KESETIAAN YG TAK TERBATAS

KESETIAAN YG TAK TERBATAS
RASA YANG SUDAH BERUBAH


__ADS_3

Sebelum menghilang terlihat oleh Riani, sang pegasus melihat ke arahnya dengan mata yang berlinang air mata, Ingin rasanya Riani mencegah pegasus itu terbang, andai dia punya sayap maka dia ingin menyusulnya dan ikut terbang bersamanya meninggalkan kehidupan pahit di bawah sana.


Saat Riani ingin berteriak memanggil sang pegasus, suaranya tersekat di tenggorokan, sehingga membuat mulutnya tak bisa bersuara, hanya air matanya yang mengalir deras mengiringi kepakan sayap pegasus yang berlalu menjauh hingga menghilang.


Di bawah sadarnya dia merasakan ada yang menetes di kening dan pipinya, seolah memanggilnya untuk bangun dari mimpi sedihnya itu.


Samar-samar terdengar suara seorang pria yang memanggil namanya...


"Ria-ku...bangunlah..."


Seketika mata Riani terbuka dan bangun dari tidurnya, namun alangkah terkejutnya dia saat melihat sosok Ethan sudah duduk di sampingnya dengan ekspresi wajah penuh kekhawatiran.


"Kamu?! tanya Riani terkejut, Ethan segera mengusap wajah dan matanya, kemudian tersenyum lega melihat Riani sudah terbangun.


"Syukurlah kamu sudah bangun, apa kamu sekarang baik-baik saja?" kata Ethan sambil menghela nafas leganya, Riani yang bingung dengan sikap dan perkataan Ethan mengernyitkan dahinya.


"Tadi apakah Ethan menangis? atau mungkin aku salah lihat? sepertinya akulah yang menangis karena terbawa suasana dalam mimpiku tadi" Batin Riani sambil mengusap wajahnya yang terasa basah.


"Memangnya ada apa denganku? kenapa kamu pasang wajah cemas seperti itu?" tanya Riani lagi dengan wajah herannya.


"Tadi aku mendengar kamu teriak-teriak, jadi aku langsung menghampirimu, Apakah kamu tadi mengalami mimpi buruk..." Tanya Ethan.


"Bagaimana kamu bisa tahu aku ada di sini, lalu sudah berapa lama kamu di sini?" tanya balik Riani dengan nada menyelidik.


"Tadi aku melihatmu menuju ke tempat ini, dan karena aku mengkhawatirkan kebiasaanmu yang bisa tidur di mana saja jadi aku mengikutimu" jawab Ethan dengan ekspresi wajah yang jujur.


"Jadi kamu melihat semua dan mengawasiku?"


"Lebih tepatnya menjagamu, karena biar bagaimanapun kita berteman, apalagi kamu juga pendamping pengantin Viola untuk pernikahan kami besok"


"Kamu benar, jika ada apa-apa denganku sedikit banyak mempengaruhi acara pernikahan kalian kan?" kata Riani dengan senyum getirnya.


"Bukan itu maksudku...Aku hanya mengkhawatirkanmu aku..." Ethan tidak melanjutkan perkataanya.


"Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan padamu, kenapa kamu harus berbohong padaku dengan namamu?" tanya Riani menyelidik.


"Karena aku ingin hanya kamu yang memanggil namaku dengan panggilan itu" jawab Ethan tanpa ragu-ragu.


"Kok bisa, kenapa?" tanya Riani semakin heran dan penasaran, tapi ada perasaan sejuk mengalir di hatinya mendengar penjelasan dan perhatian dari Ethan.


"Karena aku ingin, haruskah ada alasan lain?" jawab sekaligus tanya Ethan.


"Tentu harus ada alasan lain, haruskah aku puas dengan jawabanmu yang abu-abu seperti itu?"


"Itu...Karena aku menyayangimu" jawab Ethan dengan tatapan sendunya.


Mendengar jawaban Ethan Riani sangat terkejut, tapi tidak ia pungkiri di lubuk hatinya yang terdalam ada perasaan bahagia di sana, dia pun juga merasa aneh dengan perasaan yang tidak asing itu.


"Kamu jangan gila Riani, dia besok sudah menjadi suami orang, masa mendengar kata rayuan darinya langsung baper sih..." Sangkal Riani mencoba mengalihkan pikirannya.


"Kamu kalau bercanda jangan keterlaluan" Jawab Riani jaim (Jaga Image).


