak, bantuan segera datang..."
"Ayah sudah tidak kuat lagi nak...Jadilah anak yang baik, kamu anak kesayangan ayah...Jaga amanah ayah..."
"Ayah! Ayah…!" Teriak Riani yang langsung bangun dari tidurnya.
Seluruh wajah dan tubuhnya banjir keringat, matanya berkeliling menyapu seluruh ruangan kamarnya, di lihatnya Teddy tidur di atas sofa, mungkin saking lelahnya dia tertidur dengan pulasnya hingga tidak bangun saat Riani teriak dan terbangun dari tidur dan mimpi buruknya tadi.
Sedangkan di sudut ruangan dekat pintu terlihat olehnya kursi roda, ternyata tadi saat Teddy ijin keluar sebentar mencari kursi roda untuknya, ketulusan cinta Teddy membuat beban berat di hati Riani, karena biar bagaimanapun, Riani tidak bisa memberi hubungan lebih pada Teddy dan akan tetap sama hasilnya yaitu melukai hati Teddy.
Dan untuk menghindari melukai Teddy lebih dalam, Riani lebih memilih hubungan yang nyaman yaitu persahabatan agar kejadian sebelumnya tidak terulang lagi, dan tidak memberikan asa yang abu-abu untuknya.
Dengan pelan Riani menurunkan kakinya dari ranjang, lalu dia jalan pelan berjingkat menuju kamar mandi, di buka dan di tutupnya pintu sepelan mungkin agar tidak bersuara yang nantinya akan membangunkan tidur nyeyak Teddy.
Selesai dari kamar mandi Riani keluar dan berjalan ke arah Teddy, wajah inilah yang dia tidak bosan-bosannya ingin selalu melihatnya dari lima tahun bersama menjalin kasih hingga delapan tahun berlalu.
Setelah memberi selimut pada tubuh Teddy, dengan tatapan sedih, Riani kembali ke ranjangnya, berbaring kembali dengan tatapan kosong ke arah jendela yang tirainya di biarkan terbuka.
Dia teringat kembali mimpi buruk dari kejadian masa lalunya yang sangat pahit baginya.
Di tatapnya pemandangan malam yang gelap tanpa cahaya apa pun, alam seolah mengerti dengan keadaan hati yang sedang Riani rasakan saat ini.
.............
Riani terbangun saat telinganya menangkap suara denting benda yang saling bertabrakan, saat matanya terbuka terlihatlah Teddy dan Randi sedang mempersiapkan dan meletakkan sarapan pagi di atas meja.
"Maaf kalau keberisikan kami membangunkanmu Ai" ucap Teddy.
"Tidak apa-apa, selamat pagi..."
"Selamat pagi" jawab keduanya serempak.
"Kalau begitu aku ke kamar mandi dulu..." Kata Riani.
Dengan pelan dia turun dari ranjangnya.
"Eit! eit! jangan turun dulu, biar aku papah, aku takut nanti kamu jatuh lagi!" seru Teddy, suaranya yang agak keras mengagetkan Randi dan Riani yang seketika keduanya melihat ke arah Teddy.
"Maaf, tadi aku spontan kaget" kata Teddy lagi, menyadari kesalahannya.
"Tidak usah Ted, aku bisa jalan pelan-pelan kok..."
"Tapi Ai..."
"Ted..." Kata Riani sambil melirik ke arah Randi yang sedang sibuk membereskan barang-barang Riani yang akan di bawa keluar resort.
Menyadari itu Teddy hanya pasrah dan membiarkan Riani berjalan sendiri menuju kamar mandi.
Namun saat Riani baru beberapa langkah berjalan, Randi dengan segera berjalan cepat ke arah Riani untuk menolongnya saat dia menyadari kalau Riani sedang berjalan menuju kamar mandi dengan tertatih-tatih.
__ADS_1
"Sini mba Randi bantu" kata Randi sambil dengan gerakan cepatnya berusaha menuntun Riani dengan memegang lengannya, Riani tidak bisa menolak, dan saat dia melihat ke arah Teddy dia tahu dari sorot matanya ada kemarahan dan kecemburuan di sana.
