
Riani masuk ke dalam kamar dan membaringkan tubuhnya di atas kasur, air matanya kembali mengalir deras hingga membasahi bantal yang menjadi alas kepalanya.
Hatinya seolah hancur berkeping-keping saat mengingat kembali keadaan Ethan saat dia melihat dengan jelas wajah Ethan di layar ponselnya.
Perubahan yang sangat drastis sejak terakhir kali dia menjenguk Ethan semingguan lebih yang lalu.
Riani merasa heran dengan perasaan yang sangat menyiksanya itu, kenapa bisa seperti itu?
Karena saat dia melihat keaadaan yang sama pada Radja waktu itu, hati dan perasaannya tidak seperti yang dia rasakan sekarang ini, padahal Radja yang masih sah beratatus sebagai suaminya, sedangkan Ethan hanya mantan cinta pertamanya, terlebih lagi Ethan adalah suami orang, suami dari Viola yang sudah dia anggap sebagai sahabat dan bahkan seperti saudarinya sendiri.
Dia tahu dengan jelas kalau perasaannya itu sangatlah salah, tapi hatinya tidak kuasa menolak untuk perasaan itu.
Bunyi suara pesan masuk membuat Riani tersadar dari pikirannya yang tenggelam.
Saat di buka ternyata ada pesan masuk dari dua orang yang berbeda, yaitu dari Roro dan Viola.
Segera dia dahulukan membuka pesan dari Viola yang isinya memberitahukan bahwa Ethan baik-baik saja, hanya beban perasaan yang terlalu berat hingga membuat fisiknya yang memang masih lemah menjadi semakin down.
Rianipun menarik nafas lega, kemudian dia menanyakan apakah Ethan sudah tersadar? lalu Viola menjawab ya, dan dia sangat berterima pada Riani karena mau berbicara dengannya, karena meskipun akhirnya Ethan pingsan namun saat dia tersadar kembali dia tidak berubah menjadi sosok pribadi lainnya, sedangkan yang sebelum-sebelumnya terjadi, setiap kali Ethan terpukul perasaanya hingga terjatuh pingsan maka setiap kali pula Ethan tersadar maka dia akan berganti-ganti kepribadiannya dari menjadi Ethan, Fa'i dan Josh yang membuat para dokter dan tim medis kewalahan menanganinya.
Setelah menarik nafas leganya, Riani seketika tersadar, betapa Viola adalah gambaran istri yang cocok untuk Ethan, sosoknya yang sabar menghadapi penyakit Ethan, selalu ada mendampinginya setiap kali dia membutuhkan untuk merawatnya, dan Riani bisa melihat dari mata Viola kalau cinta dan kasih sayangnya pada Ethan sangatlah tulus.
Jadi...Untuk apa dirinya harus merasakan khawatir pada Ethan yang merupakan suami orang? suami Viola...
"Haaah...Sungguh berdosa perasaanku ini, tapi perasaan apa ini aku sendiri tidak tahu?" gumam Riani lirih pada diri sendiri.
Namun yang jelas dari hati Riani yang terdalam, dia tidak ada niat membuka hatinya untuk Ethan karena dia tidak akan merusak hubungan persahabatannya dengan Viola.
Selanjutnya Riani membaca pesan dari Roro yang isinya memberitahu Riani bahwa besok Teddy sudah bisa keluar dari rumah sakit dan dia menanyakan apakah Riani akan ikut menjemput Teddy atau tidak.
Riani merasa lega karena akhirnya Teddy sudah sembuh dan bisa keluar dari rumah sakit, hanya saja keyataan pahit yang baru saja dia ketahui dan dia dengar langsung dari kejujuran yang keluar dari mulut Teddy membuatnya belum bisa menerima kenyataan dan belum siap untuk bertemu lagi dengan Teddy.
Hatinya belum siap untuk menerima Teddy seperti dulu, meskipun sebagai sahabat.
Riani meminta tolong pada Roro untuk memberitahukan dan menyampaikan maafnya pada Teddy karena dia tidak bisa menjemput Teddy dari rumah sakit, dengan alasan kurang enak badan.
Dan beruntung Roro mau mengerti dan akan bicara dengan Teddy mengenai ketidak hadiran Riani untuk menjemput Teddy.
