KESETIAAN YG TAK TERBATAS

KESETIAAN YG TAK TERBATAS
ALASAN RIANI


__ADS_3

Keduanya keluar dari kamar mandi, wajah Riani terlihat semakin pucat.


Melihat Riani dan Roro keluar dengan segera om Rolland berdiri akan membantu Riani, namun baru saja dia sampai di depan mereka berdua, tiba-tiba tubuh Riani ambruk tak sadarkan diri lagi.


Roro berteriak kaget, sedangkan Om Rolland dengan segera membopong tubuh Riani, kemudian membawa dan meletakkan tubuh Riani di atas ranjangnya.


Sedangkan Roro segera memencet bel darurat untuk memanggil suster dan dokter jaga.


Karena setelah beberapa menit tidak ada suster ataupun dokter jaga yang datang, maka om Rolland memutuskan untuk mendatangi dan memanggil mereka di ruang jaga.


"Nak Roro, tolong kamu jaga suhu tubuh dia agar tetap hangat, om akan memanggil dokter ke sini"


"Baik om..."


Dengan telaten Roro menggosok-nggosokkan tangan Riani dengan tangannya, kemudian bergantian dengan kaki Riani, dengan berulang-ulang dia lakukan hal tersebut agar tubuh Riani tetap terjaga kehangatannya.


Tidak butuh lama, om Rolland sudah kembali sambil membawa dokter dan suster.


"Perkenalkan saya Dokter Anita dan sayalah yang selanjutnya akan menangani pasien yang bernama Nyonya Riani ini, menggantikan Dokter sebelumnya karena beliau mendadak ada dinas penting ke luar negeri"


Kata Dokter wanita yang berdiri di samping ranjang Riani sambil menjabat tangan Roro yang wajahnya masih terlihat sangat cemas.


"Tolong adik saya Bu Dokter..."


"Iya...Saya akan berusaha sebaik mungkin menolong adik anda, jadi tolong anda juga yang tenang ya"


"Baik Dokter, terima kasih..."


Roro segera memberi waktu dan tempat untuk dokter memriksa keadaan tubuh dan kesehatan Riani, sedangkan suster mengganti kantong infusnya, karena kebetulan infusnya hampir habis.


Om Rolland dan Roro menunggu penuh kecemasan saat melihat Dokter dan Suster dengan seksama dan penuh teliti memeriksa tubuh Riani.


Sesekali Roro mengusap air matanya, melihat itu om Rolland mencoba menenangkan Roro dengan menepuk-nepuk pelan pundak Roro.


"Suster tolong beri saya berkas dari hasil diagnosa, dokter jaga sebelumnya, saya ingin mengeceknya, apakah hasilnya sama dengan diagnosa saya ini" kata dokter pada susternya.


"Baik Dok, akan segera saya ambilkan" jawab sang Suster dan segera bergegas keluar untuk mengambil berkas yang di minta oleh dokter.


"Bagaimana keadaannya Bu Dokter?" tanya Roro cemas.


"Dari hasil sementara diagnosa saya ini, ibu Riani saat ini sedang hamil" jawab sang dokter dengan tenang.


"Apa?! dia hamil Dok?" tanya Roro dan om Rolland serentak, terkejut.


"Tapi ini baru hasil sementara dari diagnosa saya, nanti akan saya sinkronkan terlebih dahulu dengan diagnosa dokter sebelumnya, kita tunggu sebentar ya Pak, Bu..."


"Baik Dokter, terima kasih"


.............


Beberapa menit kemudian suster yang di tugaskan Dokter untuk mengambil rekam medis milik Riani tadi akhirnya kembali dengan berkas di tangannya.


"Dok ini rekam medis milik Nyonya Riani" kata sang Suster sambil menyerahkan berkas yang ia bawa.


"Terima kasih Suster, mari kita lihat apakah hasil pemeriksaannya sama dengan diagnosa saya..."


Dokter Anita segera membuka map berisi berkas medis milik Riani, dengan seksama dia membaca dan meneliti berkas tersebut.


Akhirnya senyuman pun tersungging di sudut bibir Dokter Anita.


"Ternyata memang benar, kalau sekarang ini Nyonya Riani tengah hamil jalan dua belas minggu..." Kata Dokter Anita kemudian.


"Alkhamdulillah...Akhirnya keinginanmu terkabul An-An..." Ucap syukur Roro sambil membelai lembut kepala Riani yang masih terpejam matanya.


"Tapi Dok, kenapa dia belum sadarkan diri hingga sekarang?" tanya Roro khawatir.

