KESETIAAN YG TAK TERBATAS

KESETIAAN YG TAK TERBATAS
CERITA DI BALIK BLACK CARD


__ADS_3

Dengan agak malas Riani membuka matanya, di lihatnya jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, namun dia tidak bergeming dari kasurnya.


Apalagi di dukung dengan cuaca yang agak mendung, membuatnya semakin malas untuk membuka selimutnya, karena meski hari sudah beranjak siang, tapi udara masih terasa dingin.


Kasur yang empuk, selimut yang hangat dengan di padu nyanyian alam yang indah, membuat Riani kembali larut dalam tidurnya.


.............


Suara ketukan dari Cleaning Service Room membuat Riani bangun dari tidur pulasnya.


Saat dia melihat jam sudah menunjukkan hampir pukul satu siang.


Rupanya hari baru saja hujan, Riani segera membukakan pintu, setelah cleaning service masuk, dia menuju ke kamar mandi.


Riani kemudian membuat secangkir kopi, sambil menikmati pemandangan di luar resort dengan cuaca yang masih mendung dan dengan sinar matahari yang sedikit mengintip dari celah-celah awan.



Pelan Riani menyeruput kopinya dan menikmatinya tegukan demi tegukan, di lihatnya mbak cleaning servise sedang sibuk mengganti dan membereskan tempat tidurnya.


Baru saja dia menghabiskan kopinya, suara panggilan masuk di hand phonenya pun berbunyi.


Saat melihat dan tahu bahwa yang meneleponnya adalah Randi diapun langsung menjawab teleponnya...


"Ya Randi, gimana jadi ke sini?" tanya Riani.


"Jadi mbak, tapi mungkin agak sorean, mbak sendiri sekarang ada rencana apa?" tanya Randi dari seberang sana.


"Kalau sekarang aku masih betah di kamar, apalagi hari habis hujan, tapi sebentar lagi aku mau keluar untuk makan siang dulu"


"Oke, kalau begitu mbak makan sianglah dulu dan nikmati waktu-waktu santai mbak..."


"Iya pastinya, terima kasih banyak ya Ran..."


"Sama-sama mbak, kalau begitu saya sudahi dulu ya mbak, ada yang perlu saya urus"


" Baiklah, sampaikan salamku untuk Pekak dan Dadong"


"Iya mbak, pasti akan saya sampaikan, mbak jaga diri dan hati-hati ya di sana, sampai jumpa lagi nanti sore..."


"Sampai jumpa lagi..." Riani langsung menutup teleponnya setelah memastikan Randi sudah mematikan panggilannya.


"Semuanya sudah selesai Nyonya, saya pamit keluar..." Ucap cleaning service dengan senyum ramahnya.


"Oh iya mbak, terima kasih banyak ya..."


"Sama-sama..."


Setelah cleaning service keluar Riani langsung berganti baju, kemudian dia keluar menuju restoran untuk makan siang.


Riani agak ragu memasuki restoran saat melihat orang-orang yang duduk makan di restoran tersebut terlihat orang-orang kaya yang membuat nyalinya agak ciut, namun akhirnya dia memberanikan diri untuk masuk.


Setelah duduk di kursi dan mengambil daftar menu makanan, alangkah terkejutnya dia, karena harga dari makanan tersebut ternyata mahal, tapi karena dia ingin menikmati sepenuhnya liburan yang sebelumnya selalu gagal, dan untuk memuaskan hasratnya memanjakan diri, akhirnya dia memesan menu makanan apapun yang ingin dia makan.


.............


Setengah jam kemudian Riani selesai menikmati dan menghabiskan semua makanan yang ia pesan.


Riani memanggil pelayan untuk meminta bill, pelayan pun menghampirinya sambil membawa bill milik Riani.


sesampainya di depan Riani,


pelayan menyerahkan bill tersebut.

__ADS_1


Setelah melihat jumlah yang harus di bayar, Riani mengambil kartu Debitnya dan menyerahkan pada pelayan.


"Maaf, apakah anda punya kartu member atau black card?" tanya pelayan sebelum menggesek kartu debit milik Riani tersebut di kasir.


"Apakah ini?" tanya Riani sambil memperlihatkan black card yang dia ambil dari dompetnya.


"Betul sekali, mari silahkan anda ikut saya dan ini kartu debit anda saya kembalikan..." Kata pelayan lagi sambil menyerahkan kartu debit miliknya, kemudian memandu Riani ke kasir yang langsung di ikuti oleh Riani meskipun masih terlihat kebingungan.


Sesampainya di kasir sang pelayan menyerahkan black card tersebut yang kemudian di gesek pada mesin.


"Maaf, boleh saya tahu anda menginap di kamar nomor berapa?" tanya kasir.


"Saya di kamar nomor 77" jawab Riani semakin bingung.


Setelah kasir mengecek data tamu kemudian, kasirpun mengangguk pada pelayan yang juga mengangguk tanda mengerti.


Pelayan segera mengambil sesuatu dari lemari di belakang kasir, sebuah kotak kecil dan langsung memberikannya pada kasir.


"Karena anda adalah pelanggan VVIP khusus, kami dari pihak resort memberikan sebuah souvenir spesial untuk anda" kata sang kasir tersenyum ramah, sambil menyerahkan kotak kecil hitam yang bertuliskan nama dan logo resort X bertinta emas.


Dan saat di buka kotak tersebut, alangkah terkejutnya Riani, karena sebuah bros logo resort bertahtakan emas terlihat sangat elegan dan yang pasti mahal.


"Ini...?" Tanya Riani masih belum yakin.


