KESETIAAN YG TAK TERBATAS

KESETIAAN YG TAK TERBATAS
BELAJAR MENJADI SINGLE PARENT


__ADS_3

Riani terbangun saat dia merasakan mobil yang dia tumpangi berhenti dan mendengar suara Papah Rolland berbicara dengan Andy.


"Kamu terbangun Nak, ayo turunlah kemudian lanjutkan istirahat kamu" kata Rolland menyambut tangan Riani yang pelan-pelan turun dari mobil.


"Iya Pah, Riani bersih-bersih dulu, habis itu sholat Dhuhur, barulah Riani istirahat"


"Baiklah, hati-hati!" seru Rolland sambil menjaga Riani yang hampir saja tersandung tunggakan tangga.


"Assalamualaikum..." Ucap salam Riani dan yang lainnya.


Sedangkan Andy dan Akbar, Riani melihat mereka kembali ke rumah sebelah, basecamp mereka.


"Wa'alaikum salam..." Jawab Bu Widya dan mbok Sri.


"Kamu pasti lelah, kasihan cucu oma ini..." Kata Bu Widya sambil mengelus-elus perut Riani.


"Minumlah jus Delima ini, Om Rolland sengaja membawanya dari rumah" kata Bu Widya lagi sambil memberikan gelas berisi jus Delima yang dia bawa dari dapur.


"Benarkah? terima kasih ya Pah" ucap Riani sambil menengok ke arah Rolland.


"Sama-sama, Minumlah..." Jawab Om Rolland sembari melirik ke arah Widya yang pura-pura tidak melihat ke arahnya.


Dalam sekali teguk jus Delima di tangannya ludes di minum Riani tanpa sisa, membuat Widya yang melihatnya hanya bisa gelengkan kepalanya, sedangkan Rolland tersenyum puas karena jus delima buatannya di minum habis oleh putrinya itu.


"Kalau minum pelan-pelan, bisakan?" kata Bu Widya sambil mengelap lembut mulut anaknya itu.


"Hehehe...Iya Bu, maaf...Habis seger banget jusnya" jawab Riani cengengesan, malu.


"Sudah sana kamu buruan mandi, biar bisa kejar waktu sholat Dhuhur juga"


"Iya, kalau begitu Riani pergi mandi dulu ya Bu, Pah...?"


Bu Widya dan papah Rolland hanya mengangguk bebearengan.


Setelah Riani sudah masuk ke dalam kamarnya, Rolland berusaha untuk mendekati Widya, namun dengan segera Widya menyusul Riani masuk ke dalam, meninggalkan Rolland yang masih bengong dengan ekspresi wajah kecewanya.


.............


Setelah selesai mandi dan Sholat Dhuhur Riani mencoba berbaring dan memejamkan matanya, namun tanpa dia sadari tangannya menyentuh kalung yang dia pakai, pemberian dari tante Grace, sewaktu di rumah sakit tadi.


Riani bangun dari tempat tidurnya, kemudian duduk di depan kaca Rias, mengamati kalung dengan liontin berwarna biru laut yang tersemat di lehernya itu.


Sang Ibu yang baru keluar dari kamar mandi mengeryitkan keningnya saat Riani sedang berusaha melepas kalung di lehernya.


"Kalung baru Nak?" tanya Bu Widya mendekati Riani.


"Iya Bu, baru di beri Tante Grace tadi sewaktu di rumah sakit.


"Kenapa kamu tidak menolaknya? kalung itu pasti sangat mahal dan berharga baginya"

__ADS_1


"Justru aku sudah menolaknya Bu, tapi Tante Grace memaksaku untuk menerimanya, sebagai tanda terima kasih katanya"


"Emm...Bu?" kata Riani ragu-ragu.


"Ada apa Nak? katakan saja jika ada ganjalan di hatimu" jawab Bu Widya, seolah tahu apa yang ada di pikiran anaknya.


"Begini Bu...Tante Grace dan Om Marcel ingin sekali bertemu dengan Ibu dan meminta maaf atas kejadian yang menimpa ayah dan keluarga kita dulu..."


