KESETIAAN YG TAK TERBATAS

KESETIAAN YG TAK TERBATAS
PENYESALAN YANG TERMAAFKAN


__ADS_3

Akhirnya Riani dan om Marcel duduk di bangku salah satu restoran yang baru di buka.


Keduanya duduk di kursi yang letaknya paling ujung dari restoran tersebut.


Baru saja Om Marcel akan membuka pembicaraan, tiba-tiba kembali terdengar suara dering dari ponsel Riani, tapi kali ini ada panggilan video dari Lorenza.


Sebenarnya dia enggan untuk mengangkat panggilan tersebut, namun karena sekarang dia bersama om Marcel yang ingin berbicara dengannya dan tentunya sesuatu hal yang penting hingga om Marcel harus mengajaknya keluar dari rumah papah Rolland.


"Maaf sekali Om, bisa saya minta waktu sebentar untuk mangangkat telepon?" ucap Riani tidak enak hati meminta ijin pada om Marcel.


"Silahkan Nak, Om juga tidak terburu-buru kok"


"Terima kasih om..." Riani segera berjalan menjauhi om Marcel mencari tempat yang sekiranya pembicaraan antara dia dan Lorenza tidak bisa di dengar oleh om Marcel.


Riani segera mengangkat panggilan video dari Lorenza setelah beberapa kali kembali berdering .


"Ya, ada apa Za?"


"Mba...Mas Raja sakit, dia sekarang sedang rawat inap di rumah sakit"


"Lalu?" jawab Riani datar.


"Mas Radja membutuhkanmu Mba..."


"Lho?! bukannya sudah ada kamu?"


"Tapi Mas Radja masih membutuhkamu Mba"


"Masih membutuhkanku? hhhh...Apa aku tidak salah dengar?" jawab Riani, dengan senyumya yang kecut.


"Dek..." Suara lemah Radja yang memanggil, membuat Riani agak tersentak, dulu saat pertama kali Radja memanggilnya dengan sebutan "Dek", hatinya akan merasa bahagia dan adem, namun kini rasa itu sudah tidak ada lagi, menguap begitu saja, entah kemana...Yang ada hanya persaan sakit yang luar biasa di hatinya.


Lorenza segera mengarahkan kameranya ke arah Radja.


"Berikan ponselmu padaku, aku ingin bicara empat mata dengannya, kamu keluarlah sebentar" pinta Radja pada Lorenza.


Lorenza menuruti kata-kata Radja, setelah memberikan ponselnya pada Radja, Lorenza kemudian beranjak pergi meninggalkan Radja.


"Dek...Aku tahu, mau berapa kalipun aku memohon maaf dan ampunanmu, tidak akan bisa meredam kemarahan dan kebencianmu padaku, tapi...Aku hanya ingin kamu menerima penyesalanku yang terdalam, meski aku tahu pasti kita tidak bisa seperti dulu lagi..."


"Mas, bukankah aku sudah bilang padamu, aku mungkin masih bisa memaafkanmu, tapi kalau untuk kembali lagi padamu seperti dulu, maaf...Aku tidak bisa"


"Aku tahu itu, mungkin aku pria yang serakah, tapi aku berharap kita bisa bersatu lagi, demi bayi dalam kandunganmu, demi anak kita"


"Maaf Mas, aku tidak bisa! bukankah aku sudah tegas mengatakan, kalau aku tidak mau di madu? lagi pula anakmu dari Lorenza lebih membutuhkanmu, biarlah aku yang mengalah, jadi aku mohon Mas...Lepaskan aku...Biarkan aku hidup damai dengan anakku..." Pinta Riani yang berusaha keras menahan tangisnya.


"Aku menyesal Dek...Sangat menyesal, kenapa aku tidak bisa menjaga istri sebaik kamu...?" Jawab Radja yang sudah banjir dengan air mata.


"Sekarang nasi sudah menjadi bubur Mas, tidak ada gunanya lagi kita menyesal dan kita juga tidak bisa kembali lagi ke belakang"


"Dek..."


