KESETIAAN YG TAK TERBATAS

KESETIAAN YG TAK TERBATAS
TEKAD DAN NIAT BAIK


__ADS_3

Lamunan Riani terhenti saat melihat suster kembali dan berbicara serius dengan dokter yang menangani adiknya Andy.


Dokterpun segera menghampiri Andy yang masih sibuk menghubungi orang-orang mencari donor darah untuk adiknya.


"Pak..." Panggil sang Dokter dengan tepukan pelan di pundak Andy.


Dengan agak terkejut, Andy membalikkan badannya.


"Ya Dok, bagaimana...?"


"Maaf sekali pak...Kami sudah berusaha mencari ke berbagai rumah sakit dan PMI, akan tetapi darah dengan golongan Rhesus positif belum bisa kami temukan, lalu...Bapak sendiri apakah sudah menemukan darah yang cocok?"


"Saat ini saya belum menemukan Dok..."


"Di keluargaku juga tidak ada yang bergolongan darah Rhesus positif Bang, maaf..." Kata Nuna dengan menundukkan kepalanya, sedih.


"Golongan darah saya Rhesus, tapi Rhesus negatif Dok, dan saya saat ini sedang hamil, apakah bisa saya berdonor darah?" kata Riani, akhirnya mengajukan diri.


"Darah Rhesus negatif anda masih bisa berdonor kepada pemilik darah bergolongan Rhesus positif, tapi sebaliknya untuk pemilik Rhesus positif belum tentu bisa berdonor pada pemilik Rhesus negatif, apalagi anda sekarang sedang hamil, saya tidak menganjurkan dan melarang anda untuk berdonor, karena akan sangat beresiko dan membahayakan anda dan juga bayi anda..." Jawab Dokter menjelaskan.


"Tapi saya juga ingin menolong nyawa seseorang Dok...


"Jika satu nyawa tertolong tapi dua nyawa lainnya terancam, saya juga sangat melarang jika itu di lakukan..."


"Saya mengerti dan sangat berterima kasih sekali dengan niat baik mba Riani, tapi saya juga tidak mau membahayakan keselamatan mba dan bayi mba..." Tolak Andy, halus.


"Tapi bagaimana dengan adikmu Ndy?"


"Insya Allah mba ada jalan, minta doanya saja, biar semuanya lancar dan adik saya segera mendapatkan pendonor darah untuknya..."


"Baiklah, kalau begitu kalian tetaplah berusaha mencari pendonor darah, saya juga akan mencoba mencari di sekitar keluarga dan kerabatku..."


"Iya mba, terima kasih banyak atas bantuannya..."


"Iya, sama-sama..."


Andy dan Nuna kembali sibuk mencari pendonor darah, sedangkan Riani berjalan kembali menuju kamarnya.


Belum sampai dia di kamarnya, dari kejauhan Riani melihat Roro yang berjalan mondar-mandir di depan pintu kamarnya sambil meletakkan ponsel di telinganya.


segera dia tahu kalau Roro pasti sedang mencarinya, apalagi dia tidak membawa ponselnya.


Riani segera melambaikan tangannya ke arah Roro yang kebetulan sedang melihat ke arahnya.


"An-an! kamu kemana saja sih? bikin khawatir saja..." Tanya Roro setelah dia menghampirinya.


"Maaf Mi-Ro, tadi aku jalan-jalan sebentar, sekedar menghilangkan jenuh dan suntuk karena tinggal di dalam terus..."


"Kalau mau jalan-jalan kan kamu bisa minta tolong suster menggunakan kursi roda, atau kalau kamu pengin jalan kaki, kamu tunggu aku dulu..."


"Iya, maaf..."


"Ya sudah, ayo kita segera masuk, karena hampir waktunya tiba cek rutin kamu, setelah itu kita makan siang"


"Baiklah..."


Mereka berdua pun segera masuk ke dalam.


.............


Beberapa saat kemudian Dokter Anita pun datang untuk pengecekkan rutin.


Riani segera menghentikan kesibukkannya yang sedang menelpon beberapa kerabatnya untuk membantu adiknya Andy.


Begitu pula dengan Roro, karena sebelumnya Riani sudah menceritakan semuanya mengenai masalah yang sedang Andy hadapi, meskipun Roro tidak mengenal Andy, tapi Riani mengenalnya.


Pemeriksaan rutinpun selesai.


"Dok, kalau saya ingin mendonorkan darah dalam keadaan hamil bagaimana Dok?"