"Iya, aku tulus menyayangimu sebagai sahabat..." Jawab Ethan menegaskan.


"Terima kasih atas perhatianmu, tapi...Aku rasa aku tidak perlu perhatian darimu, karena di sekelilingku sudah banyak orang-orang yang menyayangiku" kata Riani sambil meyakinkan diri sendiri dalam hatinya, kalau dia terlalu percaya diri yang menganggap kasih sayang Ethan lebih dari itu.

__ADS_1


"Kalau begitu aku pergi dulu, maaf...Sekali lagi sudah merepotkanmu menjagaku saat tertidur tadi.


"Sama-sama tapi..." Belum sempat Ethan menyelesaikan kata-katanya, terdengar suara pria memanggil Riani.


"Mbak!" panggil pria yang ternyata Randi, dia berjalan ke arahnya dan Ethan.


"Hai Randi, sini!" jawab Riani sambil melambaikan tangannya ke arah Randi yang semakin dekat berjalan ke arahnya.


"Ternyata benar dugaanku, kalau mba Riani memang di sini" kata Randi setelah sampai di depannya dan Ethan.


"Memangnya ada apa Ran?" tanya Riani bingung.


"Begini mbak..." Randi tidak melanjutkan kata-katanya, dia baru menyadari kalau ada orang lain di sampingnya, dia pun menengok ke arah Ethan.


"Oh maaf, perkenalkan ini teman mbak namanya Ethan, dan ini Randi, saudaraku" kata Riani saling memperkenalkan mereka secara bergantian.


Ethan dan Randi saling bersalaman dan tersenyum ramah.


"Senang berkenalan dengan anda" kata Randi, Ethan membalas dengan anggukan dan senyum ramahnya.


"Mbak, sebenarnya aku mencarimu karena ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu"


"Kalau begitu saya pamit dulu, kalian bicaralah" kata Ethan.


"Oke, terima kasih atas bantuannya tadi" ucap Riani.


"Maafkan saya jika kedatangan saya mengganggu obrolan kalian" kata Randi tidak enak hati.


"Tidak apa-apa, tidak perlu sungkan begitu" jawab Ethan.


"Sama-sama, aku pamit bye..."


"Oke, hati-hati bye..."


Ethan melangkahkan kakinya meninggalkan Riani dan Randi, sedangkan mereka berdua berjalan menjauh dan keluar dari tempat itu.


Randi dan Riani sudah duduk di bangku sebuah restoran, sambil menikmati makan malam dengan menu seafood.


"Sebenarnya ada apa Ran, apa yang ingin kamu bicarakan?"


"Sebelumnya aku minta maaf banget mbak..." Kata Randi dengan kepala menunduk.


"Kenapa kamu minta maaf padaku?" tanya Riani heran, Randi hanya diam, namun matanya melihat ke arah belakang Riani.


Melihat sikap Randi yang tidak seperti biasanya, Riani merasa heran, dengan reflek dia mengikuti arah tatapan Randi, dan saat dia melihat ke arah belakang alangkah terkejutnya Riani, karena di situ sudah berdiri Radja dan Pekak yang berdiri si samping Radja.


"Kalian?! Pekak kenapa bisa datang bareng sama Radja?" tanya Riani terkejut sekaligus heran.


"Pekak harap nak Riani tidak menyalahkan Randi, ini semua pekaklah yang menyuruhnya"


"Saya tidak menyalahkan Randi, apalagi Pekak, hanya saja...Kenapa Radja bisa bersama kalian?"


"Dek, kamu jangan menyalahkan mereka, akulah yang memaksa, jadi kalau kamu mau marah, marahlah padaku, salahkanlah aku..." Kata Radja angkat bicara dengan nada mengiba.


Mendengar perkataan dari Radja, Riani hanya diam seribu bahasa, hatinya sudah beku tanpa rasa, mungkin karena terlalu sakit hingga hati dan perasaannya sudah mati rasa.

__ADS_1


"Nak Radja kamu duduk dulu, kita bicarakan masalah kalian baik-baik" kata pekak sambil merangkul pundak Radja mengajaknya duduk, Radja menuruti ajakan pekak dan langsung duduk di diantara Riani dan Randi.


Sedangkan pekak sendiri duduk persis di samping Riani.


"Di sini Pekak akan menjadi penengah ataupun mediator kalian, dan atas permintaan dari nak Radja sendiri" kata pekak membuka perbincangan.


