KESETIAAN YG TAK TERBATAS

KESETIAAN YG TAK TERBATAS
Kepercayaan Diri Yang Terkoyak


__ADS_3

Setelah hampir kurang lebih memakan waktu 4 jam penyebrangan lewat selat lombok akhirnya kapal feri yang di tumpangi Rianipun sampai di Pelabuhan Lembar Lombok.


Setelah kapal feri berlabuh, mobil pun tetap harus mengantri untuk bisa keluar dari kapal, meskipun akhirnya tidak butuh lama, mobilpun bisa keluar.


Dengan segera Randi tancap gas mobilnya, untuk mengejar waktu karena hari sudah beranjak siang dan mereka harus mencari restoran untuk makan siang.


Randi memberi tahu Riani kalau mereka akan segera menuju ke pantai Tanjung Aan.


Selain bisa menikmati indahnya pantai juga bisa sekaligus menikmati makan siang di sana.


.............


Sesampainya di pantai Tanjung Aan, mobil Randi segera dia parkirkan.


Kemudian Randi mengajak Riani dan Zoya adiknya masuk ke obyek wisata pantai Tanjung Aan.


Mata Riani terlihat takjub saat melihat pemandangan pantai yang bersih dengan pasir putihnya yang halus seperti butir butir merica.



Air pantainya yang masih bening dan berwarna biru membuat tangan Riani gatal untuk segera mengabadikan pemandangan tersebut dengan ponselnya.


Setelah beberapa saat kemudian kaki Riani sudah basah oleh air pantai yang sejuk di cuaca yang panas siang hari.


Sedang asyiknya Riani dan Zoya berlari-lari di pantai dan berselfi ria, Randi tiba-tiba memanggil mereka sambil melambaikan tangannya ke arah mereka berdua.


Randi harus melakukan itu, karena banyak orang yang mengunjungi pantai Aan tersebut dan berlalu lalang berjalan di bibir pantai Aan.


Riani dan Zoyapun segera menghampiri Randi.


Sesampainya di depannya, dia mengajak keduanya ke Warung Turtle untuk makan siang.


Dengan segera ketiganya masuk ke dalam warung tersebut yang ramai pengunjung yang juga sedang menikmati makan siang.


Setelah mereka duduk di meja yang sudah Randi pesan, mereka dengan segera memesan menu makanan dan minuman.


Dan tidak butuh lama, pesanan merekapun datang.


Dan karena mereka sudah lapar, tanpa perlu di aba-aba lagi mereka bertiga langsung melahap hidangan di depan mereka sambil menikmati pemandangan indah pantai Tanjung Aan.


...·······...


Setelah hampir kurang lebih satu setengah jam di pantai Tanjung Aan, Randi segera mengajak Riani dan Zoya untuk meninggalkan pantai Tanjung Aan.


Karena masih ada satu obyek wisata lagi yang harus mereka kunjungi, yaitu Tiga Gili Lombok atau biasa di kenal Tiga Desa Dunia.


Tiga Gili Lombok yang terdiri dari Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air.


Setidaknya itu yang Riani tahu secara garis besar dari apa yang Randi katakan selama perjalanan dalam mobil menuju Tiga Gili tersebut.


Sesampainya di pintu masuk Gili Meno, ketiganya segera turun dari mobil mereka.


Dan karena kendaraan bermotor ataupun bermesin di larang masuk, maka mereka menggunakan transportasi yang bernama Cidomo yang bentuknya hampir sama dengan Andong, hanya perbedaannya terletak pada roda, jika andong dengan roda kayu sedangkan Cidomo menggunakan ban bekas mobil.

__ADS_1



Dengan membayar transportasi cidomo sebesar lima puluh ribu per orang, merekapun menaiki cidomo sambil menikmati pemandangan sekitar.


Selama dalam perjalanan, Randi mengatakan akan mengantar Riani menuju resort di mana Riani akan menginap selama dua malam di sana.


Setelah kurang lebih satu jam perjalanan, akhirnya mereka bertiga sampai di salah satu resort di Gili Meno, yaitu sebuah resort yang mewah dengan nama resort yang unik namun menarik yaitu Kura Kura Resort Gili Meno.


Sesampainya di depan resort Randi turun dari Cidomo yang langsung di ikuti oleh Riani dan Zoya.


Sambil membawakan tas ransel milik Riani, Randi masuk di bagian resepsionis untuk check in dan mengambil kunci kamar.


Di bawanya Riani ke salah satu kamar dengan nomor yang tertera di kartu kunci.


Sesampainya di depan kamar tersebut, Randi memberi kartu kunci tersebut pad Riani.


Dengan segera Riani membuka pintu dan masuk ke dalam kamar tersebut, yang langsung di ikuti oleh Randi dan Zoya di belakangnya.


Terlihat di sana sebuah tempat tidur dengan ukuran yang besar dan lebar yang kira-kira bisa menampung empat orang di sana.



Setelah Randi meletakkan Ransel Riani di atas meja samping tempat tidur, Randi dan Zoya berniat untuk pamit.


"Karena mbak Riani sudah sampai di Resort jadi kami berdua pamit pulang dulu ya mbak..." Kata Randi sopan.


"Lho terus kalian menginap dan tidur di mana Ran?"


"Kami berdua akan pulang dan tidur di rumah nenek dan kakek kami kak..." Jawab Zoya yang sedari tadi melihat lihat seluruh ruangan kamar sambil tak henti hentinya berdecak kagum.


