KESETIAAN YG TAK TERBATAS

KESETIAAN YG TAK TERBATAS
BAGAI RAGA TAK BERNYAWA (21+)


__ADS_3

Riani selesai menyisir rambutnya, namun dia tetap enggan untuk beralih dari jendela kamarnya, dengan bibir yang tersungging senyuman dia melihat Zoya dan Arga tanpa sengaja saling berciuman, meskipun hanya beberapa detik saja, namun suskes membuat keduanya malu-malu, apalagi semuanya melihat kejadian itu dan bersorak sorai.


"Apa yang sedang kamu lihat, hingga membuatmu terseyum...?"


Suara Ethan yang tiba-tiba dan pelukannya yang erat di bagian belakang tubuh Riani, membuat Riani terkejut dan membalikkan tubuhnya pada Ethan, namun selanjutnya kejadian tak terduga membuat Riani semakin terkejut.


Saat Riani membalikkan tubuhnya dengan cepat Ethan mencium lembut bibir Riani untuk seperkian detik Riani termangu dengan gerakan Ethan yang tiba-tiba seperti itu, namun dengan segera dia tersadar dan langsung mendorong tubuh Ethan dan reflek menampar wajahnya.


"Apa yang kamu lakukan?! kata Riani dengan suaranya yang menahan kemarahan.


"Kenapa Riani, kamu tidak ingin bersamaku?"


"Josh?! Riani terkejut saat tahu kalau kepribadian Fa'i sudah berganti dengan Josh.


"Iya aku, kenapa? takut?" kata Ethan dengan senyum nakalnya dan berjalan menghampiri Riani lagi.


Riani spontan mundur, namun tubuhnya tersudut di pojok ruangan.


"J...Josh! apa yang akan kamu lakukan?" tanya Riani yang mulai merasa takut saat melihat senyum nakal dan tatapan liar mata Ethan.


"Apa yang ingin aku lakukan? tentu saja aku ingin bersamamu hari ini..." Jawab Ethan dengan tubuh kekarnya yang memepet tubuh Riani yang tersudut.


"Tentu saja aku bisa bersamamu, tapi sebaiknya kita keluar, tidak enak sama yang lain jika mereka melihat kita berdua seperti ini dalam satu kamar maka akan ada salah paham" Bujuk Riani dengan suaranya yang berusaha sebisa mungkin untuk bisa lebih tenang.


"Tapi aku ingin bersamamu dalam artian yang sesungguhnya..." Bisik nakal Ethan di telinga Riani.


"Maksud kamu Josh?" tanya Riani dengan suaranya yang tersekat di tenggorokan, perasaannya sudah mulai tidak tenang dan was-was saat mendengar kata-kata Ethan.


"Tentu saja aku ingin memilikimu seutuhnya sehingga kamu bisa bersamaku selamanya..."


"Josh!" Riani tersentak dengan perkataan Ethan, dia langsung berusaha mendorong lagi tubuh Ethan yang masih menghimpit tubuhnya, namun tubuh Ethan tidak tergeser sedikitpun.


Firasat Riani tidak enak, melihat pribadi Josh yang saat ini tidak bisa dia kontrol.


Dengan sekuat tenaga Riani kembali mendorong tubuh Ethan, namun Ethan justru semakin kuat menghimpit tubuh Riani hingga membuatnya merasa sesak bernafas.


"Josh lepaskan, nanti yang lain melihat kita, terutama Viola istrimu..." Suara Rini lemah karena sudah tidak ada kekuatan lagi untuk mendorong tubuh Ethan.


"Kamu takut yang lain atau Teddy melihat kita?" tanya Ethan dengan senyum sinisnya.


"Kenapa kamu membawa nama Teddy yang tidak ada sangkut pautnya Josh?!


"Tentu saja ada, aku lihat kamu dan dia sangat mesra tadi saat kalian berenang"


Riani terkejut, ternyata Ethan melihat dia dan yang lainnya berenang, yang berarti saat Viola ke kamar Ethan tadi, seharusnya Ethan dalam keadaan sudah terbangun.


Namun bisa juga saat Viola ke kamar Ethan, dia sudah tidur kembali.


"Aku dan dia hanya berenang biasa, apalagi di sana juga ada Arga dan yang lainnya..."


