KESETIAAN YG TAK TERBATAS

KESETIAAN YG TAK TERBATAS
KENYATAAN YANG PAHIT


__ADS_3

Menjelang siang Riani terjaga dari tidurnya, dia teringat kalau sore nanti dia harus menghadiri resepsi pernikahan Ethan dan Viola.


Saat melihat ke arah jarum jam, dia baru sadar kalau dirinya sudah tidur terlalu lama.


"Ah...Aku sudah terlalu lama tidur jadi kepalaku malah berat dan pusing" gumam Riani.


Kemudian dia mengambil ponselnya, saat di buka ternyata banyak panggilan dan pesan masuk dari Teddy dan Radja.


Riani memang sengaja menyetel mode silent ponselnya sebelum dia tidur, jadi bisa benar-benar istirahat.


Dengan seksama Riani membaca pesan dari Radja dan Teddy.


Chat Radja tentang menanyakan kabar dan apakah sudah makan apa belum.


Tidak jauh berbeda isi chat dari Teddy, hanya saja dia menawarkan mau membelikan Riani makan siang atau mengajaknya keluar untuk makan siang.


Dan karena Riani tidak ingin selalu merepotkan Teddy juga ingin berusaha agar tidak terlalu sering berinteraski dengannya, Riani menolak sopan tawaran dan ajakan dari Teddy, dengan alasan dia ingin pergi ke spa, padahal alasan sebenarnya adalah dia takut kalau kejadian kemarin kembali terulang, hingga akan membuatnya semakin bersalah pada Radja suaminya.


Kemudian Riani membalas chat dari Radja, beberapa menit kemudian Radja menelponnya.


Mereka berdua mengobrol sebentar, membicarakan mengenai orang tua dan keluarga Radja yang ingin sekali bertemu dengan mereka berdua.


Akhirnya mereka berdua berencana untuk bertandang ke rumah orang tua Radja selepas Riani pulang dari liburan cutinya.


Setelah Radja mengakhiri dan menutup teleponnya, Riani segera memesan makanan untuk makan siangnya.


Dan tidak butuh lama makanan yang Riani pesan pun datang, dengan segera dia menikmatinya.


.............


Selesai makan siang Riani bersiap-siap untuk menghadiri resepsi pernikahan Ethan dan Viola dengan memakai baju batik yang di berikan mereka pada dia dan Teddy.


Di lihatnya lagi jam pada ponselnya yang sudah menunjukkan pukul tiga sore, dia sudah siap dengan dandanan yang elok dan anggunnya.


Baru saja dia akan keluar kamar, bunyi suara ketukan di pintu terdengar olehnya dan saat dia melihat lewat lubang pintu terlihatlah sosok Teddy sudah menunggu di luar pintu sana.


Di bukanya pintu tersebut, terlihatlah olehnya sosok Teddy yang gagah dengan memakai setelan batik di padu padan celana kain yang warnanya serasi dengan bajunya.


"Kamu sudah siap Ai?" tanya Teddy setelah Riani membuka pintu kamarnya dan menatap Riani dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Sudah Ted, ayo kita berangkat" ajak Riani.


"Ayo Ai" jawab Teddy sambil memberikan lengannya pada Riani yang langsung di gandeng oleh Riani.


Mereka berdua berjalan dengan percaya diri menuju hall tempat resepsi pernikahan Ethan dan Viola di adakan.


Mereka terlihat sangat serasi dengan baju batik couple yang mereka pakai.


Sesampainya di tempat tersebut Riani dan Teddy di sambut ramah oleh pagar ayu sebagai penerima tamu.


Setelah mereka mengisi buku daftar hadir tamu, keduanya kemudian masuk ke dalam.


Terlihatlah di sana singgasana pelaminan yang indah dan mewah denga berhiaskan berbagai warna dan wangi bunga.


Di samping kanan dan kiri pelaminan terdapat kue pernikahan dengan ukuran besar dan tinggi hampir menyamai tinggi Riani.

__ADS_1



Suasana yang ramai dengan tamu undangan membuat Riani dan Teddy agak kerepotan mencari tempat duduk yang nyaman.


Setelah akhirnya Riani dan Teddy mendapat duduk dekat dengan pelaminan pengantin.


