KESETIAAN YG TAK TERBATAS

KESETIAAN YG TAK TERBATAS
SUDAH SELESAI DAN BERAKHIR


__ADS_3

Om Rolland tetap duduk di samping Riani, menemaninya, hingga terdengar olehnya tarikan nafas yang berat dan panjang dari Riani.


"Apa kamu sudah tenang sekarang Nak?" tanya Om Rolland.


"Iya Om sudah, hanya saja..." Riani menghentikan kalimatnya.


"Hanya saja...Kenapa Nak?" tanya Om Rolland mengernyitkan keningnya.


"Hanya saja saat Riani berada di dalam tadi, perasaan takut dan tidak nyaman waktu itu seketika runtuh dan berubah menjadi iba saat melihat keadaan Ethan..."


"Itu karena kamu pernah mencintainya dan pernah merasakan bahagia saat bersamanya, itu wajar Nak..."


"Begitukah Om?"


"Iya Nak..."


Perbincangan mereka terhenti saat keduanya melihat Om Ronand berjalan ke arah mereka.


"Terima kasih atas bantuannya ya Nak Riani, dan maaf jika Om sudah membuatmu tidak nyaman karena menyuruh orang untuk menyelidiki dan menemukan tempat keberadaanmu..." Ucap Om Ronand sesampainya di depan mereka berdua.


"Sama-sama Om dan tidak apa-apa, bagi Riani apa yang di lakukan Om Ronand itu wajar sebagai seorang ayah yang ingin membantu anaknya"


"Sekali lagi terima kasih atas pengertianmu, memang saya paling tidak tega melihat Viola sedih dan menderita seperti itu"


"Aku maklumi itu Nand, karena aku juga seorang ayah, tapi caramu itu membuat Riani tidak nyaman, kan kamu bisa minta tolong baik-baik padaku" kata Om Rolland dengan nada agak kesal.


"Iya Bang maaf...Waktu itu aku kalut banget dan tidak bisa berpikir jernih, apalagi dengan keadaan Ethan yang seperti itu"


"Iya Om, Riani mengerti kok"


Seorang Dokter keluar dari ruangan ICU.


Dan kembali semuanya mengerumuni Dokter tersebut, tak terkecuali, Riani, Om Rolland dan Om Ronand.


"Bagaimana keadaan anak saya sekarang Dok?" tanya tante Grace dengan wajahnya yang cemas.


"Alkhamdulillah...Keadaannya sekarang stabil, begitu pula dengan kondisi vitalnya yang berangsur-angsur stabil, kita akan tetap menjaga dan selalu mengawasi perkembangannya, jadi kalian tidak perlu khawatir lagi"


"Terima kasih Tuhan...Terima kasih Dokter..." Ucap Om Marcel sambil menyalami sang Dokter.


"Sama-sama, tapi sebenarnya semua ini bisa terjadi juga berkat Ibu An-an yang secara tidak langsung membantu pasien berjuang untuk kembali" kata Dokter dan mengalihkan pandangannya ke arah Riani.


"Sebenarnya nama saya Riani Dok, dan An-an itu nama panggilan saya sewaktu kecil"


"Oh! begitukah?! kalau begitu saya minta maaf, bu Riani" jawab sang Dokter terkejut dan segera meralat ucapannya.


"Tidak apa-apa Dok..."


"Terima kasih banyak Nak Riani karena sudah membantu Ethan" Ucap Om Marcel sembari menyalami tangan Riani.


"Sama-sama Om, itu memang yang harus saya lakukan karena secara tidak langsung keadaan Ethan menjadi seperti itu karena saya"


"Tidak Nak, dari awal semua terjadi karena salah Om..." Bantah Om Marcel.


"Sudahlah Om, jangan bahas kejadian yang sudah lama berlalu, yang terpenting sekarang adalah keadaan Ethan selanjutnya"

__ADS_1


"Betul itu, dan karena keadaan Ethan sudah stabil, jadi bisakah kami pamit pulang, karena saya takut Riani kelelahan" kata Om Rolland.


"Saya rasa bu Riani memang harus pulang, karena lingkungan rumah sakit tidak baik untuk wanita hamil" sambung sang Dokter yang dengan hanya melihat wajah Riani bisa langsung mengetahui kehamilan Riani, meskipun perut buncit Riani tertutupi dengan bajunya.


