
Riani menarik nafas dalamnya, kemudian di hembusskan kembali udara dari hidungnya.
Ada perasaan lega setelah dia mengetahui bahwa dia masih mempunyai ayah kandung, apalagi dia adalah papah Rolland.
Obrolan panjang semalam membuat Riani menyadari bahwa di balik semua kejadian yang dia alami, dan carut marut rumah tangganya yang di ambang kehancuran, dia sangatlah beruntung karena mempunyai dua orang ayah.
Ayah sambung tapi rasa ayah kandung, karena dia merawatnya sejak lahir dengan tulus dan penuh kasih sayang, membuatnya tidak menyangka saat mengetahui kebenarannya, bahwa almarhum ayah hafis yang selama ini dia anggap sebagai ayah kandung bukanlah pemilik satu darah dengannya.
Dan kini dia bertemu dengan ayah kandungnya yang juga sangat menyayanginya.
Dia sangat bersyukur bahwa di balik semua cobaan hidupnya, ada hikmah baik yang ia terima sebagai hadiah dari Tuhan.
"Terima kasih ya Allah, karena telah menghadirkan Ayah yang penuh kasih sayang, dan Engkau juga telah melengkapkan kedua orang tua kandungku, sujud syukurku padamu ya Allah..." Ucap syukur Riani dalam hati.
"Gerangan apakah yang membuat Winnieku bermuram durja seperti itu...?"
Suara Akbar membiaskan lantunan doa di hati Riani.
"Ah...Paman Donald, dari dulu sampai sekarang tidak berubah dengan kalimat dramatismu itu"
"Kalau tidak dramatis bukan paman Donald namanya, karena itu sudah menjadi identitasku"
"Iya...Iya, orang nyentrik seperti kamu tidak ada duanya"
"Hahaha...Sebenarnya ada apa? kenapa ku lihat wajahmu sangat kusut kayak gitu?"
"Wajahku kusut kayak gini karena belum cuci muka, bukan bermuram durja seperti apa yang kamu kira, jaringan telepatimu lola tuh!" canda Riani.
"Pantesan, antena belalangku tidak berkedut" jawab Akbar membalas candaan Riani.
Keduanya pun tertawa lepas.
"Haaah...Sudah lama ya kita tidak tertawa seperti ini?" kata Akbar menghela nafas panjang.
"Iya, jadi kangen dengan masa-masa remaja kita dulu..."
"Masa di mana awal cerita kita mendapat nama julukan masing-masing, winnie, pooh dan paman donald"
"Hahaha jadi ingat kejadian lucu itu!"
"Iya! saat kamu ngambek sampai satu minggu gara-gara di juluki Winnie, hahaha!
"Ihh...Itu kan dulu karena aku masih kecil"
Suara dering pesan masuk di ponsel Riani, menghentikan obrolan seru mereka berdua.
Saat di buka ternyata Radja yang mengirim pesan tersebut dan mengatakan kalau sekarang Radja dalam perjalanan menuju ke rumah untuk menjemputnya.
Saat dia melihat jam di ponselnya, memang sudah waktunya dia untuk siap-siap pergi bersama Radja.
"Paman, aku siap-siap dulu ya? Radja segera sampai mau menjemputku"
"Maksud kamu Radja suamimu?"
"Iya, ada hal penting yang ingin kami berdua bicarakan"
"Kamu pergilah bersiap-siap, aku juga sebentar lagi ada tugas dari Pak Rolland"
"Baiklah, kalau begitu aku masuk dulu"
"Oke, salam buat suamimu"
Riani hanya menjawab dengan anggukan kepalanya, kemudian dia bergegas masuk ke dalam dengan di ikuti pandangan mata Akbar.
"Meski aku tahu semua apa yang sedang kamu alami, tapi...Begitu sulitkah bagimu untuk sekedar berbagi cerita dan berbagi kesulitanmu padaku?" tanya Akbar dalam hatinya...
.............
Tepat pukul dua siang, Radja sudah sampai untuk menjemput Riani.
Setelah keduanya berpamitan, mobilpun melaju ke arah tempat yang sudah mereka sepakati.
__ADS_1
...
"Kamu mau pesan makanan apa Dek?" tanya Radja, sesam painya di room private restoran kelas VIP yang sudah dia booking oleh Radja sebelumnya.