"Maaf Mas, aku rasa kita sudahi dulu pembicaraan ini, aku ada janji dengan seseorang, tidak enak jika membuat beliau menunggu terlalu lama" kata Riani lagi.

__ADS_1


"Baiklah, bisakah jika kamu ada waktu datang menjengukku Dek?"


"Aku tidak bisa janji Mas, lagi pula sudah ada Lorenza istrimu, jadi aku tidak perlu menjagamu Mas"


"Kamu juga masih istriku, istriku yang sah Dek!"


"Sekarang bagiku sudah tidak penting lagi siapa istrimu yang sah, karena aku sudah ikhlas melepasmu Mas"


"Tapi aku yang tidak ikhlas Dek..." Jawab Radja dengan tangisnya yang semakin dalam.


"Sudah ya Mas, aku sudahi dulu dan semoga cepat sembuh..."


"Tunggu Dek! biarkan aku melihat perutmu sebentar saja, aku mohon..." Pinta Raja, memelas.


Riani tidak menjawab, dia hanya mengarahkan kamera ponselnya ke arah perut besarnya.


Saat Radja melihat perut Riani, tangis Radja semakin dalam, tangannya seolah ingin menyentuh dan mengelus perut besar Riani.


"Maafkan Papah Nak..." Gumam Radja di sela-sela tangisnya.


Riani yang tak kuasa lagi menahan tangisnya segera mematikan panggilan dan menutup ponselnya.


Kemudian setelah dia mengambil nafas dalam-dalam dan mencoba menghapus jejak air matanya, dia segera berjalan kembali ke tempat di mana om Marcel duduk.


.............


"Maaf Om, saya sudah membuat Om marcel menunggu terlalu lama" Ucap Riani sesampainya di depan om Marcel.


"Tidak apa-apa kok Om, ngomong-ngomong...Apa yang ingin om bicarakan dengan saya?" tanya Riani mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Tapi...Beneran kamu tidak apa-apa Nak?"


"Beneran Om, saya tidak apa-apa"


Om Rolland menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian...


"Om ingin meminta maaf padamu dan keluarga atas kejadian delapan belas tahun yang lalu, mungkin ini sudah sangat terlambat bagimu, tapi...Penyesalan om yang dalam membuat om sangat tersiksa melewati hari-hari Om..."


"Bukankah sudah berlalu delapan belas tahun, jadi Om juga tidak perlu meminta maaf..."


" Meskipun terlambat, tapi Om tetap harus minta maaf, karena...Karena keegoisan Om, telah memaksamu melewati masa remaja tanpa kasih sayang seorang ayah lagi, dan itu pasti sangat berat..." Ucap om Marcel terbata-bata.


"Saya dan keluarga sudah memaafkan Om, jadi Om tidak perlu khawatir"


"Tapi bagaimana dengan Ibumu, bisakah Om bertemu dengannya?"


"Saya sudah bicara dengan Ibu, dan dia mengatakan sudah memaafkan Om dan Tante, tapi kalau untuk bertemu...Ibu masih belum siap dan butuh waktu untuk itu"


"Baiklah, Om juga tidak akan memaksa, paling tidak hati om sudah plong setelah mengungkapkan semua beban yang selama ini mengganjal di hati om"


"Maaf Om, kalau boleh saya tahu...Apa yang membuat om Marcel menyesal? Dan benarkah kata Tante Grace, kalau Om menderita Insomnia akut?"


"Ya, itu benar...Dan yang membuat om menyesal adalah saat...Saat Om melihat dengan mata kepala om sendiri teriakan dan tangisan pilu kamu di depan jenazah ayahmu dan kejadian itu selalu terbayang di ingatan om hingga menghantui Om ke dalam mimpi" Cerita om Marcel dengan dengan terbata-bata.

