
Riani masih terdiam beku saat mendengar perkataan Teddy, antara percaya dan tidak percaya, hatinya tidak terima dengan pengakuan Teddy tersebut, meski satu hal yang pasti bahwa apa yang dulu dia mengira adegan itu hanyalah mimpi ternyata semua itu adalah kenyataan.
"Ai...Katakanlah sesuatu, jangan diam seperti itu, membuatku semakin tersiksa dengan perasaan bersalah dan berdosaku..." Kata Teddy lirih, menggenggam erat tangan Riani.
"Hhhhhh...Kamu bercanda kan Ted? tidak lucu tahu!" jawab Riani masih tidak percaya, Teddy yang dia kenal sangat menjungjung tinggi martabat dan kesucian Riani sewaktu berpacaran dulu, sekarang bisa tega melakukan hal menjijikan padanya terlebih saat dia dalam keadaan tidak berdaya malam itu.
"Maafkan aku...Ampuni aku Ai...Aku melakukannya waktu itu karena untuk menghangatkan tubuhmu..." Ucap Teddy membela diri dan berusaha menggenggam kembali tangan Riani, namun dengan cepat Riani menghempaskan tangannya.
"Kalau hanya untuk menghangatkan tubuhku, masih banyak cara yang lain Ted! tapi kenapa kamu harus memilih cara yang menjijikkan seperti itu?! hardik Riani yang mulai emosi.
"Waktu itu pikiranku kalut, tidak bisa berpikir dengan jernih dan..."
"Dan hawa nafsu birahi menguasaimu, hingga kamu tega melakukan itu padaku kan?! lanjut Riani yang mulai pecah tangisnya.
"Aku mengaku salah...Aku memang salah ampuni aku Ai..." Rintih Teddy pelan-pelan berusaha bangkit dari tidurnya.
"Kenapa kamu tega melakukan ini Ted..."
"Aku terlalu di butakan dengan perasaanku padamu Ai, hingga membuatku tidak ingat statusmu dan menodai kesucianmu sebagai istri dari Radja..." Kata Teddy berusaha memeluk Riani yang masih menangis.
"Aku sudah menganggapmu sebagai sahabat dan aku sangat memepercayaimu, tapi kenapa kamu justru mengkhianati kepercayaanku Ted? aku membencimu..." Riani meronta di pelukan Teddy, tangannya memukul-mukul dada Teddy.
"Aku akan bertanggung jawab dengan bayi yang sedang kamu kandung ini Ai..." jawab Teddy mengelus lembut perut besar Riani.
"Tapi ini bukan anakmu, bayi ini adalah darah daging Radja" jawab Riani dingin dan melepaskan tangan Teddy yang masih mengelus perutnya.
"Kamu jangan bohong Ai...Kalau di hitung semenjak kejadian itu, kira-kira usia kehamilanmu akan sebesar ini..."
"Usia kandunganku sekarang jalan lima bulan jadi tidak mungkin ini bayimu" jawab Riani semakin dingin.
"Andaikan memang itu bukan bayiku, aku tetap akan bertanggung jawab atas perbuatanku Ai...Bahkan jika harus di tebus dengan nyawaku, aku rela asalkan kamu mau memaafkanku dan tetap menganggapku sebagai sahabatmu..."
Mendengar perkataan Teddy, amarah Riani perlahan meluruh, hatinya tidak bisa memungkiri bahwa apa yang di lakukan Teddy padanya karena ada niat untuk menolongnya, dia tahu betul sifat Teddy yang pernah dia pacari selama lima tahun itu, Teddy yang mau melakukan apa saja demi orang yang dia cintai dan sayangi meski dia harus berkorban besar untuk itu, termasuk di benci olehnya.
Sayangnya perasaan Teddy terhadapanya membutakan mata hatinya yang membuat hilang akal sehatnya, hingga dia melakukan hal yang tidak seharusnya dia lakukan padanya, hal yang paling di benci olehnya...
"Kenapa kamu lakukan itu Ted? kenapa kita harus seperti ini..." Ucap Riani lirih di sela-sela tangisnya.
"Maafkan aku Ai, aku mohon..." Ucap Teddy sambil mengatupkan kedua telapak tangannya dan membungkukkan kepalanya pada Riani.
Melihat permohonan maaf Teddy yang begitu tulus hati Riani akhirnya luluh, namun dia belum bisa sepenuhnya menerima kenyataan itu.
"Ai...?" tanya Teddy lagi, karena tidak ada jawaban dari Riani dan masih terdiam membisu.
Perlahan Teddy mengambil kedua tangan Riani, kemudian menciumnya berkali-kali di barengi dengan aliran air mata y penuh penyesalan dan maaf yang tulus membanjiri pipinya.
Riani terkejut dengan apa yang sedang di lakukan Teddy, namun hatinya yang lelah membuatnya sudah tidak mampu untuk mengelak ataupun menolak, hanya bisa membiarkan saja apa yang sudah terlanjur terjadi.
__ADS_1
"Aku butuh waktu untuk sendiri dan memikirkan lagi apa yang sudah terjadi Ted, aku pamit pulang dulu, nanti aku minta tolong sama Roro agar dia menjagamu di sini sampai Ibuku dan om Rolland kembali..." Kata Riani akhirnya.
Dia berusaha melepaskan genggaman tangan Teddy yang semakin erat, kemudian berdiri menjauh dari Teddy.
"Jadi kamu tetap tidak bisa memaafkan aku Ai...?" tanya Teddy dengan raut wajah sedihnya.
"Bukankah aku sudah katakan tadi, aku butuh waktu untuk menela'ah dan memikirkan semuanya dulu Ted"
"Baiklah...Aku tidak akan memaksamu lagi, karena aku memang bersalah dan berdosa, tapi aku berharap besar padamu agar memaafkan dan mengampuni aku..."
