
Setelah sarapan selesai ketiganya segera membereskan sisa sarapan.
Kemudian mereka bersiap-siap untuk cek out, namun belum saja mereka keluar, suara ketukan pintu seketika mengejutkan mereka.
Saat pintu di buka ternyata Ethan dan Viola yang datang.
"Kalian mau cek out hari ini?" tanya Viola yang melihat Teddy membawa kursi roda ke arah Riani.
"Iya hari ini saya cek out, jadi saya berencana untuk pulang dan aku minta bantuan mereka untuk menolongku" jawab Riani dengan cepat, berusaha menghentikan Randi yang tadi terlihat akan menjawab pertanyaan Viola, karena Riani takut Randi akan memberitahu kalau Riani akan tinggal di rumah nenek dan kakeknya.
"Lalu bagaimana dengan keadaan kesehatanmu kak, kami sangat khawatir karena melihat wajah kak Riani sangat pucat saat pamit semalam"
"Sekarang sudah baikan kok, karena itu aku ingin segera pulang, agar bisa mengistirahatkan tubuh dan pikiranku" jawab Riani lagi berbohong sambil melirik ke arah Ethan yang ekspresinya datar dan tak mudah di tebak apa yang sedang dalam hati dan pikirannya saat ini, karena ekspresinya yang biasa-biasa saja.
"Nanti kalau kita sudah balik ke Jakarta bisa kan kak kita berdua main ke rumah kakak?" tanya Viola memohon.
"Tentu saja boleh..." Jawab Riani berbohong lagi, siapa coba yang mau bertemu dengan mantan yang pernah menorehkan luka yang dalam di masa lalu? tentu saja Riani tidak mau, apalagi sekarang Ethan sudah punya istri sekarang, tapi masih ada beban di hati Riani yang belum dia kembalikan pada pemiliknya.
Suatu saat dia memang harus bertemu dan bicara dengan Ethan.
"Kalau begitu kita ikut antar kalian" kata Ethan yang sedari tadi terdiam.
"Tidak perlu, terima kasih..." Jawab Riani singkat dan tegas.
"Beneran tidak apa-apa kak?" tanya Viola memastikan.
"Beneran, kamu dan Ethan nikmatilah bulan madu kalian, tidak perlu mengkhawatirkan aku..."
"Iya, ada aku dan Randi yang menjaganya, jadi kalian tidak perlu khawatir..." Timpal Teddy, ikut meyakinkan Viola.
"Baiklah kalau begitu kita bisa tenang, hati-hati ya kak..."
"Iya, kamu tenang saja..." Jawab Riani lagi.
"Kalau begitu kami berdua pamit duluan, Bye..." Ucap Viola.
"Bye..." Jawab mereka bertiga.
"Hoek! hoek!" mual-mual Riani kembali kambuh setelah Ethan dan Viola tidak terlihat lagi.
"Kamu masih mual-mual Ai? padahal tadi kamu sudah minum obat?" tanya Teddy bingung.
"Aku tidak tahu Ted, tadi saat melihat Ethan dan Viola sebenarnya aku sudah mulai mual-mual, tapi aku tahan..." Jawab Riani, dia berusaha menyembunyikan, kalau sebenarnya saat Riani melihat Ethanlah mualnya mulai terasa olehnya.
"Kalau begitu aku tanya sama dokter Fariza dulu apa ada obat lain untuk mual-mualmu ini..." Kata Teddy sambil mengambil ponselnya.
"Randi, tolong jaga sebentar Riani untukku, aku mau menghubungi dokter Fariza dulu, kalian keluarlah dulu, biar kamar ini aku yang kunci." Kata Teddy.
"Baik bang..." Jawab Randi sambil mendorong kursi roda keluar kamar dengan Riani yang sudah duduk di atasnya.
Sesampainya di luar resort saat Randi dan Riani menunggu Teddy di samping Cidomo, tiba-tiba ponsel Riani berbunyi tanda panggilan masuk, namun saat di lihat nomor tak di kenal, sebenarnya Riani malas untuk mengangkat panggilan nomor tanpa nama tersebut, namun entah kenapa dia ingin mengangkatnya.
Akhirnya dia mengangkat panggilan tersebut setelah berkali-kali tidak dia angkat.
__ADS_1
"Ya hallo..." Jawab Riani datar.