Sambil menunggu giliran mereka untuk memberikan selamat pada pengantin baru tersebut, Riani dan Teddy mengobrol dengan tamu yang lain.


Menunggu Teddy yang sibuk ngobrol dengan tamu yang ternyata kliennya, Riani mulai merasa bosan, hingga dia mencoba menyibukkan diri dengan melihat-lihat beberapa kue pengantin yang terpajang di beberapa sudut.



Dalam hatinya berdecak kagum, dengan acara pernikahan kaum elit yang serba wah itu.


Terbesit rasa iri di hatinya, karena di bandingkan dengan pernikahannya dengan Radja dulu, tidak ada apa-apanya, karena jangankan ada kue pernikahan, bisa menyewa gedung untuk acara resepsi pernikahan saja sudah untung waktu itu.


setelah menunggu beberapa saat lamanya, akhirnya tiba giliran Riani dan Teddy untuk naik ke panggung pelaminan dan memberi ucapan selamat pada pasangan pengantin.


Riani dan Teddy mengucapkan selamat pada Ethan dan Viola.


Saat Riani menyalami Ethan, tangan Ethan menggenggam erat tangannya, seolah tak ingin melepaskannya.


Saat Riani menengok ke arah Teddy, ternyata dia menyadari dengan apa yang sedang terjadi, lalu dengan ramah Teddy merangkul lembut pundak Riani dan tersenyum pada Ethan yang akhirnya melepaskan tangan Riani.


Kemudian Teddy dan Riani kembali duduk di kursi mereka.


Dan baru saja Riani duduk beberapa menit, dari arah pelaminan tampak Viola melambaikan tangannya ke arah Riani agar segera datang ke arahnya.


Dengan segera Riani berlari kecil menghampiri Viola, sesampainya di samping Viola, Riani mendekatkan telinganya ke arah Viola yang memberi isyarat kalau dia akan membisikkan sesuatu.


"Tolong ambilkan ponselku yang satunya lagi di kamarku, soalnya ponselku yang ini baterainya hampir habis..." Kata Viola dengan ekspresi wajah tidak enak hati.


"Baiklah, di kamar sebelahku kan?" tanya Riani sambil tersenyum.


"Iya kak, ini kuncinya, terima kasih banyak dan maaf sekali ya kak sudah merepotkanmu..." Jawab Riani sambil menyerahkan kunci kamarnya yang ia ambil dari dompet kecil di sampingnya.


"Iya, santai saja dan tidak perlu sungkan seperti itu,kamu nikmati saja hari bahagiamu ini..."


"Iya kak, terima kasih banyak..."


"Iya sama-sama, aku pergi ambil ponselmu dulu ya" pamit Riani, Viola mengangguk.


Kemudian Riani beranjak pergi meninggalkan Viola yang kembali tersenyum menyambut para tamu.


.............


Sesampainya di depan pintu kamar Viola, dengan agak ragu dia membuka pintunya karena ternyata pintu tersebut tidak terkunci.


Dengan perasaan was-was Riani melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar tersebut.


Dia mencoba mencari tombol


untuk menyalakan lampu, dan saat seluruh ruangan terang, betapa kagetnya Riani karena melihat sosok Ethan yang tadinya membelakanginya, tiba-tiba menoleh ke arahnya karena lampu yang menyala.


"Ethan!?" hanya itu yang keluar dari mulut Riani.

__ADS_1


Ethan hanya diam, kemudian dia berjalan mendekat ke arah Riani yang masih berdiri di dekat pintu.


"Maaf...Tadi Viola memintaku untuk mengambil ponselnya" kata Riani sambil matanya melihat ke arah ponsel yang tergeletak di atas meja Rias, kemudian dengan cepat dia berjalan ke arah meja rias tersebut dan berusaha menghindari Ethan yang menuju ke arahnya.


Ethan tetap terdiam dan hanya menghentikan langkahnya dengan masih menatap pilu ke arah Riani.


Sesampainya di meja rias segera dia mengambil ponsel tersebut dan berbalik, dia berniat keluar dari kamar itu secepatnya, karena ada perasaan gelisah yang tidak enak dia rasakan.