"Iya mba, mereka tinggal di desa sebelah, hanya setengah jam perjalanan menggunakan cidomo..."


"Owh begitu ya...Kalau begitu boleh dong besok aku main ke rumah kalian..."


"Tentu saja boleh dong kak!" sambar Zoya dengan ekspresi wajah senangnya.


"Iya mba boleh, dan saya yakin nenek kakek kami juga pasti akan senang jika mba datang..."


"Oke kalau begitu besok sore setelah tour aku mampir ya..."


"Oke kak, kalau begitu kita berdua pamit pulang dulu ya kak..." Jawab Zoya lagi.


"Kamu tidak mau menemani kak Riani tidur di sini Zoya?" tanya Riani.


"Pengin sih kak, tapi Zoya pengin nemuin kakek nenek Zoya dulu, Zoya sudah kangen banget sama mereka..."


"Baiklah kalian pulanglah dulu, mungkin besok malam kamu bisa nemenin kakak tidur di sini"


"Deal! baiklah besok malam Zoya datang ya kak"


"Iya, Kakak tunggu"


"Kalau begitu kami pamit dulu mba, selamat malam..."

__ADS_1


"Bye kak...!"


"Hati-hati kalian di jalan, selamat malam juga, Bye..."


Kakak beradik tersebutpun segera keluar meninggalkan kamar Riani dan resort.


Sedangkan Riani segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, dia merasa tubuhnya sangat lengket karena tadi siang di pantai Tanjug Aan, cuaca sangat terik hingga membuatnya banyak mengeluarkan keringat.


Setelah selesai mandi badanpun terasa segar kembali, setelah berganti baju diapun keluar kamar dan berniat melihat lihat pemandangan di sekitar resort.


Saat dia berjalan di samping resort terlihat kolam renang dengan kursi panjangnya yang berjejer di samping kolam renang.



Setelah puas melihat dan mengelilingi kolam renang, Rianip berjalan keluar dari resort.


karena hari masih sore menjelang senja, Riani berjalan menyusuri sepanjang jalan depan resort.


Hingga akhirnya dia sampai di pesisir pantai sekitar Gili Meno.


Di lepasnya sepatu yang melekat di kakinya, di jinjingnya sepatu sambil berjalan santai menyusuri pinggiran sepanjang pantai, sembari menikmati datangya senja.


Matahari yang mulai kembali ke peraduannya dengan menyisakan sinarnya yang berwarna keemasan, semakin menawan pemandangan senja hari, di padu dengan angin senja yang semilir sepoi-sepoi semakin membawa suasana sendu di hati Riani.



Susana senja yang membuatnya tanpa dia sadari kembali mereview semua kejadian dalam hidupnya dari dulu hingga sekarang dalam ingatannya.


Manusia memang tidak ada kuasa atas hidupnya...Hanya Satu Sang Pemilik Hidup...Dialah pemilik seluruh alam ini termasuk kita manusia.


Kita hidup, bernafas dan bisa menikmati hidup hingga saat ini karena KUASA-NYA jadi...Bila saatnya nanti DIA Sang Pemilik mengambil kita, maka tidak ada yang bisa di perbuat, kita memang harus dan pasti akan kembali kepada-Nya...


Entah kenapa semua pemikiran seperti itu tiba-tiba ada begitu saja, mungkin karena hati dan pikirannya yang saat ini sedang tidak tenang, hingga timbul perasaan yang sensitif seperti itu.


Di tatapnya pemandangan laut yang luas di depannya, hingga jauh ke garis lurus air laut di sana.



Mata dan pikirannyapun seolah terbuka, kemudian dengan tersenyum Riani menatap ke arah tenggelamnya sang surya, baginya Sunset yang sekarang sedang dia lihat terasa lebih bermakna meskipun ia nikmati hanya seorang diri.


Setelah hari mulai beranjak malam, Riani segera berjalan kembali ke resort di mana dia menginap.


Sesampainya di kamar dia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur, rasa lapar yang tadi dia rasakan kini berganti rasa lelah dan kantuk yang teramat berat.


Namun belum sempat dia memejamkan matanya, tiba-tiba panggilan masuk di ponselnya pun berbunyi.


Dan saat di lihat, ternyata Radja yang menelponnya, entah kenapa Riani merasa tidak ingin sama sekali mengangkat teleponnya dan berbicara dengannya, meskipun hingga sekarang dia masih berstatus suaminya.


Ponselpun berdering lagi setelah mati sejenak, namun Riani tetap tidak mau mengangkatnya, hingga setelah beberapa saat akhirnya ponselnya tidak berdering lagi.


"Maaf mas...Aku memang pengecut dan tidak ingin menemuimu hingga saat ini...Ingin rasanyanya aku menghilang dan mempunyai duniaku sendiri untuk membangun kepercayaan diriku lagi yang telah terkoyak oleh sebuah pengkhiatan cinta...Jadi kelak jangan salahkan aku jika saat kita bertemu lagi...Aku bukanlah Riani yang dulu kamu kenal..."


Batin Riani dengan air matanya yang sudah membanjiri pipinya.

__ADS_1


Setelah mata, hati dan pikirannya semakin berat ia topang sendiri...Akhirnya diapun tertidur dalam pelukan hati yang terluka...


__ADS_2