
Mata yang penuh cinta Viola masih menatap mesra sosok Ethan yang belum selesai dengan teleponnya.
Riani hanya tersenyum dan tenggelam dalam pikirannya, hatinya merasa kosong, seperti ada sesuatu yang telah hilang, tapi entah apa itu, Riani pun tidak tahu.
"Apa masih terasa pusing dan mual kak?" tanya Viola yang terlihat cemas.
"Tidak...Aku sudah baikan kok setelah minum obat tadi" jawab Riani tersadar dari lamunannya.
"Sebenarnya kak Riani sakit apa?" tanya Viola penasaran.
"Aku juga belum tahu, sebenarnya sakitku apa, hanya saja di saat-saat situasi tertentu mualku akan kambuh, dan mungkin tadi aku merasa tegang saat melihat Ethan teriak-teriak, jadi sakit mualku kambuh, apalagi aku tadi telat minum obat untuk meredakan mualku..."
"Apakah kak Riani sudah mencoba pergi ke dokter?" tanya Viola khawatir.
"Kalau di periksa dokter sudah, kebetulan teman Teddy seorang dokter, tapi kalau pergi ke rumah sakit aku belum, aku harus cari waktu senggang, untuk pemeriksaan keseluruhan agar bisa mengetahui lebih detailnya apa penyakitku."
"Riani, kamu sudah baikan atau masih mual?" tanya Ethan yang sudah selesai teleponnya dan berjalan masuk ke arah Riani dan Viola.
"Aku sudah baikan kok Josh, terima kasih..."
"Bener?" tanya Ethan meyakinkan lagi, sambil membelai lembut kepala Riani, terlihat Ethan sangat menyayangi Riani.
"Beneran Josh..." Jawab Riani berusaha melepas belaian tangan Ethan dengan mengambil tangan Ethan di kepalanya dan menepuk lembut punggung tangannya.
Riani melirik ke arah Viola dengan perasaan yang tidak enak.
"Kenapa? kamu merasa tidak enak dengannya? harusnya dia yang merasa tidak enak padamu, karena dia hadir diantara kita dan karena dialah hubungan kita seperti sekarang ini" kata Ethan melirik sinis pada Viola, seolah mengerti apa yang di rasakan Riani.
"Josh! apapun yang terjadi diantara kita entah itu karena dia ataupun tidak, tapi jika ada campur tangan Tuhan, maka semuanya akan tetap terjadi sesuai kehendak-Nya, lalu kita bisa apa?" kata Riani kaget dengan kata-kata Ethan, meskipun dalam hatinya merasa kata-kata Josh mengenai kejadian di masa lalu ada benarnya juga, yang membuat Ethan frustasi dan melampiaskannya pada narkoba hingga over dosis, itu di karenakan om Marcel, ayah Ethan, yang waktu itu melarang dan menghentikan Ethan untuk berkunjung dan menemui Riani di kotanya karena dia berencana menjodohkan Ethan dengan Viola, itu Riani ketahui dari ayah yang memberitahunya bahwa om Marcel menelpon ayahnya agar menjauhkan dirinya dari Ethan, dan barusan Viola menceritakan kalau Ethan terpaksa menikahinya karena terpaksa, di jodohkan karena untuk balas budi ayahnya, jadi, Riani bisa menarik kesimpulan bahwa gadis yang dulu akan di jodohkan dengan Ethan adalah Viola.
Tapi bagi Riani apapun alasannya di masa lalu, tetap saja masa sekaranglah yang harus dia dan Ethan jalani, yang pada kenyataannya mereka berdua sudah memiliki pasangan sah masing-masing, dan dia tidak setuju jika masa lalu menjadi alasan untuknya dan Ethan mengkhianati pasangan mereka, Riani sangat menentang itu.
"Tapi aku akan menentang kehendak Tuhan, aku tidak ingin terpisah denganmu lagi setelah belasan tahun kita terpisah, kalau untuk dia setuju atau tidaknya, itu masalah dia aku tidak perduli" jawab Josh acuh.
Riani melihat riak wajah Viola yang sudah tidak bisa membendung kesedihannya lagi, hingga membuat hati Riani iba dan marah pada Ethan.
"Josh! jika kamu seperti itu terus, maka lupakan perjanjian kita" kata Riani tegas.
