
Setelah semuanya pergi, Riani terduduk lemas tak berdaya.
Pandangannya kosong menembus gelapnya malam, dengan di temani Randi yang duduk di sampingnya, hatinya juga merasa kosong...
.............
Dari kejauhan terlihat dua sepeda menuju ke arah rumah, satu sepeda di naiki Zoya dan satu sepedanya lainnya di naiki Pekak dengan Dadong yang membonceng di belakang.
Setelah sampai di halaman rumah mereka turun dari sepeda, ketiganya saling berpandangan melihat ekspresi kosong dari Randi dan Riani.
Setelah mereka memasukkan sepeda mereka ke dalam, ketiganya menghampiri Riani dan Randi yang masih duduk terdiam.
"Apa ada masalah setelah kalian berbicara dengan mereka?" tanya Pekak.
"Nanti saya ceritakan semua, sebelumnya saya minta maaf sekali, karena kedatangan saya membuat suasana rumah tidak tenang..." Jawab Riani, merasa tidak enak hati.
"Kami tidak merasa terganggu, justru dengan adanya Nak Riani, kami merasa bahagia karena bertambah keluarga kami, karena itu jika nak Riani punya masalah, maka jadi masalah kami juga..." Jawab Pekak, membuat Riani merasa terharu.
"Terima kasih semuanya, dan maafkan saya..." Akhirnya tangis Riani pun pecah.
"Yang kuat ya nak...Kamu harus percaya kalau apapun masalahnya pasti ada jalan keluarnya..." Hibur Dadong, sambil memeluk hangat Riani.
Melihat Riani menangis Zoya pun ikut sedih, kemudian dia memberi dukungan pada Riani dengan memeluk dan mengelus lembut punggung Riani sebagai bentuk perhatiannya.
"Apa kamu juga ada masalah dengan Nadine, Putu?" tanya Dadong yang langsung peka dengan keadaan Randi.
"Tidak ada Dadong, hanya saja..." jawab Randi mengambang.
"Coba kamu ceritakan pada kami Bli?" pinta Zoya yang penasaran, mendesak kakaknya itu agar ada kejelasan mengenai kejadian yang ia lihat semalam.
Akhirnya Randi menceritakan semuanya, dan atas ijin Riani, dia juga menceritakan mengenai hubungan antara Nadine dan Radja, yang adalah suami dari Riani.
Pekak dan Dadong sangat terkejut dan ikut prihatin dengan kejadian itu, apalagi Dadong yang tidak menyangka kalau Nadine bisa melakukan hal sehina itu.
Dadong yang tahu dari awal kisah asmara Randi dan Nadine, ikut merasa sedih, apalagi Nadine sampai berbuat seperti itu, Dadong sangat tahu kalau kejadian ini pasti sangat menyakiti dan melukai hati cucunya itu.
"Kalian berdua harus kuat, dan untuk keputusan kalian berdua mengenai hubungan kalian dengan Radja maupun Nadine, kami dukung sepenuhnya, apapun keputusan kalian" kata Pekak sambil menepuk pundak Riani dan Randi cucunya, sebagai tanda dukungan.
"Sekarang sebaiknya kita pergi istirahat, sudah malam, waktunya untuk tidur, biarlah untuk masalah dan urusan lainnya kita bicarakan besok..." Kata Dadong merangkul Zoya dan Riani yang berjalan menuju kamar mereka masing-masing.
.............
Dalam kamar Riani belum bisa memejamkan matanya, hanya suara nyanyian binatang malam yang menemaninya dalam senyapnya malam.
Banyak hal yang di pikirkan, ternyata keinginanya berlibur untuk melepas penat hati dan pikirannya tidak semulus dan berjalan lancar dengan apa yang dia rencanakan.
Bahkan bisa di bilang justru terjadi sebaliknya, dengan berbagai kejadian tidak menyenangkan yang dia alami selama ini, Riani merasa betapa menyedihkan dirinya, putus asa yang menghampirinnya, membuatnya pasrah dengan keadaan.
Rasa rindu akan ibunya pun membuatnya semakin lemah untuk melangkah, seolah beban yang ingin dia bagi dengan ibunya tidak memperbolehkannya untuk berbagi dengan orang terkasihnya itu.
Hanya tangis kesendirian dan doalah yang bisa dia lantunkan dalam heningnya malam...
__ADS_1
.............
Suara kokok ayam jago di pagi hari membangunkan Riani dari tidurnya, di lihatnya suasana pagi yang masih gelap, namun terdengar olehnya kesibukan di dapur dan kebun.
Setelah meregangkan tubuhnya sebentar, Riani segera membereskan tempat tidurnya, kemudian dia keluar menuju kamar mandi, saat melewati dapur terlihat Dadong sedang sibuk memasak.
"Selamat pagi Dadong..." Sapa Riani.
"Selamat pagi putu..." Jawab Dadong, yang membuat hatinya terasa hangat saat Dadong memanggil dirinya putu yang berarti dia sudah menganggap Riani sebagai cucunya.
"Masih pagi sekali kenapa bangun putu, apa kamu lapar?" tanya Dadong lagi.
"Iya Dadong, karena semalam saya dan Randi belum sempat makan malam..." Jawab Riani jujur dengan wajah malunya.