Setelah merasa sudah penat dengan beban pikiran yang menumpuk di otak Riani, akhirnya dia tertidur dengan di temani suasana sore yang mulai mendung dengan suara guntur yang menggelegar dan memperdengarkan eksistensinya, pertanda akan segera turun hujan...
.............
Riani membuka matanya saat dia merasa ada yang menggoyang-goyang pundaknya dan menepuk-nepuk pipinya, terlihat ibunya dan mbok Sri sedang menatap penuh khawatir padanya.
"Nak...Kamu tidak apa-apa kan?" tanya ibu Widya dengan wajah cemasnya.
"Aku tidak apa-apa, memangnya ada apa Bu?" jawab Riani, balik bertanya, berusaha bangun dari tidurnya sembari mengusap kedua matanya.
"Ibu sudah mencoba berkali-kali membangunkanmu, tapi kamu tidak bergerak sama sekali membuat ibu khawatir" jawab bu Widya menjelaskan.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar dan kemudian menyusul suara Rolland.
"Bu Widya, boleh saya masuk? saya datang membawa dokter " kata Rolland.
"Kenapa Papah Rolland datang membawa dokter Bu?" tanya Riani bingung.
__ADS_1
"Tolong mbok Sri bukakan pintu untuk Pak Rolland"
"Baik Bu"
"Terima kasih Mbok..."
Mbok Sri mengangguk kemudian berjalan menuju pintu, sedangkan Riani masih menunggu jawaban dari Ibunya dengan tidak sabar.
"Tadi karena Ibu takut terjadi apa-apa denganmu, akhirnya Ibu menghubungi pak Rolland dan meminta bantuannya"
"Tapi sekarang aku tidak apa-apa kan Bu?"
"Ibu tadi terlalu cemas Nak, karena tidak biasanya kamu tidur begitu nyenyaknya sampai berkali-kali Ibu membangunkanmu, tapi kamu tidak bergerak sama sekali..."
"Silahkan Tuan..." Kata Mbok Sri setelah membukakan pintu untuk Rolland.
Riani dan Ibunya kompak menengok ke arah Rolland dan seorang wanita paruh baya yang berjalan di belakangnya.
"Bagaimana keadaanmu Nak? karena khawatir Papah membawa dokter keluarga datang ke sini" kata Rolland, membelai lembut kepala putri kesayangannya itu.
"Riani baik-baik saja kok Pah, hanya mungkin terlalu capek jadi tidur Riani sangat nyenyak"
"Untuk memastikannya, lebih baik biarkan Dokter Risa mengecek tubuh dan kandunganmu" kata Rolland yang masih terlihat jelas kekhawatiran di wajahnya.
"Baiklah Pah..."
"Ayo kita keluar dulu, beri waktu Dokter Risa mengecek Riani" ajak Widya pada Rolland dan Mbok Sri.
Keduanya mengangguk dan mengikuti Widya keluar dari kamar tersebut.
Setelah kurang lebih dua puluh menit, dokter Risa keluar, semua orang yang memunggu di ruang tamu pun segera menyambutnya dan memberinya tempat duduk.
"Bagaimana kondisi anak saya dan kandungannya Dok?" tanya Widya.
"Semuanya baik-baik saja, Ibu dan bayi dalam kandungannya dalam keadaan sehat-sehat saja hanya perlu tambahan vitamin obat antibodi dan penguat kandungan" jawab dokter Risa.
"Alkhamdulillah..." Ucap syukur semuanya.
"Lalu adakah obat yang perlu saya tebus dok?" tanya Rolland.
"Ini saya sudah tuliskan resepnya, tinggal tebus ke klinik atau apotek terdekat milik saya, " jawab dokter Risa sambil menyodorkan secarik kertas yang bertuliskan sebuah resep obat pada Rolland.
"Baiklah, terima kasih dok" ucap Widya menyalami dokter Risa.
"Sama-sama Ibu, tidak perlu segan, saya adalah dokter keluarga dari pak Rolland, jadi sudah menjadi tugas saya, kalau begitu saya pamit pulang dulu" kata dokter Risa.
"Saya yang antar dokter Risa, biar sekalian Iky menebus obatnya mba Riani" kata Iky yang sudah keluar dari kamarnya setelah dia mendengar keramaian di ruang tamu.