"Oke! oke! ini demi kamu Riani, jadi aku akan melakukan apa yang kamu katakan, tapi jangan berharap lebih padaku, karena aku tidak janji akan memberikan hati dan perasaanku padanya" kata Ethan menyerah.
"Kalau masalah itu, terserah kalian berdua yang akan menjalaninya, itu bukan hakku untuk ikut campur, kalau begitu aku pamit pulang dulu"
"Ayo biar aku antar" ajak Ethan.
__ADS_1
"Tidak usah, tadi aku sudah kirim pesan pada kakek untuk menjemputku," tolak Riani.
"Memangnya kakeknya kak Riani tahu jalan arah ke tempat ini?" tanya Viola yang sedikit heran.
"Aku memberi patokan arah menuju ke tempat ini dan dia tahu menuju ke tempat ini, jadi sekarang dia menungguku di jalan masuk hutan ini"
"Kalau begitu aku antar kamu, sekalian aku juga mau kembali ke hotel" kata Ethan.
"Kenapa kalian tidak menginap di sini saja?" tanya Riani keceplosan yang membuat ekspresi wajah Ethan langsung berubah.
"Ini adalah rumahmu, jadi aku tekankan lagi! aku ataupun Vio tidak bisa tinggal di sini jika kamu juga tidak tinggal di sini, mengerti?" tanya Ethan tegas.
"Oke, aku mengerti..."
Riani dan Viola menunggu Ethan mengunci dan memeriksa kembali pintu dan jendela rumah, setelah itu dia keluar dan mengunci pintu, kemudian dia menyerahkan kuncinya pada Riani.
Awalnya dia ingin menolaknya, namun mengingat saat ini Ethan sedang menjadi pribadi seorang Josh yang karakternya keras maka dia segera mengurungkan niatnya, apalagi saat dia melihat Viola dan memberi isyarat agar tidak melakukannya, akhirnya dia menerima kunci tersebut.
"Oh ya, besok lusa aku sudah harus kembali ke Jakarta, karena masa cutiku sudah habis, jadi sekalian saya pamit pada kalian berdua"
"Kalau begitu besok lusa aku juga akan pulang ke Jakarta" jawab Ethan.
"Kenapa kamu juga ikut pulang ke Jakarta Josh? bukankah kalian sedang bulan madu?" tanya Riani bingung.
"Apa kamu sudah lupa, bukankah baru saja kita membuat kesepakatan?"
"Iya aku ingat dengan kesepakatan kita, tapi apa hubungannya kepulanganku kembali ke Jakarta denganmu?" tanya Riani penasaran.
"Tentu saja untuk memenuhi kesepakatan kita dan keinginanmu, bukankah kamu ingin aku berobat dan terapi?" tanya Ethan dengan senyumnya yang penuh teka-teki.
"Iya, tapi kenapa harus terburu-buru? kamu nikmatilah masa-masa bulan madumu dengan Viola istri kamu, aku mohon Josh...Demi aku bahagiakanlah dia, karena aku juga berstatus seorang istri, jadi aku tahu betul rasanya seperti apa jika aku berada di posisinya" rayu Riani dengan sentuhan lembut di pundak Ethan.
Viola sendiri mendengar kata-kata dari Riani, air matanya langsung jatuh tak terbendungkan lagi, karena dia merasa terharu dengan sikap Riani yang sangat memperhatikan perasaannya.
"Baiklah, aku akan ikuti kata-katamu, tapi seperti yang sudah aku bilang sebelumnya, kalau aku tidak janji membuka perasaanku untuknya, aku melakukan semua ini semata-mata karena demi kamu Riani..."
"Apa kamu tidak apa-apa seperti ini Vi?" tanya Riani yang melihat ke arah Viola yang tertunduk dan menganggukkan kepalanya.
.............
Merekapun kembali melangkah melanjutkan perjalanan mereka, hingga akhirnya sampai di jalan keluar dan masuk hutan.
Terlihat oleh mereka Pekak dan Arga yang sudah berdiri dengan sepeda mereka menunggu Riani.
__ADS_1
Sesampainya di depan mereka, Riani memperkenalkan Ethan dan Viola pada Pekak dan Arga.
Setelah mereka ngobrol sebentar, Riani pamit pada Ethan dan Viola, kemudian dengan di bonceng Arga yang menawarkan diri untuk mengantar Riani dengan sepedanya.