__ADS_1


"Iya Dok, apakah ini ada hubungannya dengan kesehatan kandungannya?" tanya om Rolland yang juga terlihat tidak kalah khawatirnya.


"Anda betul pak Rolland, di usia trimester kehamilan Nyonya Riani ini selain karena usia kehamilan yang masih rawan tapi juga karena kandungan nyonya Riani juga lemah dan trombosit darah merahnya juga rendah"


"Lalu bagaimana sebaiknya dok?" tanya Roro yang bertambah perasaan cemasnya.


"Untuk sementara ini saya sarankan agar nyonya Riani menjalani perawatan di rumah sakit ini selama satu minggu, agar kami bisa memantau dan mengetahui perkembangan janinnya dan tidakan apa yang harus kami lakukan selanjutnya..."


"Kalau begitu, mohon bantuannya ya Dok dan terima kasih..." Jawab om Rolland mengerti.


"Sama-sama pak Rolland, kalau begitu saya permisi dulu" pamit dokter Anita.


"Silahkan..."


"Terima kasih banyak Bu Dokter..." Ucap Roro.


Setelah mengangguk, Dokter Anita dan suster pendampingnya segera keluar dari ruangan meninggalkan om Rolland dan Roro.


.............


"Kalau begitu, saya sebaiknya pulang sebentar untuk mempersiapkan baju dan keperluan Riani lainnya, selama dia di rawat di sini"


"Apa kamu tahu di mana rumahnya?"


"Emm...Saat ini Riani tinggal bersama saya om"


"Kenapa dia tinggal denganmu, apakah dia ada masalah?" tanya om Rolland terkejut, teringat kembali olehnya kejadian sore tadi saat dia melihat Riani keluar dari rumah seseorang dengan menangis dan akhirnya terjatuh tidak sadarkan diri.


" Aduh...Bagaimana ya om untuk saya menjelaskannya? saya juga bingung..." Jawab Roro dengan tidak enak hati, karena biar bagaimanapun dia tidak mau mengumbar masalah pribadi Riani dengan Radja pada orang lain.


"Maaf nak Roro, bukannya saya ingin ikut campur, hanya saja...Riani sudah om anggap seperti anak om sendiri, jadi mendengar hal itu, om jadi cemas dan khawatir dengannya" kata om Rolland menjelaskan agar Roro tidak salam paham dengan maksud hatinya.


"Iya om saya mengerti kok, emmm...Sebenarnya saat ini Riani dan suaminya sudah pisah ranjang karena pihak ke-tiga dari suaminya...


Roro pun menceritakan semua yang telah terjadi dengan Riani, entah kenapa Roro merasa percaya dan akhirnya mau menceritakan masalah yang sedang Riani hadapi saat ini, meskipun ada perasaan merasa bersalah karena menceritakan aib sahabat sekaligus adik baginya itu, namun Roro yakin om Rolland adalah pria tua yang baik, dan dia berharap om Rolland bisa membantunya menjaga Riani.


"Saya sangat berterima kasih jika om Rolland ingin membantu Riani, tapi semuanya kembali pada Riani, apakah dia mau dan setuju jika om membantunya..."


"Memangnya kenapa om Rolland ingin membantuku Mi-Ro?" tanya Riani yang sontak mengagetkan Roro dan om Rolland yang sedang berbicara serius.


"An-an...Akhirnya kamu sadar juga, kamu membuat kami cemas..." Seru Roro memeluk tubuh Riani dengan eratnya.


"Kruyuuuukk..." Bunyi suara perut keroncongan Riani membuat Roro dan om Rolland agak kaget, namun segera mereka tersenyum setelah menyadari kalau asal bunyi tersebut dari perut Riani.


"Kamu sebaiknya makan nak, karena orang yang sedang hamil tidak boleh terlalu lapar demi janinmu..."


Mendengar kata-kata dari om Rolland yang mengatakan kalau dirinya sedang hamil, Riani sangat terkejut.


"A...Aku hamil, om?" tanya Riani dengan terbata-bata.


"Iya An-an! selamat ya, kamu akan menjadi seorang ibu..." Ucap Roro sambil kembali memeluk tubuh Riani.


Setelah mendengar jawaban dari Roro dan yakin bahwa dirinya hamil, seketika tangisnya pun pecah.


Roro dan om Rolland pun ikut tersenyum dan menangis haru.


.............


Setelah tangis Riani Reda om Rolland memerikan nasi liwet yang di beli Roro.


Kembali Riani mencoba untuk makan nasi liwet itu, namun lagi, Riani kembali mual-mual, hingga akhirnya dia mengurungkan niatnya untuk makan.