"Ibu sudah memaafkan mereka nak dari dulu, peristiwa itu terjadi juga karena kehendak Allah, bukanlah karena mereka, hanya saja lewat tangan mereka"


"Jadi Ibu bersedia jika bertemu dengan mereka?"


"Ibu sudah memaafkan mereka, dan itu tidak perlu kita harus bertemu kan?" jawab Widya, balik bertanya.


"Mereka ingin sekali bertemu dan berbicara langsung dengan Ibu, itu yang mereka katakan, jadi tolong Ibu pikirkan terlebih dahulu, mungkin ada baiknya juga kan kalau Ibu bertemu dengan mereka?"


"Apakah sepenting itu nak?"


"Mungkin bagi mereka sangatlah penting Bu, karena peristiwa itu juga ternyata berimbas tidak hanya pada Ethan saja , tapi juga pada Om Marcel"


"Maksud kamu nak?"


"Gara-gara peristiwa itu, dan semenjak itu pula Om Marcel selalu di hantui mimpi buruk dengan kejadian itu hingga membuatnya mengalami Insomnia akut"


"Marcel mengalami sakit Insomnia akut semenjak kejadian itu?"


"Benar Bu, kata Tante Grace mungkin karena rasa bersalahnya itu yang membuatnya tersiksa"


"Dan mungkin dengan kita saling bertemu dengan mereka dan saling membuka hati untuk saling memaafkan mungkin ganjalan di hati kita akan berangsur-angsur hilang dan besar kemungkinan sakit yang di derita oleh Om Marcel juga akan berangsur-angsur sembuh" lanjutnya lagi.


"Baiklah jika itu keinginan kamu, dan jika memang benar bila kita bertemu dengan mereka maka akan berimbas baik bagi mereka, Ibu akan lakukan, tapi...Ibu butuh waktu Nak, karena biar bagaimanapun peristiwa itu masih membekas di hati dan ingatan Ibu..."


"Aku mengerti Bu, karena aku juga merasakan itu, jadi pikirkan pelan-pelan saja, kapanpun Ibu siap beritahu aku, dan mereka juga akan sabar menunggu"


"Baiklah, lalu...Apa yang akan kamu lakukan dengan kalung itu Nak?"


"Aku akan simpan dengan barang pemberian dari keluarga Ethan yang lainnya"


"Apakah ada barang lain dari mereka?"


"Ya Bu, kalung dan cincin pemberian Ethan dulu sewaktu kita masih berpacaran dan...sertifikat rumah di Gili Trawangan"


"Sertifikat Rumah?! kenapa kamu tidak menolaknya? kita memang bukan orang yang berada, tapi juga tidak harus asal menerima pemberian mereka Riani" kata Bu Widya terkejut dan memberi peringatan keras.


"Sama seperti tante Grace memberi kalung ini, aku juga sudah menolaknya berkali-kali pemberian ini, tapi Ethan memaksaku, apalagi Viola istri dari Ethan, dia justru mendukung dan ikut membujukku untuk menerimanya dengan alasan untuk menjaga perasaan Ethan agar tidak membuatnya kecewa yang akhirnya akan membuat penyakitnya kambuh..."


"Coba kamu jujur sama Ibu, kamu masih mencintai Ethan hingga sekarang Nak?"


"Aku tidak tahu Bu...Semenjak aku mengalami pengkhiantan demi pengkhianatan dari Radja, perasaan cinta di hatiku seakan sudah mati..."

__ADS_1


"Ibu tahu perasaanmu Nak..." Melihat anaknya yang menderita karena cinta ada perasaan prihatin di hati Widya.


"Yang aku tahu Viola sangatlah mencintai Ethan, dan aku yakin dengan adanya Viola di samping Ethan, dia akan baik-baik saja"


"Lalu bagaimana dengan dirimu sendiri?"


"Saat ini yang aku prioritaskan hanya calon bayiku ini Bu, sedangkan masalah hati biarlah seiring berjalannya waktu, akan memberikan jawaban padaku nantinya..." Jawab Riani lirih sambil mengelus calon buah hatinya yang ada dalam perutnya itu.