"Terima kasih ya Ran..." Ucap Riani sambil kembali melirik ke arah Teddy yang masih memasang wajah masam.
Setelah sampai di kamar mandi, Randi melepaskan tangannya dan membiarkan Riani masuk sendiri ke dalam sana.
Sekeluarnya Riani dari kamar mandi, langsung di sambut Teddy dengan menuntun pelan tubuh Riani ke arah meja yang sudah penuh dengan menu sarapan.
"Lho! Randi kemana Ted?" tanya Riani sambil matanya mencari di berbagai sudut ruangan tapi tidak menemui sosok Randi.
"Kamu itu Ai, sudah ada aku kok masih mencari Randi sih?" kata Teddy merajuk tanpa menjawab pertanyaan Riani.
"Ted, Randi itu sudah aku anggap seperti adikku sendiri, karena pekak dan dadong juga sudah menganggapku anaknya sendiri, jadi buat apa kamu iri sama dia?" jawab Riani sambil duduk pelan di sofa.
"Aku bukannya iri, tapi aku cemburu Ai..." Jawab Teddy terus terang yang pelak membuat hati Riani kaget dan sakit bagai di sayat sembilu.
"Kamu ini Tedd..." Belum selesai Riani berkata, suara bel dari luar pintu berbunyi.
"Itu paling Randi sudah kembali, tadi dia katanya mau mengurus cek out kamar kamu..." Kata Teddy sambil berjalan ke arah pintu dan membukanya.
Terlihat Randi yang langsung masuk ke dalam.
"Apa semuanya sudah beres Ran?" tanya Riani setelah Teddy dan Randi sudah duduk.
"Sudah mba, setelah kita selesai sarapan kita bisa langsung keluar resort, Cidomo yang kita sewa juga sudah siap menunggu di depan resort" jawab Randi dengan detail.
"Baiklah, terima kasih banyak ya Ran, ayo sebaiknya kita sarapan" kata Riani sambil mengambilkan makanan untuk Teddy dan Randi.
"Biar aku suapin Ai..." Kata Teddy menawarkan diri.
"Uhuk! uhuk!" Riani langsung tersedak teh hangat yang baru saja dia minum setelah mendengar perkataan Teddy barusan, membuat Teddy dan Randi terkejut sekaligus khawatir.
Dengan lembut Teddy menepuk-nepuk punggung Riani.
Melihat pemandangan tersebut terbesit ada rasa cemburu di hati Randi, dia melihat seolah ada hubungan khusus diantara Teddy dan Riani, apalagi setahu Randi kalau Teddy adalah mantan pacar Riani, jadi akan sangat mungkin jika perasaan mereka berdua kembali bersemi.
"Ehem! ehem! Riani berdehem sambil memberi tanda pada Teddy agar jangan bersikap berlebihan di hadapan Randi, karena Riani tidak mau ada salah paham dan menilai Riani tidak baik.
"Sejak sakit Riani mulai mempunyai kebiasaan makan yang sedikit unik, setiap kali dia makan sendiri pasti akan mual-mual dan saat aku suapin dia tidak mual-mual lagi, itu sudah terjadi berkali-kali" kata Teddy berusaha menjelaskan agar Randi tidak salah paham dengan sikapnya pada Riani.
Saat Teddy sedang menjelaskan pada Randi, tanpa sepengetahuan mereka Riani mencoba memakan buburnya dan lagi, Riani mual-mual.
"Maaf jika membuat kalian tidak nyaman makannya..." Kata Riani sambil berjalan ke arah kamar mandi.
Setelah selesai membasuh mulutnya dia kembali duduk.
"Kalian lanjutkanlah sarapannya, aku minum teh hangat saja" kata Riani.
"Tapi kamu harus isi perutmu Ai, karena nanti juga harus minum obatmu..." Kata Teddy.
"Kalau begitu aku makan roti ini saja dulu, Ted" kata Riani sambil memakan roti kering yang barusan dia ambil di laci dekat ranjangnya.
Da karena tidak mual-mual saat makan roti kering tersebut, akhirnya mereka bertiga melanjutkan sarapan mereka dengan di iringi suara nyanyian alam di pagi hari...
__ADS_1
...☆☆☆...