"Baiklah kamu antar dokter Risa, dan ini resepnya, sekali lagi terima kasih dok" kata Rolland memberikan kertas resep pada Iky dan mneyalami dokter Risa.
"Sama-sama pak Rolland, kalau begitu saya permisi dulu, mari..."
"Hati-hati..."
Iky berjalan beriringan dengan dokter Risa menuju pintu keluar rumah.
__ADS_1
Setelah keduanya hilang di balik pintu, Rolland dan Widya terlihat serius mendiskusikan sesuatu di ruang tamu.
"Bell, apa tidak sebaiknya Riani segera pindah ke bali?" usul Rolland pada Widya.
"Aku juga penginnya seperti itu, semakin cepat pindah, semakin lebih baik, tapi..."
"Tapi kenapa Bell?"
"Riani masih punya janji pada keluarga Ronand, adikmu"
"Itulah masalahnya, terkadang aku jengkel juga sama Ronand, tapi aku juga kasihan sama Vio, keponakanku, kenapa dia bisa mencintai Ethan hingga rela menderita seperti itu...?"
"Ethan juga masih sangat mengharapkan cinta Riani, sedangkan di sisi lain Ethan hanyalah bagian dari masa lalu Rinai, bisakah kamu membujuk Ronand untuk bicara dengan Vio agar melepaskan Riani, biar bagaimanapun Riani juga punya kehidupan sendiri..." Pinta Widya.
"Aku akan mencoba membicarakan masalah ini dengannya"
"Maaf...Bukannya aku berniat kejam pada Viola, tapi dengan seringnya Riani dan Ethan bertemu, bukankah akan semakin memperdalam perasaan Ethan pada Riani, dan hal itu akan semakin membuat hati Viola terluka? hingga akhirnya Riani juga akan terbebani dengan hal itu?"
"Penjelasanmu memang masuk akal juga Bell, dan aku mengerti dengan maksudmu, memang ada benarnya juga jika hubungan antara Riani, Viola dan Ethan terus berlanjut seperti itu, maka akan berujung tidak baik bagi mereka bertiga"
"Aku hanya ingin melindungi anakku, apakah salah?"
"Itu tidak salah, dan aku aku juga pasti akan melakukan hal yang sama, secepatnya aku akan bicara dengan Ronand, adikku"
"Tapi mungkin sebaiknya kalian bicarakan hal ini setelah acara tujuh bulanan Riani, karena aku berniat mengadakan acaranya sebelum pindah ke Bali"
"Baiklah, kira-kira kapan acaranya akan di adakan?"
"Sekitar dua mingguan lagi"
"Lalu mau di adakan di mana acara tujuh bulanannya?"
"Kalau masalah tempat aku belum memikirkannya, mungkin kami akan pulang kampung untuk mengadakan acaranya tujuh bulanannya"
"Tapi bukankah akan sangat beresiko jika di adakan di sana, dan aku takut dengan perut yang sudah besar seperti itu akan membuatnya kecapekan dalam perjalanan..."
"Aku juga berpikir seperti itu..."
"Bagaimana kalau diadakan di rumah ini saja? karena Riani sudah terbiasa dan nyaman tinggal di sini, apalagi nanti bisa mengundang anak-anak dari basecamp pelatihannya Iky"
"Kalau Iky tidak keberatan, aku setuju saja"
"Tentu saja dia tidak akan keberatan, justru dia akan sangat senang jika mendengar rencana ini, percayalah..."
"Iya, iya aku percaya..."
"Jadi deal?!
"Deal!"
Keduanya saling bersalaman, dan Rolland menggunakan kesempatan itu untuk memeluk Widya, namun dengan sigap Widya menghindar dan dengan menggunakan isyarat memperingatkan Rolland, kalau mereka bisa ketahuan oleh orang rumah.
Seluruh ruangan tengah di penuhi dengan aura cinta sepasang muda mudi era 70an.
Sebaliknya di dalam kamar, pikiran Riani tenggelam dalam penyesalan akan perasaan yang salah pada Ethan, karena dia tahu bahwa perasaannya pada Ethan adalah sebuah dosa...
__ADS_1
...☆☆☆...