"Terserah, Mas saja yang pesankan"
"Baiklah, aku pesan makanan yang sehat buat kamu dan anak kita ya?"
"Iya Mas, terima kasih"
Riani memandang wajah suaminya yang sedang serius membaca menu, dalam ingatan dia selama pernikahannya dengan Radja, baru pertama kali ini dirinya di ajak makan di restoran mewah seperti ini, pertama kali dan mungkin juga untuk yang terakhir kalinya.
Makananpun telah di hidangkan sesuai yang di pesan oleh Radja.
Keduanya segera menikmati hidangan menu makan siang tersebut dengan suasana hening tanpa obrolan.
...
"Ini kunci rumah dan mobil aku kembalikan padamu" ucap Radja menyodorkan beberapa kunci kepada Riani.
"Kenapa kamu memberikan semuanya padaku Mas?"
"Karena semua memang hak kamu dan anak kita..."
"Tapi aku tidak akan menempati rumah itu Mas, aku mungkin akan pindah rumah di tempat yang lebih jauh"
"Kemana kamu akan pindah? dan kenapa harus di tempat yang jauh Dek?! tanya Radja terkejut.
"Aku hanya ingin membawa anakku di tempat yang tepat untuk perkembangannya, dan maaf Mas...Aku tidak bisa memberitahu dimana tempat tinggal kami yang baru"
"Lalu bagaimana aku bisa melihat dan berbicara dengan anakku?"
"Tenang saja Mas, aku tidak akan memutus hubungan darah antara anak dan ayahnya, meski pindah tapi komunikasi kita akan tetap berjalan dan di waktu tertentu kamu juga bisa menemui anakmu"
"Jadi...hati kamu sudah mantap dengan keputusanmu ingin berpisah denganku Dek?"
Riani hanya mengangguk lemah.
Radja menghela nafasnya yang ia rasa lebih berat.
"Syarat apa Mas?"
"Aku akan mengatakan syaratnya, dan setiap syarat aku akan menanyakan apakah kamu sanggup atau tidak?"
"Lalu kalau aku tidak sanggup dengan syaratmu nanti?"
"Aku yakin kamu bisa menerima dan sanggup dengan perayaratanku ini, jika kamu tidak sanggup maka maaf mengecewakanmu, aku tidak akan mengabulkan keinginanmu itu"
"Oke...Oke, sekarang katakan padaku apa syarat-syaratnya?" ucap Riani, tidak sabar.
"Syarat yang pertama, aku akan menceraikanmu secara agama terlebih dulu, sedangkan untuk secara hukum menyusul setelah anak kita lahir dan tercantum dalam kartu keluarga kita, bagaimana?"
"Aku sanggup, syarat selanjutnya?"
"Setelah anak kita lahir dan kita sudah berpisah secara hukum, aku ingin kamu segera menikah lagi"
"Apa?! kenapa aku harus menikah lagi, yang benar saja kamu mas?!
"Ada alasan kenapa aku menyuruhmu untuk menikah lagi, itu karena aku ingin anakku nanti tidak kekurangan kasih sayang seorang ayah, meski itu harus ayah sambung, karena aku menyadari, sebagai ayah kandungnya, aku bukanlah ayah yang baik untuknya..." jawab Radja dengan tatapan sedihnya.
"Lalu bagaimana mas tahu kalau dia sebagai penggantimu itu adalah orang yang baik?"
"Karena aku yakin pria yang aku pilih ini adalah pria yang baik dan kelak akan menyayangi anak kita dengan tulus dan menjaganya dengan baik"
"Pria yang mas pilih? jadi maksud mas, aku harus menikah lagi tapi dengan pria pilihan Mas? yang benar saja kamu Mas?! jawab Riani dengan nada yang mulai terdengar emosi.
"Aku memilih calon suamimu ini juga tidak sembarangan Dek, aku sudah bertemu dengannya beberapa kali dan yang jelas kamu juga sudah mengenalnya"
"Memangnya siapa dia mas?"
"Teddy"
__ADS_1
"Apa?!
"Ya dia Teddy, dia orang yang tepat sebagai ayah sambung anak kita, dan hatiku akan lebih tenang jika anakku di jaga olehnya"
"Tapi mas, kenapa harus Teddy...?!"
