KESETIAAN YG TAK TERBATAS

KESETIAAN YG TAK TERBATAS
ACARA TUJUH BULANAN


__ADS_3

Akhirnya mobil pun telah sampai di rumah, Akbar segera mematikan mobilnya.


Riani turun dari mobil tanpa menunggu Akbar membukakan pintu untuknya.


"Thanks ya Paman, aku langsung masuk dulu, kebelet nih!" kata Riani buru-buru, sambil tersenyum cengengesan.


Akbar hanya mengangguk dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol Riani.


Setelah Riani keluar dan berjalan buru-buru, Akbar tidak langsung memarkirkan mobilnya, dia menghela nafas panjang dengan mata menatap ke arah Riani.


"Hhhhh...Winnieku yang malang...Semoga kelak kamu dan anakmu bisa mendapatkan kebahagiaan meski bukan denganku, namun aku akan selalu tetap mendukungmu..." Ucap Akbar dengan pelan.


Sementara itu Riani yang sedang terburu-buru masuk ke kamar dan langsung menuju ke toilet tiba-tiba langkahnya terhenti saat mendengar ponselnya berbunyi, dengan segera dia mengangkatnya setelah tahu Ethan yang meneleponnya.


"Iya Than, ada apa?"


"An-an kamu sekarang di mana?"


"Aku sekarang mau ke toilet, tadi baru saja pulang dari rumah sakit untuk periksa rutin kandungan"


"Lalu bagaimana keadaan calon bayiku?"


Mendengar Ethan mengatakan bayinya, Riani diam tak bergeming, hatinya merasa gamang.


"Si jabang bayi sangat sehat dan aktif..." Jawab Riani akhirnya.


"Syukurlah...Ya sudah, kamu segeralah lanjutkan hajatmu, tidak sehat kalau menundanya"


"Iya, baiklah...Kamu juga harus teratur makan dan minum obat"


"Iya pasti itu, Bye"


"Bye"


"Kamu tutup duluan teleponnya"


"Baiklah" Riani segera mematika n panggilan tersebut, kemudian melanjutkan langkahnya menuju ke toilet untuk menyelesaikan hajatnya.


.............


Para tamu undangan sudah mulai berdatangan di rumah Iky, di mana Riani tinggal.


Suasana ramai menandai acara tujuh bulanan kehamilan Riani, para sahabat dan keluarga telah berkumpul, termasuk Radja suami Riani yang sengaja datang lebih awal.


Meskipun kedatangan Radja untuk mengikuti acara tujuh bulanan calon bayi mereka, namun tidak ada obrolan di antara mereka.


Keduanya tampak akur dan terlihat bahagia saat menerima dan beramah tamah dengan para tamu, meski sebenarnya di hati mereka berbeda.


Terkadang Radja mencoba mencari kesempatan untuk mencoba berbicara dengan Riani, sebaliknya Riani justru sekeras mungkin mencoba menghindarinya.


Seperti saat ini, setelah beramah tamah dengan para tamu, Riani segera menjauh dari Radja dan membaur dengan para teman dan sahabatnya itu.


Di pandanginya satu persatu mereka, Viola bersama Ethan yang masih menggunakan kursi roda, Nando, adiknya Maulana, Andy dengan Eksi dan Ibunya, juga Nuna.


Masih ada Teddy yang datang bersama dengan Roro, sahabat terkasihnya, dan kedatangan tamu tamu istimewa baginya, yaitu Dokter Fariza alias Shiro.


Melihat kedatangan Riani, mereka semua menyambut hangat Riani dengan wajah mereka yang penuh suka cita dengan acara tujuh bulanan tersebut.


Riani merasa sangat beruntung, karena masih di kelilingi orang-orang yang dengan tulus menyayangi dan memperhatikannya.


"Selamat ya Kak, semoga saat melahirkan di beri kelancaran, bayi dan kak Riani di beri keselamatan dan kesehatan..." Doa Eksi.

__ADS_1


"Amin..." Jawab semuanya kompak.


"Selamat ya Ai..." Teddy menyalami dengan tatapan penyesalannya.


"Terima kasih ya Ted" membalas jabatan tangan Teddy.


"Selamat ya An-an ku sayang..." ucap Roro sambil memeluk erat Riani.


Semua saling bergiliran untuk mengucapkan selamat pada Riani, termasuk Ethan yang mengucapkan dengan tatapan penuh arti, apalagi saat dia mengelus perut Riani, ada binar kebahagiaan di matanya.