"Tapi aku cemburu melihatmu dengannya, kamu tidak boleh dekat dengan Teddy ataupun laki-laki lain" jawab Ethan yang kini memeluk erat tubuh Riani.


"Josh lepaskan! nanti Viola istrimu melihat kita, aku tidak ingin dia salah paham!"

__ADS_1


"Aku tidak perduli dengan Vio! aku hanya perduli padamu..." Jawab Ethan yang semakin erat memeluk tubuh Riani dan mendorong tubuh Riani hingga terjatuh di atas kasur.


Riani ketakutan hingga dia berusaha melepaskan diri, berbekal pelatihan saat dia ikut pencak silat dulu, dengan sekuat tenaga kaki Riani berusaha menolak tubuh Ethan yang sudah gelap mata dengan *****, namun sia-sia, tenaga Riani tidak bisa melawan kuatnya tenaga Ethan.


"Aku mohon Josh lepaskan aku..." Pinta Riani memohon pada Ethan dengan air mata yang sudah mengalir.


"Melepaskanmu? jika aku melepaskanmu maka kamu akan dengan leluasa bersama Teddy atau pria lain, aku harus memilikimu..." Jawab Ethan alias Josh sambil semakin berani menjelajahi tubuh Riani.


Melihat gelagat Ethan yang begitu, Riani berpikir tidak ada cara lain untuk menyelamatkan harga diri dan kehormatannya selain berteriak.


"To...mph...mph!"


Seolah Ethan tahu apa yang akan di lakukan Riani, dengan gerak cepat Ethan menutup mulut Riani dengan mulutnya dan mengikat tangan Riani dengan syal yang Ethan pakai.


Riani meronta ketakutan, dengan kuat dia menggigit bibir Ethan hingga berdarah...


"Segitu tidak maukah kamu untuk bersamaku Riani..." Kata Ethan dengam suara lirih dan tatapan mata sedihnya, kemudian dia mengusap darah di bibirnya.


Riani hanya menangis dengan sisa tenaganya yang tetap meronta di bawah tekanan tubuh kuat Ethan yang masih di atas tubuhnya.


Dengan gerak cepat Ethan mengikat dan menutup mulut Riani dengan kain.


"Maafkan aku Riani...Hanya ini cara satu-satunya untuk bisa memilikimu seutuhnya..." Kata Ethan dengan air matanya yang juga berlinang.


Tangis Riani yang kehormatannya sebagai wanita di renggut paksa Ethan yang saat ini beralih kepribadian sebagai Josh.


Tangis penyesalan pun mengiringi ******* Josh yang terpaksa harus merenggut kehormatan dan harga diri Riani, namun sebenarnya di lubuk hatinya yang terdalam ada perasaan berdosa yang teramat sangat, mungkin itu dari sisi pribadi yang lainnya dari Ethan.


.............


Riani langsung bangun dari ranjangnya setelah ikatan di mulut dan tangannya terlepas dan segera menuju ke kamar mandi meninggalkan Ethan yang tertidur pulas setelah kelelahan memperkosa Riani.


Rianipun mandi dan membersihkan tubuhnya dengan tangisan perasaan penuh benci dan jijik pada tubuhnya yang sudah kotor.


Selesai mandi dan berganti baju, dengan tergesa-gesa Riani keluar dari kamarnya menuju atas kapal, ada ketakutan dalam hatinya jika Ethan bangun nanti dia akan memperkosanya lagi.


Sesampainya di atas, terlihat olehnya semua orang masih asik berenang dan bersnorkeling ria.


Teddy terlihat akrab bersama Randi dan Viola, mereka bercengkrama terlihat bahagia, rupanya Randi sudah sedikit menghilangkan rasa traumanya.


Sedangkan Zoya masih berkutat dengan pelampung renangnya dengan berpelukan tubuh Arga.


Riani duduk lemas dengan mata yang masih basah air mata, meratapi kejadian yang menimpa dirinya, menatap lautan luas yang bersih dan kosong tanpa adanya perahu yang lewat, sekosong hati dan pikirannya yang mungkin terlalu berat beban pikiran karena kejadian barusan yang ia alami.


Tanpa dia sadari Teddy sudah naik ke atas dan menghampirinya.


"Ai, kamu kenapa menangis?! tanya Teddy terkejut melihat orang yang sangat ingin dia lindungi itu menangis.


"Ted, aku ingin pulang sekarang!" pinta Riani mendesak Teddy.


