
Selama di rumah Nando, hari-hari Riani lewati dengan penuh ketenangan tanpa ada gangguan dari siapapun, termasuk orang-orang yang memang ingin Riani hindari.
Ponsel Riani sengaja jarang dia aktifkan setelah mengganti nomornya, dan hanya orang-orang tertentu saja, termasuk pada Roro Riani memberitahu nomor barunya tersebut.
Akhirnya setelah dua hari Riani tinggal di rumah Nando, orang suruhan Om Rolland pun telah kembali dengan membawa serta Maulana, adik bungsu Riani.
Perasaan Rindu dan bahagiapun Riani curahkan dengan memeluk erat tubuh remaja yang duduk di bangku kelas dua SMP tersebut.
Maulana sang adikpun tidak kalah eratnya memeluk tubuh kakak perempuannya itu karena perasaan rindunya selama ini.
"Bagaimana kabarmu Dek?" tanya Riani setelah melepas pelukkannya dan mengusap lembut kepala adik bungsunya itu.
"Alkhamdulillah Kak baik...Kakak sendiri bagaimana kabarnya sekarang?" tanya Maulana cemas, karena dulu dia pernah secara tidak sengaja mendengar pembicaraan antara Ibunya dengan Roro saat di telepon.
"Ya seperti yang kamu lihat Dek, kakak sekarang baik-baik saja" jawab Riani sembari merentangkan kedua tangannya , seakan ingin menunjukkan pada adiknya itu kalau dirinya benar-benar baik-baik saja.
"Bagaimana dengan sekolahmu, apakah semuanya lancar saat kamu mengurus surat-surat untuk kepindahan sekolahmu?" lanjut Riani lagi sambil mengajak Maulana duduk di ruang tamu.
"Alkhamdulillah...Semuanya lancar Kak, karena Om Iky ikut membantu Lana dan mengurus semuanya"
"Om Iky, siapa dia Dek?" tanya Riani bingung dan heran, karena dia merasa tidak mengenal nama yang barusan Maulana sebut, dan terasa asing di telinganya.
"Dia laki-laki yang menjemput dan membawa Lana ke sini Kak..." Jawab Maulana menjelaskan.
"Oo..." Jawab Riani singkat sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kamu sudah datang Nak?"
Suara Bu Widya yang datang dari arah belakang membuat pembicaraan Riani dan Maulana terhenti sejenak, perhatian keduanya teralihkan pada bu Widya yang berjalan ke arah mereka.
"Iya Bu, Assalanualaikum..." Jawab Maulana yang segera berdiri dan mencium punggung tangan Ibunya tersebut.
"Wa'alaikum salam...Kapan datangnya Nak?"
"Baru saja Bu, gimana kabar Ibu?"
"Alkhamdulillah baik, Ibu malah khawatir denganmu, apalagi sekarang kamu terlihat kurusan"
"Lana kurusan karena beberapa hari ini sibuk mengurus surat-surat untuk kepindahan sekolah dan modar-mandir ke kosannya Mas Ryan, di tambah Lana kangen masakan Ibu, sudah lama rasanya tidak makan buatan Ibu..." Jawab Maulana yang mulai menunjukkan sifat manjanya.
"Sekarang juga Ibu masak untukmu, kamu dan kakakmu lanjutkan saja ngobrolnya..."
"Oke, jangan lupa masak sayur favoritnya Lana ya Bu..."
"Ibu tidak akan lupa, tadi pagi Ibu ke pasar dan sudah beli sayur kesukaanmu, tumis kangkung kan?" jawab Bu Widya, mencubit gemas pipi putranya tersebut.
"Betul sekali! terima kasih ya Ibu ku sayang..."
"He eh, sama-sama MAULANA PUTRA BUKHORI..." Jawab Bu Widya lagi, tapi kali ini dia mengelus lembut kepala putra kesayangannya itu.
"Ibu tinggal masak dulu ya..." Kata Bu Widya lagi.
"Iya Bu..." Jawab Riani dan Maulana kompak.
Bu Widya hanya tersenyum, kemudian dia berjalan meninggalkan mereka berdua menuju ke dapur untuk memasak hidangan kesukaan putranya itu, sekaligus mempersiapkan makan malam untuk semuanya.
__ADS_1
Sementara Bu Widya dengan di bantu Bi Ijah sibuk di dapur, Riani dan Maulana melanjutkan obrolan mereka berdua.