"Ibu sependapat denganmu nak, saat ini lebih baik kamu fokus saja dengan masa kelahiranmu nanti dan mulai dari itu kamu juga harus belajar menjadi single parent, karena kamu sudah memutuskan hal itu sebelumnya"


"Iya Bu, Insya Allah...Aku sudah siap untuk hal itu dan konsekuensinya saat aku memutuskan untuk menjadi single parent nanti"


"Ya sudah, sekarang Ibu tidak mau membahas barang-barang pemberian dari keluarga Ethan lagi, semua Ibu serahkan padamu"


"Terima kasih ya Bu, karena sudah memberi ijin untuk aku menerima dan menyimpan pemberian dari keluarga Ethan"


"Iya, anggap saja karena Ibu ingin menghargai perasaan mereka...Sudahlah, sekarang kamu simpan baik-baik barang-barang tersebut dan segera istirahatlah, kasihan bayimu, meski masih dalam kandungan tapi sudah sering di ajak berpergian jauh dan kecapekan" kata Bu Widya, mengelus penuh sayang perut Riani.


"Maafkan Bunda ya Nak, sudah membuatmu capek..." Bisik Riani.


"Tapi ada baiknya juga, paling tidak kamu sudah mengajarkan calon anakmu ini sejak dini, jadi kelak saat dia lahir hingga tumbuh besar dia tidak kaget lagi dan bertumbuh dengan jiwa yang kuat, karena sejak dari kandungan sudah di ajak susah sama bundanya..." Kata Bu Widya sedikit bercanda.


"Tapi tidak harus dia masih di kandungan juga toh Bu...paling tidak tunggu dia sampai lahir dulu lah..."


"Betul katamu itu, tapi pada kenyataannya, bayi masih di kandungan sudah kamu ajak dia pergi-pergi jauh kecapekan" kata Bu Widya agak kesal.


"Iya...Iya aku minta maaf, mungkin sebentar lagi aku tidak perlu menjenguk Ethan lagi, karena dia sudah menunjukkan tanda-tanda akan sadar dari komanya"


"Benarkah? Syukur Alkhamdulillah kalau begitu...Karena jujur Ibu kasihan juga sama Ethan, dia anak yang baik...Akan tetapi harus mengalami masa-masa yang sulit dan mempunyai penyakit seperti itu"


"Sekarang Ibu sudah boleh tenang, karena sebentar lagi calon cucumu ini tidak akan kelelahan lagi"


"Iya, sekarang buruan tuh beresin barang-barangnya dan segera istirahat, Ibu buatkan susu dulu untukmu" kata Bu Widya sembari keluar meninggalkan kamar.


"Baik Bu..."


Riani segera membereskan dan menyimpan baik-baik barang-barang berharga tersebut.


Setelah mencuci bersih tangannya dia keluar menuju dapur dan meminum habis susu yang Ibunya buatkan untuknya.


Kemudian dia kembali ke kamarnya dan rebahan di atas kasur.


Namun matanya belum bisa dia pejamkan, meski cuaca menjelang sore itu sangat pas untuk melepas penat dan sekedar memejamkan mata, dengan angin sepoi-sepoinya yang sejuk merasuk di celah-celah jendela kamarnya yang sedikit terbuka.


Pikiran Riani teringat kembali percakapan antara dia dan Ibunya.


Dan tidak ada yang salah dengan apa yang di katakan Ibunya tadi, bahwa mulai dari sekarang dirinya harus belajar menjadi single parent , meski mungkin akan terasa sulit baginya, namun belajar dari pengalaman saat dia melihat Ibunya dulu yang menjadi single parent bagi ketiga anaknya, paling tidak sedikit banyak dia tahu dasar untuk menjadi single parent, yaitu harus punya tekat kuat, ikhlas dan sabar...


Ya...Dia harus mulai belajar menjadi single parent dari sekarang...

__ADS_1


...☆☆☆...


__ADS_2