"Ternyata kamu di sini?" tanya suara yang berasal dari arah belakang mereka, tampak Akbar berjalan menghampiri Riani, kemudian menatap ke arah Ethan yang masih mengelus perut Riani.


"Hallo Pooh..." Sapa Akbar pada Ethan dengan senyum manisnya.


Mendengar namanya di sebut dengan panggilan itu, Ethan terkejut dan sontak berdiri dari kursi Rodanya meski pada saat ini tubuhnya masih lemah. Membuat Viola ikut terkejut dengan reaksi Ethan itu, ada kekhawatiran di hatinya.


Namun rasa penasarannya, membuatnya mengurungkan niatnya untuk meminta Ethan duduk kembali di atas kursi roda.


"Paman Donald...?" Ucap Ethan lirih dengan tatapan mata tidak percayanya.


Bagaimana dia tidak percaya, karena paman Donald yang ia kenal dulu, matanya buta dan badannya yang gembul.


Spontan Ethan langsung memeluk erat tubuh Akbar.


Akbar yang agak terkejut dengan pelukan mendadak dari Ethan, akhirnya tersenyum dan membalas pelukan Ethan.


Tiba-tiba Radja datang menghampiri Riani.


"Dek...acaranya akan segera di mulai, Ibu memanggilmu" Kata Radja, setelah menyalami dan berbasa basi sebentar pada semua orang yang ada di situ.


"Nanti kalau ada waktu kita bertiga lanjutkan mengobrol, sekarang ayo kita ikuti acaranya" ajak Akbar.


.............


Acara Mitoni atau tujuh bulanan kandungan Riani berjalan penuh khidmat hingga akhirnya selesai dengan lancar dan tidak ada halangan apapun.


Riani dan Radja kembali beramah tamah dan menjamu para tamu.


Radja yang sedari tadi mendampingi Riani selama menjamu tamu, melihat ketidaknyamanan di kaki istrinya tersebut.


"Kalau kamu capek, istirahatlah dulu Dek..." Kata Radja, perhatian.


"Tidak apa-apa kok Mas, cuma kaki terasa pegal banget, mungkin karena terlalu lama berdiri dan pengaruh hamil besar juga, jadi gampang capek"


Radja segera beranjak meninggalkan Riani yang bingung dengan sikap suaminya tersebut, namun saat melihat Radja kembali sambil membawa kursi untuknya ada perasaan lega di hati Riani, karena prasangka buruknya tadi ternyata salah.


"Kamu duduklah dulu Dek dan luruskan kakimu"


Riani hanya diam, namun menuruti setiap yang di katakan Radja.


Setelah Riani duduk, Radja berjongkok kemudian mengeluarkan minyak urut yang biasa Riani pakai, melihat itu Riani tersenyum.


"Dari mana kamu mendapatkan minyak itu Mas?"


"Tadi aku ambil di dalam mobil, untuk berjaga-jaga setiap kali aku pusing dan pegal-pegal, jadi aku selalu menyimpannya di mobil" jawab Radja sambil mengurut pelan kaki Riani setelah mengoleskan minyak tersebut.


"Sejak kapan kamu mulai suka memakai minyak itu Mas? sedangkan setahuku setiap kali aku memakainya kamu tidak suka dengan baunya"


"Sejak kamu meninggalkan rumah...Aku justru merindukan bau minyak ini" jawab Radja, menghentikan pijatannya, dengan kepala tetap tertunduk.


Kemudian dengan mata yang berkaca-kaca di tatapnya wajah wanita yang sangat di rindukannya itu.

__ADS_1


"Bisakah beri aku satu kesempatan lagi Dek...?" Pinta Radja dengan suara lirih dan bergetar, tangannya mengelus lembut perut besar istrinya itu.


Melihat mata Radja yang menyedihkan, yang seolah tanpa harapan di dalam tatapannya itu, Riani menggigit bibirnya, dan mengalihkan pandangan ke arah lain, matanya sudah mulai berkaca-kaca, bibirnya terasa sakit, namun hatinya lebih sakit dan terluka.


"Dek...?" Tanya Radja lagi tanpa melepaskan tatapannya pada Riani.


Riani mengusap ujung matanya kemudian pandangannya beradu dengan mata Radja.


"Kita bicarakan ini nanti, selesaikan dulu acara ini Mas, sekarang masih banyak tamu, tidak enak sama mereka"


"Baiklah..." Jawab Radja pasrah, kemudian dia melanjutkan memijat kaki istrinya tersebut.


