KESETIAAN YG TAK TERBATAS

KESETIAAN YG TAK TERBATAS
DIA


__ADS_3

Suara daun kering yang terinjak, membuat matanya seketika terbuka, kewaspadaan Riani membuatnya segera bangun terduduk, dengan mata langsung ke arah sumber suara.


"Anda?! tanya Riani kaget saat tahu kalau yang datang adalah pria yang tanpa sengaja selalu bertemu dengannya.


"Ya saya, maaf...Kalau kedatangan saya sudah mengganggu tidur anda" kata pria itu dengan nada ramahnya.


"Maaf...Apa anda mengikuti saya?" tanya Riani menyelidik.


"Ya, saya mengikuti anda" jawab pria tersebut jujur.


"Dari mulai kapan anda mengikuti saya?" tanya Riani lagi yang terkejut dengan keterus terangan pria itu.


"Sebenarnya semua pertemuan kita bisa di bilang kebetulan yang tak di sengaja"


"Kebetulan yang tak di sengaja?" tanya Riani yang semakin menyelidik.


"Ya, karena tadi saat saya bersepeda, saya melihat anda memasuki jalan setapak yang jarang sekali di lewati orang, karena saya khawatir anda tersesat jadi saya mengikuti anda" jawabnya lagi menjelaskan.


Mendengar penjelasan pria tersebut dan perhatiannya, dalam hati Riani ada rasa terharu, dan saat dia memperhatikan secara seksama sosok pria tersebut hatinya bergetar, karena pria tersebut sama persis denga dia, dari mata, senyum, suara dan nada bicaranya sama persis dengan dia, karena pria yang sedang berdiri di depannya sekarang ini contoh kemiripan yang sempurna dari dia...


"Terima kasih banyak atas perhatiannya, maaf jika saya sudah merepotkan anda..." Ucap Riani yang segera sadar dari lamunannya.


"Saya tidak merasa kerepotan, dan saya harap anda tidak keberatan jika kita bisa berteman" pinta pria tersebut tersenyum, sambil mengulurkan tangannya ke arah Riani.


"Tentu saja saya tidak keberatan" jawab Riani sambil membalas jabatan tangan pria di depannya itu.


"Perkenalkan nama saya Rifai, senang berteman dengan anda" ucap pria tersebut dengan pandangan mata yang penuh arti pada Riani.


"Saya Riani, terima kasih mau berteman dengan saya" jawab Riani dengan senyum manisnya dan melepaskan jabatan tangannya, dalam hatinya langsung merasa lega karena pria tersebut memang benar bukan dia dan tidak mungkin dia...Karena dia lebih memilih melepaskan hidupnya dan meninggalkan Riani dalam keputus asaan dan kesakitan saat itu...


"Sebenarnya saya ada nama lain, tapi saya lebih memilih menggunakan nama ini, karena nama ini dia yang memberikan padaku, dan itu sangat berarti untukku..." Jelas pria yang bernama Rifai itu.


"Pasti dia orang yang sangat penting bagi anda?"


"Ya, dia sangat berharga dan berarti bagiku..."


"Beruntunglah dia, karena bisa memiliki orang yang sangat mencintai dan menyayanginya seperti anda..."


"Tapi sayangnya...Dia tidak mengetahui keberadaan dan perasaan saya..."

__ADS_1


"Bagaimana bisa? padahal bukannya dia selalu bersama anda?" tanya Riani heran, karena setahu Riani wanita yang saat itu bersamanya dan menggandeng mesra dirinya pastilah wanita yang dia cintai, apalagi tinggal satu resort dengannya.


"Maksud anda?" tanya Rifai yang justru ikut bingung.


"Ehem...Wanita yang saat itu berjalan bersama dengan anda, saat kita berpapasan dan bertemu pertama kali itu, bukankah kekasih atau bahkan istri anda?" tanya Riani hati-hati sekaligus penasaran.


"Bagaimana anda bisa menyimpulkan kalau dia adalah istriku?" kata Rifai balik bertanya dengan senyum penuh artinya.


"Oo! Ehem...Karena saat itu saya lihat kalian berdua begitu mesra dan romantis, seperti pasangan pengantin baru yang sedang berbulan madu" jawab Riani canggung dan tidak enak hati.


"Anda benar tapi lebih tepatnya dia adalah calon istriku, kami berdua datang ke sini untuk mempersiapkan acara pernikahan kami yang rencananya akan di adakan di resort X tersebut"


"Oo begitu...Selamat dan maaf kalau saya asal menebak saja..." Ucap Riani sambi menjabat tangan Rifai sebentar kemudian segera melepaskannya sebagai tanda maaf dan bentuk ucapan selamat atas kabar bahagia mengenai rencana pernikahan Rifai, tapi entah kenapa jauh lubuk hatinya seperti ada rasa sakit yang menyayat hatinya, tetapi dia tidak tahu perasaan apa itu dan mengapa?


"Tapi hati dan perasaan saya tidak seperti yang anda lihat saat itu..." Kata Rifai dengan raut wajahnya yang seketika berubah dengan penuh kesedihan.


"Maksud anda?" tanya Riani penasaran dan terkejut dengan perubahan wajah Rifai.


"Mungkin aku terlihat bahagia, tapi hati dan perasaanku terasa kosong dan kesepian, aku seakan sedang menjalani sebuah hubungan kemesraan tanpa percintaan..." Jawab Rifai yang kini duduk di pasir dengan pandangan kosong ke arah laut.