"Maaf kalau aku lancang, tadi aku tidak tahu kalau ada orang di dalam" kata Riani sambil berjalan melewati Ethan yang masih berdiri dan tak lepas pandangannya ke arah Riani


Riani marah pada diri sendiri karena sewaktu berbicara dengan Viola dia tidak menyadari kalau Ethan tidak ada bersamanya.


Riani berjalan dan sibuk dengan pikirannya, dan belum sempat dia membuka pintu, Ethan yang sedari tadi hanya diam tiba-tiba memeluk Riani dari belakang hingga membuat Riani sangat kaget dan berusaha melepaskan pelukan Ethan.


Dalam pikirannya ada ketakutan jika apa yang di lakukan Ethan di lihat orang lain dan menimbulkan salah paham, apalagi Ethan baru saja menikah.


"Ria ku..." Kata Ethan singkat dengan isak tangisnya.


Mendengar nama panggilan itu, Riani sangat terkejut, namun kemudian akhirnya dia tersenyum penuh kepedihan.


"Aku tahu itu kamu Ethan, dan aku sangat bahagia mengetahui kalau kamu masih hidup, tapi..."


"Jangan ada kata tapi Ria ku...Aku mohon jangan tinggalkan aku lagi..."


"Waktu itu justru kamulah yang meninggalkanku Ethan..." Jawab Riani lirih berusaha menahan tangisnya.


Kemudian di lepaskannya tangan Ethan yang di rasanya semakin erat memeluk tubuhnya.


"Tapi aku tidak pernah berniat meninggalkanmu, hanya saja keadaan tidak berpihak padaku waktu itu..." Jawab Ethan berusaha membela diri.


"Siapa pun yang waktu itu meninggalkan terlebih dahulu sudah tidak berguna lagi, karena sekarang kamu sudah menikah dan aku juga sudah bersuami jadi..."


"Cukup Ria ku! aku tidak ingin mendengar lagi, aku hanya ingin bersamamu, apakah kamu masih ingat dengan tanda kenangan kita Ria ku?" tanya Ethan sambil mengeluarkan kalung berliontin pegasus di balik jas pengantinnya.


"Tapi kita tidak mungkin bersama Ethan...Keadaan sekarang sudah berubah, kita harus rela dengan jalan kita masing-masing..." Jawab Riani sambil melirik ke arah kalung Ethan, hatinya sangat perih saat kembali teringat kejadian itu, kejadian saat dia benar-benar kehilangan orang-orang yang sangat dia sayangi secara beruntun.


"Aku tidak perduli! aku hanya ingin bersamamu!" jawab Ethan dengan marah, Riani sedikit terkejut dengan perubahan sikap Ethan tersebut, dia sudah banyak berubah baginya.


"Kamu jangan egois Ethan! cintailah istrimu Viola karena aku tahu dia sangat mencintai dan menyayangimu, biarlah kisah kita dulu menjadi bagian masa lalu kita, jadi jangan sampai mempengaruhi rumah tangga kalian yang baru hitungan hari kalian bina"


"Kamu ingin aku mencintai istriku, lalu apakah kamu juga mencintai suamimu?" tanya Ethan dengan suaranya yang melunak.


"Tentu saja aku mencintainya, kalau tidak buat apa aku menikah dengannya"


"Lalu kenapa kamu masih memakai kalung tanda kenangan kita?"


"Karena dulu aku pernah berjanji pada seseorang untuk selalu menyimpan dan memakai kalung ini, dan bila saatnya bertemu kembali dengan orang tersebut maka aku akan mengembalikannya..." Jawab Riani sambil melepas kalung di lehernya.


"Aku tidak mau menerimanya kembali, kalau tidak suka dan menganggap kalung itu beban bagimu, maka buanglah!" kata Ethan yang kembali tersulut emosinya.


"Baik!" jawab Riani singkat, kemudian dia berjalan menuju jendela yang sudah terbuka dan melempar kalung yang masih dalam genggamannya.


"Puas?!" tanya Riani lagi sambil berlari keluar dari kamar tersebut meninggalkan Ethan yang tak bergeming.


Riani berlari sambil menangis melepaskan luka dan perih di masa lalunya, meratapi kenyataan yang pahit mengenai kekasih di masa lalunya...

__ADS_1


...☆☆☆...


__ADS_2