KESETIAAN YG TAK TERBATAS

KESETIAAN YG TAK TERBATAS
BERBICARA DARI HATI KE HATI


__ADS_3

Pagi yang cerah, bersenandungkan nyayian burung-burung yang ceria dan di selimuti hangatnya sinar mentari yang baru terbangun dari peraduannya.


Riani membuka jendela kamarnya dan menghirup dalam-dalam udara pagi yang masih bersih dan segar.


"sudah bangun nak? ini makan dulu sarapanmu sebelum ke rumah papah Rollandmu" kata Ibunya yang baru masuk ke kamar dengan membawa segelas susu dan dua tangkup roti selai stroberry untuknya.


"Iya Bu, terima kasih..."


Riani memindahkan kursinya ke dekat jendela, kemudian di santapnya roti yang sudah ada di tangannya itu sambil melihat pemandangan luar yang ramai dengan kicauan burung dan mulai turun untuk mencari makan di bawah pohon yang rindang.


Sambil menikmati rotinya dia berjemur menghangatkan tubuhnya dengan sinar matahari yang menerobos di sela-sela daun pohon kelapa dekat kamarnya.


Setelah cukup puas menikmati suasana pagi dan perut yang sudah kenyang Riani segera mengganti bajunya untuk bersiap-siap pergi ke rumah papah Rolland.


Kemudian Riani keluar dari kamarnya menuju ruang makan di mana mang Muh dan Mbok Sri baru selesai sarapan dan sedang membereskan piring-piring yang ada di meja.


"Selamat pagi Nak Riani...Apa mau berangkat sekarang?" tanya mang Muh setelah melihat kedatangan Riani.


"Selamat pagi, Iya Mang...Apakah sudah siap?"


"Sudah siap Nak"


"Kalau begitu ayo kita berangkat sekarang"


"Baik nak, Mamang ambil mobil dulu"


Mang Muh segera menuju ke arah mobil yang dia parkirkan di depan rumah basecamp pelatihan yang letaknya berdampingan dengan rumah.


Sedangkan Riani menunggu halaman depan rumah.


Tidak menunggu lama, mobil pun sudah parkir di depan Riani, dengan segera dia masuk ke dalam mobil.


"Tolong ke rumah papah Rolland, Mang..."


"Baik..."


Mang Muh melajukan mobilnya keluar dari jalan kompleks perumahan, menembus kabut tipis yang masih tertinggal...


.............


Riani terlihat kebingungan saat mang Muh menghentikan mobilnya di depan rumah yang cukup besar dan sepertinya letak rumah tersebut dekat dengan laut, karena Riani dengan sangat jelas mendengar suara deburan ombak.


"Kenapa berhenti di sini Mang?" tanya Riani.


"Bapak kalau setiap akhir pekan akan tinggal di rumah ini Nak, dan sepertinya beliau sedang ada tamu" jawab Mang Muh, matanya mengarah ke arah mobil yang dia kenali.


Mata Riani mengikuti arah pandangan mang Muh yang tertuju pada mobil BMW hitam yang terparkir di depan rumah tersebut.


Mang Muh turun dari mobilnya untuk membuka gerbang pintu, setelah itu dia pun segera masuk kembali dan memarkirkan mobilnya berdampingan dengan mobil tadi.


Riani segera turun, pandangan matanya mengelilingi sekitar rumah tersebut.


Rumah yang menurutnya asri dan teduh, karena terdapat banyak pohon buah-buahan dari pohon mangga, jambu, delima dan masih banyak lagi.


Ada pula berbagai jenis bunga anggrek yang terlihat nampak indah berjejer di samping rumah.


"Ayo Nak, kita masuk!" ajak mang Muh.


Suara mang Muh membuat Riani tersadar dari pandangan kagumnya, dengan segera dia mengikuti langkah mang Muh di belakangnya.

__ADS_1


Mang Muh memencet bel di samping pintu dua kali, hingga akhirnya pintu di buka oleh pemilik rumah.


"Riani?! seru papah Rolland terkejut sekaligus bahagia saat membuka pintu dan melihat siapa yang datang.


"Hallo Pah, surpraise!" ucap Riani dan tanpa segan-segan memeluk Rolland setelah mencium punggung tangannya.