.............
Makan malampun sudah siap, meja makan penuh dengan berbagai macam hidangan dan lauk pauk.
Bu Widya dan Om Rolland menginginkan semua orang bisa makan bersama satu meja dengan mereka, termasuk Mang Muh, Bi Ijah dan orang-orang suruhan dari Om Rolland.
Setelah semuanya berkumpul dan duduk di kursi mereka masing-masing, sebelum makan Om Rolland memimpin doa sesuai dengan Agama dan kepercayaan mereka masing-masing.
Setelah selesai berdoa, makan malam bersama pun di mulai.
Suasana akrab dan hangat menyelimuti makan bersama malam ini, tidak ada jarak pemisah antara atasan dan bawahan, pemilik rumah ataupun tamu.
Yang ada hanya suasana kekeluargaan dan kebersamaan.
Setelah makan malam selesai, semua orang di suruh berkumpul di ruang tamu untuk rapat, karena Om Rolland bilang ada yang ingin dia rundingkan.
"Besok lusa kita berangkat ke Bali, jadi masih ada waktu besok untuk mempersiapkan segala sesuatu yang masih kurang dan pengecekan kembali semua dokumen-dokumen yang di perlukan nanti" kata Om Rolland membuka suaranya setelah semuanya sudah berkumpul.
"Nando, apakah Villa di Bali sudah siap untuk di tempati besok lusa?"
"Sudah Pah" jawab Nando singkat dan yakin.
"Lalu untuk ijin tinggal dari RT/RW dan kelurahan, bagaimana?"
"Itu juga sudah beres Pah"
"Terus bagaimana hasil survei untuk sekolah Maulana yang baru?" tanya Om Rolland lagi.
"Bagus! terima kasih ya Nak..." Ucap Om Rolland merasa puas dengan hasil kerja anak laki-lakinya itu, kemudian Om Rolland menepuk bangga pundak Nando.
"Saatnya saya memperkenalkan seseorang pada kalian, dia adalah Riki Pauzi yang biasa di panggil Iky, dia juga orang kepercayaan saya, bodyguard saya dan juga anak angkat saya" kata Om Rolland sambil menepuk pundak pemuda dengan perawakan tegap dan berusia 20 tahunan yang sudah berdiri di sampingnya.
"Hallo semua...Perkenalkan nama saya Iky" kata pemuda yang bernama Iky tersebut memperkenalkan diri dengan suara beratnya.
"Salam kenal Iky..." Jawab Riani dan Bu Widya bergantian.
"Ternyata Om Iky Bodyguard ya? Wahh...keren!" Seru Maulana spontanitas dan menatap kagum ke arah Iky.
"Jadi yang menjemput dan mengantar kamu ke sini dia?" tanya Riani berbisik di telinga Maulana.
Maulana mengangguk dengan masih menatap kagum ke arah Iky.
"Bi Ijah, Mang Muh, Iky dan dua Bodyguard lainnya akan ikut pindah dan tinggal bersama kalian, bagaimana menurutmu nak Riani?" tanya Om Rolland menatap ke arah Riani, berharap niatnya itu bisa di terima oleh Riani.
"Riani sangat mengerti dengan niat baik Om Rolland, tapi...Saya merasa bukanlah siapa-siapa Om Rolland, dan sekarang malah om Rolland akan menarik semua orang-orang Om Rolland dan Nando untuk ikut dengan kami dan merepotkan mereka semua, saya merasa keberatan Om..." Jawab Riani hati-hati, karena tidak ingin menyinggung perasaan Om Rolland, karena Riani menolak niat baiknya.
"Bukankah Om sudah bilang berulang kali bahwa Om sudah menganggap kamu seperti anak kandung Om? lagi pula mereka semua tidak keberatan dan sudah jauh-jauh hari Om rundingkan mengenai hal ini dengan mereka semua, dan mereka juga tidak keberatan untuk tinggal dengan kalian di Bali" jelas Om Rolland, berusaha meyakinkan Riani, berharap hati Riani tergerak dan merubah keputusannya.
"Benar Mba, Saya tidak keberatan sama sekali jika Bi Ijah dan Mang Muh ikut dengan Mba Riani, dan saya justru senang jika saya bisa membantu kalian..." Sambung Nando mencoba membantu, karena dia tidak tega dan tidak ingin melihat wajah kecewa ayahnya itu.