Riani dan Radja masih tetap terdiam, tidak ada yang mau untuk memulai pembicaraan terlebih dahulu.


"Pekak tahu hati putu mungkin masih sakit dan belum siap untuk membicarakan masalah kalian, Radja sudah menceritakan semuanya pada pekak, jadi...Menurut pekak lebih baik kalian bicarakan masalahnya agar cepat selesai dan tidak berlarut-larut seperti ini"


"Sebelumnya Riani juga minta maaf sekali, karena sudah menyeret pekak dan keluarga ke dalam masalah internal kami berdua..."


"Itu tidak menjadi masalah bagi pekak dan keluarga, justru karena pekak sudah menganggap nak Riani sebagai putu pekak sendiri, jadi pekak bersedia menjadi mediator kalian"


"Sebenarnya tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, itu yang sudah kami berdua pastikan pekak, aku juga tidak tahu kenapa dia masih ingin membicarakannya lagi?" jawab Riani sambil melirik dingin ke arah Radja.


"Dek...Benarkah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan? tidak adakah kesempatan lagi untukku memperbaiki diri?"


"Mas, kalau memang kamu ingin memperbaiki diri silahkan tapi jika kamu melakukan ini karena ada maksud tertentu dan bukan karena untuk kebaikan dirimu sendiri, percuma Mas...Karena itu bukan keinginan mas yang tulus dari hati nurani Mas"


"Aku ingin berubah memang karena ada maksud, tapi aku ingin berubah karena kamu, karena ingin hubungan kita yang bisa menjadi jauh lebih baik..."


"Putu, sebenarnya niat suami mu itu baik, dia ingin berubah karena ingin rumah tangga kalian juga berubah jauh lebih baik, jadi...Apa salahnya kamu mencoba memberinya kesempatan padanya?"


"Aku tahu betul itu pekak, dan itu sudah aku bicarakan baik-baik, bahkan sudah aku jelaskan berkali-kali padanya, kalau masalah ini kita bicarakan lebih lanjut, nanti setelah aku berlibur dari cutiku, tapi kenapa kamu tidak sabar menunggu dan membiarkanku tenang dulu mas? malah kamu menyeret banyak orang dalam masalah kita?"


"Maafkan aku Dek...Aku hanya cemburu setelah mendengar mantan pacarmu, Teddy juga menyusulmu ke sini..."


"Mas, bukankah aku sudah berkali-kali memberitahumu bahwa Teddy sudah menjadi masa laluku, hanya sebatas teman dan atasan, lagi pula dia datang ke sini karena ada kerja sama bisnis dengan wak Made dan temannya, kalau kamu tidak percaya, coba kamu tanya sama pekak karena beliau tahu siapa wak Made itu"


"Bukan begitu Dek...Ya sudah aku akan pulang, tapi kamu harus janji setelah pulang dari berliburmu, kita bicarakan lagi baik-baik mengenai hubungan kita" jawab Radja sambil memegang lembut tangan istrinya itu.


"Iya, aku janji Mas..." Jawab Riani sambil menarik perlahan tangannya dari genggaman Radja.


"Kalau begitu pembicaraan ini kita sudahi dulu, karena kalian sudah ada keputusan" kata pekak mengakhiri pembicaraan mereka berempat.


"Terima kasih banyak untuk pekak, karena sudah mau membantu masalah saya dan Riani"


"Sama-sama putu..."


"Ayo pekak kita pulang bareng, biar sekalian aku antar, kebetulan aku juga ingin pulang menjenguk Dadong" ajak Randi pada pekak.


"Ayolah putu kita pulang, Dadong pasti sangat senang jika melihatmu datang"


"Sekali lagi terima kasih Pekak, dan titip salam sayang untuk Dadong" kata Riani.


"Iya putu, pasti akan pekak sampaikan..."


"Kalau begitu kita pulang dulu ya mbak, mas Radja bye..." pamit Randi.


"Iya Ran, pekak, hati-hati bye..."


Setelah Randi dan Pekak tak terlihat lagi, Riani dengan di antar Radja juga meninggalkan restoran tersebut menuju resort.


Meski mereka berjalan bersampingan sebagai suami istri, tapi tidak bisa di pungkiri kalau diantara mereka ada rasa yang sudah berubah dan hilang...

__ADS_1


...☆☆☆...


__ADS_2