"Masuk...Masuk Nak!" ajak Rolland sambil merangkul hangat pundak Riani.


"Oh ya Mang Muh, tolong sekarang kamu kembali ke rumah Iky, kemudian antar bu Widya ke rumah temannya" kata Rolland, membalikkan badannya ke arah mang Muh.


"Baik Pak, sekarang juga saya berangkat"


"Terima kasih Mang, dan maaf sudah sangat merepotkanmu"


"Sama-sama, tidak apa-apa Pak...Ini sudah menjadi tugas saya"


"Hati-hati Mang"


"Iya Pak..."


Mang Muh berbalik dan berjalan menuju ke mobilnya sedangkan Rolland kembali merangkul pundak anak perempuannya itu.


"Ayo Nak, kebetulan om Ronand dan om Marcel juga datang le sini, ayo kita temui mereka"


"Deg!" seketika jantung Riani terasa berdetak kencang saat dia mendengar nama om Marcel, namun dengan segera dia mencoba mengontrol diri agar tidak terlalu tegang saat dia bertemu dengan om Marcel nanti.


Dan berusaha agar tidak mengingat kembali kejadian kelam waktu itu, berusaha tenang seperti saat dia bertemu dengannya di rumah sakit.


Namun tidak bisa ia pungkiri semenjak tante Grace memberitahunya mengenai sakit yang di derita om Marcel ada timbul rasa simpati terhadapnya.


"Hallo om Marcel, om Ronand..." Sapa Riani setibanya dia di ruang tamu, di mana mereka berdua sedang santai dan berbincang di kursi tamu, sekilas tertangkap jelas oleh Riani ekspresi terkejut di wajah om Marcel saat melihat kedatangannya, namun ekspresinya segera berubah dan tersenyum saat melihat perut Riani yang besar.


"Kamu ke sini langsung dari rumah Nak?" tanya Ronand.


"Iya Om, sengaja ingin memberi kejutan papah Rolland"


"Kamu harus ekstra hati-hati dengan perut kamu yang sudah besar seperti itu" sambung Marcel.


"Iya Om, terima kasih atas perhatiannya..."


"Aku juga sudah sering mengingatkannya, tapi jika jiwa menolongnya keluar maka dia tidak memikirkan dirinya sendiri" kata Rolland.


"Jiwa penolongnya bukankah menurun darimu Bang?" celetuk Ronand membuat Rolland terbatuk-batuk dan segera memberi isyarat dengan melotot pada adiknya tersebut.


Ronand yang sudah mengetahui fakta bahwa Riani adalah anak kandung dari abang kembarnya tersebut, segera membungkam mulutnya.


Sedangkan Riani hanya tersenyum dan diam seribu bahasa meski dalam hatinya merasa penasaran dengan apa yang barusan om Ronand katakan.


"Sudah besar kehamilanmu, kira-kira kapan melahirkannya, Nak Riani?" tanya om Marcel.


"Sekarang jalan 7 bulan, jadi di perkirakan dua bulan lagi saya melahirkan Om" jawab Riani tenang.


"Oo begitu, semoga semuanya lancar..."


"Amin...Terima kasih atas doanya Om..."


"Sama-sama..."


"Om Ronand, bagaimana kabarnya Viola? hari ini dia belum chat ataupun menghubungi saya, apakah dia baik-baik saja?"

__ADS_1


"Dia baik-baik saja Nak, terima kasih...Berkat kamu dia bisa tenang"


"Kok berkat saya Om? memangnya apa yang sudah saya lakukan untuk Viola?" tanya Riani kebingungan.


"Berkat kesediaanmu membantu Ethan dan berbicara dengannya, sekarang Ethan jauh lebih tenang dari sebelumnya dan dia juga sudah bisa tidur"


"Betul itu nak Riani, om juga sangat berterima kasih padamu karena bersedia membantu anak Om" sambung Marcel.


"Sama-sama Om, itu saya lakukan semata-mata karena Viola ataupun Ethan adalah sahabat saya"


"Emmm...Bang bolehkah saya pinjam Riani sebentar? ada yang ingin aku bicarakan dengannya..." Tanya Marcel ragu-ragu pada Rolland.