"Tidak boleh, saya melarang keras anda untuk berdonor darah, karena kandungan anda baru memasuki trimester dan masih lemah jadi resikonya sangat tinggi, akan membahayakan anda dan perkembangan janin anda" jawab Dokter Anita tegas.

__ADS_1


"Tapi bukankah Dokter pernah bilang, jika janin saya pertumbuhannya bagus, hanya kandungan sayalah yang lemah?"


"Iya, akan tetapi jika sang ibu lemah, saya khawatirkan akan mempengaruhi pertumbuhan bayi anda juga"


"An-an...Aku dukung niat baik kamu, tapi jika kamu lakukan hal itu dan resikonya sangat berbahaya seperti itu, aku juga tidak akan setuju" kata Roro yang sedari tadi terdiam menyimak pembicaraan antara Riani dan Dokter Anita.


"Aku tahu Mi-Ro, tapi..."


"Pokoknya tidak ada tapi-tapian, yang penting kita sudah berusaha membantu mencari pendonor darah lainnya, sekarang kamu harus memprioritaskan kesehatanmu dan bayimu, titik!"


"Iya...Iya, Dok, kalau boleh saya tahu lebih jauh lagi, apa resiko terbesar jika saya tetap memilih untuk berdonor Dok?"


"Anda akan mengalami anemia akut dan resiko terbesarnya adalah membahayakan keselamatan bayi anda, jadi saya mohon anda memikirkan kembali niat anda untuk mendonorkan darah anda, meskipun berdonor adalah perbuatan yang sangat mulia karena menolong orang lain, tapi...Jika resikonya juga mengancam nyawa, itu pun akan sangat di sayangkan, jadi...Tolong pikirkan lagi"


"Pokoknya aku tidak akan pernah setuju jika kamu tetap ingin berdonor darah An-an..." kata Roro penuh penekanan.


Riani hanya terdiam dan tidak menjawab kalimat dari Roro, karena dia tahu kalau saat ini Roro sedang marah padanya.


"Om juga tidak setuju".


"Om Rolland?!"


Riani terkejut mendengar pendapat om Rolland yang masuk bersama Nando di belakangnya.


"Maaf...Tadi kami tidak sengaja mendengar perbincangan kalian, dan Om rasa apa yang di katakan Dokter Anita juga Roro itu benar, jadi urungkan dulu niatmu itu nak, om sangat khawatir dengan hal itu..." Kata Om Rolland yang sudah berdiri di samping Riani sambil mengelus lembut kepala Riani.


"Apakah ada pertanyaan lagi?" tanya Dokter Anita pada Riani.


"Tidak ada Dok, terima kasih"


"Kalau begitu saya permisi dulu"


"Iya Dok silahkan, terima kasih banyak ya Dok" kata Roro.


"Terima kasih Dok" kata Om Rolland pula.


"Iya sama-sama..."


Sedangkan om Rolland dan Nando mengupas buah Delima dan memberikan jus Delima yang sengaja mereka buat dan bawa dari rumah.


Dengan lahapnya Riani makan hingga tidak menghiraukan pandangan Om Rolland yang melekat pada dirinya.


Apalagi saat dia meminum habis jus Delima hanya dengan beberapa kali tegukan saja, om Rolland tersenyum dan mendekatinya, kemudian mengelus kembali kepala Riani dengan penuh kasih sayang.


"Pelan-pelan minumnya...Jangan terburu-buru, nanti tersedak"


"Iya om, maaf...Karena jus Delima dari om Rolland sangat segar, terima kasih Om..."


Nando dan Roro hanya melihat keduanya, kemudian mereka saling pandang dan tersenyum.


"Iya sama-sama nak..."


"Tapi...Kenapa om sangat baik dan perhatian sekali sama saya?" tiba-tiba Riani melontarkan pertanyaan yang membuat om Rolland agak tersentak.


"Itu karena Om...Karena Om sudah menganggap kamu seperti putri Om sendiri..." Jawab Om Rolland agak terbata-bata.


"Saya sangat beruntung sekali, karena Om menganggap saya seperti itu, sekali lagi terima kasih om..."


Om Rolland mengangguk dan tersenyum penuh haru.


.............


Roro pamit keluar sebentar karena ada telepon penting dari kantornya.


Di ruangan tersebut tinggal Riani, Nando dan Om Rolland.


Saat mereka sedang asyik mengobrol santai, tiba-tiba pintu di ketuk dari luar.


Nando segera membukakan pintu, dari balik pintu muncul wajah Nuna dengan ekspesi penuh kecemasan dan kesedihan.