"Tapi Nando...."
"Beneran Non, Bibi dan Mang Muh tidak keberatan kok bila harus ikut dengan Non Riani, justru kami berdua sangat senang jika bisa membantu Non..." Bi Ijah ikut membuka suaranya, untuk menyakinkan Riani.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan Nando dan siapa yang akan mengurus rumahnya nanti, jika kalian ikut kami?"
"Nak Riani tidak perlu khawatir mengenai itu, karena nantinya ada dua keponakan kami yang akan menggantikan kita di sini" Jawab Mang Muh, yang juga mencoba meyakinkan Riani.
"Tapi..."
"Sudahlah nak...Kamu jangan menolak niat tulus mereka membantu kita, jangan membuat mereka kecewa dengan menolak mereka..." Potong Bu Widya karena melihat keraguan Riani.
"Jadi Ibu setuju jika mereka ikut pindah dari rumah ini dan tinggal dengan kita?" tanya Riani terkejut sekaligus heran.
"Tentu saja Ibu setuju, apa kamu tidak lihat dan merasakan niat tulus mereka untuk membantu kita?"
"Ibu sudah yakin?"
"Tentu saja yakin seratus persen!" jawab Bu Widya lagi dengan mantap.
"Ya sudah, kalau begitu Riani ikuti saja apa kata Ibu dan Om Rolland" jawab Riani pasrah.
"Alkhamdulilah..." Ucap Mang Muh dan Bi Ijah bebarengan.
"Syukurlah kalau kamu sudah setuju..." Ucap Om Rolland menarik nafas lega.
"Sekali lagi Riani ucapkan banyak terima kasih dan benar-benar minta maaf, Karena sudah merepotkan Om Rolland dan yang lainnya..."
"Sudahlah Nak, jangan terlalu di pikirkan, bagi Om melihat kamu bahagia saja, om sudah puas dan ikut bahagia"
"Sekali lagi terima kasih semua dan mohon maaf jika mulai sekarang dan nanti saya beserta keluarga merepotkan kalian, mohon bimbingannya..." Ucap Riani, berdiri dan membungkuk memberi hormat.
Semuanya dengan serempak menganggukkan kepala dan tersenyum menatap Riani.
"Oke, kalau begitu rapat selesai dan silahkan kembali ke tempat masing-masing" kata Om Rolland membubarkan.
Tanpa di komando lagi, semua orang yang ada di ruang tamu pun bubar dan kembali ke kamar mereka masing-masing, tidak terkecuali dengan Riani, Bu Widya dan Maulana.
.............
Setelah selesai membereskan baju milik Maulana dan mempersiapkan tempat tidur untuknya, Riani duduk dekat Ibunya yang sedang menata kembali baju Maulana ke dalam koper.
"Terima banyak ya Bu, sudah mau mendampingi Riani, dan maaf...Sudah sering membuat repot dan khawatir Ibu" ucap Riani sembari memeluk tubuh wanita di depannya itu.
"Semua Ibu pasti akan melakukan apapun demi kebahagiaan anaknya, termasuk Ibu, jadi...Kamu lupakan semua kejadian yang lalu, jangan pernah takut untuk memulai hidup dari awal lagi, jangan pernah lagi ragu dan mantapkan hati untuk mempersiapkan hati yang baru..." Jawab Bu Widya yang setiap kalimatnya tersirat penuh dengan makna.
"Insya Allah, Riani pasti bisa melewati semua ya Bu?"
"Kamu pasti bisa! Ibu sangat yakin dengan hal itu, dan sekarang...Kamu tidurlah, lihat adikmu itu baru sebentar nempel bantal sudah tertidur dia" kata Bu Widya menahan senyumnya saat melihat Maulana yang tertidur pulas.
Riani pun tertawa kecil saat melihatnya, kemudian dia pun menyusul Ibunya yang sudah berbaring di atas kasur.
Meski tubuhnya sudah terbaring mamun pikiran Riani masih menerawang.
Ada banyak hal yang berkecamuk dalam hatinya.
"Ibu benar, aku pasti bisa melewati masa laluku dan menyambut hidupku yang baru, ya...aku pasti bisa!" ucap Riani dalam batinnya...
...☆☆☆...
__ADS_1