"Waduh...Kalau masalah itu saya tidak berani berkomentar banyak, karena ini menyangkut hubungan privasi anda dengan pasangan anda" jawab Riani, karena dia juga bingung untuk menjawabnya apalagi dia sangat tahu sekali perasaan seperti itu, kelak akan sangat susah dalam menjalani sebuah hubungan, terutama dalam hubungan ke jenjang rumah tangga.


"Tidak apa-apa...Bisakah kita tidak bicara formal? aku ingin kita bicara layaknya seperti teman, bukankah kita sekarang sudah berteman?" pinta Rifai pada Riani sambil melihat ke arah Riani yang masih berdiri di sampingnya.


"Tentu saja aku tidak akan keberatan, bukankah aku sudah bilang sebelumnya? justru aku merasa kamulah yang keberatan berteman denganku..." Jawab Rifai yang seolah tahu dengan apa yang ada di pikiran Riani.


Sedangkan Riani hanya terdiam, pikirannya sekarang sedang kalut karena masalah yang sedang dia hadapi, dan dia tidak mau ada masalah lain yang hanya akan menambah beban pikirannya lagi.


"Sebenarnya aku tidak keberatan dengan pertemanan kita, hanya saja...Kita sama-sama sudah memiliki pasangan masing-masing, aku sudah bersuami dan kamu sebentar lagi akan mempunyai istri, jadi aku tidak ingin mereka ada salah paham dengan hubungan persahabatan kita..." Jawab Riani menjelaskan.


"Aku sangat mengerti dengan hal itu, jadi kamu tidak perlu khawatir"


"Oke, baiklah kalau begitu mari kita berteman" kata Riani sambil mengajak bersalaman, yang langsung di sambut senang oleh Rifai dengan membalas jabatan tangan Riani.


kemudian keduanya menatap laut yang deburan ombaknya mengenai kaki mereka.


"Ria...?" panggil Rifai lagi dengan suara pelan, mendengar namanya dengan sebutan itu Riani terkejut, karena seingatnya hanya dia yang memanggilnya dengan nama itu.


"Tadi kamu panggil aku apa?! tanya Riani penasaran.

__ADS_1


"Riani" jawab Rifai cepat sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Oo Maaf...Aku rasa aku sudah salah dengar tadi.


"Pastilah aku tadi salah dengar, karena hanya dia yang memanggil namaku seperti itu..." Bisiknya dalam hati.


Lamunan keduanya larut pada sosok dia tanpa nama, yang pernah hadir di kehidupan masa lalu mereka masing-masing.


.............


Hingga beberapa menit kemudian...


"Sebaiknya aku lanjutkan bersepeda, aku pamit dulu..." Kata Riani sambil berdiri dari duduknya.


"Apa perlu aku temani kamu bersepeda?" kata Rifai menawarkan diri.


"Tidak perlu terima kasih, aku masih ingin berkeliling, masih banyak tempat yang ingin aku kunjungi, tapi aku ingin sendirian..." Jawab Riani berusaha mematahkan keinginan Rifai untuk menemaninya.


"Kalau begitu baiklah, tapi tolong nanti jangan biasakan tidur sendirian di sembarang tempat, karena akan mengundang bahaya bagimu..."


"Aku tahu, sekali lagi aku ucapkan banyak terima kasih banyak atas perhatianmu..."


"Sama-sama, kamu yakin tidak ingin aku temani?" tanya Rifai lagi meyakinkan dirinya.


"Aku yakin Fa'i...Aku tidak perlu di temani, oke?"


"Kamu tadi memanggilku apa?! kali ini giliran Rifai yang terkejut setelah mendengar Riani memanggil namanya dengan sebutan tadi, karena hanya dia yang memanggil namanya seperti itu saat masih bersama dulu sekali...


"Maaf kalau saya salah panggil tadi, karena entah kenapa aku tiba-tiba ingin memanggil dengan nama itu, tapi kalau kamu keberatan maka aku akan memanggilmu Rifai saja, bagaimana?"


"Aku tidak keberatan kamu memanggilku seperti itu, dan aku hanya ingin kamu selalu memanggil namaku dengan nama itu"


"Baiklah Fa'i, kalau begitu aku pergi dulu" kata Riani sambil berjalan ke arah pohon di mana sepedanya di sandarkan, dan Rifai mengikutinya dari belakang.


"Aku duluan ya Fa'i, bye..." Ucap Riani, Rifai hanya mengangguk melihat Riani yang sudah mengayuh pelan sepedanya, matanya lekat menatap Riani dari belakang yang mulai menjauh darinya, hingga akhirnya bayangan Riani menghilang di persimpangan jalan.


Kemudian Rifai mengambil sepedanya yang ia geletakkan tidak jauh dari dia berdiri.


Dengan langkah yang seolah tanpa asa Rifai menuntun sepedanya menyusuri pinggiran pantai meninggalkan tempat itu, dia tidak menghiraukan deburan ombak mengenai kakinya yang kini tak beralaskan apa-apa, dia sengaja melepas sepatunya, seperti dia ingin melepaskan dia di masa lalunya namun kenyataannya dia tidak mampu untuk melepaskannya bahkan hanya bayangan dia...

__ADS_1



...☆☆☆...


__ADS_2