Tanpa basa-basi dia langsung menerobos masuk dan menghampiri Riani yang masih terkejut dengan kedatangannya.

__ADS_1


"Kamu Nuna, teman adiknya Andy kan?"


"Iya kak, maaf jika Nuna sudah lancang, Nuna mohon...Tolong Eksi kak..." Jawab Nuna dengan tangisnya yang pecah, membuat Riani kebingungan.


"Siapa Eksi, dan ada apa dengannya?"


"Eksi adalah adiknya bang Andy yang sekarang ada ICU itu, dokter bilang jika dia tidak secepatnya mendapat transfusi darah dua kantong, maka dia tidak akan bisa melewati masa kritisnya dan kemungkinan tidak akan selamat sangat besar..."


"Lalu apakah kalian belum menemukan pendonor darah yang cocok sehingga datang meminta bantuannya?" tanya om Rolland.


"Karena alasan itulah saya datang ke sini dan memohon kak Riani untuk bisa membantu kami..."


"Bukankah kamu juga tahu kalau dia sedang hamil dan tidak bisa untuk berdonor?" tanya om Rolland lagi, yang terlihat sangat keberatan dengan permintaan dari Nuna.


"Saya tahu itu Om, tapi...Saya terpaksa memohon karena sampai sekarang kami belum menemukan dan mendapatkan darah yang cocok.


"Tapi, tadi kamu bilang temanmu itu butuh dua kantong darah kan?" tanya Nando, ikut keberatan dengan permohonan dari Nuna.


"Iya Bang..."


"Tapi setahu saya satu orang hanya bisa berdonor satu kantong darah, apalagi mba Riani sedang hamil muda sekarang dan untuk berdonor juga sangat beresiko, membahayakan dia dan bayinya nanti..."


"Saya mohon kak...Eksi kecelakaan karena saya..."


"Masalahnya dia sedang hamil dan sangat berbahaya jika dia berdonor, kamu mengerti tidak?" kata Om Rolland lagi, kesal.


"Saya mohon om Rolland tenang...Saya paham perhatian dan kekhawatiran om, tapi...Saya memutuskan untuk menolongnya, karena saya yakin Tuhan pasti akan setuju dengan niat baik saya ini dan akan menjaga, melindungi keselamatan saya dan bayi saya..."


"Tapi nak...Om kurang setuju, pikirkanlah janin dalam kandunganmu itu..."


"Om...Saya mohon jangan larang niat saya ini..."


"Iya mba, saya mohon pikirkanlah lagi niat mba ini..." desak Nando yang juga ikut keberatan dan mendukung om Rolland.


"Maaf Om, Nando...Niatku sudah bulat"


"Ya sudah terserah kamu nak, om tidak bisa memaksamu, om keluar sebentar untuk meminta pendapat dari Dokter Anita mengenai niatmu ini"


"Baik om, terima kasih..."


Om Rolland mengangguk dengan pandangan mata yang penuh kesedihan.


"Kalau begitu saya ikut juga keluar mba, menemani papah"


"Iya Nando, silahkan..."


Nando segera bergegas meninggalkan ruangan Riani, menyusul om Rolland.


Riani hanya tersenyum getir menatap kepergian mereka berdua.


"Maafkan Nuna kak, sudah membikin kak Riani membuat keputusan berat seperti ini, dan terima kasih banyak kak..." Kata Nuna dengan tatapan penuh rasa bersalah namun juga berbinar penuh harapan.


"Iya Nuna, nggak apa-apa kok...Ini memang sudah keputusan kakak"


"Kalau begitu Nuna pamit dulu ya kak, ingin memberi kabar baik ini pada bang Andy"


"Iya, kamu pergilah dan beritahu Andy agar tidak perlu cemas lagi..."


"Baik kak, sekali lagi terima kasih..."


Riani mengangguk dengan senyum manis di ujung bibirnya.


Nuna mencium punggung tangan Riani, kemudian berlalu pergi meninggalkan Riani.


Di elus lembut perutnya berkali-kali.


"Kamu harus kuat dan sehat ya nak, karena kita akan menolong orang yang membutuhkan pertolongan kita..."


Pandangan Riani menembus jauh ke luar jendela yang menyuguhkan pemandangan senja dengan semburat sinar keemasannya.


Biarlah mereka keberatan dengan tekad dan niat baiknya tersebut, tapi dia yakin Tuhan Maha Tahu dengan niat tulusnya itu...

__ADS_1


...☆☆☆...


__ADS_2