"Ria ku, ini aku..." Terdengar suara dan panggilan yang akrab di telinga Riani, yang ternyata Ethan yang menghubunginya.
"Ada apa?" tanya Riani tetap dengan suara dinginnya, sengaja dia tidak menyebut nama si penelpon, karena dia takut Randi akan curiga.
"Aku ingin bertemu dan ingin menjelaskan semuanya, karena aku yakin kamu masih belum tahu semua dari segi ceritaku..."
"Bukankah semuanya sudah jelas lalu...Apa aku perlu penjelasan darimu lagi? aku rasa tidak" jawab Riani lagi, tegas.
"Tolong Ria ku, beri aku waktu...Setidaknya setelah menjelaskan semuanya aku bisa tenang, apapun keputusanmu nanti aku bisa menerimanya, karena biar bagaimanapun semua yang terjadi padamu dan keluargamu karena kesalahanku..."
"Cukup! tolong jangan ungkit masa lalu lagi, aku tidak mau membuka luka lama yang mengerikan itu lagi, nanti aku hubungi kamu jika aku sudah siap bertemu denganmu" jawab Riani agak tersulut emosi saat ingatan akan kecelakaan yang merenggut ayahnya itu kembali.
Kemudian dengan segera dia menutup teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Ethan terlebih dahulu, di liriknya Randi yang pura-pura tidak dengar sedangkan Riani tahu pasti kalau Randi sebenarnya mendengar semua pembicarannya di telepon tadi.
Teddy telah datang dengan tergesa-gesa dari dalam resort.
"Maaf sekali, kalian sudah menunggu lama, aku tadi menghubungi Fariza, ternyata dia menyuruhku untuk menemuinya, hanya saja..."
"Hanya saja apa Ted?" tanya Riani sambil mengeryitkan keningnya, penasaran.
"Memangnya ada apa Bang?" tanya Randi ikut penasaran.
"Dokter Fariza merekomendasikan obat untuk Riani tapi obat tersebut hanya ada dan tersedia di apotik yang tempatnya di Gili Meno saja, sedangkan aku belum tahu betul seluk-beluk tempat itu, dokter Fariza juga kebetulan sedang ada di sana, hanya saja kebetulan setelah aku mengantar Riani aku harus segera menemui klien penting..." Jawab Teddy menjelaskan.
"Kalau begitu biar aku saja Bang yang ambil obatnya, Bang Teddy konfirmasi saja pada dokter Fariza kalau aku yang akan mengambil obat tersebut" kata Randi menawarkan diri.
"Baiklah, nanti aku kasih nomornya padamu, maaf sudah merepotkan..."
"Terima kasih banyak ya Ran..."
"Iya mba, bang Teddy tahu kan arah rumahku setelah sampai di Gili Trawangan?" tanya Randi memastikan lagi.
"Tahu, sebelumnya aku dan Radja kan sudah pernah ke sana" jawab Teddy yakin.
"Syukurlah, kalau begitu aku pamit langsung ke Gili Meno dulu ya mba, bang..." Pamit Randi.
"Iya Ran, hati-hati..." Jawab Riani.
"Terima kasih dan sesampainya di sana segera hubungi dokter Fariza, aku tadi sudah kirim pesan dan memberitahu dia kalau kamu yang akan ambil obatnya"
"Oke bang, tolong jaga mba Riani, bye..."
"Bye..."
Teddy segera membantu Riani untuk naik ke atas Cidomo, setelah melipat dan menaruh kursi roda, dia menyusul naik ke atas cidomo.
Suasana perjalanan di lewati dengan keheningan, keduanya saling terdiam tanpa ada yang mau membuka pembicaraan terlebih dahulu.
Hingga cidomo sampai di pinggir pantai dan naik perahu menuju Gili Trawangan, mereka berdua tetap terdiam...
.............
__ADS_1
Akhirnya perahu yang mereka tumpangi sampai dan merapat di bibir pantai Gili Trawangan.
Dengan pelan Teddy mendorong kursi roda Riani berjalan menjauhi perahu.
"Ai..."
"Kenapa kamu harus berbohong pada Randi?" tanya Riani pada Teddy yang belum sempat melanjutkan kalimatnya.
"Jadi kamu tahu kalau aku tadi berbohong Ai?" jawab Teddy balik bertanya.