"Karena dia pria yang baik, aku tahu itu, dan yang jelas statusnya masih lajang, bukan suami orang!" Jawab Radja tegas dan penuh dengan penekanan.
"Maksud Mas...?" Tanya Riani, dia menangkap ada makna tersirat dari kalimat Radja.
"Haruskah aku mengatakannya dengan jelas, bahwa aku tidak suka dan cemburu pada Ethan, yang menciummu di pantai waktu itu? dan haruskah aku mengatakan bahwa aku telah melihat semuanya?" jawab Radja dalam hati.
"Mas?!
Suara Riani yang memanggilnya segera membuat Radja tersadar dari lamunan sesaatnya.
"Maksudnya adalah, aku ingin pria yang akan menggantikan aku sebagai ayah bagi anakku nanti, mempunyai status yang jelas biar kelak tidak jadi masalah, intinya aku ingin yang terbaik buat anakku"
"Tapi Mas, bagaimana dengan Teddy sendiri? apa Mas sudah berbicara dengannya? bagaimanapun kamu butuh persetujuan dari dia juga Mas"
"Masalah itu kamu tidak perlu khawatir, aku sudah menemui dan menanyakannya, dan dia sudah setuju"
"Apa?!"
"Ya, dia sudah setuju, bagaimana, kamu sanggup dan menerima syaratku yang ke dua ini?"
...
"Dek...?"
"Baiklah, aku setuju" jawab Riani, meski agak berat tapi Riani hanya bisa menerimanya, karena dia juga tahu Teddy orang seperti apa, dan dia juga yakin kalau Teddy akan menyayangi anaknya.
"Dan syarat yang ketiga, aku ingin untuk yang terakhir kalinya kita kembali tinggal bersama di rumah kita dua hari satu malam saja, aku ingin kita menjalani kehidupan normal seperti keluarga yang lain, meski hanya sesaat tapi aku sangat mengharapkannya, aku mohon Dek..."
Riani berpikir sejenak setelah mendengar permintaan dari Radja, suaminya.
Dia berpikir apa salahnya dia mengabulkan permintaan Radja untuk yang terakhir kalinya, toh status mereka berdua hingga saat ini masih suami istri, jadi tidak ada resiko dan ruginya.
"Baiklah..."
"Benarkah?! terima kasih Dek, lalu kapan kita akan mulai?"
Terlihat Radja sangat bahagia dan antusias.
"Aku belum tahu Mas, kalau dalam waktu dekat ini aku belum bisa, karena aku masih sibuk mengurus berbagai hal"
"Bukankah dari dulu kamu memang selalu sibuk dengan diri sendiri?" ceplos Radja, merasa kecewa.
"Dulu bagaimana aku tidak menyibukkan diri, kalau Mas sendiri sibuk dengan dunia Mas sendiri dengan para wanita di luar sana!" jawab Riani tersulut emosi.
Radja segera menyadari, biar bagaimanapun awal kesalahan memang terletak pada dirinya.
Dan jika melanjutkan perdebatan, hanya akan memicu pertengkaran kembali, apalagi emosi ibu hamil sangat sensitif dan rentan.
"Iya...Iya, Mas minta maaf, masalah itu terserah kamu, hubungi mas jika kamu sudah ada waktu luang" kata Radja dengan suara lembut, mencoba meredam emosi Riani.
"Nanti aku hubungi mas, jika aku sudah ada waktu, sekarang aku mau ke toilet dulu Mas"
"Baiklah, apa perlu mas antar dek?"
"tidak usah mas, aku bisa sendiri kok"
"Baiklah, hati-hati Dek"
Riani mengangguk, kemudian dia beranjak dari duduknya dan berjalan keluar.
Saat melihat punggung Riani yang menghilang di balik pintu, ada perasaan sangat bersalah dan penyesalan yang terdalam di hati Radja.
Betapa bodohnya dia yang telah menyakiti dan menyia-nyiakan seorang istri yang baik seperti Riani, padahal banyak pria-pria yang berada di sekitar Riani mendambakannya dan berharap bisa bersamanya, tapi...
"Aku pria yang bodoh...Maafkan aku Dek..."
__ADS_1
Tangis batin Radja...
...☆☆☆...