KESETIAAN YG TAK TERBATAS

KESETIAAN YG TAK TERBATAS
TANDA KENANGAN KITA


__ADS_3

Flash Back Bagian 4


Riani tidak bisa tidur, atau sekedar memejamkan matanya, hatinya gelisah, karena besok pagi buta setelah subuh Ethan akan pindah bersama keluarganya di Jakarta.


Saat dia melihat jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul sebelas malam, dan karena dia tidak dapat tidur sama sekali, akhirnya dia membaca komik online favorite dia, namun baru beberapa episode membaca tiba-tiba Ethan menelponnya melalui panggilan video.


Segera Riani angkat teleponnya, namun karena hatinya sangat sedih, dan takut bila melihat wajah Ethan akan membuatnya menangis, Riani mengalihkan kamera ponselnya ke arah lain dan menyembunyikan wajahnya.


"Sayang...Mana wajahmu? aku ingin sekali melihatmu..." Tanya Ethan dengan suara memelasnya.


"Kenapa kamu menyembunyikan wajahmu?" tanya Ethan lagi setelah menunggu beberapa saat, namun tidak ada respon dari Riani dan tetap tidak mau menampakkan wajahnya.


"Ria ku sayang...Apa kamu tidak ingin melihatku sebelum aku pergi?" tanya Ethan dengan suaranya yang berat menahan perasaannya.


"Aku ingin sekali melihatmu, tapi...Aku takut bila melihat wajahmu aku akan menangis dan tidak merelakanmu untuk pergi sayang..." Jawab Riani dengan suara terbata-bata menahan tangisnya, namun tetap tidak mau memperlihatkan wajahnya pada Ethan.


"Justru jika hingga aku berangkat nanti, aku tetap tidak bisa melihatmu maka aku tidak akan tenang dan aku pasti akan gila karena merindukanmu...Aku mohon sayang..."


"Tapi aku tidak akan mampu melepasmu jika aku melihat wajahmu nanti, tidak akan rela kamu pergi..." Jawab Riani dengan isak tangisnya hingga terdengar oleh Ethan.


"Jangan nangis sayang...tunjukkan wajahmu" kata Ethan membujuk Riani.


"Tidak mau..." Tolak Riani masih dalam isak tangisnya.


"Kalau kamu tetap kekeh tidak mau memperlihatkan wajahmu, maka lebih baik aku tutup teleponnya"


"Jangan!" jawab Riani dengan agak berteriak, dia pun langsung memperlihatkan wajahnya dengan mata yang sudah sembab karena menangis.


"Jangan menangis dong sayang...Jika melihatmu seperti ini, membuatku jadi berat untuk pergi" ucap Ethan yang sangat sedih melihat kekasihnya menagis tersedu-sedu di hadapannya.


"Aku...Aku pasti akan merindukanmu, jujur...aku takut kita tidak bisa bersatu lagi dan kita tidak bisa bertemu lagi nantinya..." Ucap Riani dengan tangisnya yang semakin tersedu-sedu, hingga membuat bingung Ethan yang melihatnya.


"Kamu jangan begitu sayang...Yakinlah akan kekuatan hati, perasaan dan ikatan cinta kita, dan juga yakinlah kita pasti akan bisa bertemu dan bersatu lagi..." Kata Ethan yang berusaha menenangkan Riani.


"Aku tahu, tapi entah kenapa hatiku tidak yakin dan merasa takut Fay-Ri ku..." Jawab Riani yang terbata-bata dan sesenggukan.


"Sssttt...Kamu jangan ngomong kayak gitu, kita harus yakin kalau kita pasti bisa bersatu lagi, entah esok, lusa, tahun depan atau bahkan sampai kapanpun itu"


"Tapi jika takdir Tuhan berkehendak lain, maka kita harus bagaimana?"


"Maka kita tidak bisa menolaknya, tapi bagiku jika memang itu terjadi maka aku lebih memilih menjaga hatiku dan berusaha setia meski mungkin akhirnya kita ada pasangan masing-masing nantinya..."


"Jadi kamu akan menikahi wanita yang kelak menjadi takdir jodohmu?" tanya Riani dengan mata sedihnya.


"Satu hal yang bisa aku janjikan padamu jika memang kelak kita tidak berjodoh, meski nanti aku punya pasangan hidup tapi aku akan tetap menjaga hati dan perasaanku hanya untukmu, cinta pertamaku..." Janji Ethan.

__ADS_1


"Aku juga akan tetap menjaga dan mengunci hati serta perasaanku hanya pada cinta pertamaku yaitu kamu..." Janji Riani yang telah berhenti dari tangisnya.


"Nah...Sekarang kita bicarakan masalah rencana kita setelah aku dan keluarga pindah ke Jakarta"


"Rencana apa?" tanya Riani bingung.


"Sebelum aku bersedia ikut pindah dengan mamah papahku, aku membuat perjanjian dengan mereka, agar aku bisa sering main ke kota ini setiap dua Minggu sekali"


"Benarkah? lalu apa apakah mamah dan papah kamu menyetujuinya?" tanya Riani lagi antusias.


"Tentu saja mereka meyetujuinya"


"Apa kamu tidak mencoba membujuk mereka agar kamu bisa tinggal di sini hingga lulus SMP?"