Riani pergi meninggalkan Ethan alias Josh dan Viola yang masih menatapnya hingga mereka tak terlihat lagi.
"Tadi bang Ethan sedang jadi pribadi lainnya ya mba?" tanya Arga yang spontan membuat Riani terkejut, karena Arga ternyata mengenal dan bisa tahu keadaan Ethan dengan penyakinya yang sedang dia derita sekarang.
"Kamu mengenal Ethan dan tahu penyakit yang sedang di deritanya?! tanya Riani kaget.
"Tentu saja saya mengenalnya, karena ayah saya dan ayahnya sahabat kecil dan baru-baru ini mereka bertemu kembali"
"Lalu bagaimana kamu bisa tahu dia sedang sakit dan kamu bisa langsung tahu kalau tadi Ethan sedang menjadi pribadi lainnya?" tanya Riani penasaran.
"Karena ayah memberitahu saya perihal sakitnya bang Ethan, dan ayah saya juga yang merekomendasikan dokter psikolog untuk bang Ethan, sedangkan kenapa saya bisa tahu kalau tadi bang Ethan sedang menjadi pribadinya yang lain, karena saat tadi bertemu dia tidak mengenal saya"
"Sepertinya kamu sudah sangat mengenal Ethan ya?"
"Tidak juga, hanya saja, saya ikut prihatin dengan cerita cintanya dan berempati padanya"
"Kamu tahu cerita cintanya di masa lalu, dari siapa?" tanya Riani lagi, kali ini dia lebih penasaran dan sedikit mendesak Arga.
"Saya tahu cerita cintanya yang membuatnya begitu menderita, hingga akhirnya dia sakit, dan memunculkan pribadi lain darinya karena tidak sanggup menanggung derita cintanya dan untuk menutupinya dia berkamuflase dengan pribadi lainnya" jawab Arga menjelaskan dengan lugasnya.
"Tapi kamu belum menjawab pertanyaanku sepenuhnya Arga..." Kata Riani tidak sabar mendengar kelanjutan jawaban dari Arga.
Sedangkan Arga hanya tersenyum dan berusaha mengatur nafasnya karena sudah terlalu banyak mengeluarkan oksigen dengan bercerita sekaligus mengayuh sepedanya.
"Dan dari mana aku mengetahui cerita cinta Ethan, aku tahu dari tante Grace dan Viola, dari merekalah aku bisa mengetahuinya" jawab Arga melanjutkan ceritanya.
"Kamu juga mengenal Viola?! tapi...Tadi saat aku memperkenalkan kalian, kalian terihat biasa saja dan bahkan terkesan seperti tidak saling kenal?" tanya Riani heran.
"Karena kami adalah sepupu, tepatnya sepupu jauh, jadi kami jarang bertemu, paling banter kami komunikasi hanya lewat telepon, jadi pertemuan seperti tadi juga jarang terjadi, hingga saat kami bertemu akan terasa canggung" jelas Arga enteng.
"Kalian berdua sepupuan!?" kata Riani kembali terkejut.
"Ya, seperti itulah Mba..."
"Jadi kamu juga tahu, siapa wanita di masa lalu Ethan dan penyebab awal munculnya kepribadiannya yang lain?"
"Saya tahu, saya tahu siapa wanita yang sangat dia cintai dari dulu hingga sekarang, dan saya tahu penyebab sakitnya bang Ethan, dan saya rasa...Saya tidak perlu memberitahu siapa wanita tersebut, karena mba Riani tahu pasti siapa dia?" Jawab Arga dengan tenangnya.
"Kamu benar Arga, lebih baik kita tidak melanjutkan perbincangan ini lagi, Haah...Bener-benar banyak kejutan selama aku berlibur di pulau tiga Gili ini, dan kalau di pikir-pikir di setiap pulau yang aku singgahi pasti ada suatu cerita yang terjadi padaku, cerita baru penuh kejutan..." Kata Riani sambil meregangkan tubuh dan merentangkan kedua tangannya, seolah dia sudah siap dengan cerita-cerita baru yang akan menghampirinya, baik cerita baik ataupun sebaliknya.
__ADS_1
Mendengar perkataan Riani Arga hanya tersenyum penuh arti dan mengayuh sepedanya dengan penuh semangat, karena dia juga menyadari bahwa cerita dalam hidupnya juga akan terus silih berganti menghampirinya...
...☆☆☆...