"Biar saya jelaskan, souvenir ini hand made dan terbatas pembuatannya, jadi hanya di berikan kepada orang-orang pemilik black card, keluarga dan orang yang di tunjuk serta di percaya oleh pemilik black card tersebut" kata kasir ramah.


"Oo begitu, terima kasih banyak kalau begitu..."


"Sama-sama, selamat menikmati liburan anda..."


.............


Setelah perut Riani sudah merasa kenyang dia berniat jalan-jalan berkeliling Gili Air dengan sepeda, karena saat dia melihat cuaca sudah mulai cerah.


Setelah dia menyewa sepeda di rental, dengan santai dia mengayuh sepedanya menyusuri jalan dan pesisir pantai.


Dengan segera dia mengabadikan karya indah manusia itu di dalam foto kameranya.



Setelah puas mengabadikan, Riani melanjutkan perjalanannya dengan kembali mengayuh sepedanya.


Baru beberapa kayuhan kembali suara panggilan di hand phonenya berdering, ternyata Randi yang menghubunginya.


"Ya Randi, apa kamu sudah sampai di sini?" tanya Riani teringat dengan perjanjiannya dengan Randi untuk bertemu lagi.


"Iya mbak saya sudah sampai di resort, mbak Riani sekarang di mana?" tanya Randi.


"Aku sekarang masih di luar, kamu tunggu saja di resort, aku segera pulang"


"Tidak usah mbak, biar saya saja yang menyusul mbak Riani"


"Oke kalau begitu, aku tunggu"


"Sekarang posisi mbak Riani di mana?"


"Sekarang aku di depan restoran seafood The Rinjani"


"Oke, saya tahu tempat itu, saya segera kesana"


"Oke..."


Setelah menyandarkan sepedanya di sebuah batang pohon, dia berjalan menuju bangku taman depan restoran seafood The Rinjani.

__ADS_1


Setelah menunggu beberapa menit, terlihat dari kejauhan Randi mengayuh cepat sepedanya ke arah Riani.


"Maaf mbak kalau sudah menunggu saya terlalu lama" kata Randi sesampainya di depan Riani dengan nafas yang masih ngos-ngosan dan berkeringat.


"Tidak apa-apa, lagian tidak lama juga kok, justru akulah yang minta maaf karena telah membuatmu harus menyusul ke sini..."


"Tidak kok mbak, kan inisiatifku sendiri yang ingin menyusul mbak Riani, karena kebetulan tempat yang ingin saya tunjukkan pada mbak Riani lebih dekat kalau dari sini..."


"Oo masa? ini, lap dulu keringatmu dan minumlah" Kata Riani sambil menyodorkan tisu dan minuman dingin kepada Randi.


Tadi setelah menerima panggilan dari Randi, Riani segera membeli minuman dingin untuknya.


"Terima kasih mbak..."


"Sama-sama..."


.............


Riani dan Randi segera mengayuh sepedanya menuju ke tempat yang akan di tunjukkan oleh Randi.


Dan benar apa yang di katakan Randi, kalau ternyata tempat itu dekat dari tempat di mana Riani menunggu Randi.


Hanya butuh sepuluh menit akhirnya mereka sampai.


Seketika Riani dan Randi di suguhkan dengan pemandangan indah lukisan Tuhan.


Perpaduan air laut yang berujung dengan kokohnya siluet pegunungan yang terbias sinar matahari di sore hari yang berwarna keemasan, membuat hati Riani terasa bergetar.



"Jadi ini yang ingin kamu tunjukkan padaku Ran?"


"Benar, menurut mbak bagaimana, bagus tidak?"


"Bagus baget, tapi kenapa tempat ini tidak ramai orang ya?"


"Karena jarang ada orang yang menemukan tempat tersembunyi ini, aku menemukan tempat ini dua tahun yang lalu, saat usiaku genap dua puluh tahun, di sinilah aku bisa berintropeksi diri..."


"Ini memang tempat yang cocok untuk menenangkan diri..."


"Benar sekali mbak..."


"Oo iya, ini...Mungkin sebaiknya aku berikan pada pemiliknya" kata Riani sambil mengambil kotak yang berisikan bros, souvenir dari resort X dan memberikannya pada Randi.


Dan seolah Randi sudah tahu isi dari kotak tersebut, dengan segera Randi memasukkan kembali kotak tersebut di tas Riani.


"Tapi...Ini terlalu mahal untukku Ran" kata Riani tidak enak hati.


"Ini sudah menjadi hak dan milik mbak Riani, lagi pula kami semua sudah memiliki bros itu, kecuali Zoya"


"Kalau begitu berikan saja pada Zoya" kata Riani akan mengambil kembali kotak itu di tasnya, namun segera di cegah Randi.


"Tidak perlu mbak, karena nanti di usia Zoya yang ke dua puluh, tahun dia akan mendapatkan bros tersebut"


" Benarkah? lalu kenapa harus menunggu sampai Zoya berusia dua puluh tahun dulu?" tanya Riani heran.


"Kalau untuk itu aku juga tidak tahu, tapi kata Pekak memang ada peraturan khusus untuk keluarga dari pemilik black card.


" Oo begitu, mungkin ada alasan di balik semua ini, dan sebenarnya aku penasaran, pasti ada cerita di balik black card ini, tapi biarlah tetap menjadi misteri..."


"Aku sangat setuju dengan pendapat mbak Riani..."


Randi dan Riani saling tersenyum, kemudian mereka mengalihkan pandangannya kembali ke arah laut dengan menyelami pikiran mereka masing-masing..

__ADS_1



...☆☆☆...


__ADS_2