"Mi-Ro, tolong jangan beritahu mengenai kehamilanku dan keberadaanku di sini pada Radja dan Teddy"


"Oke, selama demi kebaikanmu dan bayimu An-an, tapi mengapa Teddy tidak boleh mengetahuinya? karena biar bagaimanapun dia atasanmu, dan bila kamu kembali cuti kerja dia pasti akan menanyakan alasannya..."

__ADS_1


"Nak Roro benar..."


"Biar masalah itu aku pikir nanti, yang penting sekarang jangan beritahu dia dulu"


"Baiklah jika memang itu keinginanmu..."


"Tapi sepertinya sudah terlambat, karena tadi saat dia menelponku, aku memberitahu Teddy kalau mba ada di rumah sakit ini dan sekarang dia dalam perjalanan ke sini, maaf Mba..." Kata Nando yang tiba-tiba sudah kembali dan masuk dengan membawa jus dan buah delima segar yang baru saja dia ambil dari rumah papahnya.


"Kalau begitu jangan beritahu dia mengenai kehamilanku ini padanya, biarlah dia tahu dari mulutku sendiri..."


"Baiklah..." Jawab Roro, meskipun dia tidak tahu alasan Riani tidak ingin Teddy mengetahui tentang kehamilannya.


"Kami juga tidak akan mengatakan pada siapapun mengenai hal ini tanpa seijin darimu nak..." Ucap om Rolland yang di barengi dengan anggukkan dari Nando.


"Terima kasih atas pengertian kalian semua..."


.............


Om Rolland segera menyodorkan jus Delima pada Riani.


"Coba kamu minum jus delima ini nak, untuk mengisi perutmu yang kosong, apalagi dari tadi nasi belum bisa masuk ke perutmu"


"Terima kasih om..."


Riani segera meminum jus delima tersebut hingga ludes tak tersisa tanpa kendala mual-mual.


Suara ketukkan terdengar dari luar, Nando yang berada dekat dengan pintu segera membukakan pintu, ternyata Teddylah yang datang.


"Ai...Sekarang bagaimana perasaanmu, adakah bagian tubuh kamu yang terasa sakit?" tanya Teddy beruntun, dengan lembut di usapnya kening dan kepala Riani.


"Tidak apa-apa Ted, biasa sakit mualku kambuh, di tambah terlalu capek.


"Aku lihat kamu belum makan sama sekali kan?" tanya Teddy sambil melihat nasi liwet yang masih belum di makan.


"Lapar, ingin makan, tapi perut tidak bisa..."


"Ini aku sengaja membawa bubur ayam dan teh manis, ayo makanlah" kata Teddy sambil membuka kotak putih yang berisi bubur ayam.


"Ini tehnya minumlah dulu , dan ini buburnya"


Riani menuruti saja apa kata Teddy, setelah dia minum teh, kemudian mencoba untuk makan buburnya, namun tetap saja saat dia menghirup uap dari bubur, mualnya kembali kambuh.


"Sepertinya harus di suapin olehku, seperti waktu itu di gili trawangan..." Ledek Teddy, dan dia mengambil kotak bubur yang masih ada di tangan Riani.


Di sendoknya bubur, di tiup pelan-pelan bubur yang masih panas, kemudian di arahkannya ke mulut Riani.


Namun Riani hanya diam tertunduk malu.


"Kamu ini Ted, malu lah..."


"Kenapa malu, yang penting bubur ini bisa masuk ke dalam perutmu, ayo Aa...!" perintah Teddy.


"Iya nak, makanlah...Tidak perlu menghiraukan kami"


"Ayolah An-an demi kesehatanmu..." Kata Roro.


Karena bujukan dari mereka akhirnya Riani membuka mulutnya, dan benar saja, Riani tidak mengalami mual-mual lagi seperti tadi.


Melihat kejadian itu membuat Roro, om Rolland dan Nando pun terheran-heran.


Roro sangat bersyukur karena akhirnya Riani sudah bisa makan, di lihatnya dia sangat lahap memakan bubur dari suapan tangan Teddy.


Terlihat olehnya Teddy dengan sangat telaten menyuapi Riani, wajah puas Teddy yang lekat memandang Riani membuat Roro berpikir, betapa beruntungnya Riani memiliki mantan kekasih yang masih sangat menyayangi dan memperhatikannya.


Akan tetapi kenapa Riani tidak ingin Teddy mengetahui masalahnya, terutama mengenai kehamilannya? hanya Riani sajalah yang tahu alasan di balik sikapnya itu.

__ADS_1


Bagi Roro, apapun alasan Riani itu tidak jadi masalah baginya, asalkan dia bahagia...


...☆☆☆...


__ADS_2