"Kebetulan Dadong sudah selesai memasak untuk sarapan, putu sarapanlah dulu..."
"Nanti saja Dadong, saya sarapan bareng aja sama yang lain"
"Beneran tidak apa-apa?"
"Beneran tidak apa-apa kok, maaf...Saya ke kamar mandi dulu, permisi..."
"Silahkah putu..."
...........
Setelah selesai dari kamar mandi Riani berjalan-jalan mengelilingi sekitar rumah, karena seingatnya selama dia tinggal di sini dia belum sepenuhnya melihat suasana kebun dan pekarangan sekitar rumah.
Riani menikmati pemandangan itu seolah menjadi relaksasi hati dan pikirannya.
Setelah puas, dia beralih dan berjalan di bagian samping rumah yang terdapat ayunan gantung, saak kemarin dia duduk bersantai di ayunan tersebut sambil menikmati pemandangan.
Hanya sebentar duduk di ayunan, kemudian dia melanjutkan berjalan di samping sisi lain rumah yang dia tahu adalah kebun.
Sesampainya di sana, dia agak terkejut, karena dia mengira yang sedang sibuk di kebun adalah Pekak, ternyata yang berada di kebun saat ini adalah Zoya.
Riani tidak tahu kalau Zoya bisa berkebun, terlihat olehnya Zoya sedang sibuk menyiangi rumput dan meyirami sayur kubis.
"Apa kakak boleh bantu?" tanya Riani agak keras.
Mendengar suara Riani, Zoya agak terkejut dan langsung menengok ke arah Riani.
"Boleh dong kak, ayo sini bantu Zoya memberi pupuk" ajak Zoya sambil melambaikan tangannya ke arah Riani.
Riani segera berjalan menuju ke arah Zoya yang kini sedang mengambil pupuk.
__ADS_1
Setelah Riani sampai, Zoya memberikan wadah pupuk tersebut.
"Ternyata kamu pandai berkebun juga ya?" tanya Riani sambil memberi pupuk pada tanaman yang ada di depannya.
"Harus kak, karena saat Zoya masih kecil sudah di ajari sama Pekak bagaimana cara berkebun"
"Pantesan kamu tahu benar cara merawat tanaman..."
"Terima kasih kak atas pujiannya..." Jawab Zoya dengan imutnya membuat Riani yang melihatnya jadi tertawa.
"Ngomong-ngomong dari tadi pagi kakak tidak lihat Pekak sama Bli mu?"
Mereka berdua pagi-pagi sekali lepas subuh ke Gili Air, katanya sih mau mengurus booking kamar di resort X untuk kak Riani.
"Jadi Randi benar-benar melakukan apa yang aku inginkan..." Bisik Riani dalam hati.
"Kak, Zoya minta maaf karena sudah memberitahu pada kak Teddy kalau kakak ada di rumah Zoya" suara Zoya membuat lamunan Riani buyar.
"Tidak apa-apa, lagian semua sudah terjadi, biar sajalah terjadi..."
"Zoya benar-benar minta maaf kak..." Ucap Zoya lagi dengan wajah penuh penyesalannya.
"Iya sayang...Kakak sudah bilang tidak apa-apa kan?" jawab Riani lagi sambil mencubit dua pipi tembem milik Zoya.
Mereka akhirnya saling tertawa, dengan penuh kemanjaan Zoya memeluk sayang Riani.
Ternyata pemandangan itu tidak luput dari mata Dadong yang tersenyum haru, karena selama ini Zoya belum pernah sedekat ini dengan orang lain.
"Sedang lihat apa sih Ni?" tanya Pekak dari belakang sambil mengikuti arah pandangan Dadong, yang ternyata Pekak sudah kembali bersama Randi.
Tidak ketinggalan dengan Randi yang juga ikutan melihat ke arah Riani dan Zoya yang sedang tertawa ceria.
"Lihatlah Ki, tawa lepas mereka yang seolah tidak ada beban, apalagi jika kita lihat wajah ceria dan penuh kebahagiaan putu kita Zoya..." Kata Dadong dengan tangis harunya sambil bersandar di dada renta suaminya.
"Iya Ni, selama ini kita tidak pernah melihat putu kita sebahagia itu..." Jawab Pekak sambil memeluk lembut pundak istrinya.
"Memang kedatangan nak Riani membawa kebahagiaan buat kita ya Ki? terutama untuk putu kita..."
"Benar Ni, meskipun sekarang nak Riani ada masalah tapi lihatlah Ni...Dia terlihat melepaskan semuanya dengan tanpa beban seperti itu"
"Bukankah itu lebih baik Ki, karena Nini saat ini benar-benar khawatir dengan keadaan Riani dengan masalahnya..."
"Kaki Rasa Riani anak yang kuat dan tegar, dan Kaki percaya kalau dia bisa melewati semuanya"
"Semoga ya Ki..."
"Ya semoga Ni, kita cuma bisa bantu suport dia saja"
"Iya Ki, lihatlah putu kita Ki...Seolah telah menemukan induknya sehingga bisa kembali ceria dan imut seperti itu..." Kata Dadong lagi sambil mengusap air mata harunya.
Sedangkan Randi hanya menyimak pembicaraan Pekak dan Dadong sambil menatap ke arah Riani dan Zoya penuh makna dan tersenyum penuh arti...
__ADS_1
...☆☆☆...