"Aku tidak akan mempertanyakan apa yang akan kamu bicarakan dengan Riani dan aku mengijinkanmu, tapi aku perjelas satu hal jaga dia baik-baik selama kamu meminjam dia, karena dia anakku sekarang" jawab Rolland tegas.


"Aku tahu itu Bang, dan aku janji mulai dari sekarang aku akan menjaga Riani seperti anakku juga"


Sekali lagi Riani hanya terdiam mendengar percakapan antara papah Rolland dan om Marcel yang terdengar ambigu di telinganya.


"Ayo nak Riani, kita bicara sambil jalan-jalan" ajak om Marcel membuyarkan lamunan Riani.


"Baik Om...Pah, Om Ronand, Riani bersama om Marcel keluar dulu" pamit Riani.


Ronand tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Keluarlah Nak dan hati-hati... Marcel titip anakku, ingat dia sedang hamil besar, jangan membuatnya terlalu lelah!" kata Rolland mengingatkan Marcel kembali.


"Iya bang, aku tahu...kami pamit keluar dulu" jawab Marcel dengan hati yang bertanya-tanya, kenapa Rolland sangat perhatian dan melindungi Riani, sedangkan yang dia tahu Riani hanyalah anak angkat Rolland, atau adakah rahasia yang tidak dia ketahui?


"Maaf Om...Sebenarnya hal apa yang ingin Om Marcel bicarakan dengan saya?" tanya Riani yang seketika membuyarkan lamunan Marcel.


"Om ingin bicara dari hati ke hati denganmu, tapi sebaiknya kita mencari tempat duduk dulu agar nanti saat kita bicara, kamu dan bayi dalam kandunganmu bisa lebih nyaman"


Riani hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju, kemudian dia mengikuti langkah om Marcel yang keluar dari rumah papah Rolland melalui pintu belakang.


Dan saat mereka baru keluar dari pintu, alangkah terkejut dan takjubnya Riani karena pandangan matanya langsung di suguhi dengan pemandangan laut yang berwarna kebiruan, sungguh pemandangan yang sangat memanjakan matanya.


"Pantas saja tadi saat mobil sampai di depan rumah dia mendengar dengan sangat jelas deburan ombak..." bisik Riani dalam hati.


"Indah bukan?" tanya om Marcel melihat ke arah Riani yang sedang memandang penuh kagum ke arah laut.


Riani hanya mengangguk dan tersenyum, menunduk malu karena menyadari ketahuan oleh om Marcel.


Suara dering tanda pesan masuk mengalihkan perhatian Riani, di ambil ponselnya dari dalam saku dompet yang ia bawa.


Di bacanya pesan yang datang dari Roro tersebut.


"*An-an, aku dan Teddy sudah keluar dari rumah sakit dan sekarang kita sudah sampai di rumah Teddy"


"Syukurlah...Kalau begitu, sampaikan maafku pada Teddy"


"Dia sangat mengharapkan kehadiranmu untuk menjemputnya tapi saat dia tahu kamu kurang sehat terlihat jelas kekhawatiran di wajahnya, sebenarnya apa yang sudah terjadi antara kamu dan Teddy aku tidak ingin ikut campur tapi aku melihat dengan sangat jelas ada penyesalan yang sangat dalam di mata Teddy*..."


Riani termangu cukup lama setelah membaca chat terakhir dari Roro, dia merasa bersalah pada Roro karena tidak bisa menceritakan apa yang telah terjadi antara dirinya dengan Teddy, karena Riani takut jika dia jujur pada Roro mengenai apa yang sudah Teddy lakukan padanya, akan membuat persahabatan antara Roro dan Teddy menjadi rusak.


"Maafkan aku Mi-Ro...Terkadang akan lebih baik jika kamu tidak tahu apa-apa, semua ini aku lakukan demi kebaikan kita semua..." Ucap Riani dalam hati.


Suara panggilan dari Om Marcel membuat Riani segera menyimpan kembali poselnya, kemudian dia melanjutkan langgkahnya menyusul om Marcel yang sudah berada agak jauh di depannya.


Om Marcel, ayah Ethan yang ingin berbicara dari hati ke hati dengannya...

__ADS_1


...☆☆☆...


__ADS_2