Teddy yang sedang mengobrol dengan Roro dan Shiro sekilas mengalihkan tatapan matanya pada pemandangan sepasang suami istri yang mungkin bagi orang lain terlihat romantis, tapi bagi Teddy yang tahu kebenarannya, hanya bisa tersenyum getir, mungkin dia harus menyerah dan ikut bahagia jika memang mereka berdua rujuk kembali, dan itu berarti tidak ada harapan lagi baginya bisa merengkuh kembali hati Riani.


Tepukan Roro di pundaknya membuatnya terkejut dan kembali tersadar dengan kenyataan...


Melihat Ethan yang menatap nanar pada Riani dan Radja membuat Akbar tersenyum, dia paham apa yang sedang di rasakan oleh Pooh kesayangannya itu.


"Kenapa? tidak rela?" tanya Akbar tersenyum.


"Aku memang tidak rela Bang, tapi...Apa hakku? sedang semua yang terjadi dengannya dulu karena kesalahanku, maafkan aku Bang...Aku tidak bisa menjaga Winnie kesayanganmu..." Jawab Ethan lirih, lebih terkesan merintih karena perasaannya yang kesakitan.


"Kenapa harus minta maaf? semua yang terjadi karena memang sudah kehendak Tuhan, dan kamu harus bisa move on, apalagi sekarang kalian sudah sama-sama mempunyai pasangan"


"Aku ikhlas Bang, kalau dia memang bahagia dengan suaminya, tapi yang ku lihat saat ini dia sedang menderita Bang..." Kata Ethan sambil menatap Riani yang tertunduk, sedangkan Radja sudah tidak terlihat di sana.


"Aku juga tahu itu, tapi kamu lihatlah baik-baik dia sekarang, bukankah kini dia seorang wanita yang kuat, padahal dulu dia gadis yang manja dan cengeng, percayalah padanya kalau dia bisa berjuang sendiri untuk kebahagiaannya bersama dengan anaknya nanti..." Kata Akbar sambil menepuk pundak Ethan.


"Ya Bang, aku percaya padanya..."


.............


Papah Rolland menghampiri Riani yang masih duduk tertunduk.


"Suamimu mana Nak?" tanya papah Rolland mengelus lembut kepala Riani, terlihat begitu sayang papah Rolland padanya.


"Mas Radja sedang mencuci tangannya Pah"


"Kamu terlihat sangat lelah, ayo papah antar ke kamarmu dan istirahatlah"


"Tapi pah, bagaimana dengan para tamu?"


"Untuk masalah tamu biar papah dan ibumu yang urus, kamu baik-baiklah istirahat"


"Baiklah Pah..." Riani mencoba berdiri dari duduknya, dan dengan di bantu papah Rolland, Riani berjalan pelan menuju ke kamarnya.


"Sekarang kamu istirahatlah, papah akan panggil ibumu untuk datang kemari" kata Papah Rolland sesampainya di kamar Riani.


"Baik Pah, terima kasih..."


Papah Rolland mengangguk, kemudian dengan lembut mengecup kening Riani.


"Istirahatlah, papah keluar sekarang"


Riani mengangguk, matanya menatap punggung papah Rolland hingga bayangannya menghilang di balik pintu.


Setelah Papah Rolland keluar dari kamarnya, Riani tidak lantas langsung istirahat, melainkan berkutat dengan ponselnya, dia mengirim pesan yang berisikan permohonan maafnya.


Angannya kembali di acara tujuh bulanan tadi, selama acara berlangsung, sesi demi sesi dia jalani bersama Radja, perasaannya campur aduk, apalagi saat melihat Radja, suaminya itu menangis setiap kali memegang dan mengelus perut besarnya itu, hatinya pun ikut pilu, karena biar bagaimanapun Radja adalah suami dan ayah dari bayi yang sudah sekian lama mereka nantikan, meski akhirnya kehadiran calon bayi mereka tidak bisa merubah kenyataan pahit yang harus mereka terima dan terpaksa harus memilih jalan masing-masing saat keduanya berada di persimpangan yang hanya akan saling menyakiti bila di teruskan berjalan bersama di satu arah, dan mungkin hanya di dalam acara tujuh bulanan inilah, kesempatan terakhir mereka berdua untuk bisa bersama dan memberikan kasih sayang penuh pada calon bayi mereka, meski masih dalam kandungan...


...☆☆☆...

__ADS_1


__ADS_2