"Sebenarnya apa yang telah terjadi Ai?" tanya Teddy bingung dan cemas.


"Pokoknya aku mau pulang, kalau kamu tidak mau, biar aku pulang sendiri!" jawab Riani dengan suara agak keras, membuat semua orang yang berada di bawah langsung melihat ke arah Riani dan Teddy.

__ADS_1


Melihat ada sesuatu yang tidak beres, Viola, Arga, Randi dan zoya pun bergegas naik ke atas kapal.


"Ada apa kak?" tanya Viola mendekati Riani yang sedang menyeka air matanya.


"Vi, aku ingin pulang sekarang, aku mohon?" pinta Riani memohon.


"Baiklah, aku ngomong sama kapten sekarang" jawab Viola mengerti, dia langsung menuju ke ruang kemudi, dia tidak akan bertanya dan mendesak Riani mengenai apa yang telah terjadi pada dirinya, karena Viola yakin pasti ini berhubungan dengan suaminya, dan dia yakin sekali kalau telah terjadi sesuatu diantara Ethan dan Riani.


"Kak, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Zoya khawatir yang langsung memeluk Riani.


"Sebenarnya apa yang telah terjadi mbak?" tanya Randi yang juga mendekati Riani, sedangkan Arga segera menyusul Viola, di hatinya juga merasa kalau apa yang terjadi dengan Riani pasti ada hubungannya dengan Ethan.


Riani tidak menjawab satu pertanyaanpun dari Zoya, Randi dan Teddy, mulutnya bungkam seribu bahasa dengan tatapan mata yang kosong.


"Ria-ku..." Suara Ethan yang datang dari arah dalam kapal seketika mengejutkan Riani dan yang lainnya.


Riani melihat ekspresi menyesal dan menyedihkan di wajah Ethan, namun rasa trauma dan ketakutannya pada Ethan tiba-tiba muncul, hingga sakit mual-mual dan ingin muntahnya kembali menyerang Riani.


"Hoek! hoek!" Riani langsung berjalan cepat meninggalkan tempat itu sambil menutup mulutnya, dia juga tidak menghiraukan dan mencoba menghindari Ethan yang menghampirinya.


Dengan bergegas Zoya menyusul Riani yang berjalan menuju kamarnya.


Sesampainya di kamar Riani langsung menuju toilet dan memuntahkan semuanya, berusaha menenangkan hati dan melawan rasa takut juga trauma dengan kejadian yang baru saja dia alami.


"Kak..." Zoya menghampiri Riani dan memijat-mijat tengkuk Riani.


Sedangkan Teddy baru masuk ke dalam kamar Riani sambil membawa gelas yang berisi air minum hangat untuk di berikan pada Riani, pandangannya mengelilingi ranjang Riani yang ternyata masih berantakan dengan selimut yang masih belum dilipat, dan itu bukan kebiasaan Riani yang suka kebersihan dan selalu rapi.


"Sebenarnya apa yang telah terjadi padamu Ai? melihatmu seperti itu, perasaanku ikut menderita..." Tangis Teddy dalam batinnya.


Melihat Riani dan Zoya keluar dari toilet, dengan segera Teddy menyerahkan gelas yang dari tadi masih di pegangnya.


"Minumlah air hangat ini dulu Ai..."


"Terima kasih Ted..." Riani langsung menghabiskan air hangat di gelas dalam sekali tegukan.


"Masih mual dan pusing Ai?" tanya Teddy khawatir, melihat wajah Riani yang pucat dan tubuhnya yang lemas.


"Masih pusing dan tubuhku juga lemes banget Ted..."


"Obatnya masih ada kan Ai?"


"Masih ada..."


"Ya sudah, kamu minum obatnya, setelah itu kamu baringan dulu saja Ai..."


"Iya, aku istirahat di sofa saja" kata Riani sambil berjalan menuju sofa yang berada dekat jendela di sisi lain ruangan kamarnya.


Teddy dan Zoya saling bertatapan, mereka berdua melihat ke arah Riani yang menatap kosong ke arah luar jendela yang pemandangannya mulai kabur karena kapal sudah mulai berjalan dengan kecepatan penuh.


Teddy dan Zoya hanya bisa pilu dalam hati manakala melihat Riani yang seolah bagai *raga t**ak bernyawa*...


...☆☆☆...

__ADS_1


__ADS_2