"Mungkin untuk maafmu aku bisa, tapi pengampunanmu...Memohonlah ampunan atas dosamu pada Tuhan, karena DIA lah yang paling berhak"
Mendengar perkataan Riani, Teddy hanya terdiam, termenung.
"Kalau begitu aku pulang dulu Ted, kamu jaga diri baik-baik agar cepat sembuh, aku keluar sekarang untuk bicara dengan Roro" kata Riani yang menyadarkan Teddy dari lamunannya.
"Baiklah Ai...Kamu hati-hati di jalan dan jaga baik-baik kandunganmu..."
"Itu pasti Ted..." Riani melangkahkan kakinya berjalan keluar dengan di iringi tatapan sedih Teddy.
Setelah Riani menutup pintunya Teddy menghempaskan tubuhnya yang terasa semakin sakit di sekujur tubuhnya selaras dengan perasaannya yang yakin jika sepenuhnya dia telah kehilangan Riani.
Dadanya berguncang, sesak dan sakit yang terasa di hati Teddy membuatnya tidak kuasa menahan tangisnya...
.............
Melihat kedatangan Riani, Roro segera menyambutnya, namun seketika Roro mengernyitkan dahinya saat melihat mata Riani yang sembab.
"Ada apa An-an, kamu habis nangis?"
"Tidak ada apa-apa..."
"Tidak mungkin! matamu yang sembab itu tidak bisa membohongiku An-an!"
"Nanti saja aku akan ceritakan semuanya, tapi sekarang aku ingin pulang, aku capek banget Mi-ro..." Kata Riani sambil berusaha agar tidak menangis lagi.
"Ya sudah, kamu pulang dan beristirahatlah, biar Teddy nanti aku yang akan menjaganya"
"Tolong jaga Teddy ya Mi-ro, sampai orang suruhan om Rolland datang, karena tadi Ibuku kirim pesan kalau dia dan Om Rolland sudah pulang setelah makan siang, Om Rolland akan mengutus orang untuk bergantian denganmu menjaga Teddy selama di rumah sakit"
"Oke, kamu sekarang segeralah pulang, jangan terlalu capek, kasihan bayi dalam kandunganmu..."
"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu"
Roro mengangguk, keduanya kemudian saling berpelukan sebentar, setelahnya Riani berjalan meninggalkan Roro yang masih berdiri termangu melihat kepergian Riani.
Hanya tampak punggung Riani yang seakan berat oleh beban derita yang di alaminya.
__ADS_1
Hati Roro merasa iba melihat sahabat kesayangannya menderita seperti itu.
"Apa lagi yang sudah terjadi padanya...Dan kenapa masalah selalu menghampirinya? yang kuat ya An-an ku..." Bisik Roro dalam hati.
Riani segera masuk ke dalam mobil saat mang Muh yang sudah siap dengan mobilnya membukakan pintu untuknya.
Setelah Riani sudah masuk ke dalam mang Muh pun segera menjalankan mobilnya meninggalkan rumah sakit.
"Mang bisa berhenti sebentar mobilnya?" tanya Riani saat mobil yang mereka tempati melewati pantai.
"Baik, sebentar ya Nak, Mamang cari tempat parkiran dulu..." jawab mang Muh yang seolah tahu suasana hati Riani saat ini.
"Baik Mang, terima kasih..."
Setelah mang Muh memarkirkan mobilnya di dekat pantai, Riani segera keluar dari mobil.
"Mang Muh tidak perlu menemani, saya cuma sebentar saja dan tidak akan pergi jauh jadi mang Muh tidak perlu khawatir..." Larang Riani saat dia melihat mang Muh akan ikut turun juga dari mobil.
"Baiklah kalau begitu hati-hati Nak..."Jawab mang Muh, mengurungkan niatnya dan kembali di belakang kemudinya.
Riani melepaskan sepatu yang dia pakai, kemudian di tentengnya sepatu tersebut.
Dengan berjalan santai sambil memegangi perut besarnya Riani menyusuri pesisir pantai dengan riak ombaknya yang sesekali menyentuh kaki telanjangnya.
Setelah hampir sepuluh menit berjalan Riani berhenti dan menghadap ke arah luasnya laut yang terbentang di hadapannya.
Di menit berikutnya air mata Riani mengalir deras membasahi pipinya.
Hatinya rapuh saat mengingat kembali kejadian demi kejadian yang menghampiri dirinya beberapa waktu ini, yang membuat perasaannya sangat terpukul dan sedih, bahkan putus asa.
Yang membuatnya bisa kuat hingga sekarang ini adalah bayi yang ada dalam perutnya, calon malaikat kecilnya yang akan segera lahir dan akan mengisi hari-hari di dunia kecilnya.
Di elusnya berulang kali perut buncitnya...
Dia langsung merasa berdosa dan bersalah pada calon bayinya tersebut karena kemurnian dan kesuciannya sebagai bayi telah ternodai oleh dua pria yang merupakan bagian dari masa lalunya.
"Maafkan Bunda ya Nak...karena Bunda tidak bisa menjaga kesucianmu..." Ucap Riani dalam hati.
Setengah jam berlalu, matahari yang mulai condong ke ufuk barat menandakan hari sudah menjelang senja.
Riani segera beranjak meninggalkan pantai menuju mobil, di mana mang Muh sedang menunggunya dengan cemas.
"Ayo Mang, kita pulang sekarang" kata Riani setelah masuk ke dalam mobil.
"Baik Nak..."
Mang Muh segera melajukan mobilnya meninggalkan pantai, air laut yang biru seolah memandang kepergian mereka dalam hening...
__ADS_1
...☆☆☆...