"Kamu benar juga, akan aku coba untuk membujuk mereka, kalau begitu sekarang aku coba bicara dengan mereka, aku tutup dulu teleponnya, kamu tidurlah dan doakan aku agar bisa membujuk mamah papahku..."


"Pasti aku berdoa semoga Tuhan mengabulkan keinginan kita, kalau begitu aku tidur dulu ya sayang, segera beri kabar aku"


"Pasti aku kabari secepatnya..."


"Baiklah, good night my Fay-Ri ku..."


"Good night my sweet Ria ku..."


Setelah saling memberi ciuman selamat malam, keduanya langsung menutup panggilan video mereka.


.............


Riani terbangun dari tidurnya saat suara gaduh ibunya yang sedang memasak di dapur.


Dengan segera dia bangun dan mencuci wajahnya, saat dia akan membuka ponselnya ternyata semalam dia lupa untuk mencharging baterai ponselnya, lhingga mati sama sekali, dengan tergesa-gesa dia keluar dan langsung menuju rumah Ethan yang berada persis di samping rumahnya.


Rumah Ethan terlihat sudah sepi, saat dia mengintip jendela rumah Ethan ternyata memang sudah kosong.


Hatinya hancur, ternyata semalam Ethan gagal meyakinkan kedua orang tuanya agar dia bisa tetap tinggal.


Dengan berlari Riani masuk ke dalam kamarnya tanpa menghiraukan panggilan ibunya dari dapur yang kebingungan dengan sikap anak perempuannya itu.


Sedangkan Riani langsung membanting tubuhnya di atas kasur, sambil membenamkan wajahnya di bawah bantal, dia menangis.


Setelah puas dia menangis, dia mengambil ponsel dan mengecek isi baterainya yang baru terisi sepuluh persen.


Dan karena dia pikir ponselnya masih kuat dengan baterai yang baru terisi sedikit dengan tidak sabar dia pun segera menyalakan ponselnya .


Di lihatnya banyak pesan dari Ethan yang masuk, dan saat membuka pesan dari Ethan wajah Riani berubah sumringah.

__ADS_1


"Maafkan aku Ria ku, karena aku tidak bisa meyakinkan kedua orang tuaku agar aku bisa tetap tinggal, tapi minggu depan aku di perbolehkan untuk kembali, jadi...bersabarlah dan tunggu aku sayang, kita pasti bertemu lagi"


"Baiklah, aku pasti akan sabar menunggumu, kamu sekarang sudah sampai mana?" balas Riani dalam pesan.


"Aku tidak tahu, tapi ini baru setengah perjalanan"


"Ya sudah kamu hati-hati dan jaga kesehatan, love you bye..."


"Iya my sweet Ria ku, love you to bye..."


.............


Hari-hari Riani lalui tanpa Ethan, ada perasaan kosong di hatinya semenjak Ethan pindah ke Jakarta.


Meskipun setiap jam mereka selalu berkomunikasi melalui pesan ataupun panggilan video, namun tetap saja Riani dan Ethan merasa kesepian.


Hingga Hari minggu pagi-pagi sekali, Riani berniat untuk pergi ke padang rumput dekat gereja dan bermain ayunan yang di buatkan Ethan untuknya.


Setelah dia pamit pada ibunya, dengan bersepeda meskipun menempuh jarak yang lumayan jauh, Riani menempuhnya dengan hati yang Riang.


Angin pagi yang segar yang mengiringi mendorong sepedanya lebih cepat, hingga membuat kayuhan sepedanya terasa lebih ringan.


Dan butuh waktu yang lama, hingga bersimbah keringat akhirnya Riani sampai di padang rumput yang masih basah dengan embun pagi.


Setelah Riani menyandarkan sepedanya, dia berjalan ke arah ayunan tersebut dan duduk di atasnya, dengan pelan di ayunkan kakinya hingga ayunan mengayun berirama.


Matanya menyisir pemandangan seluruh padang rumput, sang surya mulai menampakan sinar paginya, seolah menemaninya dalam sketsa kesepian yang terpampang di matanya.



Pelan tangannya mengeluarkan kalung di balik bajunya kemudian dia memegang liontin kalungnya, di ciumnya liontin tersebut dengan deraian air matanya.


Back to the present...


Riani yang menatap pemandangan laut mengeluarkan kalung yang hingga sekarang masih di pakainya, di ciumnya liontin pegasus yang sinarnya mulai memudar.


"Semoga kamu di sana tenang dan bahagia, aku di sini akan selalu menjaga tanda kenangan kita ini..." Ucap Riani dalam hati.


"Mbak Riani! ayo turun, hari sudah mau sore!" teriak Randi yang ternyata sudah berdiri di bawah tebing menatap Riani yang masih duduk di pinggiran tebing.


Dengan senyum Riani hanya mengangguk dan melambaikan tangan pada Randi.


Riani pun berdiri kemudian melihat kembali ke arah laut...


"Selamat tinggal masa lalu, cinta monyetku, cinta pertamaku, selamat tinggal Fay-Ri ku..." Ucap Riani lirih, kemudian dia melangkahkan kakinya meninggalkan tebing dengan senyum menyambut masa depan...

__ADS_1


...☆☆☆...


__ADS_2