__ADS_1


"Saat itulah Om baru menyadari, bahwa Om telah merenggut kebahagiaan seorang gadis dan karena keegoisan Om telah menghancurkan kehidupanmu dan masa depanmu...Om...Om sangat menyesal Nak..." Lanjut Om Marcel lagi, kali ini dengan suara yang bergetar dan badan yang terguncang.


Perlahan Riani mendekati Om Marcel yang masih duduk di kursinya lalu dengan lembut Riani memeluknya.


Tangis Om Marcel pun mulai terdengar.


"Maafkan aku Nak...Om sangat menyesal..."


"Kami sekeluarga sudah memaafkan Om dan Tante, jadi...Om dan tante bisa tenang"


"Lalu bagaimana dengan Ibumu, apakah dia mau menemui kami?"


"Dia pasti mau, hanya saja butuh waktu...Karena hanya waktulah yang bisa menyembuhkan lukanya..."


"Om akan menunggu sampai waktunya tiba di mana Ibumu bersedia bertemu dengan kami"


"Iya Om, lalu bagaimana dengan Insomnia yang Om derita? bukankah akan lebih baik Om berobat, maaf sebelumnya...Karena tante Grace memberitahu saya, kalau Om tidak mau berobat, meskipun sakit yang om derita sudah bertahun-tahun lamanya"


"Tidak apa-apa Nak, penyakit Om tidak bisa sembuh hanya dengan obat dari dokter, tapi penyesalan yang termaafkanlah yang bisa menyembuhkan sakit yang Om derita"


"Sekarang saya dan keluarga sudah memaafkan Om, jadi saya harap ini bisa memicu kesembuhan sakit Om"


"Pasti...Dan Om yakin itu, karena sekarang hati Om sudah merasa lega dan tenang..."


"Syukurlah...Kalau begitu saya juga ikut tenang..."


"Dan satu hal lagi...Dulu Om memaksakan hubunganmu dengan Ethan agar berpisah, tapi sekarang jika masih ada takdirmu dengan Ethan, maka Om tidak akan menghalanginya meskipun sekarang Ethan sudah mempunyai istri"


"Semoga saya dan Ethan tidak di takdirkan bersatu kembali, karena jika itu terjadi, maka...Akan ada hati yang tersakiti, dan saya tidak menginginkan hal itu Om..."


"'Bijak sekali hatimu Nak, kenapa dulu Om tidak menyadari dan tidak berusaha untuk mengenalmu lebih dekat?" sesal Om Marcel.


"Waktu sudah tidak bisa terulang kembali Om, kita hanya menikmati apa yang sekarang kita jalani saat ini..."


"Ya...Kamu benar Nak, sekali lagi Om sangat berterima kasih padamu karena dengan ikhlas dan tulus memaafkan Om..."


"Iya Om sama-sama..."


"Sekarang semuanya sudah clear, hati om juga sudah tenang dan juga sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, jadi...Sebaiknya kita segera kembali ke rumah papahmu"


"Baik Om..."


Om Marcel dan Riani beranjak pergi meninggalkan restoran tersebut yang sudah mulai rame pengunjung untuk sarapan.


Riani yang berjalan mengekor di belakang Om Marcel menatap punggung dan bahu om Marcel yang sepintas terlihat kokoh namun sebenarnya rapuh tersebut.


Sama halnya dengan Radja yang juga memiliki bahu bidang yang kokoh, namun saat tadi bicara dengan Riani tampak jelas betapa rapuhnya dia.


Om Marcel dan Radja adalah sosok dua pria yang berbeda, namun mempunyai pribadi yang hampir sama, terlihat dingin, kokoh dan dominan namun di baliknya ada dinding tipis di hati mereka yang rapuh dan akan runtuh bila hanya tersentuh.


Keduanya sama-sama pernah menancapkan sembilu luka di hati Riani, dan hanya penyesalan yang termaafkan dari Riani lah yang bisa membangun kembali dinding tipis tersebut...


...☆☆☆...

__ADS_1


__ADS_2