"Tentu saja aku sangat tahu kamu Ted, yang setiap kali berbohong kamu akan menggigit bibir bagian bawahmu itu..."
"Kamu sangat tahu kebiasaanku hingga sedetail itu Ai?" tanya Teddy, dalam hatinya ada perasaan haru mendengar perkataan Riani tersebut.
"Tentu saja Ted, lima tahun adalah waktu yang tidak sedikit dan cukup bagiku untuk mengetahui kebiasaanmu itu..."
"Maaf Ai, aku terpaksa berbohong, karena selain aku tidak ingin betemu dengannya juga karena aku ingin menghabiskan waktu denganmu selama dua hari terakhir cuti kamu..."
"Kenapa kamu menghindarinya? dia cantik, baik, pintar dan lemah lembut, lalu kurangnya apa dia?" desak Riani tidak habis pikir dengan pilihan Teddy.
"Ya, dia memang wanita yang sempurna, bahkan sangat sempurna bagiku, tapi...Kembali pada perasaanku yang tidak bisa di bohongi Ai..."
"Perasaan apa lagi? apa yang kamu tunggu lagi Ted?" desak Riani, Teddy menghentikan langkahnya kemudian duduk di batu besar pinggiran pantai, di parkirkannya kursi roda Riani di sampingnya.
"Kamu tahu persis perasaanku padamu, dan aku tidak pernah memaksamu untuk membalas perasaanku dan kembali padaku lagi, jadi...Tolong Ai, kamu juga jangan paksa perasaanku untuk mencintai orang lain, berikan aku waktu dan biarlah waktu yang akan menjaga perasaanku hingga akhirnya hatiku memilih untuk menyerah dan mencari penggantimu..."
Mendengar perkataan Teddy membuat hati Riani sangat sakit dan merasa tidak rela bila akhirnya nanti Teddy memilih dan menemukan penggantinya, tadi dia sadar kalau dia tidak bisa egois seperti itu.
"Bukankah kalian sudah dekat? aku lihat Iza juga menyukaimu, dari matanya ada cinta dan kamu juga mempunyai panggilan sayang untuknya..."
"Maksud kamu nama Shiro itu?" tanya Teddy tersenyum penuh arti.
Riani hanya menatap Teddy yang tersenyum manis, kemudian menganggukkan kepalanya.
"Pertama kali aku mengenalnya saat di game online, di menggunakan nickname Shiro, jadi kadang terbawa ke dunia real saat aku mulai berteman dengannya, hingga akhirnya sudah terbiasa memanggil nama itu..."
"Oo...Lalu bagaimana dan di mana kamu mengenal Andy?" tanya Riani mengalihkan pembicaraan, karena dia merasa Teddy menangkap kecemburannya.
"Oo Andy ya...Aku mengenalnya saat dia bertugas sebagai bodyguard klien pentingku yang datang khusus dari Australia..."
"Oo begitu..."
"Jadi Ai, aku mohon sekali lagi kamu jangan memaksaku dan perasaanku lagi untuk orang lain, oke?" pinta Teddy dengan ekspresi wajah sedih dan mata sendunya.
"Iya...Oke...Aku tunggu sampai perasaan kamu bosan padaku..."
"Sssttt! jangan pernah kamu bilang seperti itu lagi, karena sampai hari ini perasaanku padamu tidak pernah bosan, dan aku yakin sampai kapanpun itu..." Sanggah Teddy menghentikan ucapan Riani, dia tidak suka dan sedih mendengar Riani berkata seperti itu.
"Tapi tanpa kamu sadari, ucapanmu itu menjadi beban untukku Ted...Dan akhirnya melukai perasaanku juga..."
"Maafkan aku Ai...Atas ketidak kuasaanku menahan dan menyimpan perasaan ini, yang akhirnya membuatmu terluka..."
"Aku mengerti Ted, maafkan aku juga yang tidak bisa memberimu hak untuk memiliki ku..."
__ADS_1
Keduanya saling bertatapan penuh arti, kemudian mereka menatap fajar yang mulai menyingsing menyambut datangnya hari dengan sinarnya yang hangat, menyertai hati Riani dan Teddy, yang tak rela, tak kuasa dan tak berhak atas perasaan mereka untuk saling memiliki...
...☆☆☆...