Kata-kata sang Dokter seketika membuat terkejut orang-orang yang belum mengetahui mengenai kehamilannya, terutama Viola yang seketika segera mendekati Riani.


"Kak Riani beneran hamil?" tanya Viola penasaran dan mencoba memastikan lagi.


Riani mengangguk...


"Sudah tiga jalan empat bulan ini..." Jawab Riani mencoba meyakinkan Viola.


Seketika senyum sumringahnya berkembang, dan segera memeluk erat tubuh Riani.


"Selamat ya Kak! aku akan segera mempunyai keponakan" kata Viola kegirangan dengan wajahnya yang ikut bahagia mendengar kabar tersebut.


Mendengar ucapan Viola dan ekspresi bahagianya yang tulus membuat hati Riani merasa terharu.


"Terima kasih banyak ya Vi, dan mohon doanya agar semuanya lancar hingga persalinanku nanti..." Balas Riani.


"Tentu, pastinya itu Kak, semoga Kakak di beri kelancaran saat melahirkan dan sang bayi bisa terlahir sempurna dengan selamat dan sehat"


"Amin..." Ucap semuanya.


"Selamat ya Nak Riani..." Ucap tante Grace, Om Marcel dan Om Ronand secara bergantian.


"Terima kasih semuanya..." Ucap Riani terharu.


"Jadi sekarang ini kamu sedang mengandung anakku?!" kata seorang laki-laki dengan nada terkejut.


Riani seketika terkejut, begitu pula dengan om Rolland yang meski baru beberapa kali melihat wajah Radja tapi langsung mengenalinya.


Dengan segera Om Rolland pasang badan dan memberi kode pada Iky dan rekannya yang segera tahu dan langsung bertindak mencegah Radja untuk mendekati Riani.


"Nak sebaiknya kita pergi dari sini" bisik Om Rolland.


"Baiklah Om, tapi beri saya waktu sebentar untuk bicara dengan Radja, tapi tidak di sini tempatnya" jawab Riani, berbisik pula.


"Tapi Nak...Apa kamu tidak apa-apa?" kata om Rolland khawatir.


"Tidak apa-apa Om, biar bagaimanapun hingga saat ini dia masih suami saya dan ayah dari anak yang sedang saya kandung ini" jawab Riani bijak.


"Baiklah kalau memang itu kemauanmu..." Kata Om Rolland dan memberi isyarat pada Iky agar membiarkan Radja berbicara dengan Riani.


Radja berjalan dengan tergesa-gesa mendekati Riani, dalam hatinya masih mawas diri takut dua lelaki yang menghadangnya tadi kembali menghalanginya.


"Dek..." Hanya sepatah kata saja yang keluar dari mulut Radja setelah sampai di hadapan Riani.


"Sebaiknya kita bicara di tempat lain saja Mas, jangan di sini" kata Riani dingin.


"Baiklah Dek..." Jawab Radja pasrah.


"Semuanya mohon maaf sekali, saya pamit pulang dulu..." Ujar Riani.


Semua orang yang masih kebingungan dengan apa yang terjadi hanya mengiyakan.

__ADS_1


"Hati-hati ya Nak" kata tante Grace, saat Riani mencium punggung tangannya dan berpamitan.


"Iya Tante..."


Setelah menyalami semuanya, segera Riani berjalan keluar menuju taman yang berada di sekitar Rumah sakit dengan di ikuti Radja di belakangnya.


Sedangkan Om Rolland, Iky dan rekannya berjaga-jaga dari jauh.


..."Dek, benarkah kamu sedang m...


engandung anakku?" tanya Radja lagi memastikan, setelah keduanya duduk di salah satu bangku taman.


"Nanti setelah anak ini lahir dan sudah bisa di tes DNA kamu akan tahu siapa ayah dari anak yang sedang aku kandung sekarang ini Mas, tapi mulai dari hari ini hingga saat itu tiba maka anak ini adalah anakku bukan anakmu atau yang lainnya, jadi kamu bisa tenang dengan keluargamu Mas" jawab Riani tegas.


"Anak itu adalah hasil dari kesalahanku empat tahun yang lalu Dek, dan itu terjadi sebelum kita menikah" kata Radja berusaha membela diri.


"Tapi saat itu kita sudah berpacaran Mas! lagi pula aku lihat kamu bahagia kok Mas, ada istri yang cantik dan anak lucu, sempurna kan?!" sindir Riani dengan senyum getirnya.


"Tapi istri sahku hanya kamu satu-satunya Dek, dan dia hanya aku nikahi secara sirih, lagi pula aku juga yakin jika anak dalam kandunganmu itu adalah anakku..." Kata Raja sambil tangannya berusaha mencoba menyentuh perut Riani.


"Kalau begitu sahkan dia secara hukum Mas, demi anakmu itu" kata Riani sambil menepis tangan Radja yang akan memegang perutnya.


"Jadi kamu merestuiku dengan dia Dek?!" tanya Radja kaget.


"Tentu saja aku restui kalian, tapi tidak untuk kamu berpoligami" jawab Riani penuh teka-teki.


"Maksud kamu Dek?" tanya Radja kurang mengerti dengan maksud Riani.


"Maksud aku adalah, kamu boleh menikahinya secara hukum setelah aku melahirkan dan melakukan tes DNA, setelah hasilnya keluar saat itu kamu boleh menikahinya karena aku akan melepasmu..." Jawab Riani dengan suaranya yang berat karena seolah tersekat di tenggorokkannya.


"Maksud kamu Dek?" tanya Radja lagi untuk memastikan dugaannya.


"Mas, tidak ada seorang wanita yang mau di madu dan berbagi suami dengan wanita lain! oke dulu-dulu kamu sering berselingkuh aku masih bisa memaafkanmu, tapi sekarang lain ceritanya jika ada anak dari hasil perselingkuhanmu, dan aku tidak mau semua ini akan berpengaruh buruk bagi anakmu itu dan anak yang sedang aku kandung ini nantinya, jadi aku mohon...Lepaskanlah aku, karena aku juga sudah ikhlas melepaskanmu untuknya"


"Tidak bisa Dek...Aku tidak bisa menerima keputusanmu, aku mohon maafkan aku dan beri kesempatan lagi untukku Dek...Aku akan menyelesaikan semuanya" pinta Radja panik.


"Apanya yang akan di selesaikan Mas? bagiku semuanya sudah selesai semenjak aku mengetahui kamu mempunyai anak dari wanita lain dan menikahinya tanpa seijinku" jawab Riani dingin.


"Saat itu hati dan pikiranku sedang kalut, dan aku coba mencari waktu yang tepat untuk memberitahumu, tapi ternyata semuanya tidak sesuai dengan rencana hingga terjadi seperti ini.. "


"Andaikan semuanya sesuai dengan rencana sekalipun, tetap saja aku akan melepasmu Mas, meski tanpa persetujuanmu keputusanku akan tetap seperti ini, jadi Mas tidak perlu bersusah payah ingin menyelesaikan masalahmu dengannya, karena bagiku masalah ini selesai dan berakhir sampai di sini..."


"Tidak bisa Dek! bagiku ini semua belum selesai dan berakhir!"tolak Radja kalut dengan suaranya yang agak meninggi.


"Terserah kamu mau menganggap apa, tapi yang jelas kita sudah selesai, dan kamu bisa tenang dengan keluarga barumu" kata Riani dan beranjak pergi meninggalkan Radja.


Radja segera beranjak dan berusaha mengejar Riani, namun segera dia urungkan niatnya saat dia melihat Riani berhenti dan menganggukkan kepalanya pada seorang wanita yang menggandeng seorang anak laki-laki, yang tak lain adalah istri sirih dan anaknya.


Mata Radja Nanar melihat pemandangan tersebut, badannya kaku dengan mulut yang seolah terkunci, terlihat Riani tersenyum pada istri sirihnya dan mengelus kepala anaknya itu, setelah itu Riani kembali berjalan meninggalkan mereka berdua.


Tubuh Radja seketika lemas tak berdaya, tubuhnya jatuh terpuruk ke tanah.


"Semuanya tidak mungkin selesai dan berakhir kan?" tanya Radja pada diri sendiri dengan suaranya yang lirih dan bergetar, tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi.


Sedangkan Riani melangkahkan kakinya dengan mantap, karena hatinya sudah siap jika semuanya sudah selesai dan berakhir...

__ADS_1


...☆☆☆...


__ADS_2